Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Pelampiasan


__ADS_3

Sarah baru saja pulang wawancara di salah satu kantor pengacara yang cukup ternama. Belum langsung ada keputusan, namun ia boleh sedikit lega, karena Tuan Peter tidak menutup jalannya mencari pekerjaan baru.


Sarah juga sudah mendapatkan tempat tinggal baru. Bukan lagi apartemen mewah, melainkan satu kamar kost yang sederhana.


Selama belum ada pekerjaan tetap, Sarah tidak berani mengambil kamar kost yang bisa menguras tabungannya.


Sarah memutuskan untuk datang ke apartemen Reyhan, mengambil beberapa barang penting miliknya yang masih tertinggal.


Sampai di depan pintu, Sarah menekan 6 angka untuk membuka pintu apartemen. Tubuhnya terasa letih setelah melewati wawancara penuh ketegangan hari ini.


Sarah senyum-senyum sendiri, teringat akan Reyhan yang masih saja kasar padanya tapi tidak menolak kehadiran Sarah.


Begitu langkahnya semakin dalam masuk ke apartemen, Sarah mendengar suara wanita sedang berteriak kenikmatan.


Jantungnya berdebar, berharap kalau itu semua hanya tontonan film yang sedang diputar, bukan kenyataan.


Dengan perlahan Sarah mendekati kamar Reyhan yang sedikit terbuka. Tubuhnya semakin bergetar saat mendengar suara erangan itu semakin jelas.


“Reyhan !” teriak Sarah saat melihat pemandangan yang menyakitkan untuk kedua kalinya.


Seorang wanita yang tidak dikenalnya sedang berada di atas tubuh Reyhan tanpa mengenakan busana.


Reyhan yang terkejut langsung mendorong wanita yang bingung itu hingga terjatuh ke lantai sambil meringis.


“Pakai bajumu !” perintah Reyhan.


Ia sendiri menarik selimut dan duduk di atas ranjang.


“Mau ngapain kamu kemari ?” suara Reyhan terdengar galak, tidak mempedulikan Sarah yang mulai menangis.


Reyhan bergeser ke nakas dan mengambil dompetnya. Diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan dilempar secara asal pada wanita tadi.


“Ambil itu dan pergi sekarang,” tegas Reyhan.


Sarah menggigit bibir bawahnya. Wanita yang baru saja melayani Reyhan melewatinya, pakaian dan wangi parfumnya tidak seperti wanita bayaran pada umumnya, justru penampilannya lebih cocok sebagai orang kantoran.


“Mau apa kamu kemari tanpa pemberitahuan ?” Reyhan turun dari ranjang, dan tanpa malu-malu ia mengenakan celana panjangnya.


”Apa tidak cukup pelayananku untukmu ?” tanya Sarah di sela isak tangisnya.


“Bahkan aku tidak peduli saat kamu memperlakukan aku seperti perempuan bayaran !”


Reyhan tersenyum sinis dan melewati Sarah yang masih berdiri di pintu.


“Kenapa ? Malas dengan pria yang tidur dengan banyak wanita ?” ejek Reyhan dengan senyuman sinis,


Pria itu masih bertelanjang dada pergi ke dapur meneguk air putih diingin.


Kehadiran Sarah di luar perkiraannya. Sudah sepuluh hari ini Sarah tidak mengirimkan kabar padanya, Reyhan sempat tidak tenang, namun enggan dan gengsi mengirimkan pesan menanyakan kabar Sarah.


Sebelum mengetahui masalah Sarah dengan papanya, Reyhan bukanlah tipe laki-laki yang mudah tergoda hubungan singkat dengan wanita apalagi sampai berakhir di atas ranjang.


Seluruh hatinya tercurah untuk Sarah meskipun tahu kalau wanita itu sudah bukan gadis lagi saat pertama mereka melakukannya.


“Seumur hidupku kamu adalah laki-laki kedua setelah Tuan Peter. Apa yang terjadi antara aku dan papamu memang tidak bisa dihapus dari masa laluku,


tapi selama berhubungan denganmu, tidak sekalipun aku melakukan pengkhianatan dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Aku merasa kamu adalah penolong hidupku yang mengajariku tentang arti kesetiaan dan cinta, tapi ternyata aku salah.”


Reyhan kembali menuang air dingin dan meneguknya sampai habis.


