Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
H-3


__ADS_3

Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit akhirnya Alden diperbolehkan pulang namun hingga seminggu ke depan dokter memintanya untuk tidak melakukan aktivitas berat yang berhubungan dengan kakinya.


Persiapan pernikahan Alden dan Annabelle sudah rampung, hanya tinggal menunggu pelaksanaannya yang akan diadakan dalam 3 hari ke depan.


Alden terlihat bersemangat dan tidak sabar sementara Annabelle cenderung biasa saja dan justru sibuk memikirkan skripsinya.


“Kamu yakin menikah denganku ?” tanya Alden saat keduanya sedang duduk di teras belakang kediaman keluarga Hutama.


Annabelle sibuk dengan laptopnya sejak datang ke situ selesai bertemu dosen di kampus.


Annabelle tidak menjawab, hanya mengangguk dengan tatapan fokus ke layar laptop.


“Belle, kalau orang ngomong ditatap dong, jangan mengangguk tapi matanya ke arah lain,” gerutu Alden.


“Aku yakin, Alden. Yakin seribu persen,” Annabelle menoleh dan menatap Alden yang sudah berwajah masam.


“Tapi sikapmu biasa-biasa aja, nggak seperti wanita yang mau menikah.”


“Maksudmu bersemangat seperti Sarah pas mau menikah sama kamu ?” ledek Annabelle sambil tertawa pelan.


“Belle ! Kenapa sih harus bawa-bawa nama Sarah setiap kita membahas soal pernikahan ? Susah banget membuat pikiranmu jauh dari Sarah,” suara Alden mulai meninggi, menganggap candaan Annabelle sebagai hal yang menyebalkan.


Alden memutar kursi rodanya sendiri, berniat meninggalkan Annabelle di teras.


“Alden,” Annabelle menahan kursi roda pria itu. “Maaf aku cuma bercanda.”


“Nggak lucu !” ketus Alden dengan wajah ditekuk.


“Mau masuk atau di sini dulu ? Atau mau mandi sekarang ?” tanya Annabelle mencoba mencairkan suasana hati Alden.


Pria itu diam saja dan membuang pandangan ke arah lain. Annabelle tersenyum tipis lalu mendorong Alden ke dalam rumah menuju kamarnya.


“Aku bukan nggak semangat, tapi gugup banget,” ujar Annabelle sambil tertawa pelan.


Keduanya sudah ada di dalam kamar mandi. Annabbelle membungkus perban yang masih menutupi bekas operasi di betis Alden. Sebisa mungkin jahitan itu jangan terlalu kena air hingga 1 minggu pasca operasi.


“Kadang aku masih nggak percaya kalau akhirnya akan menjadi istri kamu,” lanjut Annabelle.


“Kenapa ? Bukannya dari dulu kamu ngotot mau jadi pengantinku ?” tanya Alden masih memasang wajah datar.


“Ada kalanya aku letih dengan mimpiku untuk menjadi satu-satunya wanita dalam hidupmu, terlebih saat Sarah mulai menjadi kekasihmu bahkan calon istri.


Kadang-kadang aku malu dengan sikapku yang terlalu agresif mendekatimu, kesal dengan hatiku yang susah beralih darimu.

__ADS_1


Sekarang di saat semuanya jadi kenyataan, aku malah balik ragu-ragu dan bertanya pada diri sendiri apa iya ini bukan mimpi,” ujar Annabelle sambil tertawa pelan.


Setelah beberapa hari terbiasa mengurus Alden mandi, Annabelle sudah tidak canggung lagi seperti saat pertama kalinya.


Alden sudah boleh mandi dan untuk sementara Annabelle membantunya membasuh diri supaya kaki Alden tidak terlalu basah.


Jangan berpikir kalau Alden benar-benar duduk di bawah kucuran shower tanpa sehelai benangpun. Sebetulnya Alden juga merasa sedikit risih dan malu karena itu ia masih mengenakan boxer selama Annabelle membantunya mandi.


Selesai mandi, seperti biasanya Alden duduk di sofa dan membiarkan Annabelle mengganti perbannya.


“Belle,” Alden mengusap kepala Annabelle yang bersimpuh di depannya.


Annabelle mendongak dan tersenyum saat Alden mencium keningnya.


“Terima kasih karena tetap setia dengan cintamu dan memberi aku kesempatan untuk jujur pada perasaanku yang ternyata begitu mencintaimu juga.”


“Terus terang sampai saat ini aku masih sering bertanya-tanya kenapa perlu ada kejadian meminjam tubuh Sarah untuk membuat seorang Alden menyadari perasaannya hingga membuat sosok Annabelle kembali menjadi dirinya.


Semuanya begitu misterius. Tapi itulah rencana dan jalan Tuhan yang seringkali bertolak belakang dengan harapan manusia, tapi ujung-ujungnya tidak pernah mengecewakan,” sahut Annabelle.


“Belle, terima kasih karena tanpa bisa aku hindari kalau cintamu saja yang bisa membuat aku memiliki arti hidup yang sebenarnya.


