
Annabelle menggerutu kesal sambil masuk ke dalam lift. Sudah 3 hari ini, Alden mewajibkannya ikut ke kantor dan bertugas mengurusi Alden yang masih belum bisa menggunakan kaki kirinya.
Seminggu yang lalu Alden diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan baru 3 hari ini Alden mulai bekerja.
“Jangan cemberut begitu, kamu kan calon istriku. Kayak nggak rela amat membantu calon suaminya yang lagi sakit,” ujar Alden sambil menatap Annabelle dari pantulan pintu lift.
“Bukan nggak rela, tapi apa perlu aku sampai harus tinggal di rumahmu karena kamu nggak mau dipanggilkan perawat,” gerutu Annabelle.
“Memangnya kamu rela calon suami yang masih perjaka ini dipegang-pegang sama orang lain. Atau sebaiknya kita menikah dulu aja, jadi kamu bisa total mengurus aku, nggak perlu pakai tutup mata dan buang muka segala,” ledek Alden.
“Jadi kita menikah buru-buru hanya demi menghindari dosa kalau aku nggak sengaja melihat punya kamu ?”
Alden langsung tergelak mendengar ucapan Annabelle yang masih memasang wajah cemberut.
”Sebetulnya kamu sengaja juga nggak masalah, aku nggak keberatan kalau kamu yang lihat dan pegang,” ledek Alden sambil terkekeh.
Annabbelle menggerutu dan mendorong kursi roda Alden keluar dari lift. Sampai di depan ruangan Alden tidak terlihat ada Tami, hanya Raka sedang mengerjakan sesuatu di mejanya.
“Duh Nyonya Alden, pagi-pagi udah ditekuk aja mukanya, kurang jatah semalam ?” ledek Raka sambil beranjak dari kursinya.
“Nyonya Alden dari planet Mars ?” gerutu Annabelle. “Bukan kurang jatah tapi kelebihan kerjaan.”
Annabelle mendumel sambil masuk ke dalam ruangan Alden.
“Loh kok aku ditinggal ?” tanya Alden saat Annabelle melewatinya.
“Ini udah di kantor, jatahnya Raka yang dorong-dorong kamu,” sahut Annabelle sambil mencibir lalu menutup pintu.
“Elo apain lagi tuh anak ?” tanya Raka saat Annabelle sudah menghilang di balik pintu.
“Gue suruh nginap di rumah. Habis bantuin gue bersih-bersih sebelum tidur, gue nggak kasih keluar,” Alden terkekeh.
“Pasti elo isengin sampai tuh bocah ketiduran di kamar elo,” ledek Raka sambil tertawa.
“Nah itu dia, gue suruh tunggu sampai gue beresin kerjaan. Tadi pagi ngomel karena pas bangun tidur seranjang sama gue,” Alden tertawa bahagia.
“Untung aja kaki elo masih begitu, kalau nggak udah ditomplok aja tuh anak orang,” ledek Raka.
“Yang bikin Belle tambah kesel, Mommy sama Daddy santai aja malah mendukung aksi gue,” sahut Alden sambil tergelak.
Annabelle sedang duduk di sofa sedang sibuk dengan handphonenya saat Alden masuk.
“Sayang, jangan bete gitu dong,” Alden mendorong kursi rodanya mendekati Annabelle.
“Semalam kamu beneran nggak ngapa-ngapain aku, kan ? Kenapa nggak dibangunin ?”
“Kamu lihat sendiri gimana kaki kiri aku susah digerakkan, mana bisa ngapa-ngapain kamu juga. Tidurmu pulas banget, Mommy aja sampai nggak tega bangunin kamu,” Alden mengusap pipi Annabelle.
“Udah jangan cemberut begitu. Wajah kamu tambah menggemaskan, menggoda aku pingin cium-cium terus.”
“Itu mah bawaan kamu aja,” cebik Annabelle. “Berarti waktu sama Sarah kamu juga sering cium-cium dia.”
__ADS_1
“Ternyata calon istriku pencemburu ya ?” Alden tergelak. “Kayaknya pas aku mau nikah sama Sarah ada yang bilang sama Mommy kalau cinta nggak harus memiliki, udah rela melepas aku kalau memang cintaku untuk Sarah.”
“Haiiss siapa juga yang cemburu. Cuma aku meragukan pengakuanmu masih perjaka. Sekarang aja bawaanya mau nyosor terus. Semalam bisa-bisanya memanfaatkan orang yang udah kecapean.”
“Mau bukti kalau aku masih perjaka ? Sepertinya kakiku bisa mendadak sembuh kalau kamu mau sayang-sayangan sekarang.”
“Sayang-sayangan sama tembok sana !” omel Annabelle sambil beranjak dari sofa dan tangan Alden menahannya.
“Mau kemana ?”
“Siang ini aku harus ke kampus, bertemu dosen pembimbing skripsi. Aku ingin cepat-cepat lulus biar bisa kerja.”
“Menikahlah denganku saat kakiku sudah sembuh dan dokter menyatakan fisikku sehat lagi seperti semula. Aku ingin kamu ada di sampingku saat mau tidur dan setiap aku membuka mata. Terlalu lama kalau menunggu sampai kamu diwisuda.”
“Bukannya semalam kamu sudah mendapatkan semua itu ? Bisa-bisanya Mommy dan Daddy nggak marahin perjaka tuanya tidur sama anak gadis orang.”
Alden tertawa dan meminta Annabelle membantunya pindah duduk di sofa. Meskipun masih kesal dengan perlakuan Alden semalam yang membuatnya malu setengah mati, Annabelle membantu tunangannya pindah duduk di sofa.