“Kamu tidak ada bedanya dengan papamu,” desis Sarah sambil tersenyum sinis.


”Kalian mudah tergoda dengan wanita saat dalam masalah. Mudah terjebak dengan alasan rasa iba. Itu sebabnya papamu bisa meniduri mama dan aku sekaligus.”


Sarah tersenyum dengan nada mengejek saat Reyhan menggebrak meja hingga gelas yang dipakainya terguling.


“Jaga ucapanmu ! Jangan berlagak jadi wanita suci !” Reyhan dengan tatapan nyalang mencengkram dagu Sarah yang balas menatapnya tanpa rasa gentar.


“Kenapa ? Takut karena ucapanku benar ?”


Tatapan Sarah makin menantang membuat emosi Reyhan ikut bertambah.


“Iba ? Bull**it ! Mana ada rasa kasihan jadi alasan menjalin hubungan dengan mama Amora ? Kamu yakin cukup one night stand bisa membuat Riri hadir ? Dan saat berhasil aku jebak, kamu tahu apa yang jadi penyebabnya ? Papamu adalah laki-laki normal yang membutuhkan pelampiasan hasratnya.”


“Cukup !” Mata Reyhan makin membesar dan dihentaknya wajah Sarah dengan kasar.


“Jangan bicara cinta dan iba dan berpura-pura setia, Saat tawaran menggiurkan datang, terbukti kamu dan papamu tidak menyia-nyiakan kesempatan.”


Plak !


“Tutup mulut busukmu ! Otak jahatmu hanya bisa berpikiran buruk tentang hidup orang lain !”


“Nethink maksudmu ?” Sarah malah maju mendekati Reyhan tanpa mempedulikan pipinya yang terasa perih.


“Aku bicara kenyataan !” tegas Sarah penuh penekanan. “Papamu mudah dijebak olehku karena hati kecilnya mencari apa yang tidak bisa diberikan mamamu !”


“Pergi dari sini !” geram Reyhan. “Dan jangan coba-coba kembali lagi ! Semua barangmu akan diurus Helena. Pergi !”


“Aku akan mengambil milikku yang penting-penting saja, tidak perlu kamu merepotikan Helena. Sisanya adalah pemberianmu, silakan kalau mau kamu berikan pada wanita-wanita bayaranmu.”


Sarah berbalik; mengambil satu kotak yang sudah disiapkannya dan pergi menuju kamar yang tadi dipakai Reyhan.


Sarah melirik ke atas ranjang yang berantakan. Hatinya terluka mengingat banyak kehangatan yang pernah dibuatnya dengan Reyhan di atas tempat tidur itu dan sekarang semuanya berakhir dengan rasa sakit dan pahit.


20 menit kemudian Sarah sudah selesai mengambil barang miliknya. Matanya sempat bertemu dengan Reyhan, keduanya sama-sama sarat luka.


****


Sarah menghentikan mobilnya di salah satu cafe. Hatinya hancur berantakan menghadapi kenyataan kalau Reyhan sudah berubah.


Dari dalam mobil, Sarah menyipitkan mata, memastikan kalau wanita yang dilihatnya sedang duduk di dalam cafe adalah penyebab kehancurannya bersama Reyhan.


Kemarahan Sarah kembali membuncah, apalagi melihat wanita itu sedang tertawa bahagia bersama 2 orang pria muda sebaya.


Sarah turun dari mobil dan otaknya berputar memikirkan apa yang akan dilakukannya pada gadis itu.


Langkah Sarah bukan menuju kasir melainkan berbelok mendekati Annabelle yang sedang berdiskusi dengan 2 teman kampusnya.


“Dasar pelakor !” teriak Sarah langsung menjambak rambut panjang Annabelle yang tegerai.


Kedua teman kuliah Annabelle membelalakan mata, terkejut saat teman mereka tiba-tiba didatangi dan dijambak oleh seorang wanita dewasa.


“Belum puas merebut suami orang, sekarang berani mendekati pria-pria muda untuk jadi mangsamu selanjutnya.”

__ADS_1


Annabelle berusaha melepaskan tangan Sarah sampai meminta tolong pada 2 temannya yang langsung memisahkan keduanya.


Bahkan beberapa karyawan cafe ikut mendekat dan membantu memisahkan.


“Kalian harus hati-hari dengan wanita ini !” Sarah yang dipegangi dua orang karyawan cafe menunjuk-nunjuk Annabelle.


