
“Kamu mau juga kayak Alden dan Annabelle ?” tanya Yudha saat keduanya sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang setelah acara Alden selesai.
“Kamu lagi melamar aku ?” Lusia balik bertanya sambil tertawa meledek Yudha.
“Belum resmi, baru ancang-ancang,” sahut Yudha sambil terkekeh.
“Memangnya mamamu sudah memberi restu pada anaknya yang memilih seorang janda beranak satu ?” tanya Lusia sambil tertawa getir.
“Aku pasti berjuang untuk mendapatkan restu dari orangtuaku, Lus, tolong sabar menunggu sampai hati orangtuaku melunak.”
Yudha meraih jemari Lusia dan menggenggamnya dengan erat.
“Aku yang berterima kasih karena kamu masih saja mau menerima aku dan Yudis sejak dulu. Jangan terlalu memaksakan diri apalagi menyangkut kebahagiaan orangtuamu sendri.”
“Jadi kamu tidak mau menungguku ?”
“Bukan tidak mau menunggu, tapi aku tidak ingin kamu melakukan kesalahan yang sama sepertiku. Dulu mama selalu mengingatkan aku untuk menjauhi Gerry, tapi aku tetap bandel dan menganggap mama sebagai orangtua kolot yang terlalu cepat melihat sesuatu dari sisi negatif daripada positifnya. Saat itu aku merasa lebih pintar dari mama karena aku adalah seorang mahasiswi kedokteran yang memiliki prestasi cukup baik.
Tapi aku lupa kalau aku kalah dalam hal pengalaman dan firasat orangtua.
Aku terlalu sombong dan percaya diri hingga akhirnya semua yang mama katakan menjadi kenyataan.”
“Tapi apa yang aku jalani sekarang berbeda,” ujar Yudha sambil mengeratkan genggamannya.
“Selama 5 tahun terakhir aku berusaha meyakinkan diriku sendiri kalau kamu dan Yudis bukanlah milikku karena aku sempat mendengar kalau Gerry memintamu kembali padanya setelah bertemu Yudis. Tapi dari ceritamu ternyata Gerry memang tidak pernah mempedulikan kalian.”
“Terima kasih atas cintamu yang begitu besar padaku, Yudha,” Lusia membalas genggaman Yudha sambil tersenyum.
“Bukan cintaku tapi cinta kita,” ujar Yudha sambil tertawa bahagia. “Dengan cinta itulah kita akan menghadapi semua rintangan bersama-sama. Atau jangan-jangan kamu menerima aku karena terpaksa demi Yudis ?”
Lusia tertawa dan melepaskan genggaman Yudha.
“Lebih baik kamu konsentrasi ke jalan dulu, aku masih mau hidup panjang supaya bisa menunggu restu dari mamamu dan merawat Yudis bersama-sama.”
”Mulai pintar gombal,” cibir Yudha.
“Ketularan sama pacar yang pintar bikin hati melambung dengan rayuannya,” sahut Lusia di tengah tawanya.
“Kalau begitu ucapan aku benar kan kalau kamu tuh udah cinta mati juga sama aku ? Buktinya belum lama jadi pacar kamu udah menduplikasi aku,” ujar Yudha dengan wajah bangga.
“Iya, iya… Aku ngaku deh kalau udah cinta mati juga sama kamu,” sahut Lusia sambil tertawa pelan. “Puas dokter cintaku yang tampan ?”
“Beneran aku ini dokter cintamu ?” lirik Yudha.
“Dari dulu sampai sekarang, Yudha sayang,” Lusia sengaja mendekati Yudha dan berbisik di telinga pria itu dengan suara mesra.
“Kamu mau menggoda aku ? Jangan menolak kalau aku langsung ajak ke hotel, ya !” ancam Yudha sambil mengusap telinganya.
Bulu kuduknya langsung meremang saat Lusia berbisik tadi.
“Boleh kalau udah sah. Mau dibawa kemana aja aku bakalan ikut.”
“Beneran ya ? Aku akan mempercepat cari restu dari mama dan papa.”
“Songong nya keluar deh, memangnya kamu bisa buat orangtuamu memberi restu instan ?” cibir Lusia sambil tertawa.
