
Sarah membuka matanya sambil mengerutkan dahi karena merasa asing dengan ruangan yang ditempatinya saa ini.
Perlahan ia bangun dari tidurnya, memegang kepalanya yang sedikit pusing.
Matanya langsung memeriksa tubuhnya, tidak ada luka sedikitpun. Peristiwa kecelakaan itu masih melekat dalam ingatannya. Perempuan si**lan pecinta Alden itu sudah berani mengancamnya, hingga Sarah meminta Alden membatalkan rencananya datang ke apartemen dan ikut Annabelle untuk mengambil bukti perselingkuhannya dengan Reyhan.
Mengingat nama Reyhan, reflek Sarah memegang perutnya. Bibirnya menyunggingkan senyum. Tidak ada yang aneh dengan perutnya, Sarah yakin janinnya baik-baik saja.
Perlahan Sarah turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Dahinya berkerut saat melihat suasana di luar kamar.
Bagaimana bisa ia berada di apartemen milik Reyhan, tempat yang biasa digunakan untuk menghabiskan malam-malam panas dengan partnernya di kantor ?
Sarah menajamkan telinganya saat mendengar suara ******* dan teriakan kenikmatan dari kamar utama. Darah Sarah berdesir, ia bergegas ke sana dan tanpa mengetuk, tangannya membuka pintu dengan kasar.
“Reyhan !” pekiknya dengan wajah marah.
Wanita yang sedang berada di atas tubuh Reyhan hanya melirik dan tersenyum sinis melirik Sarah tanpa peduli dengan tubuhnya yang tidak terbalut apapun.
Siska, pengacara yang selama ini menjadi pesaing Sarah tersenyum penuh kemenangan karena berhasil tidur dengan Reyhan, pria yang terkenal setia pada Sarah, cintanya.
Reyhan tampak terkejut melihat ada Sarah di apartemennya. Tidak pernah Sarah datang tanpa membuat janji dulu dengannya karena tidak ingin Alden mengetahui hubungan mereka.
“Sarah ?” Reyhan terlihat bingung dan langsung mendorong tubuh Siska yang ada di atasnya.
“Bagaimana kamu bisa ada di sini ?”
Reyhan memungut celana boxer dan kaos oblongnya yang tercecer di lantai.
“Berpakaianlah,” perintahnya pada Siska.
Sarah langsung membuang muka ke lain arah saatmelihat Siska dengan santainya turun dari ranjang tanpa mengenakan apapun.
“Teganya kamu melakukan semua ini di saat aku sedang hamil anakmu !” tegas Sarah saat posisi Reyhan semakih dekat dengannya.
“Hamil ? Anak ? Apa kamu lupa kalau janin itu terpaksa dikeluarkan karena meninggal saat kamu kecelakaan ?”
“Tidak mungkin !” desis Sarah. “Aku tidak merasakan apa-apa bahkan tidak ada bekas luka di tubuhku. Kecelakaan itu hanya membuat wanita sialan itu terluka dan aku baik-baik saja.”
“Kecelakaan itu sudah hampir 4 bulan yang lalu, Sarah, tentu saja luka-lukamu sudah kering bahkan tidak ada bekasnya. Lagipula kamu hanya luka ringan tapi janin dalam kandunganmu tidak bisa diselamatkan.”
“Kamu bohong, Rey ! Kamu bohong !” Sarah mulai histeris sambil menangis dan memukul-mukul dada Reyhan.
__ADS_1
“Bayiku masih hidup. Janin itu masih ada dalam perutku. Janin itu adalah anak kita, Rey, anakmu dan aku !”
Reyhan menjauhi Sarah dan menyuruh Siska yang sudah berpakaian untuk keluar dari kamar.
“Tapi Rey,” Siska masih berusaha bertahan di kamar itu.
“Aku bilang keluar,” tegas Reyhan. “Hubungan kita hanya sebatas saling membutuhkan, tidak lebih.”