“Wajahnya saja yang keihatan lugu, hatinya busuk melebihi pe**cur jalanan,” Sarah berdecih dengan senyuman mengejek.


Annabelle yang baru bisa menghilangkan rasa pusing karena dijambak tiba-tiba langsung melotot menatap Sarah.


“Suami siapa ? Sejak kapan saya berminat sama suami kamu !” Annabelle balas menunjuk tanpa berteriak.


“Jangan pura-pura bodoh di depan orang. Setelah puas membuat suami saya memberikanmu uang, kamu mulai memangsa pria-pria muda yang tidak tahu apa-apa.”


Annabelle menghela nafas dengan wajah kesal.


“Kamu kenal sama mbak ini, Belle ?” tanya Dicky, salah satu temannya.


“Kenal, tapi tidak tahu suami siapa yang dia maksud. Bahkan setahuku sampai sekarang dia belum menikah.”


“Dasar wanita ular !” Sarah kembali memaki. “Bahkan kamu rela tidur dengan suamiku hanya untuk segala kemewahan yang kamu nikmati sekarang.”


“Kamu sudah gila, ya ? Bukan aku yang menggagalkan pernikahanmu dengan Alden !” pekik Annabelle.


“Kan ? Anda semua dengar sendiri kalau dia mengenal suami saya dengan baik ? Dia pura-pura tidak bersalah sudah merebut suami saya.”


Annabelle sadar kalau saat ini sedang jadi pusat perhatian dan bukan tidak mungkin mereka akan menganggap ucapan Sarah ada benarnya.


“Bu, tolong jangan bikin kekacauan di sini. Mari kita bicara di kantor. Saya tidak ingin pengunjung lain terganggu karena masalah pribadi mbak berdua.”


“Saya tidak tahu apa masalah dia, Pak. Saya tidak mau memperpanjang urusan ini. Saya harus balik ke kampus.” Annabelle menolak ajakan manajer cafe karena tahu kalau sikap Sarah hanya kebohongan belaka.


“Takut terbongkar dan makin banyak orang tahu wanita seperti apa kamu sebenarnya ?” ejek Sarah sambil melirik kedua pria teman Annabelle.


Annabelle menghela nafas karena manajer cafe tetap memaksanya ikut ke kantor. Sarah tidak puas melepas Annabelle begitu saja.


“Kalian balik dulu ke kampus, gue beresin dulu masalah cewek gila ini.”


“Elo yakin, Belle ?” tanya Tito, teman Belle yang lain.


“Kenapa suruh temanmu pulang ? Takut kalau mereka tahu kalau kamu tidak lebih dari sekedar wanita penjaja cinta ?”


Tangan Annabelle sudah gatal ingon menampar wajah Sarah, tapi akan jadi panjang kalau ia dilaporkan melakukan kekerasan.


Dicky dan Tito memutuskan untuk menemani Annabelle. Pikiran keduanya sempat terusik dengan ucapan Sarah dan berharap mendapat kepastian dengan tetap berada di situ.


Sesuai dugaan Annabelle, selalu ada masalah baru yang dikeluarkan Sarah setiap kali terpojok hingga akhirnya manajer cafe meminta Annabelle dan Sarah menandatangani surat kesepakatan dan larangan untuk mengunjungi cafe lagi sampai 6 bulan ke depan.


Kalau sampai kejadian ini terulang, keduanya akan dilaporkan kepada pihak berwajib dan diproses secara hukum.


Annabelle diminta duluan meninggalkan cafe bersama kedua temannya.


Dari tatapan mereka, Annabelle bisa menangkap kalau Dicky dan Tito sedikit terpengaruh oleh ucapan Sarah.


“Kalau gue memang dapat pria kaya seperti kata wanita itu, nggak ada cerita gue kuliah ambil kuliah kelas karyawan dan kemana-mana naik bus atau ojol,” ujar Annabelle sambil tersenyum tipis.


Annabelle menolak ajakan Dicky untuk naik mobilnya dan memilih langsung pulang ke rumah, batal kembali ke kampus.

__ADS_1


Dicky dan Tito menatap punggung Annabelle yang berjalan menuju halte bus.


Keduanya merasa tidak enak karena sudah meragukan Annabelle yang memang tidak punya cerita dekat dengan pria di kampus atau berganti-ganti pacar.


__ADS_2