
Sekitar jam 6 pagi Alden sudah berdiri di depan kamar Annabelle. Perlahan ia membuka pintu dan melihat Rano tertidur di sofa panjang.
Dengan berjingkat, Alden mendekati ranjang Annabelle. Senyumnya mengembang, seperti mendapat vitamin pagi melihat wajah Annabrelle membuat hati Alden berbunga-bunga.
Gerakan wajah Alden semakin mendekat, berniat mencium kening Annabelle. Tapi belum sampai bibirnya mendarat dengan sempurna, mata Annabelle langsung terbuka lebar. Rupanya ia sudah bangun sebelum Alden tiba.
Sudah terlanjur posisinya dekat dengan wajah Annabelle, tanpa permisi Alden langsung mencium kening gadis itu membuat Annabelle langsung melotot.
“Aku bawain sarapan,” Alden mengangkat tas jinjing yang dibawanya. Suaranya masih mode berbisik supaya tidak membangunkan Rano.
Gerakan tangan Annabelle yang mulai lincah hendak menampik tas kain yang dibawa Alden, tapi mata pria ini lebih dulu membaca arah gerakan Annabelle.
“Mommy khusus membuatnya untuk calon menantu kesayangannya. Buatan mommy langsung, bukan beli di toko. Tega kamu membuang makaroni buatan mommy, apalagi ada tambahan bumbu cinta di dalamnya,” bisik Alden sambil tertawa pelan.
Tidak lama seorang perawat datang hendak membasuh tubuh Annabelle sebelum pergantian shift.
Rano yang terbangun dari tidurnya terkejut saat melihat Alden sudah ada di dalam ruangan itu.
“Kapan sampainya, Al ?” Rano yang sudah dalam posisi duduk mengucek mata dan merapikan rambutnya.
“Belum lama, Om. Bawain sarapan dari mommy untuk Annabelle dan om juga,” Alden menunjukkan tas yang dibawanya.
“Om cuci muka dulu, ya.”
Alden mengangguk dan duduk di sofa menatap ke ranjang Annabelle yang sedang dipersiapkan untuk acara basuh membasuh. Terlihat perawat tadi sedang membantu Annabelle sikat gigi.
Annabelle sadar kalau dirinya sedang diperhatikan Alden. Ia sempat melirik dan melotot pada Alden namun pria itu malah senyum-senyum.
Rano langsung mengajak Alden keluar supaya Annabelle lebih leluasa berbasuh diri pagi ini.
“Daddy-mu bilang kalau Belle akan dipindah hari ini ke rumah sakit milik teman daddy-mu.”
“Iya benar, Om, makanya saya pagi-pagi ke sini, biar lebih cepat persiapannya.”
“Tapi soal biaya rumah sakit selama di sini jangan sampai daddy-mu juga yang menanggungnya.”
”Kalau soal itu sepertinya Om harus ngomong langsung sama daddy soalnya saya nggak ikutan,” sahut Alden sambil tertawa pelan.
Rano hanya tersenyum, sulit urusannya kalau langsung dengan Wira Hutama.
Keduanya kembali masuk saat perawat yang membantu Annabelle sudah keluar.
“Om tinggal mandi dulu. Daddy kamu minta om datang ke kantor.”
“Daddy sangat membutuhkan om saat ini selain om Juan. Saya sendiri masih harus banyak belajar.”
“Kamu bisa aja,” Rano tertawa dan masuk ke kamar mandi.
“Belle, sarapan, ya ? Aku siapkan.”
Annabelle diam saja dengan posisi setengah berbaring. Ucapan Alden tidak digurbisnya sama sekali.
Alden mengeluarkan makanan yang sudah disiapkan untuk Annabelle. Awalnya Annabelle ingin menolak, tapi mengingat ini semua adalah masakan Nyonya Lanny, akhirnya Annabelle mengalah dan membiarkan Alden menyuapinya.