__ADS_1
“Kalau perlu aku hipnotis,” sahut Yudha sambil terkekeh.
“Penyalahgunaan profesi namanya,” cebik Lusia.
Terlalu asyik ngobrol, akhirnya mobil Yudha sampai juga di depan rumah Lusia. Rumah yang dibelinya sendiri dengan cara mencicil.
“Mau mampir ?” tanya Lusia saat keduanya berdiri di depan gerbang.
“Mau ketemu Yudis sebentar, nggak lama.”
“Mau lama juga nggak apa-apa,” ujar Lusia sambil tertawa pelan.
“Kalau itu pasti maunya mama Yudis,” ledek Yudha sambil menyenggol bahu Lusia yang masih tertawa.
Yudis yang sejak tadi menunggu Lusia pulang langsung ikut bibik membukakan gerbang.
“Om Yudha !” teriak bocah itu dari teras.
Lusia langsung meletakkan telunjuk di depan bibinya memberi isyarat pada Yudis supaya tidak berteriak biar tidak mengganggu tetangga.
Bocah itu langsung melompat ke dalam gendongan Yudha begitu gerbang dibuka. Keduanya memang sudah akrab.
Yudha sangat menyayangi Yudis bahkan sebelum bocah itu lahir. Yudha lah pria pertama yang menggendongnya saat bocah itu lahir.
“Lusia.”
Panggilan itu membuat tiga orang yang baru saja melewati pagar menoleh. Hanya Yudis yang menyipitkan mata sedangkan Yudha dan Lusia langsung terkejut melihat sosok Gerry berdiri di depan mereka.
“Darimana kamu tahu aku di sini ?” tanya Lusia dengan ketus.
“Dari mama kamu,” sahut Gerry sambil tersenyum.
“Aku ingin bertemu anakku,” ujar Gerry sambil menatap Yudis yang masih digendong Yudha.
“Siapa dia, Om ?” bisik Yudis
“Siapa namamu ?” Gerry menyapa Yudis yang menatapnya dengan alis menaut.
“Berani-beraninya kamu mengakui anakku sebagai anakmu !” geram Lusia. “Bahkan namanya saja kamu tidak tahu.”
“Aku minta maaf, Lus,” pinta Gerry dengan wajah sendu. “Aku minta maaf atas kesalahanku yang lalu.”
Yudha menghela nafas melihat sosok Gerry yang mulai bermain drama di depan mereka.
Terbiasa mempelajari sikap dan perilaku manusia, Yudha bisa menangkap kalau yang dilakukan Gerry saat ini bukan sesuatu yang tulus dari dalam hatinya.
“Lebih baik bicara di dalam, tidak enak dilihat tetangga,” ujar Yudha sambil merangkul bahu Lusia.
“Lepaskan tanganmu !” bentak Gerry membuat Lusia dan Yudha menatapnya dengan dahi berkerut.
“Biar kami belum menikah, aku tidak suka kalau ibu dari anakku yang akan menjadi istriku dipegang sembarangan pria.”
“Istri ?” Lusia tertawa sinis. “Anak darimana ? Jatuh dari langit ? Lebih baik kamu pulang sekarang ! Jangan ganggu keluarga kami lagi.”
“Keluarga ?” dahi Gerry berkerut sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
“Ya, sebentar lagi aku dan Yudha akan menikah, jadi tolong jangan ganggu kami lagi. Tidak ada yang perlu diingat dari masa lalu karena aku sudah melupakannya dan menganggap semua itu sebagai kesalahan di masa mudaku.”
“Tidak bisa begitu karena anak ini adalah bagian dariku dan kenyataan itu tidak bisa kamu hapus begitu saja !” tegas Gerry dengan suara yang mulai meninggi.
“Bicaralah di teras,” ujar Yudha pada Lusia. “Aku akan membawa Yudis ke dalam.”
“Mau dibawa kemana anakku ?” Gerry kembali berbicara keras saat melihat Yudha berjalan ke arah rumah.
“Dengan tes DNA kamu memang bisa membuktikan kalau Yudis adalah anakmu, Gerry,” Yudha tersenyum tipis sambil menatap Gerry yang berdiri sedikit jauh darinya.
