
“Elo kenapa lagi sih, Belle ? Seharus nya bahagia karena urusan kampus udah beres semua dan nggak perlu menunda kelulusan, tetap bisa bareng gue,” Sisi mencoba menenangkan hati Annabelle.
Gadis ini sudah 3 hari yang lalu keluar dari rumah sakit dan baru hari ini datang ke kampus lagi. Niatnya mau mengurus masalah cuti kuliahnya karena sempat tidak masuk 4 bulan akibat koma dan pengobatan, tapi nyatanya semuanya sudah beres. Bahkan ketidakhadiran Annabelle malah dihitung sebagai waktu magang. Surat keterangan magangnya pun sudah ada di biro adminstrasi dan kemahasiswaan.
Annabelle bisa balik kuliah dengan jadwal pagi bahkan seluruh biaya kuliahnya sudah beres semua. Annabelle hanya tinggal mengurus hasil magangnya lalu melanjutkan kuliah sebagai bagian dari persiapan skripsi.
“Gue nggak tahu deh siapa yang berinisiatif ngurus, entah Alden atau om Wira soalnya pihak kampus hanya tahunya Pak Hutama,” gerutu Annabelle.
“Udah sih terima aja sebagai rejeki anak soleh. Lagian kan elo memang udah dianggap sebagai bagian keluarga Hutama, malah calon istri Pak Alden juga,” Sisi terkekeh membuat Annabelle langsung menatap sahabatnya dengan wajah galak dan cemberut.
Keduanya langsung menuju kantin. Kuliah tinggal 1 semester lagi dan kalau semua lancar mereka akan diwisuda.
“Kamu anak pindahan ?” Annabelle mengernyit.
Annabelle sedang duduk sendiri di meja sementara Sisi yang memesankan makanan untuk mereka. Empat cowok mahasiswa satu angkatan dan satu jurusan dengannya tiba-tiba ikut duduk di mejanya, salah satunya Irfan, cowok tampan yang jadi idola di kampus namun sangat menyebalkan karena seringkali mem-bully Annabelle saat ia masih memakai kacamata kayunya.
“Kayaknya elo harus ke dokter mata karena udah salah lihat orang,” ledek Annabelle sambil tersenyum tipis.
“Hampir setiap hari elo mengejek gue sebagai si culun dan sekarang pura-pura nggak kenal ?” ejek Annabelle sambil tersenyum sinis.
“Kalian ngapain di sini ?” Sisi yang baru datang membawa nampan makanan menautkan alisnya.
Rama, Galih dan Dewa langsung berdiri, hanya Irfan yang masih duduk berhadapan dengan Annabelle.
“Dia mahasiswa baru ?” Irfan malah balik bertanya pada Sisi.
“Pindahan dari Mars ? Memangnya elo nggak kenalin Annabelle ?”
Keempat cowok tadi langsung menatap Annabelle dengan dahi berkerut, tidak percaya kalau yang ada di depan mereka adalah si culun yang biasanya memakai kacamata tebal bergagang kayu.
“Bukannya elo sempat kecelakaan dan nggak masuk kuliah lagi ?” tanya Rama dengan suara yang tidak yakin.
“Iya Annabelle sempat kecelakaan terus lanjut magang, jadi ya wajar kan kalau nggak datang-datang ke kampus,” lagi-lagi Sisi yang menjawab.
Annabelle terlihat santai dan menikmati bakso yang dipesannya. Rasanya benar-benar luar biasa di lidah karena dengan indera pengecap miliknya, Annabelle bisa kembali makan bakso kesukaannya.
“Lagi ngapain rame-rame ?” Rianita, Lusi dan Miranda ikut datang menghampiri kerumunan keempat cowok tampan itu.
Irfan sendiri sempat menjadi kekasih Rianita saat mereka belum lama masuk kuliah dan akhirnya kandas setelah 2 tahun menjalin kisah asmara. Keduanya sempat menjadi pasangan populer dan diidolakan banyak mahasiswa karena sama-sama bintang kampus dan terlihat romatis.
