
“Mau apa kamu di sini ?” suara Reyhan yang tidak lagi ramah membuat Sarah menghela nafas.
Reyhan terlihat kesal saat melihat Sarah sedang duduk di sofa dalam ruangannya. Waktu hampir menunjukkan pukul 7 malam dan Reyhan baru saja kembali ke kantor setelah bertemu dengan kliennya membahas soal persiapan persidangan kasus.
Sarah terlihat sedih dan hatinya terasa sakit saat mendapati Reyhan, pria yang sudah 4 tahun lebih menjadi kekasihnya berubah menjadi pria dingin yang ketus dan acuh padanya.
“Rey, ijinkan aku tinggal di apartemenmu untuk sementara waktu,”
Sarah bangun dari sofa dan mendekati Reyhan yang sudah duduk di meja kerjanya. Biasanya Reyhan akan langsung menepuk-nepuk pahanya sebagai isyarat supaya Sarah duduk di pangkuannya, tapi kali ini posisi kaki Reyhan merapat ke meja dan tidak memberi celah sedikitpun untuk Sarah.
“Kenapa ? Alden sudah membuangmu dan membuatmu mendadak jatuh miskin ?” Reyhan tersenyum mengejek.
“Reyhan !” bentak Sarah. ‘Sudah berapa kali aku bilang padamu kalau kedekatanku dengan Alden karena ingin membantumu membalaskan dendam kematian Riri. Aku tidak pernah punya perasaan apapun pada Alden, apalagi pria itu seperti bukan laki-laki normal.”
“Kalau tujuanmu hanya untuk membantuku seperti rencana kita maka kamu akan berhenti saat aku minta. Nyatanya kamu terus meminta waktu untuk tetap bersama Alden sampai pernikahan kalian terlaksana. Mungkin kamu tidak mencintai Alden, tapi kamu mencintai uangnya, tawarannya sangat menggiurkan jika statusmu berubah menjadi Nyonya muda Hutama.”
“Tidak begitu juga Reyhan. Aku…”
“Apanya yang tidak begitu juga !” Reyhan menggebrak meja cukup keras membuat Sarah sampai terlonjak kaget.
“Aku memang tidak sekaya Alden Hutama, tapi aku juga tidak akan membuatmu jadi wanita miskin. Aku masih membelikanmu barang-barang branded meskipun tidak sesering yang Alden lakukan. Keserakahanmu membuat aku kehilangan calon anakku dan dendam yang kamu simpan selama ini sudah menghancurkan keluargaku ! Selamat, Sarah, kamu benar-benar wanita hebat, kamu bisa mencapai semua tujuan awalmu membalaskan dendam kematian mamamu.”
“Reyhan, aku sungguh-sungguh tidak tahu masalah foto yang kamu bilang aku serahkan pada orangtuamu. Sejak menjalin hubungan serius denganmu aku tidak lagi berniat mengungkit masalah foto itu apalagi sengaja memberikannya padamu atau mamamu.”
__ADS_1
“Kenyataannya foto itu tidak ada di tempat yang kamu bilang dan ada orang lain yang membawanya ke rumahku malam itu. Kalau memang kamu tidak berniat mengungkitnya, kenapa saat hatimu mengambil keputusan itu, bukti yang kamu punya tidak langsung kamu hancurkan malah disimpan ?”
“Aku tidak pernah memberikannya pada siapapun, Rey,” tegas Sarah. “Kamu juga tahu kalau aku tidak punya teman baik di dunia ini. Aku hanya punya kamu, satu-satunya orang yang dekat denganku.”
“Aku belum buta untuk melihat wanita muda yang menyerahkan amplop padamu malam itu sebelum mobil masuk ke dalam rumah orangtuaku. Entah sengaja atau tidak, amplop itu tertinggal di mobil dan diserahkan pada mama hingga akhirnya mama jadi orang pertama yang melihat perbuatan bejatmu dengan papa.”
“Aku berani bersumpah demi apapun, Rey, aku sungguh-sungguh tidak pernah meminta siapapun untuk mencetak foto itu dan sengaja memperlihatkannya pada siapapun juga apalagi keluargamu !” sahut Sarah dengan suara setengah berteriak.
“Tidak perlu kamu bersumpah segala, aku tidak butuh. Kenyataannya foto itu sudah ada di tangan orangtuaku dan aku sendiri sudah melihatnya. Aku tidak tahu apakah kamu sudah puas dengan rencana balas dendammu pada papa, tapi yang pasti kamu sudah berhasil membuat keluargaku merasakan kesakitan dan kehancuran.”
“Rey, aku mohon percayalah padaku untuk kali ini. Aku benar-benar mengatakan kejujuran dan aku akan mencari dimana diska lepas itu berada.”
