
“Apa masih harus berkonsultasi dengan Yudha ? Kenapa tidak menunggunya kembali ke Jakarta ?”
Alden menunjukkan rasa keberatannya saat Sarah Belle berniat menemui Yudha di Bogor.
“Waktuku tidak lama lagi, Den, tinggal 15 hari lagi. Aku tidak ingin membuang-buang waktu.”
Sarah Belle mengangkat koper kecilnya, bersiap berangkat ditemani Jaka dan Dina.
“Lagipula aku hanya 2 hari di sana, semua urusan pernikahan juga sudah beres. Anggap saja aku butuh refreshing sebelum menikah denganmu.”
Sarah Belle keluar dari kamarnya dibuntuti Alden yang masih memasang wajah kesal.
Dua minggu terakhir, sejak kejadian di rumah sakit, Sarah Belle semakin menjaga jarak dengannya, meski tidak menolak saat diajak mengurus kebutuhan pernikahan Sarah dan Alden yang tetap akan dilaksanakan setelah 100 hari berakhir.
Ego Annabelle menolaknya karena tidak ingin pernikahan Sarah dan Alden terlaksana. Semua usahanya akan jadi sia-sia belaka kalau pada akhirnya keputusan Alden menjadikan Sarah sebagai istrinya tidak bisa diganggu gugat.
Sejak Alden tak tergoyahkan dengan keputusannya, semangat Annabelle untuk melindungi Alden dari rencana busuk Sarah pun perlahan berkurang.
“Tunggu,” Alden menahan lengan Sarah Belle yang sudah bersiap keluar.
“Boleh aku tahu kenapa harus 100 hari, bukan 30 atau 40 atau berapapun ?”
“Penting banget ?” Sarah Belle mengernyit. “Hanya tinggal 15 hari lagi, jadi tidak ada gunanya menanyakan kenapa. Seharusnya rasa ingin tahumu itu diungkapkan saat awal aku mengatakannya padamu.”
Sarah Belle memberi isyarat agar Alden melepaskan pegangannya. Pria itu menghela nafas saat melihat Sarah Belle dengan santai keluar rumah. Sudah ada Jaka dan Dina yang menunggu di samping mobil.
“Aku pergi dulu,” pamit Sarah Belle sambil melirik Alden. Tidak ada peluk cium seperti yang Alden harapkan.
Terlihat Alden menghela nafas beberapa kali sambil menatap mobil yang membawa Sarah Belle dan kedua pengawalnya menghilang di balik pagar.
“Jangan biarkan Jaka dan Dina lengah mengawasinya,” perintah Alden pada Raka lewat handphonenya.
***
“Pakai pelet apa sampai Alden kasih ijin kemari ?” Yudha menyambutnya di lobby hotel saat Sarah Belle baru saja tiba.
“Iya tapi 2 pengawal ini nggak boleh merem,” gerutu Sarah Belle dengan wajah ditekuk. “Kecuali urusan kamar mandi, gue nggak boleh lepas dari pandangan mereka.”
Yudha tertawa dan sengaja merangkul bahu Sarah Belle biar salah satu pengawal itu mengadu pada Alden.
Calon suami Sarah itu mengirimkan pesan pada Yudha supaya membatasi diri dalam sesi konsultasi dengan Sarah.
“Tangan dikondisikan,” omel Sarah Belle melirik tangan Yudha yang masih anteng memegang bahunya.
“Sengaja,” bisik Yudha. “Alden udah pesan-pesan supaya aku menjaga jarak aman sama Sarah, tapi bukan dengan Annabelle,” lanjut Yudha sambil terkekeh.
“Ngaco !” Sarah Belle mencubit perut Yudha membuat pria itu meringis dan mempererrar rangkulannya.
“Kenapa ? Takut Annabelle jatuh cinta sama psikiater tampannya ?” ledek Yudha.
“Memangnya cintamu bisa membuatku hidup ?” cebik Sarah Belle membiarkan tangan Yudha merangkul bahunya.
Tidak lama handphone Sarah Belle bergetar membuat wanita itu memutar bola matanya.
“Alden,” Sarah Belle menunjukkan layar handphonenya.
“Bener kan, ada live report langsung dari lokasi,” Yudha terkekeh.
Panggilan Alden diabaikan oleh Sarah Belle karena yakin kalau pria itu meneleponnya hanya untuk mengucapkan wejangan panjang lebar soal aturan jaga jarak dengan Yudha.
Sarah Belle yakin kalau Alden akan menghubungi Jaka atau Dina saat panggilannya tidak terjawab.
“Makan siang dulu baru istirahat,” dengan santai Yudha menggandeng Sarah Belle menuju restoran yang ada di hotel.
“Benar-benar memanfaatkan kesempatan, ya !” gerutu Sarah Belle. “Ngaku-ngakunya jatuh cinta sama Annabelle tapi gandeng-gandeng Sarah. Balas dendam karena dulu ditolak cintanya sama Sarah ?”
