
“Kita mau kemana, Pa ?” tanya Annabelle saat masuk ke dalam mobil yang disopiri Papa Rano.
“Ke tempat yang belum pernah kamu datangi,” sahut Papa sambil menyalakan mobilnya.
Annabelle menautkan alisnya dan bingung dengan jawaban Papa Rano namun tidak tahu harus bertanya apa lagi.
“Besok kamu akan resmi menjadi bagian keluarga Hutama, bukan sekedar anak angkat lagi,” ujar Papa dengan tatapan lurus ke depan.
“Apa ada ganjalan di hati Papa ? Apa Papa keberatan kalau aku menjadi istri Alden ?”
Papa menggeleng sambil tertawa pelan. Tangan kirinya membelai lembut kepala Annabelle.
“Nggak ada, Papa bahagia. Sempat ada ganjalan saat kamu mengejar Alden tapi dia tidak menaruh perhatian sama kamu malah menganggapmu pengganggu dalam hidupnya.”
“Kalau sekarang ?”
“Sekarang gimana ? Kamu balik tidak yakin kalau Alden mencintai kamu juga.”
“Bukan nggak yakin, hanya berasa kayak mimpi, Pa. Takut kalau terbangun, kenyataannya berbeda.
Dan sekarang aku ingin mendengar pandangan Papa terhadap cinta Alden sama aku.”
”Alden cinta juga sama kamu, malah sedikit berlebih. Papa nggak nyangka kalau cowok yang selalu bersikap dingin dan ketus sama kamu ternyata pria manja yang posesif,” sahut Papa sambil tertawa.
“Aku juga surprise sih, Pa,” sahut Annabelle sambil ikut tertawa bersama Papa.
“Kamu harus siap lahir batin saat menjadi istri Alden. Harus pintar-pintar menyesuaikan diri karena Alden butuh pendamping yang bisa mengimbanginya sebagai penerus Hutama Grup.
Ke depannya kamu harus mengerti dengan kesibukan suami kamu, belajar percaya dan paham kalau suami kamu adalah pria keras yang pencemburu dan posesif.”
“Menurut Papa, apa aku akan bisa menjadi istri yang baik untuk Alden ?” tanya Annabelle dengan wajah sedikit khawatir.
“Tentu saja bisa !” sahut Papa yakin sambil menggenggam satu jemari Annabelle.
“Bukan hanya Papa dan Mama tapi sejak lama Om Wira dan Tante Lanny juga sudah melihat kalau kamu adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Alden sebagai istrinya.”
“Aku benar-benar bahagia, Pa, “ Annabelle membalas genggaman Papa.
“Saat Alden memutuskan untuk menikahi Sarah , aku merasa kalau hidupku langsung berhenti. Mungkin karena selama ini aku merasa Mommy selalu mendukung cintaku pada Alden dan semuanya hanya tinggal menunggu waktu sampai Alden menerima permintaan Mommy.
Tapi saat memegang undangan pernikahan Alden dan Sarah, sebagian hidupku runtuh, aku merasa malu karena terlalu percaya diri.
Di saat itulah aku merasa kalau aku sudah menjadi perempuan paling egois yang memaksa Tuhan untuk menjadikan Alden jodohku.
Aku berusaha melepaskan Alden, Pa, tapi kenyataannya tidak mudah menghapus perasaan yang sudah tumbuh di dalam hati selama bertahun-tahun.”
“Kalau kamu bisa melepaskan Alden, nggak akan kejadian kecelakaan mobil dengan Sarah,” ujar Papa sambil tertawa.
“Aku suka menyesal sudah nekat melawan Sarah dengan cara seperti itu,” Annabelle tersenyum tipis.
“Itu semua jalan yang harus kamu lewati, Belle. Percaya saja kalau Alden memang takdirmu sampai kamu diberi kesempatan untuk membuat Alden menyadari perasaannya lewat kejadian Sarah Belle.”
Annabelle mengangguk-angguk sambil tersenyum. Tidak lama Papa membawa masuk mobil ke area parkiran sebuah pemakaman membuat Annabelle mengerutkan dahinya.
“Kita mau ke makam siapa, Pa ?”
“Kamu akan tahu siapa begitu kita di sana.”
Annabelle menurut dan mengikuti langkah Papa Rano memasuki gerbang pemakaman setelah membeli bunga yang dijual dekat situ.
Tidak lama keduanya berdiri di depan makam fengan nisan yang bertuliskan 2 nama : Eddi Hutama dan Lili Hutama.
“Opa Eddi ?” tanya Annabelle sambil menatap Papa Rano yang langsung mengangguk.
“Papa ingin kita meminta restu sebelum kamu menikah dengan Alden. Bagi Papa, Opa Eddi adalah orangtua kedua yang membuat Papa bisa berdiri di sini sekarang, memiliki mama, kamu dan Ray.”
