
30 menit kemudian Sarah Belle keluar kamar, melewati satu pintu lainnya yang entah ruangan apa. Tidak jauh dari pintu itu, terlihat tangga kayu menuju lantai dasar.
Sarah Belle mengedarkan pandangan yang terlihat dari tangga. Nuansa ruangan di bangunan villa ini didominasi dari kayu. Tidak teralu besar namun juga tidak bisa dibilang kecil.
“Kamu terlihat tambah cantik,” Reyhan menanti Sarah Belle di ujung tangga.
Sebelumnya Reyhan duduk di ruang keluarga menyibukkan diri dengan handphonenya. Saat mendengar suara pintu dibuka dari lantai 2, Reyhan yakin kalau Sarah sudah selesai membersihkan diri.
“Tempat siapa ini ?” tanya Sarah Belle dengan suara datar.
”Kamu lupa kalau kita sering pergi kemari saat jenuh dengan pekerjaan. Katamu sensasi dinginnya berbeda dengan kamar hotel atau apartemen, lebih alami.”
“Aku tidak ingat sama sekali.”
”Aku akan membantumu mengingatnya,” bisik Reyhan dengan suara mendesah di telinga Sarah Belle.
Sarah Belle hanya tersenyum tipis, tidak menghindar seperti sebelumnya.
“Kamu tetap cantik meski tanpa polesan make up, tapi kamu tidak percaya dengan ucapanku. Bahkan setelah kecelakaan dan wajahmu terluka di beberapa bagian, aku melihat aura kecantikanmu makin bertambah.”
Lagi-lagi Sarah Belle hanya tersenyum tipis saat Reyhan menggandengnya menuju ruang makan.
Sarah Belle mengerutkan dahi saat melihat sajian oyster di atas meja makan.
”Aku tidak bisa makan itu,” Sarah Belle menunjuk menu oyster.
“Bukannya ini adalah makanan kesukaanmu ?”
“Tidak bisa, aku sangat-sangat alergi dengan oyster,” ujar Sarah Belle sambil menggedikan bahu membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.
“Kamu tidak pernah alergi…”
“Aku alergi Reyhan !” potong Sarah Belle dengan nada tinggi. “Aku hampir saja mati gara-gara makan sepotong oyster.”
Reyhan tidak mau berdebat lebih jauh saat melihat wajah cemas Sarah Belle. Sejak kecelakaan, Reyhan merasakan juga kalau emosi Sarah sering berubah-ubah.
Setelah keduanya duduk berhadapan di meja makan, Reyhan memanggil pelayan dan memintanya untuk mengangkat piring oyster.
“Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu,” ujar Sarah Belle dengan suara pelan.
“Aku juga tidak tahu kalau tiba-tiba aku alergi oyster. Aku sempat mencobanya dan ternyata aku alergi berat,” bohong Sarah Belle.
Seharusnya memang tidak masalah kalau tubuh Sarah mengkonsumsi oyster, hanya saja ingatan pengalaman sesak nafas saat mengkonsumsi sepotong oyster membuat Annabelle trauma dan enggan mencoba makanan itu lagi.
__ADS_1
“Maaf kalau aku sudah membuatmu mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan,” ujar Reyhan saat dilihatnya Sarah Belle hanya diam dengan wajah menunduk menikmati makan malamnya.
“Tidak apa-apa, malah aku yang harus minta maaf karena sudah bersikap kasar. Terkadang ingatan yang simpang siur membuat emosiku susah dikendalikan. Maaf,” ujar Sarah Belle dengan suara pelan dan enggan bertatapan dengan Reyhan.
Akhirnya Reyhan memilih diam dan membiarkan Sarah Belle menenangkan hatinya.
“Aku ingin langsung beristirahat dulu, Rey,” ujar Sarah Belle dengan wajah sendu setelah menghabiskan makan malamnya.
“Istirahatlah. Apa perlu aku mengantarmu ke atas ?”
“Tidak usah,” Sarah Belle menggeleng dan mulai menapaki tangga.
“Rey,” Sarah Belle berhenti dan menoleh ke arah Reyhan yang masih berdiri di pinggir tangga. “Bolehkah aku minta barang pribadiku ? Tasku beserta isinya ?”
“Tentu saja. Aku akan minta pelayan mengantarkannya untukmu.”
“Terima kasih,” Sarah Belle tersenyum tipis dan melanjutkan kembali langkahnya menuju lantai dua.
Reyhan memandang punggung Sarah Belle dengan penuh tanda tanya. Selama 5 tahun lebih mengenal Sarah, belum pernah Reyhan mendapati pujaan hatinya itu bersikap seperti ini. Sendu dan memilih diam demi meredam emosinya.
Selama ini Sarah yang dikenalnya adalah wanita yang keras, mudah emosi bahkan cenderung tempramental dan tidak suka melankolis.
Baru saja Sarah Belle keluar kamar mandi, pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayan membawakan tas miliknya untuk diberikan kepada Sarah Belle.
“Terima kasih.”
“Terima kasih, saya pasti segera tidur,” sahut Sarah Belle sambil tersenyum tipis.
