Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Aku akan Memberikan Bukti


__ADS_3

“Kamu mau kemana ?” Reyhan menatap Sarah yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya, menunggu Reyhan di tepi ranjang.


“Ikut ke kantor. Aku bisa mulai bekerja seperti biasa,” Sarah tersenyum seolah lupa dengan kejadian Siska.


“Kamu tidak lagi diharapkan bekerja di kantor,” tegas Reyhan dengan wajah ketus.


“Apa maksudmu, Rey ? Aku benar-benar tidak tahu dengan semua yang kamu bilang semalam.”


Reyhan mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi yang langsung dikunci.


“Rey, kenapa harus berganti pakaian di sana ? Bukankah kita sudah biasa bahkan lebih dari sekedar berganti pakaian ?” tanya Sarah sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.


Reyhan tidak menjawab apapun dan tetap berpakaian di kamar mandi, bahkan ia tidak akan membiarkan Sarah memasangkan dasinya.


“Rey,” Sarah mengikuti Reyhan yang terus mengabaikannya dan berjalan keluar kamar.


“Seharusnya aku yang marah karena melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang perselingkuhanmu dengan Siska,” suara Sarah mulai meninggi dan tangannya menahan lengan Reyhan.


“Berarti kamu menyuruhku mengabaikan perselingkuhanmu yang tidak terlihat olehku ?”


Reyhan menjawab dengan nada ketus tanpa membalikkan badannya berhadapan dengan Sarah, bahkan tangan Sarah yang menahan lengannya ditepisnya dengan kasar.


“Sudah aku katakan sejak bersama denganmu, aku tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain termasuk Alden ! Dia bahkan tidak pernah mencium bibirku, hanya sebatas mengecupnya. Makanya aku bilang padamu kalau aku tidak yakin Alden itu laki-laki normal.”


Reyhan tidak menanggapi. Setelah meneguk segelas air putih di dapur, Reyhan langsung menuju pintu apartemennya.


“Rey !” Sarah kembali menahan lengan Reyhan. “Tolong ijinkan aku ikut ke kantor hari ini. Akan aku buktikan kalau diska lepas yang berisi foto dan video kejadian aku dengan Om Peter tersimpan aman di ruanganku dan tidak pernah aku apa-apakan sejak lama. Kamu boleh mengambilnya atau kita hancurkan bersama-sama karena aku sungguh-sungguh mencintaimu, Rey. Aku akan berubah menjadi seperti yang kamu mau.”


Reyhan terdiam sejenak, mempertimbangkan ucapan Sarah dan akhirnya ia membiarkan Sarah ikut ke kantor bersamanya.


Kali ini semua karyawan kembali dibuat terkejut, masalahnya Sarah kembali ke sifat asalnya. Sempat menjadi wanita yang ramah, sekarang kembali menjadi wanita yang terlihat angkuh.


“Apa kabar, Bu ?” Helena, asisten Sarah segera menghampiri saat Sarah berjalan menuju ruangannya.


“Saya pikir Ibu beneran berhenti karena sudah sebulan ini nggak datang ke kantor.”


“Sebulan ? Hanya sebulan ? Lalu kapan saya mengalami kecelakaan ?”


Helena berpikir sejenak dan memeriksa tabnya untuk mengecek catatan kegiatan Sarah.


“Tepatnya sekitar 101 hari yang lalu, Bu,” Helena memastikan, membuat Sarah mengerutkan dahinya.


“101 hari yang lalu dan aku tidak masuk kerja hanya sebulan terakhir ini ? Lalu siapa yang datang kemari ?” suara Sarah mulai meninggi membuat Helena gantian mengerutkan dahi.


“Ibu yang datang kemari, tidak ada orang lain. Hanya saja….” Helena terlihat ragu untuk mengatakannya.


“Hanya apa ?” Tatapan Sarah langsung mengintimidasi Helena membuat asistennya mendadak gugup.

__ADS_1


“Menurut info, saat itu Ibu mengalami amnesia. Bahkan setelah kecelakaan itu, Ibu diantar oleh seorang psikiater yang memastikan kalau berada di kantor akan membantu mempercepat pemulihan ingatan Ibu.”


