
Sekitar jam 8 malam mobil Reyhan sampai di depan gerbang rumah orangtuanya.
Sarah Belle meminta sopir untuk berhenti sebentar karena ia akan menemui Sisi yang sudah menunggunya, membawa foto yang sudah dicetak.
Dengan meminjam handphone Reyhan, Sarah Belle menghubungi Sisi dan memintanya datang ke alamat yang dikirimnya lewat aplikasi wa.
“Terima kasih untuk bantuanmu, Si,” Sarah Belle menerima amplop yang dibawa Sisi.
“Apa kamu yakin tidak perlu aku temani ?” wajah Sisi terlihat khawatir dan tidak rela saat Sarah Belle meminta sahabatnya pulang.
“Aku adalah Sarah sekaligus Annabelle, Si. Aku harus menyelesaikannya sekarang.”
Sarah Belle menepuk bahu Sisi sambil tersenyum sebelum kembali ke dalam mobil dan sempat melambaikan tangan pasa sahabatnya itu.
“Aku lihat,” Reyhan meminta amplop yang dipegang Sarah Belle.
“Tidak, tidak sekarang. Rey. Harus ada papamu juga,” tolak Sarah Belle dengan tegas.
Reyhan tidak memaksa dan kembali diam sambilemandang keluar jendela.
Keduanya langsung turun saat mobil berhenti di depan pintu. Reyhan berjalan duluan dengan sikap dingin namun dalam sekejap berubah manis saat seorang wanita memakai kursi roda menyambutnya di pintu utama.
”Mama,” Reyhan memeluk dan mencium wanita itu dengan penuh rasa sayang membuat hati Annabelle tersentuh.
“Selamat malam, Nyonya Peter,” Sarah Belle menyapa wanita itu dengan senyuman dan nada yang sangat sopan, khas Annabelle.
Wanita cantik bertubuh kurus itu mengerutkan dahi, seolah tidak percaya kalau di hadapannya berdiri Sarah yang dikenalnya.
Sarah adalah sosok wanita karir yang selalu menjaga sikapnya bagaikan wanita ningrat dan hampir tidak pernah tersenyum tulus pada Nyonya Peter Gilang.
“Kamu Sarah kan ?” tanya Nyonya Sisilia, istri Peter Gilang dengan nada tidak percaya.
“Iya, saya Sarah. Pengacara yang bekerja pada Tuan Peter Gilang,” nada bersahabat dan senyuman tulus Sarah membuat Nyonya Sisilia menoleh, menatap putranya seolah minta penjelasan.
“Jangan kaget, Ma. Sarah mungkin terasa aneh setelah kecelakaan itu, seperti bukan Sarah yang aku kenal. Itu semua karena ambesia. Seorang psikiater sudah memberikan pernyataan tertulis kalau Sarah mengalami amnesia sementara,” ujar Reyhan memberikan penjelasan panjang lebar.
“Seandainya bisa selamanya,” gumaman pelan Nyonya Sisilia ternyata masih bisa didengar oleh Reyhan dan Sarah Belle.
“Papa ada dimana, Ma ?”
Reyhan tidak ingin memperpanjang ucapan mamanya. Ia memberi isyarat pada perawat yang memegang kursi roda Nyonya Sisilia supaya menyingkir karena Reyhan lah yang akan mendorongnya.
“Makanlah dulu, ini sudah terlalu malam. Sarah pasti sudah lapar. Mana bisa kalian bekerja dengan baik kalau perut kalian kelaparan.”
Sarah Belle mengikuti Reyhan dari belakang bersama si perawat tadi. Perutnya memang sempat lapar, namun rasa tegang membuatnya kehilangan nafsu makan.
“Tidak usah Nyonya, akan lebih baik kalau kami langsung membahas soal pekerjaan biar tidak terlalu malam juga,” sahut Sarah Belle.
__ADS_1
“Berhentilah memanggil aku Nyonya,” Nyonya Sisilia meminta Reyhan menghentikan kursi roda dan memutarnya hingga posisi Nyonya Sisilia dan Sarah Belle berhadapan.
“Panggilah dengan sebutan Tante seperti biasanya,” Nyonya Sisilia tersenyum ramah pada wanita yang membuat putra tunggalnya begitu bahagia.
“Baik, Tante,” Sarah Belle mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau begitu Tante akan minta pelayan membawakan minuman dan makanan ringan ke ruang kerja. Setidaknya perut kalian tidak akan benar-benar kosong karena terlalu asyik membahas pekerjaan.”
Setelah sempat berdebat sebentar akhirnya Reyhan mengalah dan membiarkan mamanya kembali ditemani oleh perawat.
“Selesaikan dulu urusanmu baru kita mengobrol setelahnya.”
“Kalau mama sudah mengantuk lebih baik tidur dulu. Besok kita bisa ngobrol saat sarapan pagi dan setelahnya.”
“Kamu mulai seperti papamu. Sudah sana bawa Sarah menemui papamu dan berikan mama kabar baik setelahnya,” ledek Nyonya Sisilia.
Reyhan hanya mengangguk dan memberi isyarat pada Sarah Belle untuk mengikutinya.
Reyhan mengetuk pintu kayu berwarna cokelat tua itu dan membukanya perlahan setelah suara dari dalam menyuruhnya masuk.
Sarah Belle masih dalam posisi mengikuti Reyhan mulai melewati pintu ruangan. Baru saja kakinya melewati pintu dalam dua langkah, rasa sakit mulai menyerang kepala Sarah Belle.
