
Satu jam berlalu dan belum ada tanda-tanda operasi Alden selesai. Mommy Lanny belum lama datang bersama Mama Mira yang sudah siap membawakan pakaian ganti untuk Annabelle.
Yudha harus pamit karena ada janji temu dengan pasien di tempat praktek lamanya. Lusia pun harus kembali ke ruang praktek jadwal visit sebelum praktek sore.
”Nanti sore aku jemput kamu di sini,” ujar Yudha saat keduanya menunggu pintu lift terbuka.
“Kalau sempat boleh minta tolong jemput Yudis aja dan langsung bawa ke rumah ? Aku pulang sendiri naik taksi, lebih praktis dan efisien.”
“Yakin kamu nggak apa-apa pulang sendirian ?” Yudha memicingkan matanya memastikan Lusia.
“Iya, aku akan waspada soal Gerry,” Lusia mengangguk penuh keyakinan sambil tersenyum.
Baru saja pintu lift terbuka, handphone Lusia bergetar. Panggilan darurat dari rumah sakit.
“Aku harus ke ruang operasi sekarang. Ada ibu hamil yang mengalami kecelakaan dan harus segera dioperasi.”
“Ya sudah, kamu langsung ke sana.”
Yudha menyempatkan mencuri ciuman di pipi Lusia yang langsung tersipu.
Hubungan keduanya memang belum dipublikasikan karena posisi mereka masih sama-sama dokter baru di sini yang masuk atas referensi Daddy Wira.
Lusia langsung masuk ke ruang operasi yang sudah diinfo oleh pihak rumah sakit.
Setelah beberapa saat dokter Iskandar, spesialis obgyn melakukan bedah caesar, seorang bayi perempuan berhasil dilahirkan dengan usia kandungan 30 minggu.
Kondisi bayi prematur itu selamat meski harus dirawat di inkubator sementara ibunya mengalami koma.
Lusia pun keluar bersama dokter obgyn dan anestesi yang menangani proses persalinan darurat ini.
Mata Lusia langsung membola saat melihat dua pasang orangtua yang berdiri di luar kamar operasi dan seorang laki-laki yang mengaku sebagai suami pasien wanita itu.
“Secara keseluruhan bayinya sehat hanya berat badannya sedikit di bawah normal dan masih perlu dirawat dalam inkubator,” ujar Lusia saat mendapat kesempatan memberikan penjelasan.
Gerry, pria yang berdiri di depannya menatap Lusia dengan wajah sendu sementara wanita baya yang dikenal Lusia sebagai mama Gerry sejak tadi menyipitkan matanya, mencoba mengingat sosok Lusia yang masih memakai scrub.
Setelah beres memberikan penjelasan, tim dokter pun pamit undur diri termasuk Lusia yang enggan bicara panjang lebar dengan Gerry dan orangtuanya.
“Dokter tunggu !” suara wanita baya itu menghentikan langkah tim dokter yang baru saja melangkah.
“Maaf, saya boleh bicara sebentar dengan anda, dokter ?” Mama Gerry sudah berdiri di depan Lusia.
“Silakan, Bu. Kami permisi dulu,” dokter Iskandar yang paling senior menjawab permintaan Mama Gerry dan memberi isyarat pada Lusia untuk tetap tinggal.
“Ada yang saya bisa saya bantu, Nyonya ?” Lusia tersenyum dan terpaksa memasang wajah ramah.
“Kamu perempuan itu kan ?” nada sombong Mama Gerry membuat Lusia ingin cepat-cepat pergi.
“Ma,” Gerry menegurnya saat posisinya sudah dekat Lusia dan mamanya.
“Terima kasih sudah membantu persalinan Indri, Lus,” ujar Gerry dengan tulus.
“Sudah jadi tanggungjawabku sebagai dokter, permisi.”
Enggan berlama-lama dengan keluarga Gerry, Lusia pun berjalan menuju lift. Tanpa terduga, Gerry ikut masuk dan berdiri di samping Lusia.
“Bisa minta waktu sebentar ?” pinta Gerry
“Aku ada tugas visit lalu praktek. Mungkin bisa lain waktu.”
__ADS_1
“Sebentar saja, Lus. Soal anak kita.”
Mata Lusia langsung melotot karena di dalam lift ada beberapa perawat yang langsung melirik saat mendengar ucapan Gerry.
Lusia mendengus kesal saat keluar dari lift di lantai dasar. Dia sampai lupa kalau pakaiannya masih di locker yang ada di dekat ruang operasi.