“Elo percaya kalau dia Annabelle ?” Dewa menunjuk Annabelle yang dengan cueknya masih menikmati bakso.
Rianita melipat kedua tangannya di depan dada dan matanya mulai menyipit menelisik Annabelle yang bersikap masa bodoh.
“Elo oplas ke Korea ?” tanya Rianita masih dengan tatapan menelisik. Annabelle menggeleng karena mulutnya sedang asyik mengunyah bakso.
“Terus mata elo bisa melihat tanpa kacamata tebal itu ?” Lusi tidak mampu menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
“Kacamata Annabelle itu palsu, hanya untuk membuatnya terlihat culun,” Sisi yang menjawabnya terkekeh pelan.
“Kenapa ? Memangnya sudah dijodohkan sama orang dan takut diserobot ?” ejek Miranda sambil tertawa, diikuti Rama, Galih dan Dewa.
Irfan sendiri sama seperti Rianita, dengan kedua tangan terlipat di depan dada tatapannya masih menelisik sosok Annabelle yang ada di depannya.
“Nah itu elo udah tahu jawabannya,” sahut Sisi.
Annabelle yang sudah selesai makan mendorong mangkok baksonya dan mengambil botol air mineral lalu meneguknya.
“Terima kasih atas pujian elo selama ini,” Annabelle tersenyum menyindir Irfan. “Tapi mau memuji bohongan atau beneran nggak penting banget, sih. Gue pamit dulu.”
Annabelle memberi isyarat pada Sisi untuk bangun dan meninggalkan gerombolan idola kampus itu. Kenikmatan makannya terganggu karena dikerumuni orang-orang yang tidak penting.
“Sekarang kita mau kemana ?” tanya Sisi. “Gue harus ke café siang ini, mau gantiin teman yang nggak masuk.”
“Ada lowongan buat gue ?” Annabelle berjalan mengikuti Sisi menuju parkiran motor.
“Bukannya elo kerja di tempatnya Pak Alden ?”
“Gue udah mengundurkan diri makanya bisa ambil kelas pagi kayak elo. Tapi gue tetap butuh tambahan, gue masih punya hutang biaya kuliah sama om Wira dan tante Lanny. Nggak mau sampai hutang budi sama mereka.”
“Tapi kan..”
“Ya udah coba ikut aja ke café, nanti gue tanyain sama boss. Kalau ada, elo bisa langsung wawancara.”
Sisi memberikan helm cadangannya untuk Annabelle. Keduanya langsung menuju café tempat Sisi bekerja.
Hanya butuh waktu 10 menit, motor Sisi sudah terparkir di depan café.
“Elo masuk sebagai pengunjung dulu, ya, soalnya gue hampir telat. Nanti kalau boss ada, gue tanyain langsung.”
“Elo sampai jam berapa ?”
“Gue kerja sampai jam 8. Kalau nanti boss nggak ada, elo balik duluan nggak apa-apa. Masih punya ongkos pulang kan ?” tanya Sisi sambil terkekeh.
“Asem lo !” Annabelle melotot mendengar ledekan Sisi.
Keduanya lantas berpisah karena Sisi masuk dari pintu karyawan sementara Annabelle masuk lewat pintu pengunjung. Perutnya masih kenyang untuk memesan makanan, tapi gelas minuman dengan aneka warna yang ada di meja tamu-tamu membuat matanya tergiur juga untuk memesan salah satunya.
“Yudha ?” gumam Annabelle saat melihat seorang pria duduk sendirian sedang sibuk dengan handphonenya.
Matanya mengernyit, memastikan kalau yang dilihatnya adalah pria yang sudah membuat hatinya kesal. Hampir 2 minggu saat Annabelle masih di rumah sakit Yudha tidak pernah lagi membesuknya, hanya di hari pertama kepindahannya saja.
__ADS_1
Selalu kata sibuk yang jadi senjatanya, bahkan sudah 3 hari ini pesan yang dikirim Annabelle hanya dibaca saja.