Keduanya menabur bunga dan berdoa sejenak di depan makam. Annabelle melirik Papa Rano yang terlihat sendu menatap foto yang terpasang di batu nisan.
Annabelle ikut terharu. Meski ia tidak memiliki ingatan sosok Opa Eddi yang meninggal saat Annabelle berusia 3 tahun, ia yakin kalau Opa Eddi adalah seorang pria yang baik hati hingga memberikan kesan yang begitu mendalam bagi Papa.
“Apa Opa Eddi menyayangi Papa karena pernah menyelamatkan Daddy ?” tanya Annabelle saat keduanya sudah kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
“Opa Eddi adalah seorang ayah yang keras namun baik hati. Menyayangi Papa seperti anaknya sendiri bukan sekedar karena Papa pernah menyelamatkan Wira.
Opa Eddi bilang beliau sangat bersyukur karena masalah penculikan membuatnya bertemu dengan Papa dan langsung mengangkat Papa menjadi anaknya.
Saat kamu lahir, Opa Eddi bilang kalau kamu adalah perempuan yang dilahirkan untuk menjadi pendamping Alden. Saat itu Papa dan Mama hanya mendengarkannya tanpa berani menanggapinya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Wira dan Lanny ingat akan ucapan Opa Eddi dan yakin kalau kamu adalah jodohnya Alden.”
“Apa karena alasan itu Papa dan Mama nggak marah waktu Alden bersikap kasar saat di rumah sakit ?”
“Bukan karena itu, Belle, tapi bagi kami Alden itu sudah seperti anak sendiri. Kami mencoba mengerti bagaimana kondisi Alden saat itu yang pasti cukup stress dengan persiapan pernikahan di samping tugasnya sebagai seorang pemimpin yang tidak bisa ditinggalkan.
Alden anak yang baik dan penuh tanggungjawab. Sikap kerasnya lebih karena ia menerima segala konsekuensinya sebagai pewaris tunggal keluarga Hutama.”
“Terima kasih karena Papa dan Mama tidak pernah menghakimi aku yang sejak dulu menyukai Alden.
Setelah mendengar cerita ini aku baru tahu kalau Papa dan Mama tidak pernah memaksa mewujudkan ucapan Opa Eddi namun tidak melarangku untuk suka pada Alden,” ujar Annabelle memeluk Papa Rano dari samping.
“Jadilah istri yang baik untuk Alden karena pernikahan dilakukan bukan demi halal atau tidak halal, tapi menyatukan dua kehidupan menjadi satu hati.”
“Iya, Pa. Terima kasih karena Papa dan Mama sudah menjadi orangtua yang baik untukku.”
“Mau kencan makan siang dengan Papa ?” Papa Rano melirik sambil tertawa.
“Kok rasanya langsung berdebar karena diajak kencan oleh pria sekeren Papa,” sahut Annabelle sambil mengerjapkan matanya.
“Dasar anak nakal dan pembohong !” Papa mencubit pipi Annabelle saat mobil berhenti di lampu merah.
“Hanya Alden yang bisa membuatmu melayang-layang dan tersenyum tanpa henti sampai mulutmu kaku.”
“Hais Papa, jangan membuka aib anak sendiri, dong !” bibir Annabelle langsung mengerucut membuat Papa tertawa.
“Mari kita kencan, Sayang,” ledek Papa Rano dengan suara merayu.
Papa Rano kembali membawa mobil masuk ke area parkiran restoran. Dengan wajah penuh bahagia, Annabelle merangkul lengan Papa Rano
Setelah pesanan mereka datang, Annabelle langsung mengambil foto berdua dengan Papa Rano lengkap dengan makanan mereka.
Di kamarnya Alden tersenyum saat mendapat kiriman foto dan pesan dari Annabelle.
ALDEN :
Awas disangka sedang selingkuh dengan sugar daddy
ANNABELLE :
Ada Tuan Alden Hutama yang akan membantu mengatasi penyebar hoax 😍😍
ALDEN :
Ternyata kamu adalah calon istri yang tahu betul memanfaatkan kekuasaan suami, ya ! 🤔🤔
ANNABELLE :
Bukan memanfaatkan kekuasaan tapi memberi kesempatan calon suami membuktikan cintanya.
Aku lanjutkan kencan dulu dan segera pulang biar besok terlihat cantik di mata calon suami.
ALDEN :
Dasar gombal ! Cepat pulang dan bobo yang nyenyak, jangan lupa mimpi calon suamimu yang tampan ini😍😍
Annabelle hanya tertawa membacanya membuat Papa Rano menggeleng-gelengkan kepala.
