
Operasi Alden berjalan dengan lancar namun hingga hari ketiga, Alden masih belum membuka mata dan dirawat di ruang ICU.
“Mau jalan-jalan sama dokter tampan ini ?” Annabelle nampak terkejut saat melihat Yudha muncul di kamarnya.
“Sendirian ?” Annabelle menautkan alisnya. “Jangan bilang kalau Mommy menyuruhmu untuk menjadi psikiaterku lagi.”
“Hei, memangnya kamu kenapa sampai membutuhkan psikiater ? Tidak boleh datang sebagai teman ?”
“Modus,” Annabelle mencibir. “Kalau begitu tidak ada salahnya aku manfaatkan untuk menjadi perawatku sehari.”
“Anything for you my Belle,” sahut Yudha sambil tertawa.
Psikiater tampan itu langsung membantu Annabelle duduk di kursi rodanya dan membawanya keluar kamar.
“Aku ingin menemui Alden dulu.”
“Sesuai perintah anda Nona muda Hutama,” ledek Yudha sambil tergelak dan Annabelle hanya mencibir.
“Harusnya kamu bahagia karena itu adalah doaku yang tulus untukmu dan Alden,” Yudha kembali menggoda Annabelle sambil mendorong kursi roda gadis itu menuju lantai 3 dan masuk ke ruang ICU.
”Jadi sudah mulai mencintainya ?” bisik Yudha aaat mereka berada di samping Alden yang masih memjamkan matanya.
“Sejak dulu dan tidak pernah berubah,” lirih Annabelle sambil tersenyum tipis.
“Kalau begitu jangan menolak takdir lagi kalau sampai Tuhan memberi kalian kesempatan ketiga.”
“Ketiga ?” kedua alis Annabelle menaut.
“Jangan pura-pura lupa,” ujar Yudha sambil terkekeh.
Selesai membesuk Alden, Yudha membawa Annabelle ke halaman di belakang gedung utama rumah sakit.
“Jadi ingat kejadian beberapa bulan yang lalu,” Annabelle tertawa pelan sambil menatap hamparan rumput di depannya.
“Yakin ingat kejadian Sarah Belle ?”
“Usiaku masih jauh dari kata pikun !” omel Annabelle sambil mencebik.
Yudha tertawa sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Tapi kamu lupa alasan kenapa kamu bisa kembali menjadi Annabelle yang sekarang.”
Annabelle terdiam karena bukannya lupa, tapi ia menyangkal kenyataan itu.
“Kamu tidak lupa apa yang dikatakan oleh wanita yang menemuimu saat koma kan ? Satu-satunya yang bisa membuat jiwamu kembali bersatu dengan ragamu hanya cinta tulus Alden, bukan cinta tulus dari sembarang pria. Wanita itu menyebut nama Alden dengan tegas yang membuatmu putus asa. Tapi nyatanya ?”
“Aku tidak lupa,” lirih Annabelle.
“Tapi sikapmu pada Alden membuat banyak orang yang percaya pada Sarah Belle malah melihatmu telah menyangkal alasan kamu menjadi Annabelle lagi.”
“Aku tidak sanggup melupakan bagaimana sikap Alden pada orangtuaku saat kecelakaan itu terjadi. Bagaimana Alden justru berharap semoga maut menjemputku.”
__ADS_1
“Itu yang terjadi di hari pertama, tapi kenyataannya di hari ke-100 Alden sudah membuktikan seberapa tulus dia mencintaimu, Belle. Cinta Alden telah memberikan kehidupan untukmu, membuat jiwamu kembali pada ragamu.”
“Apakah cintaku bisa memberikan hidup Alden kembali lagi ? Bagaimana kalau saat sadar, dia justru melupakan aku ?”
“Kenapa kamu sekarang harus takut ? Jadi kamu memilih Alden mati tanpa tahu kalau kamu masih sangat mencintaimu ?”
“Mana mungkin aku mengharapkan Alden tiada, Yudha !” protes Annabelle dengan mata berkaca-kaca.
“Belle, setelah kecelakaan itu, Alden sudah bisa merasakan kalau yang ada di hadapannya bukanlah Sarah tetapi Annabelle. Setiap hari tingkah laku Sarah justru membuatnya yakin kalau ia sedang berhadapan dengan Annabelle, hanya saja Alden tidak tahu alasannya.”
“Masih bolehkah aku berharap Alden mencintaiku, Yudha ?”
“Belle, apakah pengorbanannya saat ini masih belum bisa membuatmu yakin kalau Alden sangat mencintaimu ? Cintanya memberimu hidup lagi untuk kedua kalinya Belle. Seharusnya hari ini dia sudah berada di Jerman karena semuanya sudah disiapkan sejak sebulan yang lalu.
Alden memohon pada Sisi untuk bisa menemuimu sekali lagi sebelum dia pergi untuk waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Dan kalau saat ini Alden bisa bicara, ia akan bersyukur bisa dipertemukan denganmu dan menggantikanmu menjadi target Sarah.”
“Apa yang harus aku lakukan untuk membuat Alden sadar kembali ?”
“Mencintainya dengan tulus , Belle. Lupakan semua rasa sakit hati dan kebencianmu. Jangan lagi menyangkal perasaanmu pada Alden. Biarkan cintamu yang memberikan kehidupan untuk Alden.”
