
Yudha, Raka, Sisi dan Lusia masih membahas soal wajah Alden yang sumringah saat menemui mereka sambil membeli popcorn.
“Thankyou so much, Ka,” ujar Alden sambil menepuk bahu asisten sekaligus sahabatnya.
Alden tidak tahu kalau masalah pertukaran teman kencan ini diluar rencana Raka dan Sisi. Awalnya mereka ingin memanasi Annabelle dengan acara kencan Alden dan Lusia, tapi yang terjadi mereka malah dikejutkan dengan keputusan Annabelle yang memberikan kesempatan pada Yudha untuk mendekati Lusia kembali.
Acara triple date ini murni ide Raka dan Sisi, bahkan Yudha pun tidak tahu kalau akan dipertemukan dengan Lusia.
“Itu namanya jodoh, Bro,” ucap Yudha.
“Maksudnya kayak om Yudha sama tante Lusia ?” ledek Sisi.
“Eh sejak kapan kamu panggil aku Om ? “ protes Yudha sambil melotot pada Sisi.
“Jangan galak-galak sama pacar gue,” Raka langsung berdiri menghalangi Raka. “Memang muka elo pantas dipanggil om.”
Lusia dan Sisi tertawa melihat kedua pria bersahabat ini saling melotot. Keempatnya akan nonton film yang sama dan jam tayangnya masih sepuluh menit lagi.
“Elo darimana kenal sama Lusia ?” tanya Raka saat kedua wanita pasangan mereka pergi ke toilet.
“Raka gitu, loh. Soal selidik menyelidiki nggak akan jadi masalah selama jadi anak buahnya Om Wira.” Raka memegang kedua kerah bajunya, bergaya menyombongkan diri.
“Hmmm paling kerjaannya anak buah Om Juan,” cebik Yudha.
“Jangan sia-siakan kesempatan, Bro. Kadang kalau dibiarkan lewat belum tentu kesempatan itu datang lagi. Bahkan Belle bisa melihat kalau perasaan elo ke Lusia masih sama, makanya dia ngotot tukeran tempat. Siapa yang menduga kalau keputusannya membuat Belle malah berjodoh sama Alden,” ujar Raka sambil terkekeh.
“Gue aja lupa kalau pernah cerita sama tuh bocah soal Lusia. Padahal waktu itu dia masih jadi Sarah.”
“Kan elo sendiri yang bilang, badannya doang milik Sarah, pikiran dan perasaan tetap Annabelle.
“Iya, sih.”
“Ingat, ya, jangan sia-siakan kesempatan ! Lusia masih single mother yang tinggal tanpa keluarga karena ortunya belum mau menerima kehadiran Yudis.”
“Terus gimana ceritanya Alden dan Lusia sama-sama mau diajak ketemuan ?” Yudha menautkan alisnya.
“Itu pinter-pinternya gue,” lagi-lagi Raka bersikap pongah. “Idenya dari Sisi dan gue eksekutornya.”
“Terus kapan elo jadian sama sahabatnya Belle ?”
“Kebanyakan tanya, deh ! Perasaan gue ini bukan pasien elo,” Raka mendengus kesal dan Yudha tertawa melihatnya.
“Sepertinya boss elo bakalan susah tidur malam ini,” ledek Yudha.
“Boss gue sahabat elo juga, Yudha !” Raka mulai gemas dengan omongan sahabatnya.
“Mau masuk sekarang ?” Yudha sengaja mengabaikan ucapan Raka karena kedua wanita itu sudah balik dari kamar kecil.
Kedua wanita itu mengangguk dan Raka langsung menggandeng tangan Sisi, sementara Yudha dan Lusia masih menjaga jarak dan sedikti canggung karena sudah lama mereka tidak bertemu.
***
Di dalam bioskop, Yudis masih fokus menikmati tayangan film anak-anak kesukaannya. Annabelle sendiri ikut menikmatinya, namun telinganya sedikit terganggu saat mendengar dengkuran halus dari sisi kanannya.
Annabelle menoleh, melihat Alden tertidur pulas dengan kedua tangan bersandar pada pegangan bangku dan kepalanya menoleh ke arah Annablle. Berada dalam jarak yang begini dekat membuat jantung Annabelle berdebar dengan irama yang tidak beraturan.
Ini kedua kalinya Annabelle bisa memandangi wajah Alden sangat dekat. Pertama kali saat ia baru kelas 10 dan mommy Lanny memintanya membangunkan Alden yang sedang liburan di Indonesia.
__ADS_1
Harum tubuh Alden belum berubah membuat Annabelle menghirup dalam-dalam untuk menambah ingatan yang sudah ada.
Tiba- tiba detuman keras bergema membuat Annabelle terkejut dan reflek menutup telinganya sambil menempelkan wajahnya di bahu Alden. Merasa ada yang menggelitik lehernya, Alden terbangun.
Bagai mimpi indah yang membuatnya enggan terbangun, Alden merengkuh tubuh Annabelle dengan tangan kanannya.
