Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Mencari Potongan Puzzle


__ADS_3

“Apa kamu tidak bertanya apa yang dicari Sarah dan bagaimana calon istri saya itu bisa membuka komputer asistenmu itu ?”


Pertanyaan Alden yang tiba-tiba itu membuat Tami gelagapan. Mereka baru saja keluar ruang rapat setelah melakukan pertemuan mingguan dengan para kepala divisi


Biasanya Raka yang menemani Alden, tapi tugas yang diberikan Alden semalam belum selesai jadi Raka minta ijin untuk datang siang setelah pekerjaan tambahannya beres.


“Ngg…Saya tidak berani bertanya apa-apa pada Ibu Sarah, Pak. Saya malah berpikir kalau Pak Alden yang memberikan akses pada Ibu Sarah karena Ibu Sarah adalah calon istri Bapak.”


Tami sengaja menekankan kata calon istri. Posisinya yang berjalan di belakang Alden setelah keluar dari lift memungkinkannya untuk mengumpat tanpa terlihat boss nya itu.


Rasanya tidak enak berbohong dan kadang-kadang Tami merasa kalau kejadian Annabelle yang masuk ke dalam tubuh Sarah adalah kejadian luar biasa yang sungguh aneh dan tidak logis.


Tapi kalau bicara tentang hidup dan nyawa, bukan logika yang berbicara melainkan kuasa Sang Pemilik Hidup yang bekerja dalam diri manusia.


Alden langsung membuka pintu pertama memasuki area sekretariat yang selama ini menjadi ruang kerja Raka, Tami dan Annabelle.


Terlihat Raka sudah duduk di mejanya, merapikan setumpuk berkas dan begitu melihat Alden dan Tami yang masuk, Raka beranjak bangun.


Raka pun menyusul Alden yang baru masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Di tangannya sudah ada amplop coklat dan beberapa berkas perusahaan serta tab yang menjadi agenda elektroniknya.


Tami yang sudah kembali ke mejanya buru-buru mengambil handphone dan mengirimkan pesan pada Sarah Belle. Sayangnya hingga 10 menit menunggu, pesan itu hanya centang 2, tidak ada tanda-tanda dibaca.


Tami pun sempat meihat status yang tertulis di bawah nama Sarah Belle, terakhir aktif 2 jam yang lalu.


“Jadi pekerjaanmu sudah tuntas sebelum jam makan siang ?” Alden tersenyum meledek saat Raka sudah duduk di hadapannya di meja kerja Alden.


“Semuanya, lengkap,” aahut Raka dengan wajah pongah membuat Alden tertawa.


“Pesona mana lagi yang elo pakai untuk mendapatkan informasi ? Pasti informannya cewek lagi.” Alden masih tertawa dan meraih amplop yang disodorkan oleh Raka.


“Tanpa perlu bicara, perempuan pasti terhipnotis dengan ketampanan gue,” ujar Raka sambil terkekeh. “Apalagi kali ini mahasiswi semester 6 yang hidupnya terlalu lurus seperti Annabelle.”


“Mancing emosi ?” lirik Alden saat Raka menyebutkan nama Annabelle. “Penting banget memuji cewek culun itu dalam situasi seperti ini ?”


“Bukan memuji tapi kenyataan. Awas benci jadi cinta, Boss. Keduanya beda tipis sama seperti jarak hidung dan bibir,” Raka rergelak.


“Mulai ngaco, kurang tidur apa air putih ?” cebik Alden membiarkan Raka malah tertawa.


“Gue adalah orang pertama yang membodoh-bodohi elo kalau sampai elo berbalik jadi cinta pada Annabelle,” ujar Raka.


Alden tidak bicara apa-apa hanya mengangkat kedua diska lepas yang ada di dalam amplop.


“Apa isinya ?” Alden mengangkat sebelah alisnya.


Raka membuka map yang masih ada di depannya dan menyodorkan pada Alden.


”Nama gadis itu Sisi, dialah yang ditemui Sarah sebelum Reyhan membawanya pergi ke Puncak. Sisi mahasiswi semester 6 di universitas XXX, dan gue yakin kalau elo sudah menebak kalau Sisi itu teman satu kampus Belle. Bukan hanya sekedar teman kuliah, Sisi adalah sahabat baik Belle sejak masih SMP.


Dan yang elo lihat itu adalah koleksi foto yang Annabelle punya. Gue berhasil membujuk Ray untuk mencarikannya di kamar Belle.”


Alden masih mengamati foto dan berkas yang diberikan Raka namun telinganya menunggu informasi berikutnya.


“Gue nggak tahu bagaimana Sarah bisa kenal Sisi bahkan berhasil membujuk sahabat Belle untuk menyimpan diska lepas itu dan membantu Sarah mencetak foto yang ada di dalamnya. Info dari suruhan Om Juan, Sisi lah yang menemui Sarah sebelum masuk ke rumah Tuan Peter, kemungkinan membawa foto yang sudah dicetak.”