Annabelle memejamkan mata dengan deraian tangis yang masih mengalir dari kedua sudut matanya.
*****
“Kak Hana !” Annabelle terlihat bahagia saat melihat wanita yang sebentar lagi akan menikah dengan Yudha datang mengunjunginya.
Dibantu Mama Mira, Annabelle bersiap-siap pulang ke rumah setelah 5 hari menjadi pasien di rumah sakit ini.
“Yups, baru mulai minggu ini,” Hana mengangguk senang. “Yudha juga jadi psikiater tetap di sini.”
“Wow, jadi kalian diperbolehkan kerja di rumah sakit yang sama ?”
“Berkat bantuan Om Wira,” Hana terkekeh dengan wajah bahagia. “Lagipula kami berbeda bidang keahlian.”
“Berarti aku tinggal menunggu surat undangannya,” ledek Annabelle.
“Tinggal menunggu restu dari orangtua Yudha.”
“Aku doakan bisa segera, Kak.”
Hana mengangguk-angguk dan membantu membawakan tas pakaian milik Annabelle yang dibawa oleh Mama Mira.
Ada Papa Rano juga yang menjemput dan seorang sopir suruhan Daddy Wira. Untuk sementara Papa Rano belum diijinkan menyetir sendiri.
“Ma…” Annabelle menatap mamanya saat mereka masuk ke dalam lift.
Kedua orangtua Annabelle itu langsung mengangguk, mengerti apa yang diinginkan putrinya sebeluk pulang ke rumah.
Sampai di lantai 3, kedua orangtua Anabelle dan Hana menunggu di luar ruangan ICU sementara Annabelle masuk membesuk Alden.
“Den, ini aku Belle. Sebetulnya aku masih ingin berada di dekatmu tapi tidak mungkin juga terus menjadi pasien sementara dokter sudah mengijinkanku pulang. Aku merindukanmu, Den. Bukalah matamu. Aku… “
__ADS_1
Annabelle tidak mampu lagi menahan air matanya. Tangannya menggenggam erat jemari Alden yang terasa dingin.
“Aku mencintaimu Alden,” Annabelle mengucapkan kalimat itu dalam satu tarikan nafas.
Kalimat yang selalu dibisikkannya setiap mengajak Alden yang koma ini berbicara.
“Aku sangat mencintaimu, sejak dulu sampai sekarang. Terima kasih karena cintamu memberiku hidup sampai dua kali pula. Bukalah matamu, Den. Aku benar-benar sesak tanpamu. Berikan aku hidup lagi dengan cintamu.”
Annabelle menciumi tangan Alden yang akhirnya basah karena airmata Annabelle.
“Aku akan datang lagi besok, lusa dan hari-hari selanjutnya sampai kamu membuka mata. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggumu, aku ingin melihatmu membuka mata kembali.”
Annabelle beranjak bangun dan mencium kening Alden lalu pindah ke kedua pipinya. Annabelle terlihat ragu saat ingin mencium bibir Alden, namun hari ini Annabelle memberanikan diri menyentuh bibir Alden dengan bibirnya.
“Aku mencintaimu, Alden Hutama,” bisik Annabelle di telinga Alden.
Annabelle tersenyum sebelum meninggalkan Alden namun langkahnya tertahan saat merasakan genggaman Alden semakin kuat.
“Alden ?”
Jemari Alden masih menggenggam Annabelle dan matanya terbuka perlahan.
“Suster !” Annabelle memanggil perawat yang berjaga di ruangan.
Mata Alden mengerjap dan bibirnya tersenyum saat bertatapan dengan Annabelle.
Dua orang perawat langsung memeriksa kondisi Alden dan seorang lainnya memanggil dokter yang bertanggungjawab dalam pengobatan Alden.
“Nona bisa tunggu di luar dulu ?”
“Den, aku ada di luar, nggak akan kemana-mana,” ujar Annabelle mengeratkan genggamannya untuk meyakinkan pria itu.
Alden pun melepaskan tangan Annabelle yang langsung keluar dengan wajah bahagia.
“Bahagianya yang baru ketemu belahan hati,” ledek Hana saat melihat Annabelle keluar dengan wajah tersenyum.
Annabelle langsung menghambur ke pelukan Mama Mira yang berdiri di samping Hana.
“Alden sadar, Ma. Alden sudah membuka matanya dan tersenyum. Boleh aku tetap di sini ?”
“Sungguh Belle ?” wajah Papa Rano terlihat kaget bercampur bahagia.
“Tentu boleh, sayang. Mama dan Papa akan rmenanimu juga,” Mama Mira melerai pelukannya dan mengusap wajah Annabelle yang basah dengan air mata.
Papa Rano langsung menghubungi Tuan dan Nyonya Hutama tentang kabar baik ini.
“Alden sudah kembali, Kak,” Annabelle gantian memeluk Hana.
“Syukur pada Tuhan, Belle. Semoga semuanya dilancarkan,” ujar Hana sambil mengusap-usap punggung Annabelle.
Tidak lama terlihat dua orang dokter bergegas masuk ke ruang ICU.
__ADS_1