Siska menggerutu dan tersenyum sinis saat melewati Sarah.
“Sepertinya aku masih bisa mengalahkanmu di luar ruang sidang,” bisik Siska dengan nada mengejek membuat Sarah mengepalkan kedua tangannya.
“Kamu lihat yang tertera di sini ?” Reyhan memperlihatkan layar handphonenya. “Kamu bahkan yang menunda pernikahanmu dengan Alden dan memintaku menjauh darimu selama 100’hari.”
“Menunda pernikahan ? Memintamu menjauhiku ? Aku tidak pernah memintanya,” Sarah Belle mengernyit. “Aku ingat pembicaraan terakhir denganmu dan Alden hanya lewat telepon, sebelum aku pergi dengan perempuan si**lan itu.”
Reyhan mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan ingatan Sarah yang berganti lagi. Tapi Reyhan yakin kalau saat ini Sarah telah menjadi dirinya sendiri, Sarah yang dikenal Reyhan sejak 5 tahun yang lalu.
“Lalu apa maumu ?” Reyhan melipat kedua tangannya di depan dada. “Mau bilang kalau amnesiamu belum sembuh dan masih membutuhkan psikiater itu untuk mempercepat kesembuhanmu ?” Reyhan tersenyum sinis.
“Amnesia ? Psikiater ? Aku bahkan bingung bagaimana bisa terbangun di apartemenmu setelah kecelakaan itu terjadi. Apakah tidaak ada yang membawaku ke rumah sakit ? Lalu bagaimana ceritanya bayiku bisa meninggal dan dikeluarkan dari tubuhku ? Aku bahkan tidak merasakan sakit apapun.”
“Jangan-jangan kamu mulai gila, bukan sekedar amnesia,” Reyhan tersenyum mengejek sambil berjalan melewati Sarah namun wanita itu menahan lengannya.
“Kenapa ? Bukankah kamu tidak ada bedanya denganku ?” sinis Reyhan.
“Apa maksudmu ? Bahkan sebelum denganmu, hanya ada satu lelaki yang pernah tidur denganku, itupun aku harus menerimanya dengan terpaksa. Dan kamu adalah satu-satunya lelaki yang sepenuh hati aku layani.”
“Aku tidak yakin kamu tidak pernah melakukannya dengan Alden, apalagi kalian sering berduaan di apartemen.”
“Reyhan !” pekik Sarah dengan wajah memerah. “Kamu tidak percaya padaku ? Aku bahkan tidak yakin kalau Alden adalah laki-laki normal yang tidak tergoda dengan kemolekan tubuh wanita sekalipun aku berkali-kali memancingnya.”
“Jadi kamu sudah sering memamerikan tubuhmu pada Alden ?” Reyhan kembali tersenyum sinis. “Jadi jangan berharap kalau kamu hanyalah satu-satunya wanita untukku.”
Reyhan menghentakkan tangannya hingga pegangan Sarah terlepas. Ia pun keluar kamar diikuti oleh Sarah. Tidak terlihat ada Siska di luar kamar, membuat Reyhan bisa sedikit lega.
“Rey, kamu pikir aku seorang pelacur ? Apa kamu lupa tujuan aku mendekati Alden ? Aku membantu membalaskan dendammu pada Alden atas kematian Riri.”
“Oh ya ?” Reyhan nenghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah Sarah dengan sinis. “Bukan hanya Alden yang kamu permainkan untuk membalas dendam, tapi aku juga adalah korban balas dendammu. Ternyata target balas dendammu adalah Peter Gilang, ayah kandungku. Pria yang kamu anggap telah menjadi penyebab Amora bunuh diri. Iya kan ?”
“Rey… aku…”
__ADS_1
“Jawab !” bentak Reyhan sambil mencengkram tulang rahang Sarah. “Di belakangku kamu tertawa bahagia karena sudah berhasil membuat anak kandung Peter Gilang jatuh cinta padamu, wanita yang pernah ditiduri oleh Peter Gilang !”
