Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Kesedihan Hati Sarah


__ADS_3

Reyhan bergegas turun begitu mobilnya terparkir di basement apartemen miliknya. Wajahnya terlihat kesal bercampur lelah.


Perjalanan dari kantor ke apartemen ini harus ditempuhnya dalam waktu 1 jam 15 menit, membelah kemacetan Jakarta di saat jam pulang kantor.


Kalau saja pihak pengelola tidak menghubunginya, memberi kabar kalau Sarah membuat masalah dan mendapat komplainan dari penghuni lain yang selantai dengan Reyhan, rasanya ia enggan khusus datang kemari di saat jam sibuk.


Sudah 5 hari berlalu sejak Sarah membuat kegaduhan di Cafe Rosemary dengan menyerang Annabelle.


“Maaf kami meminta Pak Reyhan sampai datang kemari,” ujar seorang wanita berusia sekitar 35 tahun didampingi seorang petugas keamanan dengan seragam khasnya.


“Ibu Sarah menggedor pintu sambil berteriak dan mengganggu ketenangan di lorong unit Bapak. Sudah kami sampaikan kalau Pak Reyhan tidak ada di dalam apartemen, tetapi Ibu Sarah tidak mau mengerti dan tetap menggedor sambil berteriak.”


“Saya yang seharusnya minta maaf karena Sarah sudah membuat masalah,” ujar Reyhan mengikuti langkah wanita itu ke salah satu ruangan yang ada di lantai 1.


“Tidak masalah, Pak, yang penting tenan lain sudah tidak komplain lagi.”


Reyhan mengangguk sambil tersenyum. Petugas keamanan yang menemani mereka membukakan pintu untuk Reyhan.


“Silakan, Pak.”


Reyhan kembali mengangguk dan melihat Sarah langsung beranjak dari sofa.


“Akhirnya kamu datang juga, Honey,” Sarah mendekat dan hendak memeluk Reyhan tapi pria itu menahan Sarah, enggan dipeluk.


Reyhan tidak menanggapi tatapan Sarah yang seolah minta penjelasan.


“Jangan bertingkah lagi,” ujar Reyhan dengan suara dingin.


Sarah menggerutu kesal tapi tidak membantah. Ia mengambil tas tangannya lalu bergegas mengikuti Reyhan yang sudah berjalan duluan.


Reyhan kembali menganggukan kepala pada dua petugas keamanan yang ada di depan pintu ruang pengelola.


Tanpa bicara apapun pada Sarah, Reyhan langsung menuju ke lift dan membukanya menggunakan kartu akses miliknya.


“Kalau tidak begini, kamu tidak akan menemui aku,” ujar Sarah saat keduanya sudah berada di dalam lift.


“Jangan membahasnya sekarang !” tegas Reyhan dengan suara yang cukup keras membuat Sarah langsung diam.


Sampai di depan pintu apartemenya, Reyhan menoleh, memberi isyarat pada Sarah supaya menjauh sebelum ia menekan nomor kode akses pintunya.


“Tapi Rey…”


“Mau aku kasih masuk atau aku panggilkan satpam untuk membawamu keluar dan tidak akan bisa masuk kemari lagi ?”


Sarah pun menurut dan berdiri jauh-jauh dari pintu. Niatnya ingin mencuri-curi lihat saat Reyhan menekan tombol-tombol angka tidak bisa dilakukannya karena tatapan Reyhan begitu waspada mengawasinya.


Tanpa basa basi apalagi ajakan mesra, Reyhan langsung masuk ke dalam apartemennya dan Sarah bergegas masuk sebelum pintu tertutup kembali.

__ADS_1


Reyhan melepas dasinya lalu menggulung lengan kemejanya, setelah itu duduk di sofa.


Sarah sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen. Belum berubah, masih sama seperti biasanya.


Sudah hampir 1,5 bulan Sarah tidak pernah lagi mendatangi apartemen ini. Terakhir saat ia mendapati Reyhan sedang berbagi peluh dengan Siska.