__ADS_1
Rano ikut tersenyum saat keluar dari kamar mandi melihat Alden telaten menyuapi Annabelle.
“Papa tinggal dulu, Belle. Ada urusan sebentar sama daddy Wira. Yudha akan kemari pagi ini dan membantu Alden mengurus kepindahanmu.”
“Om nggak sarapan dulu ? Mommy sudah menyiapkan dua porsi.”
“Tidak sempat, Al,” Rano menggeleng dan memperlihatkan handphonenya. “Sepertinya daddy mu sudah menunggu untuk sarapan bareng. Buat Annabelle saja, dia kan paling suka makaroni buatan mommy-mu.”
Alden tertawa dan mengangguk.
“Hati-hati, Pa,” pesan Annabelle yang diangguki Rano sambil tersenyum.
“Titip Belle, Al.” Alden mengangguk pasti membuat Annabelle langsung mencibir.
Belum sampai 5 menit Rano meninggalkan mereka, Yudha dengan senyuman tampannya muncul dari balik pintu.
“Selamat pagi pasien cantik,” sapa Yudha membuat Alden langsung cemberut.
“Selamat pagi juga dokter tampan,” Annabelle sengaja membalas sapaan Yudha dengan suara manja dan senyum mengembang.
“Wah udah ada pak mantri gantian jaga kamu,” Yudha terkekeh sambil melirik Alden. “Selamat pagi tuan muda Hutama.”
“Nggak usah basa basi, deh,” gerutu Alden masih dengan wajah masam.
“Jam berapa aku pindah, Yudha ?” Annabelle mengabaikan omelan Alden dan terus tersenyum menatap Yudha dengan wajah sumringah.
“Dari tadi aku di sini, Belle. Aku yang diminta mommy dan daddy untuk mengurus kamu, kenapa malah nanyanya sama Yudha ?”
“Kamu kan kemari karena disuruh sama om dan tante, bukan karena keinginanmu sendiri. Kalau aku hanya bisa merepotkan, cukup Yudha yang membantuku.”
“Sejak kapan ? Cincinnya sudah aku kembalikan dan mana ada melamar gadis yang sedang koma.”
“Cie..cie yang udah dilamar,” ledek Yudha. “Jadi ceritanya udah calon calonan nih.”
“Iya.”
“Nggak !”
Keduanya memberikan jawaban yang berbeda menbuat Yudha makin tergelak.
“Katanya kamu mau jadi pacar aku kalau aku sudah sadar” rengek Annabelle pada Yudha. “Jangan bilang kamu berubah pikiran, hanya berniat menghiburku doang.”
“Memangnya kamu mau jadi pacar aku ?” Yudha sengaja semakin mendekati Annabelle, membuat Alden langsung memasang ancang-ancang, mencegah Yudha semakin mendekat.
Belum sempat Annabelle menjawab, tangan Aldensudah keburu membekap mulut Annabelle dengan tangannya.
“Jangan dijawab, Belle. Kamu nggak kasihan kalau Yudha beneran jatuh cinta sama kamu tapi nggak bisa memiliki ? Kamu kan sudah tahu gimana rasanya berada di posisi itu.”
Annabelle berusaha melepaskan tangan Alden tapi tidak semudah itu. Annabelle pun memukul-mukul dada Alden karena tangannya membekap hidung Annabelle juga.
”Sorry,” Alden merasa bersalah karena tidak sadar menutup hidung Annabelle.
“Kamu mau membunuhku ?” Annabelle melotot.
__ADS_1
“Mana mungkin, sayang. Kamu kan yang memberi warna dalam hidupku, bagaimana aku bisa membiarkanmu pergi meninggalkan aku ?”
“Geli !” Annabelle mencebik sementara Alden malah mengedipkan sebelah matanya.
“Mam**poes lo, Al,” ejek Yudha sambil tergelak.
Alden terlihat santai, membereskan bekas makan Annabelle.