Annabelle yang merasakan ada kehangatan lain di bahunya langsung mendongak dan tanpa disengaja, bibirnya bertemu dengan bibir Alden.
Annabelle cepat-cepat melepaskan dri dari pelukan Alden.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
Degup jantung Annabelle makin tidak karuan, hanya sesaat posisi duduknya tegak, detik berikutnya Annabelle lansung mendekati Yudis yang masih anteng menonton film tanpa terganggu dengan suara bising karena adegan pertempuran yang sedang tayang .
“Sengaja juga nggak apa-apa, Belle,” bisik Alden saat posisi Annabelle sudah duduk tegak kembali. “Malah mau sering- sering juga boleh.”
Alden tertawa pelan di telinga Annabelle membuat bulu kuduk gadis itu langsung meremang.
Wajah Annabelle sudah terasa panas dan tubuhnya menegang takut insiden tadi terulang lagi.
***
Setelah film berakhir, Alden memilih menggendong Yudis supaya lebih mudah mendengarkan celoteh bocah itu tentang film yang baru saja mereka tonton. Mereka masih harus menunggu 15 menit sampai Yudha, Raka, Sisi dan Lusia keluar.
Alden menanggapi celoteh Yudis dengan wajah serius dan menanggapi komentar bocah itu seperti seorang ayah memperlakukan anaknya.
Annabelle sempat mengerutkan dahi karena ingat kalau Alden sempat tertidur tadi.
“Kamu kok bisa tahu cerita itu dari awal sampai akhir ?” bisik Annabelle
“Memangnya kenapa ?” Alden mengernyit.
“Aku sudah baca sinopsisnya biar tidak bikin masalah kalau diajak bicara sama bocah ini.”
“Ooo sudah persiapan mau kencan dengan wanita yang sudah memiliki anak ?” sindir Annabelle.
Alden menangkap ada rasa tidak suka sekaligus sedih di dalam kalimat Annabelle membuat pria itu langsung tersenyum.
“Tentu saja, bahkan Raka memberikan datanya secara detil. Mau aku beritahu ?”
Annabelle membuang ke lain arah, enggan menjawab pertanyaan Alden hingga akhirnya keduanya memilih bercengkrama dengan Yudis di sofa yang kosong.Namun tidak lama, Yudis mulai terlihat bosan menunggu dan mulai tidak tenang.
“Kita ajak cari cemilan di foodcourt,” bisik Alden.
Annabelle diam saja dsn mengikuti Alden yang kembali menggendong Yudis biar lebih mudah.
“Sudah pengalaman ngasuh anak, Om ?” sindir Annabbelle saat Yudis hanya diam, memperhatikan toko-toko yang mereka lewati.
“Belum, hanya pengalaman diikuti bocah bawel yang gayanya seperti pahlawan di film tadi,” sahut Alden sambil tertawa pelan.
Annabelle tidak menanggapi karena tahu siapa yang dimaksud Alden dan bagi Annabelle kalimat itu adalah sindiran untuknya.
Annabelle membawa nampan dan segelas susu cokelat ke meja yang ditempati Alden dan Yudis. Annabelle yang menyuruh keduanya untuk duduk terlebih dahulu.
“Belle,” Alden menyentuh jemari Annabelle.
Annabelle menoleh tanpa menjawab dan menarik tangannya namun ditahan oleh Alden. Yudis sedang menikmati donatnya yang sudah dipotong-potong kecil oleh Annabelle.
“Raka menasehatiku untuk mencoba membuka hati pada wanita lain kalau aku ingin membuatmu bahagia.”
“Maksudnya ?”
“Hati kecilku nggak rela melihat kamu jadian sama Yudha,” Alden tertawa getir. “Tapi kalau memang bersama Yudha bisa membuatmu bahagia aku harus merelakannya. Raka bilang kalau cinta tidak boleh memaksa untuk memiliki.”
“Maaf kalau aku sudah mengacaukan acara kencan mu dengan Lusia. Saat melihatnya aku berpikir kalau dia hanya menemani anaknya nonton, dan aku bersedia tukar tempat karena Yudha,” ujar Annabelle sambil tersenyum tipis.
“Kenapa ? Kamu kan teman kencannya Yudha dan Lusia itu apanya Yudha sampai kamu rela bertukar tempat ? Jangan bilang kalau Lusia mantan pancarnya Yudha.”
__ADS_1
“Darimana kamu tahu kalau aku sedang kencandengan Yudha ?” Annabelle mengerutkan dahi, tidak menjawab pertanyaan Alden.
“Kamu lupa kalau saat ini Raka sedang kasmaran dengam siapa ?” Alden balik bertanya sambil tertawa.
Annabelle diam saja, ia kembali membantu Yudis meminum susunya.
“Jadi beneran Lusia itu mantanya Yudha ? Aku sempat kehilangan kontak dengan Yudha saat kami sama-sama kuliah. Bertemu kembali saat Yudha masih menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater.”