“Mau bicara apa ?” tanya Lusia sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Gerry hanya menatap Lusia tanpa mengucapkan kata-kata. Setelah melihat jam tangannya, Lusia urung masuk ke dalam ruangannya dan berjalan menuju cafe yang ada di lobby rumah sakit.
Tangannya langsung mengambil handphone dan mengirim pesan pada Yudha.
(LUSIA) Ternyata wanita yang mengalami kecelakaan itu istrinya Gerry dan sekarang suaminya minta waktu bicara. Aku ajak ke cafe depan.
“Mau bicara apa ?” tanya Lusia setelah keduanya duduk berhadapan.
“Tentang kita.”
“Aku sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan pribadimu, Ger. Dan tidak ada lagi kita karena kita hanyalah dua orang asing yang baru bertemu.”
“Anak yang baru saja lahir bukan anakku tapi anak Indri dengan laki-laki lain.”
Lusia sempat menautkan alisnya, merasa sedikit aneh dengan ucapan Gerry.
“Terus ?”
“Maaf kalau kedatanganku kemarin memberi kesan tidak baik. Aku benar-benar stres dan merasa tertekan saat itu.”
“Maaf Ger, waktu aku benar-benar terbatas jadi langsung ke poin pentingnya saja. Kalau soal Yudis, sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkannya padamu, lagipula kamu sudah punya istri yang sah. Kalau memang kalian sudah bisa menerima masa lalu masing-masing, tinggal bicara saja soal rencana memiliki anak berdua.”
“Itu masalahnya, Lus,” Gerry menghela nafas dan membiarkan pelayan meletakkan pesanan mereka.
Lusia mengucapkan terima kasih dan kembali fokus menatap Gerry. Matanya sempat melirik satu pesan masuk yang terlihat di layar handphonenya.
( LUSIA ) Pria single lebih menggoda daripada suami orang 😍😍
( YUDHA ) Bikin konsentrasi aku jadi buyar. Awas kalau sudah sah jadi istri.
( LUSIA ) Kutunggu lamarannya, Sayang
Lusia senyum-senyum sendiri dan mengabaikan Gerry yang sempat menghela nafas beberapa kali.
”Jadi kamu sudah mencintai Yudha ?”
Lusia menatap Gerry dengan alis menaut.
“Jadi kamu memang mencintai Yudha sejak dulu ?”
“Apa jawabanku penting untukmu ?” Lusia tertawa sinis.
“Setelah kamu membuangku karena hamil dan keluargamu menganggap aku seperti sampah, sejak itu pula aku sudah memutuskan untuk menghapus ingatan kalau aku pernah mengenalmu.
Kalau aku tahu kalau perempuan itu adalah istrimu,
sudah pasti aku akan minta dokter lain yang menanganinya karena aku benar-benar tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan kalian.”
“Maafkan sikap mamaku yang masih saja kasar padamu.”
“Bagiku kalian tidak lebih keluarga pasien, jangan menganggap diri kalian istimewa.”
__ADS_1
“Lusia…”
Lusia mengangkat tangannya dan mengangkat panggilan telepon dari staf rumah sakit.
“Aku harus mengunjungi pasien, apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan ?” tanya Lusia setelah mengakhiri panggilan teleponnya.
“Keluargaku pasti akan memaksa untuk mendapatkan Yudis,” ujar Gerry dengan tatapan sendu, tidak galak apalagi mengancam seperti yang lalu.
“Tidak akan pernah aku biarkan !” sahut Lusia dengan tegas.
“Aku terkena HIV, Lus,” lirih Gerry. “Bukan hanya HIV, tapi ada gangguan pada organ reproduksiku yang membuatku tidak bisa lagi memberikan keturunan.”
“Itu sebabnya orangtuamu berniat mengambil Yudis dan mengakui sebagai cucu mereka setelah membuangnya 5 tahun lalu ?” sindir Lusia dengan tatapan sinis.
“Ya, karena hanya Yudis satu-satunya keturunanku yang hidup,” sahut Gerry tertawa getir.
“Seperti yang kamu tahu kalau ada banyak perempuan dalam hidupku dan di antara mereka sempat ada yang hamil anakku, tapi perempuan-perempuan itu berhasil kubujuk untuk menggugurkannya dengan iming-iming uang.
Hanya kamu satu-satunya perempuan yang memutuskan untuk mempertahankannya dan tidak peduli dengan akibat yang harus kamu tanggung.”
“Bahkan aku sudah tidak lagi dianggap anak oleh orangtuaku,” Lusia tersenyum getir.