“Reyhan, aku bisa menjelaskan soal itu,” ujar Sarah dengan suara tertahan karena tangan Reyhan masih mencengkram tulang rahangnya.
“Aku sudah cukup jelas dengan foto-foto yang kamu berikan. Bahkan kamu sudah sangat melukai hati mamaku. Wanita yang tidur dengan suaminya sekarang hampir saja memiliki anak dari benih putranya. Kenyataan itulah yaing membuat hati mamaku terluka. Dan sekarang kamu bilang kamu terluka, merasa dikhianati hanya karena aku tidur dengan wanita lain ?”
Reyhan menghetakkan tangannya dengan kasar hingga tubuh Sarah sedikit terdorong ke belakang.
“Apa belum puas ? Kamu berhasil membalaskan dendammu pada Peter Gilang yang ternyata bukan menjadi penyebab bunuh dirinya Amora.”
Sarah nampak tercengang melihat tatapan Reyhan yang dipenuhi dengan api kemarahan.
“Kamu berjanji akan memberikan aku file asli dari foto dan video malam panasmu dengan papa. Aku menagih janjimu karena aku yakin masa 100 hari itu sudah kamu lewati.
“Siapa yang menyerahkan foto-foto itu kepadamu ?” tanya Sarah dangan wajah bingung. “Aku bahkan belum pernah mencetaknya, Rey.”
“Jangan pura-pura amnesia lagi !” tegas Reyhan dengan rahang mengeras dan wajahnya condong ke muka Sarah .
“Kamu sendirilah yang memberikan pada kami setelah aku menahanmu di Puncak.”
Dahi Sarah berkerut, mencoba mengingat ucapan Reyhan namun ia benar-benar tidak ingat sama sekali.
“Aku memang memiliki bukti tentang hubunganku dengan Om Peter tapi sudah lama diska lepas itu tidak pernah aku sentuh. Aku bisa membuktikannya hari ini atau besok kalau diska lepas itu tersimpan aman di ruang kerjaku. Tidak ada satupun yang tahu tentang bukti itu.”
Reyhan tidak menanggapi ucapan Sarah. Dia meneguk habis air putih dingin yang baru saja diambilnya dari dalam kulkas.
Reyhan bisa melihat kalau Sarah benar-benar bingung dengan semua ucapan Reyhan.
Sepertinya Reyhan harus segera menemui Yudha, psikiater yang pernah menangani Sarah saat mengalami amnesia. Bukan untuk mencari tahu soal perkembangan Sarah, namun menuruti permintaan Sarah sendiri supaya Reyhan menemui Yudha setelah masa 100 hari berakhir.
“Reyhan, aku nencintaimu dan kamu adalah lelaki pertama yang membuat aku jatuh cinta.”
Sarah mengucapkan dengan suara pelan dan isakan air mata yang menetes dari matanya. Reyhan hanya diam saja, pura-pura tidak mendengarnya dan meneguk kembali air dinginnya.
Pikiran Reyhan teringat pada ucapan Sarah yang lain itu saat mereka bertemu di Bogor.
“Kalau memang kamu berjodoh dengan Sarah, bagaimana pun caranya kalian pasti akan bersatu.”
Reyhan pun ingat dengan ucapan papa Peter kalau perasaan dendam hanya akan menyakiti diri sendiri.
Saat ini Reyhan pun sedang merasakannya. Hubungan satu malamnya dengan Siska hanya untuk menunjukkan kalau ia bisa seperti Sarah, bisa membuat Sarah terluka juga.
__ADS_1
Tapi kenapa bukan kepuasaan yang didapatinya saat melihat Sarah benar-benar terluka melihatnya dengan Siska, melainkan rasa sakit yang lebih dalam dari dendam itu sendiri.