
“Apa yang ingin kamu dengar, Reyhan ?” suara dingin dan sinis itu membuat Reyhan mengernyit.
“Foto yang kalian lihat bukan rekayasa tapi realita. Pria yang kalian anggap sebagai suami dan ayah yang luar biasa ini tidak lebih dari laki-laki pemangsa wanita-wanita lemah. Pria yang memakai kekuasaan dan uangnya untuk menyeret mereka dalam kubangan penyesalan.”
Senyuman sinis dan tatapan penuh kebencian yang terlihat di wajah Sarah Belle membuat Reyhan sempat bergidik. Belum pernah dilihatnya Sarah seperti ini.
“Apa maksudmu, Sarah ? Bukan aku yang menyeretmu ke dalam kamar hotel itu tapi kamulah yang menjebakku untuk menjadikanmu pelampiasan akibat obat yang diberikan oleh orang suruhanmu !”
Wajah Tuan Peter Gilang memerah karena marah. Ia sempat menatap mata istrinya yang terluka dan kecewa menerima kenyataan tentang suaminya.
Annabelle pun masih berusaha melawan amarah Sarah yang dominan menguasai tubuhnya saat ini.
“Apakah anda punya bukti Tuan Peter ? Bahkan setelah 5 tahun berlalu, anda tidak bisa membuktikan dugaan anda sendiri. Tapi saya punya buktinya, bukan hanya foto ini saja tapi rekaman saat anda memaksa saya menyerahkan keperawanan saya demi nafsu bejat anda,” Sarah kembali tersenyum sinis
.”Bohong ! Kamu wanita iblis yang licik !” tukas Tuan Peter kembali dengan nada geram.
“Apa maksudmu ?” tanya Reyhan dengan nada tidak percaya. “Tidak mungkin papa akan melakukan itu padamu. Papa selalu mengajarkanku untuk menghargai wanita, jadi tidak mungkin papa tega melakukan itu padamu.”
“Kamu yakin ?” Sarah menatap Reyhan dengan tatapan mengejek dan senyuman sinis.
“Menghargai wanita ?” Sarah tersenyum sinis. “Bahkan seorang Peter Gilang tega membiarkan mamaku terpuruk dan memilih jalan mengakhiri hidupnya karena pria ini sudah mencampakkan cinta mama begitu saja.”
Tatapan kebencian Sarah yang begitu dalam membuat Peter Gilang membalas tatapan wanita itu dengan rasa iba.
“Apa maksudmu, Sarah ?” kali ini Nyonya Sisilia yang bertanya.
“Saya tahu kalau Tuan Peter memiliki hubungan gelap dengan mama. Berharap bisa keluar dari kemelut rumahtangganya dengan papa, malam itu mama meminta Tuan Peter membawanya pergi menjauh dari papa. Namun dengan alasan masih sangat menyayangi istri dan anaknya, Tuan Peter menolak permintaan mama, mengabaikan permohonan mama yang sampai mengiba-iba dan bersimpuh di kaki Tuan Peter.
Malam itu Tuan Peter meninggalkan mama yang merasa hancur dan putus asa. Saya memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum bicara dengan mama tapi ternyata saya terlambat. Mama ditemukan di kamar dalam keadaan kritis setelah menenggak racun serangga dan nyawanya tidak dapat tertolong sebelum tiba di rumah sakit. Kalau saja Tuan Peter tidak meninggalkannya malam itu dan bersedia membawa mama pergi, sudah pasti mama tidak akan mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.”
“Kamu salah paham, Sarah. Bukan seperti itu kejadiannya. Kami ini….” Tuan Peter berusaha menjelaskan.
Peter Gilang menatap istrinya kembali dengan rasa bersalah yang tidak pernah bisa dibuang dari dalam hatinya, meski Sisilia berjiwa besar untuk menerimanya dan tetap menganggap Peter sebagai suami sahnya.
”Mamamu memang berselingkuh dari papamu, berbeda dengan Peter yang mendapat restu dariku, untuk menjalin hubungan dengan Amora, mamamu Sarah.”
Mata Sarah langsung membelalak dan menatap Nyonya Sisilia menuntut penjelasan. Begitu pula dengan Reyhan yang menatap mamanya dengan dahi berkerut.
“Sebelum menikah, mereka adalah sepasang kekasih,” ujar Nyonya Sisilia membuka ceritanya menatap Sarah dan Reyhan bergantian.
“Sepasang kekasih yang harus terpisah karena perjodohan. Peter harus menerimaku sebagai istrinya demi perjanjian keluarga yang dipersiapkan sejak lama. Tidak ingin mengecewakan orangtuanya, Peter pun meninggalkan Amora dan menikah denganku meski tanpa cinta.
Aku menghargainya sebagai laki-laki yang bertanggungjawab karena setelah menikah, Peter menjauhkan diri dari Amora hingga kami diberi keturunan setelah setahun pernikahan.