“Tapi secara hukum, akulah ayahnya. Aku yang berada saat dia lahir dan aku yang mencatatkan diri sebagai ayahnya.”
“Yudha,” desis Lusia dengan wajah bingung dan dahi berkerut.
”Silakan kamu urus masalah ini ke pengadilan karena aku yakin hukum akan memilih orang yang tepat karena status orangtua tidak bisa didapat hanya karena kamu bisa membuktikan diri sebagai atah biologisnya. Pulanglah dan sampai bertemu di pengadilan.”
“Jangan merasa kamu seorang dokter berarti kamu lebih baik dariku dan lebih pantas menjadi ayah darah dagingku.”
Yudha hanya tersenyum mengejek dan menatap Gerry dengan tajam. Ayah kandung Yudis itu mengepalkan kedua tangannya menahan geram.
“Aku pasti akan mendapatkan milikku kembali !” geram Gerry penuh penegasan.
Pria itu meninggalkan rumah Lusia dengan perasaan emosi yang meledak-ledak.
”Apa maksudmu tadi Yudha ?”
Yudha memberi isyarat pada Lusia kalau ia tidak bisa membicarakannya karena ada Yudis dalam gendongannya.
Yudis yang akhirnya berhasil dibujuk dengan tawaran ke mal di akhir pekan menurut saat Lusia memintanya tidur dengan bibik.
“Jadi ?” tanya Lusia saat keduanya duduk di teras.
“Kamu ingat saat Yudis lahir hanya ada aku di sana yang menemanimu ? Aku yang mengurus semua dokumen kelahiran Yudis di rumah sakit dan mengaku sebagai ayah kandungnya.”
“‘Maafkan aku yang sudah banyak merepotkanmu.”
“Tidak masalah, kamu tahu alasannya, Lus. Sejak dulu aku mencintaimu, tapi aku sadar kalau aku bukanlah siapa-siapa dibandingkan dirimu,” sahut Yudha tertawa getir.
“Ya, aku terlalu sombong dan melihat seorang laki-laki hanya dari luarnya saja dan sekarang aku sudah mendapat pelajaran, fbahkan yang menolongku adalah kamu, orang yang sering kuabaikan selama ini.”
“Semua sudah berlalu, yang penting bagaimana hari ini dan ke depannya. Aku sudah mengantisipasi masalah ini sejak memutuskan ingin menikahimu. Aku sudah minta tolong Reyhan Gilang untuk menjadi pengacaraku dan semua data yang aku punya sudah ada di tangannya. Aku tidak akan membiarkan Gerry datang tiba-tiba untuk merampas Yudis.”
“Terima kasih atas semuanya, Yudha, terutama atas cintamu yang luar biasa pada kami.”
“Istirahatlah, besok jadwal praktekmu padat. Masalah Gerry dan keluargaku pasti ada jalan keluarnya, jangan sampai membuatmu stress.”
Yudha beranjak bangun dan mencium kening Lusia
“Untuk sementara waktu jangan tinggalkan Yudis berdua dengan bibik di rumah. Kalau perlu aku akan minta bantuan Alden dan Raka untuk menjaganya karena bukan tidak mungkin Gerry akan mencari celah dan cara untuk merebut Yudis.”
“Ya, aku sudah berpikir untuk membawanya besok ke rumah sakit sambil memikirkan kemana aku harus menitipkan Yudis selanjutnya.”
“Kalau ada sesuatu yang kamu ingat soal Gerry, segera beritahu aku supaya bisa aku bicarakan dengan Reyhan.”
Lusia mengangguk sambil tersenyum. Kedatangan Gerry yang tiba-tiba mampu mengacaukan pikiran Lusia. Pria yang menghilang sejak tahu Lusia hamil itu membuat hatinya tidak karuan dan takut Yudis akan direbut Gerry, ayah kandungnya.
__ADS_1
Namun kehadiran Yudha membuat Lusia lebih tenang apalagi mendengar penjelasan pria itu yang sudah mengantisipasi semuanya.
Yudha sendiri langsung menghubungi Raka begitu mobilnya menjauh dari rumah Lusia. Meminta bantuan sahabatnya untuk menempatkan orang menjaga Lusia dan Yudis sampai proses hukum berjalan.