Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Pembicaraan dengan Sarah


__ADS_3

Sisi nampak terkejut saat melihat Sarah berdiri di dekat pintu masuk lobby kantor tempat Sisi menjalankan magang.


Sisi tidak sempat menghindar karena Sarah sudah tersenyum penuh arti saat bertatapan dengannya.


“Sisi, ya ?” sapa Sarah dengan wajah ramah. “Sepertinya saya tidak perlu mempekenalkan diri lagi karena saya yakin kalau kamu sudah mengenal saya dengan baik.”


“Ibu Sarah,” sapa Sisi dengan suara pelan.


“Nggak buru-buru pulang, kan ? Saya mau minta waktunya sebentar,” ujar Sarah dengan senyuman manis namun tatapan matanya tidak bisa dibantah.


“Sebentar saya kasih tahu keluarga kalau saya akan pulang telat sore ini,” pamit Sisi bergerak sedikit menjauh dari Sarah.


Bukan hanya mengabarkan mamanya, Sisi juga mengirim pesan pada Annabelle, mengabarkan kalau Sarah datang menemuinya di kantor dan Sisi tidak ingin mengulang kejadian penculikan itu lagi.


Meskipun Reyhan memperlakukan mereka dengan baik sesuai perkataan Annabelle, tapi rasa takut dan trauma membuat Sisi enggan mengulang kejadian seperti itu lagi.


“Kita mau kemana, Bu Sarah ?”


“Enaknya kemana ? Jangan jauh-jauh dari sini dan tempatnya nyaman karena saya mau ngobrol santai sama kamu.”


“Maaf kalau saya tidak bisa berbasa basi. Saya tahu tujuan Bu Sarah datang menemui saya hari ini, jadi tanpa bertele-tele saya akan menemui Ibu dengan orang yang paling tahu soal ini. Tolong info aja djmana kita akan berbicara.”


Sisi sudah siap memberi kabar lokasi mereka pada Annabelle. Bukan tidak ingin membantu sahabatnya menjelaskan pada Sarah, tapi Sisi memang tidak tahu secara detil darimana asal foto-foto yang Annabelle pernah berikan padanya.


Sarah pun menyebutkan nama cafe yang akan dituju dan mempersilakan Sisi naik ke mobil yang disewa Sarah.


Sejak putus dengan Alden dan berhenti dari kantor Peter Gilang, Sarah tidak bisa lagi menikmati fasilitas mobil mewah yang pernah diberikan kepadanya. Sekarang kemana-mana, Sarah harus menggunakan transportasi publik, namun khsuus hari ini Sarah sengaja menyewa mobil.


Sisi mengirimkan pesan baru pada Annabelle yang ternyata langsung dibaca oleh sahabatnya dan memastikan kalau Annabelle akan datang menemui Sarah bersama Sisi.


“Kamu kuliah apa ?” Sarah memulai percakapan kembali setelah mereka duduk dan memesan minuman.


“Manajemen bisnis, Bu,” sahut Sisi sambil sesekali melihat handphonenya atau melirik ke pintu masuk berharap Annabelle segera datang.


“Memangnya siapa yang kamu tunggu ?” Sarah menautkan alisnya saat melihat Sisi tidak fokus berbicara padanya, cenderung gelisah.


“Orang yang paling bisa menjawab pertanyaan Ibu.”


“Ooo oke,” Sarah mengangguk-anggukan kepalanya.


Wanita itu pun memilih diam dan menyibukkan diri dengan handphonenya. Sarah sendiri merasa kurang nyaman berbincang dengan Sisi yang sejak tadi terlihat tidak tenang.

__ADS_1


Sekitaf 30 menit kemudian Annabelle muncul di pintu membuat Sisi langsung menarik nafas lega.


“Selamat sore,” sapa Annabelle membuat Sarah mendongakkan kepalanya.


“Culun ?” Sarah mengernyit karena tidak menyangka kalau yang sedang ditunggu adalah gadis yang menghancurkan rencananya.


“Jadi kamu yang dalang semua kekacauan ini ?” raut wajah Sarah langsung berubah, terlihat emosi.


“Boleh saya duduk dulu ?” Annabelle tersenyum tipis dan melirik pada kursi kosong yang ada di sebelah Sisi.


Sarah menghela nafas kesal dan wajahnya ditekuk. Sikapnya langsung berubah, berbeda saat berhadapan dengan Sisi.


“Masalah apa yang Bu Sarah ingin dengar dari saya ?” tanya Annabelle santai.


Sarah sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe, memastikan kalau Annabelle datang sendirian. Meskipun tidak melihat ada tanda-tanda yang mencurigakan, Sarah yakin kalau Annabelle berada dalam pengawasan Alden.


“Bagaimana diska lepas itu bisa ada di tangan Reyhan ? Diska itu ada di laci meja kerjaku dan tidak ada seorangpun yang tahu tentang keberadaannya.”