****
Sampai di rumah Annabelle menautkan alisnya saat melihat mobil Yudha terparkir tidak jauh dari pagar rumahnya.
“Jangan bilang mau ajak aku kencan,” ledek Annabelle saat melihat Yudha menunggunya di teras.
Yudha langsung memeluk Annabelle saat Papa Rano masuk ke dalam rumah setelah bertegur sapa dengan Yudha.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih ?” Annabelle makin mengerutkan dahi dan berusaha melepaskan pelukan Yudha.
“Alden nggak bakalan tahu,” ujar Yudha sambil tertawa tanpa melepaskan pelukannya.
“Terus kenapa peluk-peluk ?”
“Terima kasih karena sudah meluangkan waktu dan bicara dengan Mama.”
“Aku cuma ngobrol biasa dan kasih tahu kalau kita nggak pacaran karena sejak dulu aku memang sukanya sama Alden.”
Yudha melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Annabelle dengan senyuman bahagia.
“Ucapan kamu tentang Lusia membuat hati Mama sedikit melunak. Besok Mama akan datang ke pernikahanmu dan tidak keberatan bertemu dengan Lusia dan Yudis.”
“Beneran ?” Annabelle membulatkan matanya sambil tersenyum.
“Beneran dan Mama bilang itu semua karena Mama percaya dengan ucapanmu. Terima kasih.”
Yudha kembali memeluk Annabelle membuat gadis itu memutar bola matanya.
“Terima kasih diterima tapi nggak usah pakai peluk-peluk begini. Nggak enak kalau ada yang laporin ke Alden atau Lusia.”
“Nggak apa-apa, kan pelukan sayang dari kakak pada adiknya.”
“Sejak kapan kamu jadi kakak aku ?” alis Annabelle menaut.
“Sejak kamu meyakinkan aku untuk jujur tentang perasaanku pada Lusia. Adik yang baik dan menggemaskan.”
Yudha mengacak rambut Annabelle lalu mencubit kedua pipi gadis itu.
Tidak lama handphone Annabelle bergetar dan terlihat nama Alden di layar handphonenya.
“Pakai pengeras suara, aku mau bicara juga dengan Yudha !”
Suara Alden yang galak langsung terdengar saat panggilannya tersambung. Tidak ada sapaan basa-basi sebelumnya.
Annabelle langsung menggeleng sambil memutar bola matanya, menekan pengeras suara lalu mengedarkan pandangannya mencari orang-orang suruhan Alden yang pasti sedang mengawasinya saat ini.
“Siapa yang kasih kamu ijin untuk peluk-peluk calon istriku !” suara galak Alden langsung menggelegar dari pengeras suara handphone Annabelle.
“Cuma ungkapan terima kasih Alden karena calon istrimu yang sudah jadi adikku membantu aku bicara dengan Mamaku soal Lusia.”
“Adik ? Adik darimananya ? Sebagai calon suaminya aku nggak bisa menyetujui permintaanmu untuk menjadikan Annabelle sebagai adik ketemu gedemu !”
Yudha terbahak membuat Alden tambah emosi dan menekuk wajah di kamarnya.
“Awas berani peluk-peluk lagi calon istriku !”
“Malah baru aku mau beri ciuman di pipi,” ledek Yudha di sela gelak tawanya.
”Masuk sana Belle ! Jangan biarkan psikiater somplak itu mengganggu istirahatmu.”
“Iya, aku masuk sebentar lagi,” sahut Annabelle sambil geleng-geleng kepala.
“Tapi Alden, kenapa juga harus menempatkan orang untuk mengawasiku ? Kamu nggak percaya sama aku ? Kamu nggak percaya kalau Papa, Mama dan Ray bisa menjagaku ?”
“Bukan begitu, Sayang, hanya untuk jaga-jaga saja. Kan kamu masih khawatir soal Sarah,” suara Alden melunak bahkan lebih seperti rayuan.
“Neyebelin !” omel Annabelle sambil memutuskan panggilan Alden.
“Udah sana kamu pulang juga !” suara ketus Annabelle tidak membuat Yudha tersinggung malah masih tertawa pelan.
“Iya aku pulang. Sampai besok adik cantik.”
Dengan sigap Annabelle menghindar saat tangan Yudha terulur hendak mengacak rambutnya lagi.
“Jangan sampai perang berdarah lagi seperti kejadian berebutan Sarah.”
Yudha tergelak dan melambaikan tangan sambil berjalan ke arah pagar.
“Semoga besok lancar semuanya,” ujar Yudha sebelum menutup gerbang dan Annabelle mengangguk.
__ADS_1
“Dasar cowok posesif ! Pakai kirim orang untuk mengawasi segala !” gerutu Annabelle sambil masuk ke dalam rumah.