Sarah Belle langsung berjalan ke ranjang dan menuang semua isi tasnya, berharap menemukan cip atau apapun yang bisa membuat Alden bisa melacak posisinya.
Entah kenapa rasa optimis yang selalu dimiliki Annabelle tiba-tiba menguap. Hitungan mundur sisa waktu yang dimiliki Annabelle seolah bertalu-talu memenuhi kepalanya.
Tidak ada satupun barang aneh yang ditemukan Sarah Belle bahkan di dalam tasnya pun tidak ada apa-apa. Sarah Belle menghela nafas panjang berusaha menenangkan hati dan pikirannya supaya lebih tenang.
🍀🍀🍀
Setelah 30 menit kedua pria itu membawa Sarah Belle, Raka mendapat laporan kalau posisi Jaka dan Dina berada jauh dari Sarah Belle.
Raka langsung menyuruh anak buahnya mendatangi Jaka dan Dina yang terdeteksi tidak bergerak sama sekali sementara pelacak yang dipasang pada Sarah Belle terus menjauh dan berjalan ke arah luar kota Jakarta.
“Jadi Jaka dan Dina diberi obat tidur ?” tanya Alden saat Raka melaporkan kondisi Sarah Belle yang terpisah dari kedua pengawalnya.
“Sepertinya begitu. Keduanya belum sadar dan kamera mobil pun hilang,” ujar Raka sambil duduk di depan meja Alden.
__ADS_1
“Kejadian malam kecelakaan itu terulang lagi,” gumam Alden sambil menangkup kedua tangannya yang bersandar pada pegangan kursi.
“Itu berarti saat kecelakaan terjadi, Belle tidak sengaja mengkonsumsi obat tidur sesuai dugaanmu, Al. Hasil tes darah Jaka dan Dina akan membuktikan jenis obat yang digunakan, kalau sama dengan yang ditemukan dalam darah Annabelle, berarti ada kemungkinan Sarah yang memberikannya pada Belle malam itu dan hari ini pada Jaka dan Dina.”
“Terlalu beresiko kalau Sarah yang memberikannya dan membiarkan cewek itu yang menyetir,” ujar Alden dengan alis menaut sedang berpikir. “Kondisi Sarah bisa sama parahnya. Tuhan masih melindungi Sarah yang hanya luka ringan.”
“Tapi Al, kondisi Belle lebih parah karena sabuk pengamannya lepas hingga ia terlempar dari mobil. Dan firasatku mengatakan kalau Belle tidak akan senekat itu melepas sabuk pengaman.”
”Mungkin saja dia melepasnya karena ingin melompat dari mobil tapi rasa kantuknya sudah tidak bisa ditahan.”
“Tidak bisakah kamu melihat hal baik dari sisi Annabelle ? Entah bagaimana detil kejadiannya namun satu hal yang pasti, Sarah selalu ada setiap kali obat tidur itu ditemukan.”
Terlihat Raka menghela nafas panjang karena sulit membuat Alden berpikir positif soal Annabelle.
“Dimana posisi Sarah sekarang ?” tanya Alden sambil bangkit dari kursi kerjanya.
“Titiknya berhenti di kawasan Gadog, Puncak. Elo mau langsung ke sana ? Gue bisa minta Evan untuk memberikan koordinat pastinya.”
“Tidak hari ini,” sahut Alden. “Gue diminta ketemu daddy di ruangannya sekarang.”
“Al, elo udah ada gambaran siapa yang membawa kabur Sarah ?”
“Siapa lagi kalau bukan Reyhan,” sahut Alden santai sambil berjalan menuju pintu ruangannya.
“Elo nggak khawatir kalau sampai si Reyhan bertindak nekat sama Sarah ?”
“Bukannya situasi ini yang diinginkan Sarah ?”
“‘Maksud elo ?”
Raka menautkan alis sambil mengikuti Alden yang berjalan menuju lift untuk naik satu lantai ke ruangan Tuan Wira.
“Sudah terlalu sering Sarah merengek minta diijinkan kembali bekerja di kantor Gilang. Dia bilang ada pekerjaan yang harus dituntaskannya di sana. Jadi anggap saja situasi ini menjadi kesempatan Sarah untuk menyelesaikan apa yang harus dibereskannya di sana.”
“Tapi posisinya bukan di Jakarta, Al. Reyhan Gilang membawanya jauh dari kantor.”
“Kita beri waktu sampai besok sore, Ka. Kalau memang tidak ada pergerakan, kita baru bertindak.”
Raka menurut dan hanya menatap Alden yang berjalan masuk ke dalam ruangan Tuan Wira.
Reno sudah menunggu di mejanya yang ada di ruang sekretaris. Begitu melihat Alden, Reno beranjak bangun dan membukakan pintu ruangan Tuan Wira setelah mengetuknya.
Alden mengangkat sebelah alisnya saat melihat ada Juan sedang duduk di sofa bersama daddy Wira. Reno pun ikut masuk ke dalam dan duduk bersebelahan dengan Juan.
__ADS_1
Mata Alden menyipit saat melihat ada beberapa foto yang digelar di atas meja menghadap ke arah daddy Wira.
Saat posisinya semakin dekat, matanya balik membelalak saat melihat dua orang yang terpampang dam foto itu.