“Jadi sibuknya di café ya ?” Annabelle bertolak pinggang berdiri di dekat meja Yudha.
“Belle !” Yudha tampak terkejut saat melihat gadis yang dihindarinya malah sekarang berdiri di depannya.
“Sibuk banget sampai mengeluarkan sedikit tenaga untuk membalas pesanku susah banget ? Dan sekarang malah duduk santai di sini. Ngapain ? Nggak mungkin janjian sama pasien yang ada juga nunggu pacar.”
Tatapan dan nada ketus Annabelle membuat Yudha jadi salah tingkah. Dia sendiri sedang menata hatinya karena tahu sekarang atau nanti harus melepaskan Annabelle untuk Alden. Kali ini perasaannya lebih dalam dan terasa menyakitkan dibandingkan saat berebut Sarah dengan Alden.
“Aku beneran sibuk, Belle. Hari ini kebetulan mau bertemu dengan teman sekolah yang udah lama banget nggak ketemu.”
“Dan kamu tahu kalau kampus aku sangat dekat dari sini, kan ? Kalau memang kamu sibuk, aku bisa yang datang menemuimu.”
Yudha merasa bersalah saat melihat mata Annabelle berkaca-kaca. Bukan tidak ingin menemui Annabelle lagi, tapi Yudha ingin memberikan kesempatan untuk Alden mendekati Annabelle, memperbaiki kesalahannya yang sudah menyakiti Annabelle.
“Belle, sekarang kita sudah ketemu di sini, kamu duduk dulu ya, nanti aku kenalin juga sama temanku itu.”
“Sebagai apa ? Pasien atau pacar ?” tanya Annabelle dengan tatapan yang menghunus hati Yudha, namun pria ini masih berusaha bersikap biasa saja.
“Maunya kamu apa ?” Yudha balik bertanya sambil terkekeh.
Annabelle diam saja dan menghela nafas karena kesal. Tidak tahu kenapa hatinya kecewa saat Yudha tidak lagi mengunjunginya sebagai pasien meski jiwanya sudah tidak lagi ada menempati tubuh Sarah, apalagi Yudha juga jarang membalas pesan Annabelle.
“Belle, duduk dulu, ya. Aku pesankan es krim kesukaanmu,” Yudha berusaha membujuk Annabelle dan meraih jemari gadis itu, bermaksud mengajaknya duduk bersama.
“Yudha !” panggilan itu membuat keduanya menoleh dengan posisi Yudha masih menggenggam Annabelle.
“Hana,” Yudha balas menyapa gadis itu sambil tersenyum.
Hana, wanita seumuran Yudha yang baru datang itu mengerutkan dahi sambil menatap tangan Yudha yang menggenggam Annabelle.
“Alden ?”
Belum sempat sadar akan tatapan Hana, Yudha tertegun saat melihat Alden menyusul di belakang Hana namun tidak terlihat Raka mengikutinya.
Annabelle langsung melengos dan membuang pandangan ke lain arah. Hatinya sudah sedikit terhibur saat Yudha mengajaknya duduk, berniat mengenalkan pada temannya dan menikmati es krim di café, tapi kehadiran Alden kembali merusak moodnya.
“Belle ?” Alden mengerutkan dahi saat melihat Annabelle ada di situ juga bahkan jemarinya berada dalam genggaman Yudha. Ada rasa cemburu mulai memercik di hati Alden.
“Pacar elo ?” Hana mencoba memecah situasi yang terlihat kaku dan serba salah itu.
“Eeehh.. ini…”
“Annabelle dan iya pacarnya Yudha,” Annabelle langsung memotong dan mengulurkan tangannya pada Hana sambil tersenyum manis.
Kali ini tangan Annabelle membalas genggaman Yudha membuat kedua jemari mereka saling menaut. Yudha menoleh setelah sempat melirik ke jemarinya dan Annabelle, namun gadis di sebelahnya hanya tersenyum manis, seolah tidak peduli pada Alden yang mengepalkan satu tangannya meski bibirnya tersenyum.
__ADS_1