“Foto yang dibahas oleh Reyhan ? Yang mana ?” Alden melirik 2 diska lepas di atas mejanya dan menatap Raka.

__ADS_1


“Elo yakin tetap ingin melihat foto yang dibahas Reyhan dan menjadikan Sarah istri lo juga ?” Raka tidak menjawab malah balik bertanya.


“Kenapa ? Terlalu vulgar ?” Alden tersenyum tipis.


“Reyhan yang begitu mencintai Sarah aja terpukul saat melihat foto-foto Sarah, apalagi elo dengan idealisme soal calon istri.”


Raka hendak mencegah tangan Alden yang sudah mengambil salah satu diska lepas dan kebetulan pilihannya tepat, diska itu milik Sarah yang dititipkan pada Sisi.


“Bukannya elo dan orangtua gue mengharapkan gue berpaling dari Sarah. Siapa tahu dengan melihat kenyataan yang ada di foto ini, pikiran gue bisa berubah sesuai keinginan kalian,” Alden tertawa pelan dan menancapkan diska lepas yang dipilihnya ke laptop.


“Sh**it !” gerutu Alden saat membuka satu-satunya folder yang ada di dalam diska lepas itu.


Raka menghela nafas saat melihat Alden mengernyit dan bersumpah serapah tapi masih menggerakan tangannya di atas mouse. Pria itu benar-benar melihat semua foto Sarah.


“Pasti ada pihak ketiga yang mengambil foto-foto ini,” ujar Alden selesai melihat semuanya. “Sudut gambarnya terlalu detil, tidak mungkin dilakukan dengan selfie atau menggunakan tripod.”


“Gila !” umpat Raka. “Nggak nyangka kalau Sarah sampai senekat ini, membuat foto dan video dirinya sendiri dengan bantuan orang lain.”


“Memangnya ada dalam bentuk video ?” Alden memicing, menunggu informasi detil dari Raka.


“Gue nggak tahu persis, Bro. Sisi sempat menyinggung soal video, itu pun karena Sarah yang bilang, tapi Sisi nggak mau bertanya lebih lanjut.”


“Terus gimana ceritanya Sisi sampai terbuka sama elo bahkan dengan sukarela menyerahkan diska lepas ini ?”


“Setelah gue tahu kalau Sisi adalah sahabat baik Annabelle, gue terpaksa meminjam nama Belle untuk memanipulasinya. Sisi bahkan tahu soal sikap elo yang sering kasar pada Annabelle. Tidak manusiawi omel Sisi,” Raka terkekeh apalagi melihat wajah Alden yang kesal.


“Asal !” omel Alden. “Apa dia tidak mencari tahu di google apa makna manusiawi itu ? Dia tidak tahu aja bagaimana cewek culun itu ada dimana-mana, persis kayak bayangan.”


“Jadi keputusan elo nggak berubah terhadap Sarah ? Setelah melihat foto-foto itu, tetap berniat menjadikannya istri elo ?” Raka menyandarkan bahunya di kursi dan menatap Alden dengan tangan kedua terlipat di dada.


Alden tidak menjawab pertanyaan Raka soal kelanjutan hubungan Alden dengan Sarah, malah memberi perintah baru pada asistennya itu.


“Tapi Al…”


“Nggak ada jadwal penting hari ini, kan ? Tolong kosongin juga jadwal gue 3 hari ke depan.”


“Memang elo mau ngapain ? Kemana ?”


“Sejak kapan boss harus laporan sama asistennya mau kemana, sama siapa dan ngapain ?” Alden melotot, mencabut diska lepas dari laptop dan melemparkannya pada Raka.


“Harus siang ini juga ketemu Sisinya ? Kita kan ada meeting jam 3.”


“Iya nggak lupa, makanya diatur yang benar, mumpung masih jam 10,” Alden melirik arlojinya.


”Terus yang satu ini isi apa ?” Alden mengangkat diska lepas lainnya yang diberikan oleh Raka.


“Itu kiriman dari Om Juan, copy rekaman dari kamera mobilnya Annabelle. Gue sendiri belum dengar apa isinya.”


“Ya udah, tinggal aja,” Alden memberi isyarat pada Raka supaya meninggalkanya. “Urusin janji siang ini dan undur semua urusan gue untuk 3 hari ke depan.”


Raka hanya mencibir dan bangun dari kursinya sambil geleng-geleng kepala.


Alden sendiri langsung membuka folder yang ada di dalam diska lepas itu.


🍀🍀🍀

__ADS_1


“Maaf saya terlambat, tadi dosennya menambah waktu 15 menit.”


Sisi datang tergopoh mendekati meja Alden dan Raka. Gadis itu tidak melihat kehadiran Alden yang duduk membelakangi pintu masuk dan fokus pada Raka karena pria itu tidak memberitahu kalau siang ini bukan hanya Raka yang ingin bertemu.