“Yang ada dalam bayanganku sekarang bukan Sarah tapi Annabelle. Ada yang masih orisinil dan lebih muda kenapa harus cari yang second berumur pula.”
__ADS_1
“Dasar psikiater mesum !” Pelotot Sarah Belle.
Yudha memberi isyarat pada Jaka dan Dina supaya mencari meja lain dan membiarkannya berdua dengan Sarah Belle.
Jaka yang sedang menerima telepon Alden menurut, duduk di meja yang sedikit jauh dari Yudha namun posisinya tetap bisa mengawasi Sarah Belle.
“Apa sakit kepalamu makin sering akhir-akhir ini ?” tanya Yudha setelah keduanya selesai memesan makanan.
“Tidak juga, hanya sesekali saja. Paling parah aku rasakan 2 minggu lalu saat ingin membesuk Annabelle. Apa mungkin tubuh Sarah menolak keinginanku untuk membesuk Annabelle ?”
“Terus terang untuk kasusmu ini tidak semuanya bisa diberi penjelasan secara medis. Ada banyak hal yang tidak masuk akal terjadi dan aku tidak bisa memberikan pendapat sebagai profesional.”
“Aku menyerah soal Alden, sepertinya tidak akan bisa membuat hatinya berpaling dari Sarah.”
“Makanya kamu kabur kemari ?” ledek Yudha sambil mempersilakan pelayan meletakkan pesanan mereka.
“Aku sengaja menghindari Alden. Nggak bisa dipungkiri kalau hatiku malah tambah sakit setiap kali Alden menunjukkan rasa cintanya pada Sarah dan semakin yakin kalau kesempatan hidupku semakin kecil.”
“Jadi ceritanya siap mati muda ? Coba negosiasi aja, cintanya dialihkan pada Yudha. Meskin bukan konglomerat kayak Alden, aku masih sanggup membuat hidupmu di atas rata-rata.”
“Kamu pikir belanja di pasar bisa tawar menawar ? Kalau bisa aku akan memilih tidak ingin terlibat dengan kehidupan Sarah dan Alden.”
Bibir Sarah Belle mengerucut dan mulai menyendok makanannya. Yudha tertawa dan menahan gemas melihat tingkah Sarah Belle yang bernafsu menikmati makanannya.
“Tidak sabar menunggu 100 hari berlalu dan pacaran dengan Annabelle.”
“Kayak Annabelle-nya mau aja pacaran sama psikiater mesum.”
Yudha hanya tertawa dan ikut menikmati makan siangnya
“Yudha,” Sarah Belle mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.
“Seandainya dalam 100 hari aku gagal membuat Alden jatuh cinta padaku, berarti aku akan menghilang selamanya dari peredaran dunia ini. Lalu bagaimana dengan nasib Sarah sendiri ?
Adakah analisa medis yang bisa memperkirakan apa yang terjadi dengan Sarah ?”
Tapi kalau menurut analisaku, Sarah tidak akan memiliki ingatan sebagai Annabelle, kalau itu yang kamu khawatirkan.
Malah ada kemungkinan saat terbangun ingatan Sarah malah berhenti, hanya sampai di malam kecelakaan saja dan kejadian sebelum itu.
Jadi jangan kahawatir, tidak akan ada ingatan Annabelle yang tertinggal dalam tubuh Sarah.”
“Syukurlah,” wajah Sarah Belle terlihat lega.
“Kenapa ? Takut sisa-sisa ingatanmu Sarah gunakan untuk semakin memikat Alden ?” ledek Yudha sambil terkekeh.
“Ngaco !” mata Sarah Belle langsung melotot. “Memikat Alden dari Hongkong !”
Yudha terbahak melihat mulut Sarah Belle menggerutu.
“Persis kayak mbah dukun,” ledek Yudha di tengah-tengah tawanya.
“Demen banget sih godain Annabelle,” sungutnya ketus.
“Bukan demen godain doang, tapi jatuh cinta beneran,” sahut Yudha penuh keyakinan.
“Sayangnya Belle nggak akan hidup lagi setelah 100 hari ini berakhir,” lirih Sarah Belle dengan wajah sendu.
“Belle,” Yudha menghentikan tawanya. “Aku lupa bilang sama kamu, beberapa kali aku datang membesuk ke rumah sakit, di samping ranjangmu ada 3 tangkai mawar ditaruh di vas. 2 mawar putih dan 1 berwarna kurning. Perawat di sana bilang setiap 3 hari selalu ada yang mengantar dan meminta perawat untuk meletakkannya di samping ranjang kamu. Tapi setiap kali perawat tanya, pengantar yang berbeda-beda itu bilang mereka juga tidak tahu. Tukang bunganya bilang yang pesan bunganya juga berbeda-beda.”
Terlihat Sarah Belle mengerutkan dahi berusaha berpikir keras siapa yang mengirimi Annabbelle bunga mawar. Dan bagaimana si pengirim tahu warna mawar kesukaan Annabelle ?
“Diam-diam kamu punya penggemar lain, nih,” ledek Yudha. “Jangan pura-pura nggak tahu, deh.”