“Psikiater ? Amnesia ?”


Sarah teringat dengan ucapan Reyhan saat mereka bertengkar semalam. Reyhan menyinggung masalah amnesia dan psikiater.


Sarah duduk di kursi kerjanya dan menopang kepala dengan kedua tangannya. Apa mungkin ia menderita amnesia karena kecelakaan itu ? Bahkan Sarah tidak ingat kalau janinnya harus dikeluarkan setelah kecelakaan itu.


“Mau saya bikinkan cokelat hangat, Bu ?” tanya Helena dengan hati-hati.


“Sejak kapan aku suka minum cokelat ?” Sarah melirik dengan alis menaut dan nada ketus.


“Sejak kecelakaan, Bu,” sahut Helena dengan senyuman takut-takut.


”Buatkan kopi yang biasa aku minum.”


Helena mengangguk dan keluar dari ruangan Sarah. Sebetulnya Helena sendiri sudah nyaman sejak Sarah digantikan oleh Sarah Belle karena boss-nya itu berubah menjadi sosok yang ramah dan perhatian.


Sarah bergegas membuka laci mejanya dan mengambil dompet kosmetiknya. Dadanya langsung bergemuruh saat tidak menemukan benda yang dicarinya.


Sarah menumpahkan semua isi dompet bahkan menarik laci mejanya hingga terlepas, namun tetap tidak bisa menemukan apa yang dicarinya.


“Helen, kamu yakin kalau aku yang datang ke kantor ini ? Bukan orang lain yang menyamar seperti aku ?”


Helena dibuat bingung dengan pertanyaan Sarah. Setidaknya situasi Sarah saat ini membuatnya semakin yakin kalau Sarah memang menderita amnesia.


”Secara fisik betul Ibu Sarah, bukan orang lain, tapi secara kepribadian… “


“Hanya saja kepribadian Ibu sangat berbeda,” akhirnya Helena memberanikan diri mengutarakan apa yang dirasakannya saat Sarah Belle bekerja di situ.


“Berbeda gimana ?”


“Ibu sangat ramah, perhatian dan sering mengobrol dengan staf di sini. Hanya saja, Ibu tidak ingat dengan kasus-kasus yang Ibu sedang tangani hingga semuanya untuk sementara waktu diserahkan pada Pak Reyhan atau Pak Peter langsung.”


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Reyhan masuk ke ruangan Sarah. Pria itu langsung memberi isyarat pada Helena supaya asisten Sarah keluar.


“Apa aku bisa menagih janjimu ?” Reyhan mendekat ke meja Sarah dengan kedua tangannya berada di saku celana.


“Apa ada orang lain yang masuk ke ruanganku setelah kecelakaan itu terjadi ?”


“Tidak ada, hanya kamu.”


Reyhan mengerutkan dahi saat melihat banyak barang berserakan di meja Sarah bahkan laci kirinya tidak terpasang di meja.


“Jadi diska lepas itu tidak ketemu ?”


“Demi Tuhan Rey, aku tidak berbohong kalau diska lepas itu aku simpan di dompet ini. Kucampur dengan peralatan kosmetikku dan bentuk diskanya berupa lipstik.”

__ADS_1


“Jangan pakai alasan amnesia mu lagi.”


“Rey !” suara Sarah mulai meninggi. Kembali ke sifat aslinya yang mudah emosi dan tidak sabaran.


“Temui aku dengan orang yang mengaku psikiater selama aku dinyatakan amnesia. Aku yakin kalau ada yang berniat jahat padaku, Rey.”


“Kita sedang tidak di ruang sidang, jangan mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinu sendiri.”


“Tidak ada hubungan dengan pekerjaan kita sebagai pengacara, Rey,” tegas Sarah dengan wajah kesal. “Aku tidak akan melupakan dimana aku meletakkan barang-barang penting yang harus aku jaga. Jadi pasti ada orang yang mencoba menjatuhkanku.”