“Apa maumu datang kemari ? Bukankah sudah aku katakan kalau hubungan kita sudah berakhir dan kamu bukan lagi karyawan papa.”


“Rey, aku tahu kalau kamu akhirnya tahu soal foto-foto yang aku simpan untuk mengancam papamu, tapi sungguh Rey, setelah memutuskan untuk menjalin hubungan serius denganmu, aku tidak pernah berniat menyentuh foto-foto itu lagi.”


“Kalau memang begitu, kenapa saat itu tidak langsung kamu hancurkan semua foto dan video itiu ?”


“Aku hampir lupa kalau menyimpan foto dan video itu Rey, aku fokus memikirkan rencana pembalasan dendammu pada Alden.”


“Jangan pakai kebiasaanmu memberikan jawaban yang menjadikan orang lain sebagai alasan. Ini bukan ruang pengadilan.”


”Rey… aku…”


“Apa ada orang lain yang tahu tentang diska lepas ini sampai bisa membawa foto-foto itu ke tangan orangtuaku ?” Reyhan tersenyum sinis dan melempar diska lepas berbentuk lipstik yang diberikan oleh Annabelle.


Sarah terkejut saat melihat diska lepas yang dia cari-cari ada di tangan Reyhan.


“Darimana kamu mendapatkannya ? Diska lepas ini aku taruh di laci mejaku dan tidak ada saat aku cari,”


suara Sarah meninggi dan tangannya langsung meraih benda di atas meja.


Sarah terdiam dan menghela nafas beberapa kali. Hatinya ragu kalau Reyhan akan mempercayai ceritanya. Sarah merasa seperti terdakwa yang sedang diinterogasi oleh jaksa.


“Tidak ada orang ketiga yang ada di dalam kamar itu, aku menggunakan tripod dengan beberapa kamera profesional dan juga handphone.”


“Aku tidak percaya !” tegas Reyhan.


“Reyhan, berhentilah menanyakan sesuatu yang ingin aku lupakan seperti seoarang jaksa. Aku bukan terdakwa, Rey.”


Reyhan tertawa dengan nada sinis dan tatapan mengejek.


Ia ingin mendengar langsung penjelasan Sarah tentang kejadian lebih dari 4 tahu silam dan siapa saja yang tahu soal foto itu selain Annabelle dan orang-orang kepercayaan Tuan Wira.


“Semua foto dan sudut video itu diambil secara profesional, dan sulit dipercaya kalau dilakukan tanpa bantuan orang lain. Atau jangan-jangan kamu sudah terbiasa menjebak pria-pria berumur dengan cara seperti itu ?”


“Reyhan !” mata Sarah membelalak.


“Berhentilah berdusta. Kita sama-sama tahu bagaimana kerja seorang pengacara saat mempelajari bukti berupa foto dan video. Apa perlu aku melibatkan orang-orang yang ahli di bidangnya untuk memastikan bagaimana video ini dibuat ?”


“Apa hubungan kita selama 4 tahun ini tidak berarti apa-apa bagimu ? Tuan Peter adalah yang pertama tapi kamu adalah yang terakhir. Tidak ada laki-laki lain yang pernah menyentuhku selain kalian berdua,” Sarah mulai meneteskan air mata.


“Aku memang tergiur oleh nilai harta yang dijanjikan oleh Alden kalau aku menjadi istrinya, tapi tidak sekalipun ia menyentuhku, hanya sebatas mencium pipi dan bibirku. Alden adalah pria kaku yang sangat menjunjung tinggi prinsip hidupnya.”

__ADS_1


“Dan alasan itu yang membuatmu merasa tertantang untuk menaklukan Alden ?” sindir Reyhan sambil tersenyum sinis.


“Demi Tuhan Reyhan, aku benar-benar tidak pernah melakukannya dengan orang lain setelah memutuskan untuk serius denganmu !” Sarah mulai berteriak sambil menangis.


