Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Dendam dan Kebencian Sarah


__ADS_3

Ternyata penasehat hukum Alden dan Sarah sudah ada di sana. Raka yang mengaturnya atas permintaan Alden, supaya tujuan kedatangan Annabelle dan Yudha bisa berjalan lancar.


Seorang perawat wanita menemani Annabelle menemui Sarah sementara Yudha berbicara empat mata dengan dokter yang menangani Sarah.


Hati Annabelle sedih saat melihat Sarah terbaring di ranjang dengan tangan terikat borgol. Wajahnya bertambah tirus dan sekitar matanya terlihat jelas menghitam apalagi saat ini Sarah dalam kondisi terpejam.


“Sarah,” Annabelle memanggilnya pelan sambil menyentuh tangan wanita itu.


Perlahan Sarah membuka matanya dan dahinya langsung berkerut saat melihat Annabelle di samping ranjang.


“Mau apa kamu kemari ?” desisnya dengan tatapan penuh kebencian. “Mau menertawakan aku karena berhasil membuatku terkurung di sini, terikat seperti ini !”


Sarah mengangkat tangannya yang terikat borgol dan suaranya semakin meninggi.


“Aku tidak pernah berniat membuatmu masuk bui seperti ini, Sarah,” sahut Annabelle sambil menggelengkan kepala.


“Perempuan iblis !” makinya. “Kamu tidak ada bedanya denganku, malah lebih mengerikan. Kamu bisa terlihat manis di depan orang lain padahal hatimu busuk sampai berbau lebih dari bangkai !”


“Bukan aku yang memasukkan kamu ke tempat ini, Sarah. Keputusanmu sendiri ingin melenyapkan aku dan akhirnya digantikan oleh Alden, yang membuatmu harus berada di tempat ini,” ujar Annabelle berusaha setenang mungkin.


Sarah bangun dari tidurnya, perawat yang menemani Annabelle meminta gadis itu untuk menjauh dari Sarah.


Annabelle menurut karena dalam keadaan normal, Sarah adalah wanita yang nekat dalam melakukan sesuatu yang diyakininya benar, apalagi sekarang saat pikirannya hanya dipenuhi amarah dan kebencian.


“Aku pastikan bisa keluar dari tempat ini dalam waktu dekat dan akan kubuat hidupmu menjadi mimpi buruk yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah terbangun lagi.


“Berhentilah menjadi pendendam, Sarah. Dengan begitu mungkin saja hidupmu akan lebih baik.”


“Kamu benar-benar wanita iblis ! Setelah menghancurka hidupku masih berani memberi nasrhat seperti orang bijak ?”


Sarah tertawa sinis dan berusaha meludahi Annabelle. Tubuh gadis itu bergedik, tatapan mata Sarah begitu menyeramkan, penuh amarah, kebencian dan dendam.


Sarah mengambil bantal kepalanya dan melemparkan ke arah Annabelle.


“Pergi perempuan iblis ! Tempatmu bukan di sini ! Akan aku hancurkan hidupmu sampai kamu memohon pada.Tuhan supay segera mencabut nyawamu.”


Annabelle menarik nafas panjang.


“Sebaiknya Nona keluar dulu,” bisik perawat yang berdiri di samping Annabelle.


Annabelle baru saja membalikkan badan saat Yudha muncul di balik pintu bersama seorang dokter pria yang terlihat lebih tua dari Yudha.


“Belle, kenalkan ini dokter Yusuf, psikiater yang menangani pasien-pasien di sini dan secara khusus menangani kasus Sarah.”


Yudha memperkenalkan pria itu pada Annabelle yang langsung mengulurkan tangannya. Keduanya berjabatan sambil menyebutkan nama masing-masing.


“Pergi kau perempuan iblis !” Sarah kembali berteriak histeris sambil berusaha lepas dari borgolnya.


“Sebaiknya kita bicara di luar,” ajak dokter Yusuf.


Annabelle sempat menoleh dan menatap Sarah yang masih menatap dirinya penuh kebencian.


“Jadi Nona adalah target Nona Sarah saat kecelakaan itu terjadi ?” tanya dokter Yusuf.


Ketiganya masuk ke satu ruangan tertutup dan berbincang di sana.

__ADS_1


Annabelle mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan dokter itu.


“Tapi tunangan saya, yang pernah menjadi calon suami Sarah, menolong saya dan menggantikan posisi saya sebagai kotbannya.”


Dokter Yusuf tidak bertajya lebih jauh karena Yudha sudah menceritakan perjalanan hidup Sarah yang gagal menikah dengan Alden dan ditinggalkan oleh Reyhan.


“Nona Sarah masuk dalam tahap depresi berat namun belum bisa dikatakan sebagai pasien dengan gangguan jiwa karena daya ingatnya masih cukup bagus dan masih bisa mengenali orang dengan baik.”


“Lalu apakah ada saran untuk menyembuhkan Sarah, Dok ? Mungkin Yudha juga sudah menyampaikan pada dokter kalau keluarga Sarah meminta kami mencabut tuntutan.”


“Laporan medisnya akan saya kirimkan pada dokter Yudha. Untuk masalah pengambilan keputusan, saya rasa dokter Yudha lebih bisa memberikan saran dan masukan yang tepat.


Seperti saya katakan tadi, secara garis besar Nona Sarah belum bisa dimasukkan sebagai pasien dengan gangguan jiwa namun tidak menutup kemungkinan dperesinya lama kelamaan akan membuat Nona Sarah masuk dalam kategori itu.”