“Saya mengambilnya dari laci meja Ibu,” sahut Annabelle tanpa ragu. “Namun bagaimana caranya saya tidak bisa cerita pada Ibu tapi saya sudah menjelaskannya pada Pak Reyhan.”


“Kamu mencoba merayu Reyhan setelah gagal mendapatkan Alden ?”


Annabelle tersenyum tipis sambil menggeleng.


“Lalu apa maksudmu memberikan diska lepas itu pasa Reyhan setelah melihat isinya ?”


“Saya hanya ingin Ibu berhenti melepaskan perasaan dendam pada Pak Peter dan membuang jauh-jauh semua niat jahat Ibu pada siapapun, terutama pada Pak Alden.”


“Siapa kamu sampai berani mengatur hidupku dan tahu apa yang terbaik untuk Reyhan atau Alden ?”


“Saya memang bukan siapa-siapa Ibu, Pak Alden atau Pak Reyhan, saya hanya si culun, toxic-nya Alden. Saya tidak mengharapkan balasan apapun tapi saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Alden.”


“Sok pahlawan,” Sarah mencebik. “Kamu pikir bisa membuat Alden jatuh cinta dan melihatmu sebagai wanita normal ? Kamu juga ingin mendapatkan harta Alden ?”


“Semuanya sudah tidak penting lagi. Kalau Ibu ingin hidup lebih baik, hilangkan semua kebencian dan dendam yang ada di hati Ibu. Siapa tahu Pak Reyhan bisa berubah hatinya dan mencintai Ibu lagi seperti dulu.”


“Tahu apa kamu soal cinta ?” sinis Sarah.


“Saya memang belum pernah merasakan bagaimana dicintai oleh seorang pria seperti Ibu, tapi saya tahu bagaimana mencintai seseorang dengan setulus hati.


Jadi urusan diska itu sudah jelas, tolong jangan ganggu sahabat saya lagi. Saya yang mengirimkan foto-foto itu dan Sisi hanya membantu mencetaknya sementara untuk file aslinya sudah saya serahkan pada Pak Reyhan.”

__ADS_1


“Gara-gara sikap sok pahlawanmu itu, Alden membatalkan pernikahan kami dan Reyhan meninggalkanku, melihatku seperti orang penyakitan.”


Annabelle malah tertawa mendengar ucapan Sarah.


“Bu Sarah jangan terlalu serakah, mana bisa mencintai 2 pria sekaligus. Lagipula hubungan Ibu dengan Alden hanya untuk membantu Pak Reyhan membalaskan dendamnya, bukan karena cinta. Pak Reyhan orang yang sangat baik dan pemaaf, kalau Ibu mau mendengarkannya, mungkin saja semuanya bisa diperbaiki.”


“Jangan sok pintar,”Sarah tersenyum sinis.


Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan Annabelle, emosi Sarah langsung tersulut. Kalau dulu karena Annabelle dianggap sebagai penghalang hubungannya dengan Alden, sekarang bagi Sarah, Annabelle adalah perusak hubungannya denhan Reyhan.


“Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami permisi dulu, Bu.”


Annabelle memberi isyarat pada Sisi supaya bangun dari kursinya.


“Kami permisi, Bu,” Sisi menganggukan kepala pamit pada Sarah yang masih terlihat kesal.


Tanpa menunggu tanggapan Sarah, kedua gadis itu meninggalkan meja, langsung menuju pintu keluar.


“Gue lihat kalau wanita itu masih belum bisa terima,” ujar Sisi sambil berjalan menuju pintu.


“Gue tahu, tapi mau gimana lagi ? Pada dasarnya Sarah nggak pernah menyukai gue, jadi mau benar atau salah di matanya tetap jadi masalah.”


Bugh !


Annabelle yang sedang berbincang dengan Sisi tidak memperhatikan pengunjung yang baru masuk dengan tergesa.


“Maaf,” ujar pria itu.


Annabelle mengusap keningnya. Dada pria yang ditabraknya lumayan keras.


Annabelle mendongak dengan satu tangan di pelipisnya. Matanya langsung membola, kenapa harus bertemu dengan pria ini lagi.


“Kamu nggak apa-apa, Belle ?” reflek Alden menyentuh kening Annabelle. “Maaf aku tidak sengaja.”


Annabelle terdiam, hanyut dalam sentuhan Alden yang lembut. Sudah sebulan lebih Annabelle tidak lagi mendapat kiriman pesan dari Alden.


Meskipun bukan pesan penting tapi karena Alden rutin mengirimkannya membuat Annabelle terbiasa melihat dan kadang membaca pesan itu tanpa membalasnya.


“Belle, kamu nggak apa-apa ?” Alden menyentuh pipi Annabelle yang sempat melamun.


Wajahnya merona kemerahan saat kehangatan tangan Alden menyentuh pipinya. Buru-buru Annabelle menepis tangan itu.

__ADS_1


“Aku nggak apa-apa, hanya kaget.”


Raka dan Sisi yang berdiri masing-masing di belakang sahabat mereka senyum-senyum melihat pasangan di depan mereka tanpa sadar saling terpesona.


__ADS_2