“Rey, aku mohon,” ujar Sarah sambil menangkup kedua tangannya di depan wajah.
“Aku pun pernah memohon padamu untuk meninggalkan Alden dan tetap berada di sampingku. Aku akan menghadapi Alden secara langsung dan mengatakan soal kehamilanmu, tapi kamu menolakku. Kamu pergi dan minta waktu untuk menuntaskan semua rencanamu karena kamu bilang kalau kamu bukanlah wanita yang suka setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan. Dan nyatanya, tujuanmu adalah mendapatkan harta yang dijanjikan oleh Alden. Kamu menjadikan calon anak kita sebagai tumbal keserakahanmu. Bagiku, wanita seperti itu sama sekali tidak pantas untuk dijadikan istri.”
“Rey…” Sarah terlihat sedih dan kecewa mendengar keputusan Reyhan.
“Aku masih memberimu waktu sampai kamu mendapatkan apartemen atau apapun sebagai tempat tinggalmu yang baru. Setelah itu bawa semua barang-barangmu yang ada di dalam apartemenku. Masalah barang-barangmu yang ada di apartemen Alden bukan urusanku. Kamu sudah cukup menghemat selama 2 tahun dengan tinggal di apartemen milik Alden tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, jadi pergunakanlah uang itu untuk menyambung hidupmu.”
“Rey, aku mohon, ijinkan aku tetap bekerja di tempat ini dan tolong jangan menyebarkan gosip tentang diriku di kalangan pengacara. Aku berjanji tidak akan mengusikmu apalagi papamu. Kita benar-benar bekerja secara profesional dan aku akan menunggu sampai kamu memaafkanku.”
__ADS_1
“Tidak ada gelas yang pecah bisa disambung kembali seperti bentuk awalnya. Begitu juga dengan hubungan antar manusia. Seringkali manusia mudah bilang maaf dan memaafkan, tapi yang sulit adalah melupakan dan aku tidak akan mudah melupakan dengan semua perbuatanmu pada keluargaku.”
Reyhan merapikan mejanya lalu beranjak bangun dari kursi kerja, berjalan melewati Sarah yang langsung menahan lengannya.-
“Reyhan, berikan aku kesempatan kedua. Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang aku rasakan karena melihat perbuatanmu dengan Siska karena aku tahu kalau itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit yang mamamu rasakan karena foto-fotoku dengan Tuan Peter. Aku akan mencari tahu siapa wanita yang menyerahkan foto itu di depan rumahmu dan menemukan siapa yang berada di balik semua ini. Aku mohon Rey.”
Sarah kembali menangkup kedua tangannya di depan wajah dengan tatapan memohon pada Reyhan. Pria itu menghentakkan tangannya hingga tangan Sarah terlepas.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan dan masalah bagaimana keputusanku nantinya, aku sendiri tidak tahu. Jangan jadikan orang lain sebagai alasan untuk berbuat kebaikan atau kejahatan, tapi tanyakan pada dirimu sendiri apakah kamu masih punya hati nurani saat memutuskan sesuatu.”
Tanpa menunggu jawaban Sarah, Reyhan meninggalkan wanita itu yang masih terpaku di tempatnya,
“Jangan lupa matikan semua lampu sebelum kamu pulang. Kantor ini belum sekaya Hutama Grup yang bisa memboroskan uang hanya untuk beberapa pasang lampu,” sindir Reyhan dengan suara sinis.
Sarah bergegas mengambil tasnya yang ada di sofa lalu mematikan lampu sebelum keluar dari ruangan Reyhan.
Sarah yang takut akan gelap tidak ingin ditinggal sendirian, karena itu ia cepat-cepat menyusul Reyhan yang sudah berdiri di depan lift.
Tidak ada perbincangan apapun selama lift bergerak ke lantai dasar. Reyhan sibuk dengan handphonenya sedangkan Sarah sibuk dengan pikirannya soal siapa yang mencuri diska lepas miliknya.
Saat keduanya sudah berada di depan pintu gedung kantor pengacara ini, Reyhan langsung naik ke mobilnya dan tidak menawarkan tumpangan untuk Sarah hingga akhirnya wanita itu memutuskan memanggil taksi dan menginap di salah satu hotel tanpa membawa pakaian atau yang lainnya.
Sarah lupa kalau ia menaruh satu tas pakaian ganti lengkap dengan peralatan lainnya di bagasi mobil Reyhan. Semuanya itu hanya untuk berjaga-jaga karena Reyhan sering mengajaknya menghabiskan waktu semalam dua malam di hotel.
__ADS_1
Besok pagi-pagi Sarah sudah berencana akan ke apartemen Reyhan untuk mengambil sebagian pakaian dan barang-barang pribadinya sampai dia mendapatkan tempat tinggal yang baru.