“Tidak masalah. Duduklah,” Raka mempersilakan Sisi duduk dan kaget saat melihat ada pria lain duduk di situ.


“Kenalkan ini Pak Alden, calon suami Sarah.”


Sisi terdiam dan menatap Alden dengan tatapan terpesona. Pantas saja Annabelle begitu memuja pria ini. Bukan sekedar tampan tapi kharismanya memang luar biasa.


Sisi saja sudah terpesona dengan penampilan Raka yang cukup tampan saat bertemu tadi pagi, pria di depannya ini lebih tinggi levelnya dari Raka. Mungkin karena isi dompet mereka yang berbeda.


“Apa ada yang aneh dengan wajah saya ?” Alden mengernyit, mulai jengah dengan tatapan Sisi yang hanya berkedip sesekali dan mulut yang sedikit terbuka.


“Pantas saja Annabelle begitu tergila-gila dengan Tuan Alden,” desis Sisi yang akhirnya bersuara.


“Memangnya Annabelle bilang apa sama kamu ?” Raka bertanya sambil tertawa melihat Alden yang makin tidak nyaman dengan sikap Sisi.


“Belle bilang kalau dia sudah gila karena menyukai lelaki tampan yang mengganggapnya hanya sebagai sampah. Aku pun sudah memarahinya dan memintanya melupakan cintanya, tapi Annabelle bilang kalau cinta tidak harus memiliki tapi dia akan melindungi cintanya kalau perlu dengan nyawanya.”


“Wuuiihhh sangat mengharukan,” ledek Raka sambil terkekeh.


“Tapi setelah melihat Tuan Alden akhirnya aku mengerti kenapa Annabbelle begitu menyukai Tuan meski ia tidak pernah mengejar Tuan Alden supaya membalas perasaannya.


Semoga saja dia bisa melupakan cintanya pada Tuan setelah jiwanya kembali menyatu dengan raganya,” gumam Sisi dengan nada sedih.


”Apa maksud perkataanmu ?” Alden memajukan badannya yang tadi bersender pada kursi. “Memangnya raga dia ada dimana ? Tamasya ?” Alden tersenyum mengejek.


“Eehh… “ Sisi sadar kalau dia kelepasan. “ Tentu saja jiwanya tidak ada dalam raganya karena Belle sedang koma. Kalau mereka menyatu pasti Belle tidak akan dalam keadaan koma begini.”


Mata Alden menyipit menelisik wajah Sisi yang terlihat kikuk


“Lalu darimana kamu bisa mengenal calon istriku ?” tatapan tajam Alden membuat Sisi salah tingkah.


“Annabelle,” sahut Sisi spontan.


“Kapan kalian bertemu sampai dia bisa mengenalkan Sarah padamu ?”


Sisi terdiam dan menundukan wajah, tidak berani membalas tatapan Alden yang menusuk.


“Ternyata ucapan Belle benar,” gumam Sisi. “Tuan Alden sangat membencinya sampai menyebut nama Belle saja tidak mau.”


”Pernyataanmu itu tidak menjawab pertanyaanku,” tegas Alden. Suara baritonnya membuat Sisi merinding karena begitu tegas.


“Jadi bagaimana ceritanya sampai calon istriku datang menemuimu dan memintamu mencetak foto dirinya yang ada di diska lepas itu. Kamu sahabat musuhnya Sarah, kenapa bisa malah kamu yang dipercaya untuk mencetak dan membawanya ke rumah Peter Gilang ? Apa kamu punya copy file itu ? Atau mungkin kamu punya foto yang tercetak untuk cadanganmu ?”


“Tidak Tuan,”. Sisi langsung menggeleng dan menggerakan kedua tangannya. “Saya tidak berani menyimpan foto-foto itu. Cetakan yang gagal sudah saya bakar dan diska lepas yang saya kasih ke Kak Raka adalah milik Belle.. maksud saya Nyonya Sarah. Saya tidak berani membuat copy-nya di laptop saya karena saya tahu siapa Nyonya Sarah, pengacara yang terkenal karena selalu berhasil mengalahkan lawan-lawannya.”


“Jadi Sarah sempat mengancammu hingga kamu bersedia menerima permintaannya untuk mencetak foto dan membawanya ke rumah Peter Gilang ?” Raka gantian yang bertanya.


Tidak ingin didesak dengan pertanyaan seputar Sarah dan Annabelle, Sisi akhirnya mengangguk.


“Ancaman apa yang dia berikan padamu ?” tanya Alden dengan tatapan menelisik.


“Tidak terlalu jelas. Nyonya Sarah hanya bilang kalau saya pasti tahu siapa dia dan bagaimana sepak terjangnya di bidang hukum.”

__ADS_1


Sisi berbicara tanpa berani menatap Raka atau Alden membuat kedua pria itu mengerutkan dahinya seolah menangkap sandiwara dan kebohongan yang sedang dimainkan oleh Sisi.


__ADS_2