“Aku mencintaimu, Reyhan. Aku benar-benar mencintaimu. Awalnya aku memang ingin membuat Tuan Peter merasa kalah karena aku berhasil membuat anaknya tertarik padaku, tapi pada kenyataannya akulah yang benar-benar terjatuh dengan cintamu.”


“Sesuatu yang dimulai dengan niat yang buruk tidak akan bisa berakhir dengan baik, jadi lupakan saja segala keinginanmu itu.”


“Demi Tuhan, Rey,” Sarah memohon.


“Jangan bawa-bawa nama Tuhan !” bentak Reyhan membuat Sarah urung mendekatinya.


“Berikan aku kesempatan sekali lagi, Rey. Aku mohon,” Sarah menangkup kedua tangannya di depan wajah dan memohon pada Reyhan.


“Mari kita memulainya dari nol lagi, Rey. Aku akan menjaga anak-anak kita dengan baik, membesarkan mereka dan menua bersamamu.”


“Menua bersamamu ? Anak-anak ?” Reyhan tertawa sinis.


”Dalam mimpimu !” ejek Reyhan. “Setelah melihat semuanya, sepertinya aku malah harus bersyukur karena tidak memiliki ikatan apapun dennganmu apalagi anak.”


“Reyhan, aku sudah melepaskan Alden dan akan melupakan apa yang terjadi antara dirimu dan Siska. Biarkan aku memulainya kembali bersamamu.”


“Buktikan !” Reyhan tersenyum sinis. “Puaskan aku malam ini, mungkin saja hatiku bisa berubah. Buktikan kalau hanya ada aku dalam hidupmu setelah papa.”


“Rey,” Sarah terlihat ragu-ragu mendekati Reyhan.


”Kenapa ? Merasa seperti seorang perempuan murahan ?” ejek Reyhan sambil beranjak bangun dari sofa.


“Akan aku buktikan kalau kamu yang terakhir bagiku dan aku sungguh-sungguh mencintaimu.”


Sarah menahan lengan Reyhan dan dengan senyuman tipis ia langsung mengalungkan tangannya dan memberikan ciuman panas di bibir Reyhan, bahkan menarik pria itu supaya duduk di sofa.


Reyhan tidak menolak perlakuan Sarah padanya malah membawa wanita itu masuk ke kamar bukan hanya di sofa.


Seakan keduanya lupa dengan semua masalah yang membuat hubungan mereka retak dan berakhir, Reyhan melampiaskan keinginannya pada tubuh Sarah yang sempat menjadi candu bagniya.


Hingga satu jam berlalu. Reyhan yang sudah membersihkan diri tertidur pulas di ranjangnya dalam posisi menelungkup.


Sarah sendiri masih duduk di pinggir ranjang sambil meneteskan air mata, menatap Reyhan yang tidak lagi peduli padanya. Padahal sebelumnya, Reyhan selalu memeluknya sambil menghujani kata-kata cinta yang manis setiap selesai percintaan mereka.


Bukan hanya tanpa pelukan, Reyhan bahkan memaksanya menelan pil anti hamil usai percintaan mereka malam ini.


“Jangan berharap aku ingin memiliki anak denganmu. Bagiku kamu seperti perempuan ja**ang yang rela memberikan tubuhmu hanya untuk mendapatkan keinginanmu,,” ujar Reyhan sambil tertawa sementara Sarah masih terbatuk-baruk karena dipaksa minum pil oleh Reyhan.


Sarah hanya bisa meneteskan air mata saat teringat akan ucapan Reyhan sebelum pria itu tertidur.


“Sekarang kamu hanya pemuas ranjangku bukan wanita yang aku cintai. Aku sudah tidak percaya lagi ucapanmu, karena sudah terlalu banyak kebohongan yang keluar dari mulutmu itu.”

__ADS_1


Sarah menutup mulutnya sambil berjalan menuju kamar mandi. Sarah tidak ingin isak tangisnya mengusik ketenangan Reyhan yang sedang tertidur pulas.


__ADS_2