Annabelle dan Yudha tidak berlama-lama lagi di situ karena saat melihat Yudha pun, emosi Sarah kembali tidak terkendali bahkan beberapa kali sempat keluar makian kalau Yudha adalah dokter palsu.


*****


Sekitar satu jam lebih mobil Yudha akhirnya sampai di lobby Gedung Hutama Grup.


“Nggak mampir dulu ?” tanya Annabelle saat melihat Yudha masih anteng memegang setir.


“Aku harus ke rumah sakit, ada janji siang dengan pasien siang ini, tapi sebelumnya mau makan siang dengan Lusia membahas soal Gerry.”


“Ya udah, terima kasih sudah menemani.”


“Kayak baru kenal aja,” Yudha terkekeh sambil mengacak rambut Annabelle. “Nggak usah basa basi, deh !”


Kaca mobil diketuk dari luar, tangan Annnabelle langsung membuka sisinya.


“Jangan sembarangan menyentuh calon istri orang,” omel Alden sambil menatap Yudha.


Di belakang Alden terlihat Raka sedang memegang kursi rodanya. Rupanya sejak Yudha mengabarkan posisinya sudah dekat dengan kantor Hutama Grup, Alden meminta Raka membawanya turun ke lobby.


“Pawang kamu galak banget,” ledek Yudha sambil tertawa.


“Kayak kamu nggak begitu aja sama Lusia,” balas Annabelle membela tunangannya.


Alden tersenyum mengejek Yudha yang mendapat serangan balik dari Annabelle.


Gadis itu pun turun dari mobil Yudha dan menggantikan posisi Raka di belakang kursi roda Alden.


“Jadi besok pagi elo kemari lagi kan ?” tanya Raka memastikan dari jendela yang terbuka.


“Jam 9, kan ?” Raka mengangguk.


”Udah sana, cepetan jalan !” perintah Alden masih dengan wajah juteknya.


Yudha tertawa dan Raka geleng-geleng kepala melihat sikap boss-nya yang mirip ABG kalau sudah cemburu.


Annabelle kembali mendorong kursi roda Alden setelah Yudha menjauh.


“Gue titip bayi besar, mau maksi keluar dulu.”


“Mau dipotong gaji, Ka ?” ancam Alden dengan lirikan mautnya.

__ADS_1


Raka hanya tertawa dan melambaikan tangan sambil meninggalkan Alden dan Annabelle yang langsung masuk ke dalam gedung.


Annabelle langsung membawa Alden kembali ke ruangannya. Tidak ada Tami karena ia sudah lebih dulu ijin keluar makan siang dengan divisi keuangan karena ada yang sedang berulangtahun.


“Itu kiriman dari Mommy,” Alden menunjuk rantang yang ada di atas meja sofa.


Annabelle mengangguk, dia kembali keluar mengambil peralatan makan di pantri. Dengan cekatan ia menyiapkan semuanya untuk Alden.


Pria itu memperhatikan raut wajah Annabelle yang berubah sejak kembali membesuk Sarah.


“Kamu kenapa Belle ?” tanya Alden sambil menikmati makan siangnya.


Hari ini keduanya makan bersamaan, tidak suap-suapan seperti kemarin.


“Nggak apa-apa, hanya sedikit kaget melihat kondisi Sarah yang semakin kurus dan tidak terawat.”


Alden hanya diam dan tidak bertanya apapun sampai keduanya menyelesaikan makan siang mereka.


Sama seperti tadi, selesai makan Annabelle merapikan semuanya dan membawa kembali ke pantri. Hanya tersisa nasi putih sementara lauknya habis dinikmati berdua.


“Besok pagi aku harus ke kampus lagi, Den,” ujar Annabelle saat kembali duduk di sofa.


Alden meminta bantuannya untuk memindahkannya ke sofa, duduk di sebelah Annabelle.


“Jam berapa ?”


“Jam 9 pagi. Aku sengaja mengaturnya begitu supaya tetap bisa mengantarmu ke kantor.”


“Besok ada pertemuan membahas soal permintaan keluarga Narendra. Daddy berharap kamu ikut hadir juga.”


Annabelle mengangguk dan meraih handphonenya, mengirim pesan pada seseorang.


“Dosenku bilang tidak bisa dirubah ke siang karena dia ada keperluan. Bagaimana kalau aku besok datang tapi agak siangan ?”


Annabelle memperlihatkan balasan pesan dari dosennya.


“Kalau begitu aku akan minta Raka menjadwal ulang waktunya.”


Annabelle mengangguk, tidak ingin membantah lagi ucapan Alden. Pria itu sendiri langsung mengirimkan pesan pada asistennya.


“Alden.”


“Ya,” Alden mendongak menatap Annabelle.


“Apa kamu sangat mencintai Sarah selama kalian pacaran ?”


Alden mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Annabelle. Wajah tunangannya terlihat sedang tidak nyaman dan banyak pikiran.


“Belle…”


“Lupakan,” Annabelle tersenyum getir dan mengibaskan tangannya sambil beranjak bangun.


“Aku ke toilet dulu,” ujar Annabelle sambil berjalan ke pintu ruangan.


Alden menatap Annabelle hingga menghilang di balik pintu. Dahinya berkerut, merasa sedikit aneh dengan sikap Annabelle yang baru saja menemui Sarah.

__ADS_1


__ADS_2