__ADS_1
Saat itu Peter yang belum lama lulus sebagai Sarjana Hukum memiliki mimpi untuk menjadi seorang pengacara terkenal. Saat meniti karirnya yang semakin menanjak, Peter kembali bertemu dengan Amora yang ternyata sudah menikah dengan Narendra, generasi ketiga dari keluarga kaya. Pertemuan yang tidak disengaja itu bisa terjadi karena Peter ditunjuk menjadi anggota tim kuasa hukum keluarga Narendra.
Cinta yang terpendam itu bersemi kembali hingga akhirnya Amora hamil dari benih Peter. Saat itu Amora dan Narendra sudah memilikimu Sarah yang baru berusia 3 tahun dan Peter memiliki Reyhan yang berumur 6 tahun.”
Nyonya Sisilia menghentikan ceritanya sejenak dan menghela nafas panjang.
“Amora tidak pernah memberitahu soal kehamilannya pada Peter dan menutupinya dari Narendra yang sempat menderita impotensi sementara karena kecelakaan.
Amora berniat menggugurkan kandungannya namun tidak pernah berhasil dan menjadi panik saat Narendra mengajaknya tinggal bersama di Singapura untuk mengurus perusahaan keluarganya.
Amora berpikir keras untuk menghindari Narendra sampai ia melahirkan. Dan sepertinya alam berpihak padanya karena di saat yang bersamaan Amora mendapat kabar kalau ayahnya sedang sakit keras. Ibu Amora yang sudah terkena stroke beberapa tahun sebelumnya meminta Amora, anak semata wayang mereka, untuk membantu mengurus ayahnya. Akhirnya Narendra merelakan Amora dan kamu menemani orangtuanya untuk sementara waktu dan Narendra tetap tinggal di Singapura.
Entah bagaimana caranya Amora menyembunyikan kehamilannya dari Narendra hingga lahirlah seorang anak perempuan.
Riri, anak hasil hubungan gelap Amora dan Peter dititipkan pada kerabat jauh orangtua Amora dan dibesarkan sebagai sepupu bukan anak Amora.”
“Riri ? Maksud mama Riri, adik angkatku itu adalah anak papa dengan mamanya Sarah ?” tanya Reyhan dengan tatapan tidak percaya.
Reyhan terlihat kecewa saat Nyonya Sisilia menganggukan kepalanya Reyhan pun gantian menatap Tuan Peter dengan rasa kecewa dan luka yang begitu dalam.
“Sebelum masalah Riri muncul, mama tidak tahu kalau papamu memiliki hubungan gelap dengan mantan kekasihnya sampai punya anak,” lirih Nyonya Sisilia dengan wajah sendu dan tanpa bisa dicegah, air mata keluar dari kedua sudut matanya.
Tuan Peter mengambil tisu dan mendekati istrinya hendak menghapus air mata Nyonya Sisilia namun wanita itu menepis tangan suaminya.
“Seperti kataku dulu Peter, aku mungkin sudah memaafkan tapi tidak akan pernah bisa melupakan,” tegas Nyonya Sisilia dengan nada penuh luka.
Nyonya Sisilia menghela nafas dan menghapus air mata dengan kedua punggung tangannya lalu kembali menatap Sarah yang sudah mulai melunak karena saat ini hati Annabelle-lah yang bereaksi.
“Tidak ada kebusukan yang bisa disimpan lama tanpa mengeluarkan bau,” ujar Nyonya Sisilia. “Saat berusia 9 tahun, Riri sakit keras. Dari hasil pemeriksaan dokter, terdeteksi kalau kekebalan tubuh Riri rusak dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Awalnya Amora mengabaikannya, namun atas desakan ibunya akhirnya Amora datang menemui Peter dan menceritakan semuanya tentang Riri.
Aku tidak sengaja mendengar perbincangan Amora yang datang ke kantor dan merasa terpukul sekaligus sakit hati menerima kenyataan kalau suamiku berselingkuh. Kebanggaanku menganggap Peter sebagai laki -laki yang tulus langsung hancur. Peter dan Amora meminta maaf padaku dan menjelaskan kalau hubungan mereka berakhir sebelum Amora tahu kalau dirinya hamil.
Kedatangannya menemui Peter saat ini adalah demi Riri, anak mereka yang benar-benar membutuhkan ayah kandungnya karena Amora tidak cocok untuk menjadi donor.
Kejadian itu diketahui juga oleh Narendra. Pria yang sudah begitu mencintai Amora sebagai istrinya merasa kecewa dan sakit hati. Narendra yang berjuang demi kesembuhan impotensinya merasa dikhianati oleh Amora hingga hubungan rumah tangga mereka yang mulai harmonis kembali retak.
Mulutku berkata benci dan meminta Peter mengabaikan permintaan Amora tetapi hatiku bicara lain saat melihat keadaan Riri yang lemah. Akhirnya aku mengijinkan Peter menjadi pendonor untuk Riri.