“Duduk sini di sebelahku,” Alden menepuk-nepuk sisi kanannya. Annabelle pun menurut.
Annabelle tidak memberotak dan menuruti permintaam bahkan menyenderkan kepalanya di bahu Alden.
“Terima kasih sudah memaafkan aku, Belle dan terima kasih sudah mau memberiku kesempatan kedua bahkan bersedia menerima lamaranku.”
Alden mengusap lembut kepala Annabelle sambil menciumi rambut gadis itu.
“Jangan terlalu banyak berterima kasih dan minta maaf. Aku nggak punya piring buat hadiahin kamu.”
Alden tertawa dan menundukkan kepalanya.
Annabelle mendongak dan bibir Alden langsung menyambar bibirnya, memberikan ciuman hangat di pagi hari.
Sudah sejak semalam Alden menahannya saat Annabelle tidur di sebelahnya. Ingin rasanya mencium bibir yang sedikit terbuka itu, namun gerakan Alden tidak leluasa untuk mencium Annabelle.
“Eh sorry, Bro.”
Suara Raka di balik pintu yang terbuka membuat Annabelle cepat-cepat menjauhkan diri dari Alden dengan wajah merona.
“Awas kalau nggak penting !” omel Alden menatap asistennya yang senyum-senyum menatap bossnya dengan senyuman penuh arti.
“Gue udah ketuk pintu dari tadi, tapi nggak ada jawaban. Gue pikir kalian berdua pingsan karena lupa ambil nafas. Ternyata… beneran kan ?”
Annabelle menoleh ke arah lain dengan wajah makin merona sementara Alden menggerutu sambil melotot.
“Ada utusan Tuan Narendra mau ketemu elo,” ujar Raka.
“Narendra ?” Alden mengerutkan dahi mencoba mengingat nama yang tidak familiar di telinganya.
“Ayah kandungnya Sarah,” ujar Annabelle memberitahu.
“Pasti ingin minta tuntutan atas Sarah dicabut,” ujar Alden sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Temui dulu dan dengarkan apa yang akan mereka sampaikan padamu, Den,” ujar Annabelle sambil memegang jemari Alden.
“Tapi kemungkinan besar mereka ingin minta supaya hukuman Sarah bisa diringankan.”
“Alden.”
Alden menatap Annabelle yang tersenyum sambil menggenggam jemari Alden.
“Aku akan menemuinya,” ujar Alden pada Raka yang langsung mengangguk dan keluar dari ruangan Alden.
“Tolong bantu aku duduk di situ,” ujar Alden sambil menujuk kursi rodanya.
“Kenapa ? Supaya kelihatan lebih drama gitu,” goda Annabelle sambil tertawa pelan dan membantu Alden kembali duduk di kursi rodanya.
“Dalam kondisi begini lebih nyaman duduk dengan sandaran tegak,” tukas Alden.
“Ya… Ya.. Tuan muda Alden,” ledek Annabelle membuat Alden kembali memberikan ciuman di bibir tunanganya itu.
”Mengerikan !” Annabelle melotot sambil menjauhi Alden lalu bertolak pinggang.
“Status kita baru tunangan, seenaknya aja sering-sering nyosor bibir orang !” omel Annabelle yang dibalas dengan tawa Alden.
Tidak lama pintu ruangan terbuka dan terlihat Raka bersama 2 orang pria di belakangnya.
Raka mempersilakan kedua tamu Alden masuk dan menatap bossnya yang memberi isyarat untuk meninggalkan Alden dan Annabelle bersama kedua tamunya.
Kedua pria yang berusia sekitar 45 tahun ke atas menyalami Alden dan Annabelle sebelum keduanya duduk di sofa.
“Terima kasih sudah mau menemui kami,” ujar pria yang bernama Charlie, memperkenalkan diri sebagai orang kepercayaan keluarga Narendra dan seorang lainnya bernama Jamal, pengacara keluarga Narendra
“Langsung saja pada intinya, Pak Charlie,” tegas Alden. “Saya yakin semuanya berkaitan dengan Sarah.”
“Sepertinya Tuan Alden memang tidak suka berbasa-basi, namun sebelum saya membahas soal
Nona Sarah, ijinkan saya atas nama keluarga Tuan Narendra, meminta maaf atas perbuatan Nona Sarah yang menyebabkan Tuan Alden dan Nona Annabelle mengalami semua ini.”
Alden hanya mengangguk dan tersenyum getir. Kakinya mungkin bisa sembuh tapi ke depannya Alden harus lebih berhati-hati karena tulangnya yang retak sudah tidak sama seperti sebelumnya.
“Lalu apa yang akan kalian minta sampai datang kemari ?”
“Kami ingin diberi ijin untuk membawa Nona Sarah menjalani pengobatan.”
“Pengobatan ? Sarah sakit apa, Pak Charlie ?” tanya Annabelle dengan dahi berkerut.
“Gangguan jiwa, Nona,” Jamal yang menyahut. “Belum lama ini kami mendapat telepon dari lapas yang meminta kamu datang karena Nona Sarah mengamuk di sana hingga masuk sel khusus dan ternyata kejadian itu bukanlah yang pertama.”
Alden dan Sarah saling berpandangan sambil menautkan alis.
“Kami akan pastikan dulu masalah itu dan akan membicarakan dengan kuasa hukum kami sebelum mengambil keputusan,” ujar Alden dengan wajah sedikit lebih ramah.
“Terima kasih, Tuan. Ini kartu nama kami,” Charlie dan Jamal masing-masing menyerahkan kartu nama mereka.
__ADS_1
“Kami menunggu kabar baik dari Tuan.”
Annabelle mengambil kedua kartu nama yang diletakkan di atas meja dan memberikannya pada Alden.