Annabelle tetap tidak menjawab. Ia membantu membersihkan mulut Yudis yang belepotan saat minum susu cokelatnya.
“Kita seperti keluarga kecil yang bahagia ya, Belle,” ucap Alden tiba-tiba.
Annabelle menatap pria di depannya dengan dahi berkerut. Hatinya mendadak bergemuruh, bukan berdebar lagi.
“Ooo jadi kamu menerima tawaran kencan dengan Lusia karena sudah siap untuk punya anak ? Baguslah kalau Lusia yang jadi kandiratnya, cocok untukmu,” nada suara Annabelle kembali ketus
Hampir saja Alden kelepasan tertawa. Sikap Annabelle persis seperti orang yang sedang cemburu melihat kekasihnya selingkuh.
Tanpa sadar Annabelle mengerucutkan bibinya dengan satu tangannya masih digenggam oleh Alden.
Alden tidak bisa berhenti tersenyum dan merasakan berjuta kupu-kupu berterbangan keluar dari hatinya.
***
“Gimana filmya ?” pertanyaan Yudha yang baru datang membuat ketiganya menoleh.
Lusia, Raka dan Sisi juga datang bersamaan.
“Keren !” Yudis mengacungkan jempolnya membuat semuanya tertawa.
Lusia langsung duduk di samping putranya sejajar dengan Annabelle.
“Yudis nggak nakal, kan ?” Lusis menatap putranya lalu menoleh ke arah Annabelle yang langsung menggeleng sambil tersenyum.
Si jahil Yudha berdehem-dehem membuat Annbelle gantian memandangnya.
“Kenapa ? Kebanyakan teriak pas nonton tadi ?” ledek Annabelle sambil tersenyum mengejek.
“Nggak. Itu kode buat Alden supaya traktir kita sekarang karena habis menang undian.”
Raka langsung rnenyenggol Yudha membuat Annabelle mengerutkan dahi dan gantian menatap Alden.
“Sejak kapan kamu suka ikut undian ?”
Pertanyaan Annabelle membuat Yudha dan Raka langsung tertawa sambil menutup mulutnya.
Annabelle benar-benar tidak sadar kalau Alden masih menggenggam satu jemarinya.
“Jadi kita resmi tukeran pasangan ?” ledek Yudha.
“Bukannya kalian sepupuan ?” Lusia mulai memainkan perannya.
Yudha sudan menceritakan semuanya termasuk usaha Yudha dan Annabelle yang ternyata gagal untuk menjadi sepasang kekasih.
Hari ini keduanya tanpa sadar memperlihatkan bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya.
“Bukan, kami bukan sepupuan, Sorry udah membohongimu,” ujar Annabelle pelan.
Si jahil Yudha melanjutkan aksinya, mengorek cerita dari Yudis dengan caranya hingga semuanya mendengar kalau Annabelle yang duduk di tengah-tengah.
“Ooo pantas,” Yudha mengangguk-angguk sambil tertawa
“Pantas apaan ?”ketus Annabelle sambil melotot.
”Jangan memanfaatkan profesi untuk mempengaruhi pikiran anak kecil.”
“Nggak bisa, udah bawaan,” Yudha mencibir meledek Annabelle.
“Hangat ya Belle,” Raka ikut meledek sambil tertawa bersama Sisi.
“Panas malah,” timpal Sisi.
Annabelle mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Alden. Sebelas duabelas. Pria itu senyum-senyum menatapnya.
“Uncle takut onti kabur,” Yudis, bocah cerdas itu berbisik pada Annabelle. “Makanya dipegangin terus.”
Mata Annabelle langsung membola dan melihat satu tangannya masih digenggam Alden. Wajahnya langsung memerah dan sedikit kasar melepaskan genggaman Alden.
“Aku ke toilet dulu.”
Annabelle bangun dan mengambil tasnya dengan tergesa..
“Aku temani,” Alden ikutan bangun.
“Nggak usah,” tolak Annabelle sambil mempercepat langkahnya.
Alden yang terus memperhatikan Annabelle mengerutkan dahi saat melihat Annabelle malah turun menggunakan eskalator.
“Sh**it, Belle kabur,” gumam Alden bergegas menyusul gadis itu.
“Onti beneran kabur, Ma ?” Yudis menatap Lusia dengan wajah bingung.
Keempat orang dewasa yang duduk bersamanya tertawa dan Lusia mengangguk.
Alden mengedarkan pandangan sambil berdiri di atas eskallator. Matanya menangkap Annabelle sudah pindah ke eskalator lain yang membawanya ke lantai dasar.
Alden melewati beberapa pengunjung sambil meminta maaf. Langkahnya kalah cepat, begitu sampai di lobby, terlihat taksi yang membawa Annabelle sudah menjauh.
__ADS_1
Alden menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Alden yakin, Annabelle akan semakin waspada dan susah didekati.