Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Pria-pria Galau


__ADS_3

“Boleh aku menjenguk Sarah, Den ?” tanya Annabelle saat keduanya sedang makan siang di kantor.


Alden masih sibuk dengan dokumen-dokumen perusahaan yang sempat dialihkan ke Daddy Wira selama Alden dirawat di rumah sakit.


Manjanya pada Annabelle berkali-kali lipat sampai makan siang pun minta disuapi oleh calon istrinya itu.


“Biar Om Juan yang menemani kamu. Aku nggak nyaman pergi ke lapas dengan kondisi seperti ini.”


“Boleh dengan Yudha saja ? Sekalian aku bisa minta pendapat dari orang yang profesional.”


“Sekalian pacaran juga ?” Alden melirik dengan tatapan cemburu yang tidak ditutupinya.


“Ya ampun, Den. Yudha itu akan menikahi Lusia, hanya tinggal menunggu restu dari orangtua Yudha.”


“Update banget soal Yudha, ya ?” sindir Alden dengan wajah mulai ditekuk.


“Iya harus update, kan mantan pacar. Gara-gara Raka dan Sisi yang tiba-tiba muncul bawa-bawa kamu, jadi gagal aku pacaran sama Yudha.”


“Jadi masih penasaran mau pacaran sama Yudha ?” Alden melotot dan meletakkan penanya dengamn sedikit kasar.


“Nggak bercita-cita jadi pelakor,” Cilla tertawa sambil mencibir. “Ayo anak Mommy, tinggal satu sendok lagi.”


Dengan wajah sebal, Alden menyuap makanan yang disodorkan Annabelle.


“Masih nggak terima banget kalau aku jadi satu-satunya cowok yang jadi pacar kamu,” gerutu Alden.


Annabelle tertawa dan beranjak bangun setelah merapikan bekas makan siang mereka.


“Jangan ngambek,” bisik Annabelle setelah kembali ke dekat Alden. “Aku cintanya cuma sama Alden Hutama, belum ada nama yang lain.”


Annabelle mencium pipi Alden membuat mata pria itu membola dan kedua bibirnya tertarik ke kiri dan kanan.


Ini pertama kalinya Annabelle berinisiatif menciumnya terlebih dahulu.


“Nanti malam harus tidur di kamar aku lagi,” ujar Alden dengan senyum yang masih mengembang.


“Nggak ada, aku mau pulang ke rumah dulu malam ini. Mau kelonan sama papa mama.”


“Kelonan sama aku aja,” pinta Alden dengan wajah memohon.


“Kan aku nggak apa-apain, bahkan mau cium-cium kamu aja susah.”


“Den, kita tuh baru sebatas tunangan, nggak enak sama para pelayan di rumah kamu kalau tahu aku terlalu sering tidur sekamar sama kamu.


Nggak masalah buat kamu karena kamu laki-laki, beda sama perempuan.”


“Mommy dan Daddy nggak berpikir begitu.”


Annabelle berlutut di depan Alden dan menggenggam jemari pria tampan yang selalu dicingtainya itu.

__ADS_1


“Aku tidak mau banyak orang berpikir hanya karena aku anak sopir keluarga Hutama, kedua orangtuaku melepas begitu saja anak gadisnya tinggal di rumah pria yang belum jadi suaminya. Tolong pengertianmu, aku tidak ingin membuat posisi Papa dan Mama serba salah.”


“Kalau begitu, kita cepat-cepat menikah aja, jadi nggak akan ada yang berpikiran negatif. Yang penting sah dulu, pestanya bisa belakangan setelah kakiku benar-benar dinyatakan sembuh.”


“Akan aku bicarakan dengan Papa dan Mama, ya ? Aku janji nggak akan menghindar kalau semuanya memang sudah sepakat.”


“Tapi aku benar-benar tidak mau dibantu oleh orang lain, rasanya risih saat Darma membantuku di rumah sakit.” Annabelle tertawa melihat wajah Alden cemberut.


“Oke, aku janji akan membantumu mandi setiap pagi dan sore. Aku akan melakukannya sampai kakimu bisa digunakan lagi.


“Terima kasih, Sayang,” Alden mencium kening Annabelle yang masih berlutut di depannya.


*****


“Apa masih belum mendapat restu dari orangtuamu ?” tanya Annabelle sambil mengerutkan dahi.


Pagi ini setelah mengantar Alden ke kantor, Annabelle langsung dijemput Yudha untuk melihat kondisi Sarah di lapas.


Alden tidak bisa mencegahnya karena hafal betul dengan karakter istrinya, tapi ia sendiri tidak ingin membesuk Sarah di lapas.


“Belum,” sahut Yudha tidak bersemangat.


“Selain itu masalah apalagi ? Jangan bilang kalau Lusia berubah pikiran saat kamu bilang serius ingin menikahinya.”


“Kepo !” Yudha mencibir sambil tersenyum tipis. “Sejak jadi Sarah Belle kamu jadi punya kemampuan baca pikiran orang lain ?”