“Siapa lagi yang ingin kamu jadikan kambing hitam ?” Reyhan tersenyum sinis.


“Siska atau Annabelle,” desis Sarah sambil mengepalkan kedua tangannya.


Reyhan langsung tertawa dengan wajah mengejek lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku berharap kamu benar-benar berubah setelah kecelakaan itu, tapi ternyata kamu kembali lagi menjadi Sarah yang sombong. Kedua wanita yang kamu tuduh itu bahkan belum pernah menginjakkan kakinya di ruangan ini. Apa kamu tidak tahu kalau Annabelle mengalami koma karena kecelakaan itu dan entah sudah sadar atau belum.”


“Rey, tapi aku sungguh tidak berbohong !” tegas Sarah masih dengan suara tinggi.


“Aku capek denganmu Sarah, apalagi dengan sifatmu yang kembali lagi seperti semula. Aku menyesal telah memberikan hatiku hanya untukmu selama bertahun-tahun. Kalau saja waktu itu kamu mau mendengarkan aku untuk berhenti mengejar Alden karena kehadiran calon anak kita mampu mengalahkan rasa marahku pada Alden, mungkin saat ini kita sedang berbahagia menantikan buah hati kita.”


Reyhan menghela nafas panjang dan berbalik hendak meninggalkan Sarah.


“Rey,” Sarah menahan lengan Reyhan. “Tolong ajak aku menemui psikiater itu supaya aku tahu apa yang terjadi pada diriku.”


“Aku akan ajak menemui psikiater itu jika yakin kamu bisa berubah, tapi kalau kepribadianmu tetap sama, tidak ada gunanya.”


“Rey, setidaknya ijinkan aku mencoba menemuinya dulu,” pinta Sarah dengan wajah memelas.


“Satu hal yang harus kamu tahu Sarah kalau aku telah membenci dan menanam dendam yang salah. Bukan Alden yang menyebabkan Riri bunuh diri, tapi obsesii Riri sendiri. Adik tirimu itu terobsesi ingin mendapatkan aku yang masih memiliki hubungan darah dengannya.”


“Apa maksudmu ?” Sarah mengerutkan dahinya.


“Riri adalah anak kandung Amora, mamamu dengan papaku. Itu berarti Riri adalah adik tiri kita berdua. Entah apa yang kamu ingin dapatkan dari Alden, karena aku tidak lagi melihat tujuanmu hanya untuk membantuku membalaskan dendamku. Aku rasa kamu tergoda dengan janji Alden yang akan memberikanmu harta berlimpah seandainya menjadi istrinya.”


“Rey, maafkan aku soal calon buah hati kita. Kalau saja wanita sialan itu….”


“Berhenti menyalahkan orang lain !” bentak Reyhandengan tatapan mata penuh kemarahan. “Kamu punya pilihan dan aku sudah memintamu berhenti, tapi apa yang kamu lakukan ? Keserahan membuat dirimu tidak mendapatkan apa-apa !” Reyhan berbicara dengan penuh penekanan.


“Dan sekarang kamu berhasil membalaskan dendammu pada papaku dan di saat yang sama kamu telah kehilangan cintaku.”


“Rey, jangan berkata begitu !” Sarah kembali memegang lengan Reyhan yang langsung menghetakkan tangan Sarah dengan kasar.


“Buatlah surat pengunduran diri agar surat referensimu tetap baik untuk mencari pekerjaan di tempat lain,”. Reyhan bicara tanpa membalikkan badannya.


“Atau kantor ini akan mengeluarkan surat PHK untukmu dan akan menyelesaikan semua kewajibannya secepat mungkin.”

__ADS_1


Reyhan pun langsung keluar dari ruangan Sarah tanpa peduli dengan permintaan Sarah supaya Reyhan tetap tinggal.


Sarah memejamkan mata dengan kedua tangan yang mengepal. Rasanya ia ingin berteriak dan memaki Annabelle yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, bahkan sekarang ia juga kehilangan bukti tentang hubungannya dengan Peter Gilang.


__ADS_2