Annabelle yakin kalau Sarah sangat terbiasa dengan ruangan ini bahkan ada yang istimewa dengan suasananya karena tubuh dan ingatannya kembali bereaksi, bertemu dengan pikiran Annabelle.
“Ada apa denganmu, Sarah ?” Peter Gilang mengerutkan dahi saat melihat Sarah memegang kepalanya sambil mengernyit.
Peter Gilang hanya mengangguk dan berpindah dari kursi kerjanya bergabung dengan Reyhan dan Sarah Belle, duduk di sofa.
“Tidak usah berbasa basi lagi,” ujar Reyhan dengantatapan tajam dan suara yang terdengar dingin. “Tunjukkan bukti yang kamu punya biar aku bisa menanyakan langsung pada papa.”
“Bukti apa ?” Peter Gilang menautkan alisnya.
Wajah pengacara senior itu berubah tegang. Keterikatannya dengan Sarah adalah rahasia besar yang disembunyikannya rapat-rapat dari anak dan istrinya.
Bukan karena rasa takut kalau perbuatan busuknya, akan terbongkar namun lebih kepada rasa bersalah karena telah menyakiti anak dan istrinya begitu dalam dengan kesalahan satu malamnya.
Sarah Belle membuka tasnya dan matanya mengernyit saat tidak menemukan amplop yang dibawakan oleh Sisi.
Seingatnya ia langsung memasukkannya ke dalam tas setelah Reyhan memintanya di mobil.
“Jangan mengulur-ulur waktu lagi !” suara Reyhan yang bernads bentakan itu membuat hati Annabelle sedikit ciut.
“Mungkin tertinggal atau jatuh di mobil,” ujar Sarah Belle. “Aku akan memeriksanya dulu di mobil.”
“Jangan coba-coba kabur !” tegas Reyhan.
“Tentu saja tidak. Lagipula apa semudah itu aku melewati pos penjaga di depan gerbang ?” sahut Sarah Belle dengan nada yang mulai tinggi juga.
__ADS_1
Baru saja kakinya hampir mencapai pintu ruang kerja, terlihat Nyonya Sisilia membukanya dengan posisi masih di atas kursi roda.
“Bawa aku mendekat ke sana,” perintah Nyonya Sisilia pada perawat supaya mendorong kursi roda ke dekat sofa.
Nyonya Sisilia memberi isyarat supaya perawat itu meninggalkannya.
“Jangan lupa tutup kembali pintunya,” perintah Nyonya Sisila yang diiyakan oleh si perawat.
“Mendekatlah kemari, Sarah !” Nyonya Sisilia menyuruh Sarah kembali duduk tanpa menatap wanita itu.
Sarah Belle sedikit merinding mendengar suara Nyonya Sisilia yang terdengar dingin.
Sarah Belle pun kembali duduk di sofa dekat Reyhan.
“Apa ini yang kamu cari ?” Nyonya Sisilia mengangkat amplop yang dicari-cari Sarah Belle.
Melihat amplop itu berada di tangan Nyonya Sisilia, mata Sarah Belle langsung membelalak dan perasaannya gelisah. Ia yakin kalau Nyonya Sisilia telah melihat isi amplop yang tidak disegel itu.
“Kebohongan apalagi yang kamu sembunyikan dariku dan Reyhan, Peter ?”
Nyonya Sisilia mengeluarkan foto-foto yang ada di dalam amplop dan melemparkannya ke atas meja ke arah Peter Gilang.
Wajah pria baya itu langsung tercengang melihat foto yang tercetak itu adalah kartu ancaman yang selama ini Sarah gunakan untuk mendapatkan semua keinginannya, ambisinya.
Reyhan mengernyit, posisi foto yang berantakan karena dilempar membuat netranya tidak bisa melihat dengan jelas gambar yang terlampang di sana.
Tangannya terulur mengambil beberapa foto yang ada di dekatnya dan matanya langsung membelalak dengan raut wajah sangat-sangat terkejut.
Tatapan Reyhan berubah nyalang menatap Sarah Belle yang sedang memegang pelipisnya. Wajah pria itu langsung merah padam karena terlalu emosi.
Rasa sakit yang luar biasa di kepalanya dirasakan oleh Sarah Belle. Kemarahan dan kebencian Sarah terus bergejolak dalam hatinya sementara pikiran Sarah dipenuhi milik Annabelle.
Keduanya bertentangan. Keinginan terpendam Sarah untuk membuat keluarga bahagia di depannya hancur bertolak belakang dengan keninginan Annabelle yang hanya ingin mengetahui kebenaran tentang siapa Sarah sebenarnya lewat Peter Gilang.
Tangan Reyhan terkepal dengan rahang yang semakin mengeras dan wajah memerah.
“Katakan apa maksud ini semua Sarah ?”
Sarah Belle masih bergulat dengan dua pribadi yang bergejolak di dalam tubuh Sarah membuat ia masih memeganggi kepalanya yang terasa semakin sakit.
“Jawab !”
Bentakan Reyhan membuat Tuan Peter dan istringa sedikit terlonjak kaget.
Beberapa detik kemudian Sarah Belle menurunkan tangannya den membalas tatapan Reyhan sama tajamnya.
Entah siapa yang akan menjawab permintaan Reyhan. Kebencian dan niat balas dendam Sarah atau rasa simpati Annabelle yang muncul saat melihat kondisi Nyonya Sisilia ?
__ADS_1