“Dasar psikiater somplak !” cebik Annabelle. “Spion tengah itu memang kecil, tapi cukup untuk melihat wajahmu yang suram itu.”


“Iya sama cowok tergombal sedunia. Bilangnya cinta, begitu mantan lewat di depan mata, cintanya menguap. Untung aja aku nggak biarinin hati ini jatuh cinta sama kamu.”


“Mana mungkin bisa cinta aku dalam waktu singkat, bucinnya Alden.”


“Cinta menahun, nggak bisa digeser dengan buaya abal-abal,” sindir Annabelle sambil tergelak.


“Terus kapan sah-nya ? Aku dengar dari Raka kalau kalian udah tidur satu ranjang.”


“Ya ampun asisten lemes, nggak bisa jaga mulut. Pasti udah jadi topik hangat dunia pergosipan kalian. Awas aja bakal aku laporin sama Alden biar nggak dikasih kemudahan curi-curi waktu pacaran sama Sisi.”


“Terus gimana ? Alden segagah penampilannya nggak ?” tanya Yudha sambil menaik turunkan alisnya.


“Rahasia !” Annabelle sengaja menyipitkan matanya membiarkan Yudha terbahak.


“Jadi jangan mengalihkan topik pembicaraan deh, mantan penggemar,” ujar Annabelle memotong tawa Yudha.


“Ada masalah serius apa sama Lusia ?”


Yudha menarik nafas dalam-dalam dan menghembsukannya perlahan, tatapannya masih ke depan, fokus pada jalanan.


“Gerry, ayah kandung Yudis datang.”

__ADS_1


“Kalau dari ekspresi wajahmu, aku duga kalau dia mau mengambil Yudis dan menikahi Lusia ?”


“Dasar cenayang,” ujar Yudha sambil terkekeh.


“Terus ?”


“Lusia nggak mau bahkan dia mengaku kalau sebentar lagi akan menikah denganku. Gerry nggak terima. Aku khawatir dia melakukan sesuatu pada Lusia atau Yudis atau malah dua-duanya.”


“Udah minta tolong Alden ?”


“Raka. Nggak tega aku menganggu Alden pas lagi di rumah sakit. Sejauh ini kekhawatiran aku belum terbukti, tapi tetap aja nggak tenang. Kalau sampai Yudis diambil Gerry, sudah bisa aku bayangkan bagaimana hidup Lusia.”


“Kalau begitu bergerak lebih cepat, yakinkan orangtuamu kalau Lusia adalah wanita yang pantas dijadikan istri meski statusnya janda beranak satu.”


“Sudah tapi Mama malah ingin menjodohkan aku dengan anak sahabatnya, atau Mama minta kamu yang jadi istriku.”


“Beneran ?” Mata Cilla mengerjap-ngerjap sambil tersenyum kemayu dan akhirnya tertawa membuat Yudha menggerutu.


“Padahal Mama kamu baru sekali bertemu denganku.”


“Jangan ge-er,” gerutu Yudha.


“Mau aku bantu bicara dengan mamamu. Terlalu lama kalau menunggu hati orangtuamu terbuka, bisa-bisa keduluan Gerry. Setidaknya kalau sudah menikah, kamu bisa punya hak penuh sebagai suami Lusia dan ayah sambung Yudis.”


“Aku sudah mempersiapkan proses hukum untuk mengakui Yudis sebagai anakku. Reyhan membantuku dan siap menghadapi Gerry seandainya masalah ini dibawa ke ranah hukum.”


“Boleh aku coba bicara dengan mamamu ?”


“Apa tunanganmu yang pencemburu itu merelakan calon istrinya membantuku ?”


“Bisa dibicarakan, yang penting kamu juga harus usaha dong. Kurang gigih nih ! Jangan kasih kendor, Bro !”


Yudha mencebik sambil berdecih.


“Sekarang aku mengerti kenapa Alden mengulur waktu dan mengabaikan perasaannya padamu. Aku akan berpikir limapuluh kali lipat kalau dikejar-kejar cewek modelan kamu.”


“Kurang asem !” Annabelle memukul bahu Yudha yang masih menyetir hingga pria itu meringis dan mengusap bahunya.


“”Dulu bisa mengucapkan kata-nata manis dan mengumbar gombalan cinta, sekarang yang ada hinaan doang.”


Annabelle melotot lalu mendengus kesal dan membuang mukanya ke jendela samping.


“Batal niatku membantu kalian,” gerutu Annabelle dengan wajah ditekuk.


“Mulai ketularan Alden suka ngambek,” ledek Yudha sambil mengacak rambut Annabelle.


“Ngeselin !”


“Alden juga ngeselin ?” ledek Yudha sambl tertawa.

__ADS_1


“Pria-pria galau yang memanfaatkan gadis polos seperti aku.”


Yudha makin tergelak mendengar ucapan Annabelle. Perlahan mobilnya melewati gerbang lapas khusus wanita ini.


__ADS_2