“Aku sempat menikah sebelum menjadi suami Indri. Wanita pilihan Mama juga. Ternyata perempuan terhormat yang terlihat anggun itu tidak lebih baik dariku.
Jean, nama mantan istriku tidak bisa terikat dengan satu pria saja dan semakin memggila saat aku mulai mengalami gangguan sek**sual hingga tidak bisa memuaskan nafsu liarnya di atas ranjang.”
Lusia tersenyum sinis dan menatap Gerry dengan wajah mengejek.
“Aku tahu kalau semua itu adalah karma dari perbuatanku, Lus. Aku sadar sepenuhnya apalagi saat aku dinyatakan menderita HIV. Aku baru tahu kalau virus itu aku dapatkan dari Jean, namun keluarga Jean membantahnya dan balik menuduhku yang menjadi sumbernya.
Akhirnya kami bercerai setelah 10 bulan menikah dan Mama terus menyalahkan aku yang divonis tidak akan bisa memiliki keturunan lagi.”
“Dan kalian akan mengorbakan Yudis untuk menerima kamu sebagai ayah kandungnya ? Jangan pernah berharap !”
“Maafkan aku Lus, maafkan juga Mamaku yang sudah menyakitimu begitu dalam bahkan aku tahu kalau Mama masih enggan bersikap baik padamu meski ingin memiliki Yudis sebagai cucu kandungnya.”
“Sampai kapan pun aku tidak akan menceritakan kalau kamu adalah ayah kandungnya. Semuanya hanya akan menjadi beban untuk Yudis. Dibuang dan diabaikan sejak masih dalam kandungan hingga detik ini lalu tiba-tiba harus mengakui pria setiap malam menghabiskan hidupnya dari satu pelukan perempuan ke perempuan lainnya hingga sekarang harus menanggung penyakit.”
“Aku mengerti perasaanmu, Lus. Aku pun menikahi Indri karena terpaksa,” Gerry menghela nafas.
“Indri adalah anak teman Mama yang ditinggal oleh laki-laki yang menghamilinya dan aku hanya seorang pria yang tidak mungkin menikah karena menderita HIV dan mandul, jadi pernikahan kami hanya sekedar untuk saling memberikan status.”
”Itu masalahmu, Ger, tidak ada hubungannya denganku. Dan aku tegaskan kalau semua cerita melowmu itu tidak akan membuat aku merasa kasihan hingga rela melepaskan Yudis untuk menjadi anakmu. Kalau kamu sungguh peduli dengan darah dagingmu sendiri, lepaskan Yudis, jangan jerat dia dalam kehidupanmu apalagi keluargamu. Bisa kamu bayangkan akan jadi seperti apa Yudis saat dewasa nanti.”
Lusia beranjak bangun karena handphonenya kembali berbunyi.
“Lusia,” Gerry menahan lengan dokter anak itu. “Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai Yudha ? Aku masih ingat betul bagaimana kamu memperlakukan pria itu saat kita masih bersama.”
“Apa yang terjadi di antara kita adalah satu kesalahan terbesar dan mengabaikan Yudha adalah kelakuan terburuk dalam hidupku. Namun Yudha bukan sekedar pahlawan tapi malaikat penolongku. Ia tidak pernah meninggalkan aku bahkan di saat semua orang menganggap aku sampah.”
“Itu karena sejak dulu dia mencintaimu.”
“Ya dan sekarang aku benar-benar bersyukur diberi kesempatan untuk membalas cintanya yang tulus. Cinta yang tidak pernah mengharapkan balasan apapun dan tidak pernah berubah sekalipun aku sering mengabaikan dan menyakitinya.”
“Maafkan aku, Lusia. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah melahirkan dan membesarkan anak kita dengan baik.
Aku bersyukur karena Yudha yang ada di sampingmu dan membantu membesarkan Yudis. Semoga kalian berbahagia.”
Gerry pun ikut bangun dan melepaskan tangan Lusia. Wanita di depannya itu mengerutkan dahi merasa aneh dengan sikap Gerry yang berubah drastis.
__ADS_1
“Akan aku pastikan kalau Mama tidak pernah mengambil Yudis darimu. Seperti katamu tadi, aku ingin kamu dan Yudha membesarkannya dengan baik supaya Mama tidak punya kesempatan untuk menciptakan Gerry yang lain.”
Lusia tersenyum tipis dan bergegas meninggalkan Gerry karena handphonenya kembali berbunyi. Ada pasiennya yang sedang dirawat dan perlu dikunjungi segera.