“Nggak pura-pura, aku benar-benar nggak tahu. Belle belum pernah dekat sama cowok apalagi pacaran. Nggak ada cowok yang mau kenal dengan gadis culun berkacamata tebal,” ujar Sarah Belle dengan tawa sumbang.
“Jangan begitu tidak percaya diri,” ujar Yudha. “Bukankah Tante Lanny berjanji akan mengijinkanmu melepas kacamata itu saat ulangtahunmu yang ke-21 ?”
__ADS_1
“Iya dan hanya orang-orang yang datang melayatku bisa melihatku sebagai Annabelle tanpa kacamata.”
Yudha menyentuh jemari Sarah Belle yang ada di atas meja.
“Bisa meminjam tubuh Sarah adalah keajaiban untukmu. Aku percaya kalau Tuhan sudah menyiapkan keajaiban lain dalam hidupmu.”
Yudha meremas jemari Sarah Belle, mencoba memberi kekuatan pada gadis di depannya.
“Bukan hanya orangtuamu yang mengharapkan keajaiban, tapi ada Om Wira dan Tante Lanny, Sisi dan terutama aku.”
Sarah Belle mendongak dengan mata berkaca-kaca. Ditatapnya Yudha dalam-dalam, mencari semangat pengharapan yang mulai hilang dalam pikiran Annabelle.
“Kalau sampai kamu bisa hidup kembali tanpa cinta Alden, berarti kamulah jodohku. Aku akan membahagiakanmu dan mencintaimu sepenuh hatiku. Bahkan saat ini aku benar-benar melihat wajahmu sebagai Annabelle, bukan Sarah.”
Sarah Belle tersenyum dan menyeka sudut matanya yang basah.
“Jangan terlalu berharap banyak dokter Yudha yang tampan,” Sarah Belle terkekeh menggoda Yudha.
“Akan terasa sakit mencintai tapi tidak bisa memiliki.”
Yudha hanya tersenyum dan kembali mengeratkan genggamanny di jemari Sarah Belle.
***
Sementara di kantornya Alden mulai uring-uringan membuat Raka menatapnya dengan dahi berkerut.
“Bukannya konseling malah pacaran,” gerutu Alden dengan raut wajah ditekuk.
“Siapa pacaran sama siapa ?” Raka yang sebetulnya sudah tahu siapa yang membuat Alden kesal sengaja memancingnya dengan pertanyaan.
“Teman lo tuh ! Memanfaatkan profesinya untuk mendekati cewek,” gerutu Alden.
“Cemburu ?” ledek Raka.
Alden diam saja sambil mendengarkan handphonenya menggunakan earphone. Raka mengernyit, tidak mengerti dengan tingkah bossnya itu.
Tanpa ada yang tahu, diam-diam Alden memasang alat penyadap pada anting yang baru diberikannya pada Sarah untuk memantau calon istrinya itu yang semakin hari menjauh darinya.
Tidak ada ucapan Yudha yang menyinggung soal Sarah. Sejak tadi yang dibahas soal perasaan Yudha pada Annabelle saat gadis itu sadar. Namun entah kenapa hati Alden merasa tidak nyaman.
Apa benar kalau perasaannya sedang cemburu pada Yudha ?
“Al,” panggil Raka membuyarkan konsentrasi Alden pada percakapan yang sedang didengarnya.
Alden pun melepas earphonenya dan menekan tombol merekam pada aplikasi yang ada di handphonenya.
“Kenapa ?” Alden menyenderkan punggungnya sambil menatap Raka yang duduk berseberangan dengannya.
“Gue hanya ingin memastikan aja soal pernikahan elo dengan Sarah. Begitu banyak perempuan yang bersedia jadi istri elo. Perempuan yang lebih muda, lebih cantik dan tidak kalah hebatnya dengan Sarah, pasti banyak yang antri begitu elo buka kesempatan.”
“Harap singkat dan padat,” Alden mencebik lalu tertawa pelan.
“Kenapa elo tetap memutuskan untuk meneruskan pernikahan elo dengan Sarah, wanita yang kehidupannya udah babak belur, morat-marit dan sombong pula. Sorry kalau gue terlalu apa adanya,” Raka menggerakan kedua bahunya.
“Karena gue punya rencana lain, Ka. Dan gue hanya perlu bertahan 2 minggu lagi. Jangan khawatir, Bro. Gue masih Alden yang elo kenal.”
“Syukurlah kalau memang elo punya rencana atas Sarah,” Raka mengelus dadanya sambil tersenyum.
“Tapi psikiater sok pintar itu bisa mengacaukan rencana gue. Nyebelin !” omel Alden pada dirinya sendiri.
“Tinggal bilang cemburu, susah banget sih,” ledek Raka sambil tergelak.
“Tidak seperti yang elo pikirkan,” sahut Alden dengan wajah kesalnya.
“Terus ?”
Alden tidak menjawab dan memasang kembali earphonenya , kali ini di telinga kiri dan kanan lalu mengibaskan tangannya, memberi isyarat supaya Raka meninggalkannya sendirian.
__ADS_1