“Gue nggak kebagian ?” Yudha mengintip kantong kain yang sedang dirapikan Alden.
“Tuh yang itu aja,” dengan gerakan matanya Alden menunjuk pada nampan makanan yang disiapkan oleh rumah sakit.
“Tega banget, kan gue udah lama nggak menikmati makanan buatan Tante Lanny.”
“Ya elo nya sok sibuk sampai disuruh datang ke rumah aja banyak alasannya,” cibir Alden.
Saat keduanya berdebat, pintu kamar dbuka dan terlihat 2 orang dokter bersama 2 orang perawat masuk.
“Pagi Dok,”’sapa Annabelle dan Alden bersamaan membuat Annabelle langsung melirik sambil cemberut sementara Alden pura-pura tidak tahu.
“Sudah siap pindah rumah sakit ?” tanya dokter senior yang pernah ditemui oleh Alden.
“Sudah, Dok,” sahut Annabelle dengan wajah bahagia.
“Secara keseluruhan, kondisi kesehatan Annabelle sudah baik, hanya tinggal menormalkan kondisi kaki dan tangan yang kaku karena terlalu lama berbaring. Sepertinya tidak akan lama apalagi ada yang selalu memberi semangat,” dokter senyum-senyum sambil melirik Alden
“Pacar saya yang itu, Dok. Profesinya dokter juga,” sahutan Annabelle membuat Alden dan Yudha tercengang menatap Annabelle yang senyum-senyum memandang Yudha.
“Ooo saya kira Pak Alden,” ujar dokter senior itu sambil manggut-manggut. “Yang penting kamu cepat pulih, ya. Mengingat kondisi kamu pas kecelakaan, rasanya benar-benar satu mukjizat kamu bisa sembuh total.”
Alden menghela nafas dengan wajah kecewa saat Annabelle menatap Yudha dengan wajah bahagia. Jadi seperti ini rasanya saat Annabelle diabaikan oleh Alden bahkan tidak diharapkan kehadirannya.
Suara handphone Alden berbunyi membuat pria itu menjauh dari ranjang Annabelle. Ternyata panggilan dari Reno yang memberitahu kalau perwakilan dari rumah sakit Pratama sudah datang dan jika diperlukan, Annabelle akan dibawa menggunakan ambulans.
Prosedur diselesaikan oleh Alden tanpa bantuan Raka dan sesuai kesepakatan para dokter dari kedua rumah sakit yang bertemu di ruangan Annabelle, gadis itu tidak dipernankan dibawa dalam posisi duduk karena baru 1 hari sadar dari koma yang cukup lama.
“Tolong biarkan Yudha yang menemaniku di ambulans,” tegas Annabelle saat melihat Alden mengikutinya dan bersiap naik ke dalam ambulans bersama Annabelle.
“Tapi Belle…”
”Terima kasih karena membantu, tapi aku sungguh-sungguh tidak ingin dekat denganmu,” tegas Annabelle sebelum ia benar-benar dimasukkan dalam ambulans.
Alden mengalah dan memberi isyarat pada Yudha agar mendekat.
“Tolong temani Annabelle di ambulans, biar gue yang bawa mobil elo, ikut dari belakang.”
Meski tidak mengerti dengan permintaan Alden, Yudha menurut dan masuk ke dalam ambulans menemani Annabelle.
Alden memberitahu kalau ia akan mengikuti ambulans beriringan dengan mobil yang membawa dokter dan staf rumah sakit Pratama.
Di dalam mobil, terlihat Alden menghela nafas beberapa kali.
Aku tidak akan berhenti sampai kamu memaafkan aku Belle dan jika masih diberi kesempatan aku akan terus berusaha hingga kamu bisa mencintai aku lagi, batin Alden.
__ADS_1
Perlahan Alden membawa mobil Yudha mendekati ambulans dan memberi isyarat saat ia siap mengikuti ambulans itu menuju rumah sakit Pratama.