Setelah Riri sembuh, aku memutuskan merawat Riri sebagai anak angkat dan tinggal bersama kami karena di saat yang bersamaan aku harus merelakan rahimku di angkat akibat bibit kanker. Bahkan sejak kankerku bertambah parah, aku mengijinkan Peter menjalin kembali hubungan dengan Amora, hanya dengan Amora, karena aku telah kehilangan gairah dan kemanpuan melayani Peter di atas ranjang. Bagiku akan lebih baik begitu daripada Peter melampiaskan hasratnya dengan wanita-wanita malam yang tidak jelas.”
“Tapi malam itu saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau Tuan Peter menolak mama meski mama sudah memohon supaya Tuan Peter membawanya pergi dan bilang kalau ia rela menjadi istri kedua Tuan Peter,” ujar Sarah dengan nada emosi.
“Perasaan cintaku sudah berubah pada Amora. Apalagi aku sadar kalau kesalahanku dengan Amora membuat Narendra dan istriku benar-benar tersakiti,” Tuan Peter gantian buka suara.
__ADS_1
“Saat itu aku baru saja mengalihkan pekerjaanku sebagai bagian tim kuasa hukum keluarga Narendra hingga masih sempat beberapa kali bertemu dengan Amora yang menjadikanku tempat curahan hatinya.
Amora bercerita kalau Narendra melakukan pembalasan dengan menyiksanya secara lahir dan batin meski Amora berkali-kali memohon pegampunan dari papamu. Bukan hanya tidur dengan banyak wanita, bahkan papamu mulai berani terang-terangan membawa wanita bayaran masuk ke dalam rumah dan melakukannya di kamar mereka.”
“Tapi papa adalah ayah yang penyayang dan bertanggungjawab padaku,” protes Sarah.
“Amora yang membuatnya begitu. Itu sebabnya kenapa kamu disekolahkan di luar kota dengan alasan supaya kamu mandiri. Mamamu tidak ingin kamu tahu melihat pembalasan yang dilakukan oleh papapamu. Amora tidak lagi melawan, hanya meminta pada Narendra supaya tetap bersikap normal layaknya suami dan ayah yang baik d depanmu, saat kamu pulang liburan ke rumah.
Papamu menuruti permintaan mamamu karena pada dasarnya Narendra adalah pria baik yang mencintai istri dan anaknya meski ia tahu kalau di awal pernikahan, Amora tidak mencintainya dengan sungguh-sungguh. Amora menikah dengannya lebih karena faktor materi.”
Tuan Peter menarik nafas sebelum melanjutkan ceritanya. Diliriknya Sarah yang menunduk seolah mencerna cerita Tuan Peter dan Nyonya Sisilia.
Mereka tidak tahu kalau saat ini Annabelle lah yang lebih dominan menjadi pendengar hingga hatinya yang lembut tersentuh mendengar cerita Tuan dan Nyonya Peter Gilang.
“Malam itu mamamu bukan putus asa karena penolakanku,” lanjut Tuan Peter.
“Amora yang mulai depresi merasa makin terpuruk karena Narendra tidak bersedia menceraikannya dan tidak mengijinkannya keluar dari rumah itu, malah Narendra makin sengaja membawa banyak wanita masuk bahkan salah satunya adalah karyawan perusahaan. Wanita itu mengaku sudah menjadi istri siri Narendra dan bertindak semena-mena pada Amora.
Amora yang merasa sudah kehilangan hidupnya datang menemuiku malam itu dan terjadilah apa yang kamu lihat, Sarah.
Aku sudah mencintai istriku dengan sungguh-sungguh apalagi setelah kami memiliki Reyhan. Pengkhianatan yang aku lakukan dengan Amora akan menjadi penyesalan seumur hidup yang akan kubawa sampai mati.”
Tuan Peter menatap istrinya dengan wajah sendu dan kesedihan yang mendalam karena sudah membuat istri yang begitu mencintainya terluka.
“Malam itu aku meninggalkan Amora bukan hanya karena tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang sama,” ujar Tuan Peter.
“Sisilia menghubungiku dan mengabarkan kalau Riri sedang kritis dan dibawa ke rumah sakit. Adik kalian mencoba bunuh dengan cara yang sama seperti Amora, menenggak racun serangga.
Keduanya sama-sama tidak tertolong dan meningggal hanya selisih beberapa jam saja.”
“Gara-gara baji**an Alden Riri sampai nekat bunuh diri,” geram Reyhan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Terdengar helaan nafas panjang dari Tuan dan Nyonya Peter secara bersamaan.
“Bukan Alden yang menjadi penyebab Riri bunuh diri,” ujar Nyonya Sisilia sambil menatap putranya yang nampak terkejut.
“Apa maksud mama ? Selama ini Riri sering curhat padaku bagaimana Alden mengabaikannya, sikap sombong Alden dan penolakan Alden saat Riri mengungkapkan perasaannya. Aku bahkan menemukan banyak foto Alden di kamar Riri.”
“Tapi bukan Alden yang membuat Riri memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi kamu Rey,” tegas Nyonya Sisilia.
“Aku ?” Reyhan menunjuk dirinya dengan wajah tidak percaya.
Mata Reyhan makin membelalak saat melihat kedua orangtuanya mengangguk.
__ADS_1