Berulang kali aku berusaha lari dan menyangkal keyakinan orangtuaku bahwa kamulah jodoh dan cinta sejatiku, tapi semakin aku menjauh dan membantahnya sampai memaksakan diri memilih Sarah, semakin hatiku kosong dan tersiksa mendapati dirimu perlahan menghilang dari pandanganku.”


“Belle, kamu kok diam aja, sih ?”


Alden merenggut kesal karena Annabelle tidak menjawab apapun malah membantunya pindah ke kursi roda untuk membawanya ke ruang makan karena sudah waktunya makan malam.


“Apa ekspresi wajahku tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku ?” tanya Annabelle sambil terkekeh.


“Kamu tuh masih pelit ngomong cinta sama aku,” gerutu Alden.


“Pelit gimana ? Apa kamu lupa kalau aku sering membuatmu kesal karena selalu mengganggumu dengan ungkapan cinta saat kita sekolah dulu ?”


“Itu kan dulu waktu cinta masih bertepuk sebelah tangan,” Alden masih mengomel.


“Apanya yang bertepuk sebelah tangan ?” tanya Mommy saat keduanya sudah berada di ruang makan.


Alden diam saja dengan wajah ditekuk. Daddy senyum-senyum sambil menggelengkan kepala.


Sejak hubungannya dengan Annabelle diperjelas, sikap Alden malah jadi kekanak-kanakan. Wibawanya hanya terlihat saat di kantor saja.


“Jangan cemberut begitu, pantang marah-marah saat di meja makan,” bisik Annabelle sambil menyiapkan peralatan makan Alden.

__ADS_1


Mommy memutar bola matanya dan bertukar pandang dengan Daddy yang masih senyum-senyum.


“Mulai besok kalian nggak boleh ketemu dulu,” ujar Mommy saat semuanya mulai makan.


“Mana bisa begitu, Mom. Aku masih butuh bantuan Belle. Dokter bilang kan bekas jahitannya nggak boleh basah.”


“Daddy akan minta Darma datang setiap pagi dan sore untuk mengurus perbanmu,” sahut Daddy.


“Kamu kan bisa mandi sendiri, Al, jangan manja. Cuma 72 jam nggak ketemu, sesudah itu dari melek mata sampai mau tidur kalian bersama-sama terus,” tegas Mommy.


“Malah seharusnya kalian dipingit seminggu sama seperti Mommy dan Daddy dulu,” Daddy menimpali ucapan Mommy.


Alden tidak menyahut, mukanya kembali ditekuk, tapi mau membantah juga sulit. Lagipula apa yang diucapkan Mommy dan Daddy memang betul, hanya 72 jam dan sesudah itu Annabelle akan ada di sampingnya bahkan sepanjang malam.


“Kamu nggak masalah kalau dipingit 3 hari ?” tanya Alden sambil melirik Annabelle yang duduk di sampingnya.


“Nggak masalah,” jawab Annabelle santai. “Dan igat ya kamunya jangan sok jagoan, apa-apa maunya sendiri. Kaki kamu belum pulih banget, kalau kenapa-napa lagi, bukan pernikahan kita ditunda tapi dibatalkan.”


“Kok begitu ? Kamu nggak serius sama aku ?” wajah Alden makin ditekuk dan bibirnya maju lebih dari 5 senti.


“Justru serius, makanya kamu juga harus serius jaga diri sendiri. Nurut aja kalau memang disiapkan perawat 3 hari ini, jangan sok-sok an bisa sendiri.”


Alden menggerutu dan meneruskan makan malamnya. Daripada runyam kalau memperpanjang urusan dengan Annabelle, lebih baik mengiyakan saja.


“Awas kamu setelah sah nanti !” gerutu Alden dengan wajah masih ditekuk.


Annabelle senyum-senyum sendiri. Sama seperti Mommy dan Daddy, rasanya lucu melihat sisi Alden yang lain. Pria songong yang sering bergaya sok cool ini jadi cowok manja melebihi anak 5 tahun.


Untung saja sudah terlanjur cinta, kalau tidak sudah Annabelle tinggal karena semakin rewel.


Usai makan dan berbincang sebentar dengan calon mertuanya, Annabelle pun pamit pulang. Besok ada jadwal ke kampus lagi untuk bertemu dengan dosen membahas soal skripsi.


Selain itu ada janji bertemu dengan Sisi dan menghabiskan waktu berdua sebelum Annabelle resmi menyandang status jadi Nyonya Alden.


“Jaga dirimu baik-baik, Belle. Kalau ikut aturan orangtua dulu, kamu udah nggak boleh kemana-mana,” pesan Mommy saat mengantar Annabelle di teras.


Alden dilarang keluar mengantar meski dia sudah bernegosiasi dengan Mommy.


“Iya Mom, besok hanya ke kampus sebentar terus janjian makan sama Sisi. Nggak ada rencana jalan-jalan di mal.”


Mommy mengangguk dan mengusap wajah calon menantunya sambil tersenyum setelah Annabelle mencium kedua pipinya saat pamit.


Sopir dan mobil keluarga Hutama sudah menunggu, tidak ada bantahan meski Annabelle sudah berusaha menolaknya.

__ADS_1


__ADS_2