
Alden bernafas lega saat melihat Sarah Belle baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut basah.
Alden sempat dibuat pusing setelah berkeliling di sekitar hotel dan tidak menemukan Sarah Belle, hingga akhirnya ia memutuskan kembali ke kamar.
“Tadinya aku ingin mengajakmu melihat ini di pinggir pantai.”
Alden langsung menarik tangan Sarah Belle dan membawanya ke balkon. Cahaya langit mulai berubah kuning kemerahan.
Sarah Belle yang masih kesal dengan sikap Alden membulatkan matanya saat melihat matahari yang perlahan tenggelam seolah begitu dekat dengannya.
Bukan panas yang dirasa hanya kehangatan di tengah rona langit yang berubah jingga kemerahan.
Tiba-tiba Sarah Belle menghentakan tangan hingga gengaman Alden terlepas. Ingatan Annabelle kembali pada 15 tahun yang lalu. Si kecil Annabelle menghentikan air mata kesedihannya saat merasa sapuan udara pantai lebih hangat dari sebelumnya.
Saat ia mendongakkan kepala dari kedua kakinya yang terlipat, Annabelle kecil mendapati suasana yang sama seperti saat ini. Sayangnya rasa sakit itu kembali terasa meski 15 tahun berlalu.
“Maaf,” Alden meraih jemari Sarah Belle dan menggenggamnya erat-erat. “Maaf karena aku menghancurkan istana pasirmu. Tadi aku terlalu emosi, aku khawatir karena tidak mendapatimu di kamar saat aku membuka mata.”
“Kamu pikir aku akan kabur kemana ?” ketus Sarah Belle menanggapi ucapan Alden. “Bahkan saat kecil pun aku tidak pernah melarikan diri meskipun kamu menyakitiku begitu dalam.”
“Apa ada yang aku lewatkan ?” Alden kembali bertanya dengan dahi berkerut. “Kita baru bertemu sekitar 4 tahun yang lalu dan menjadi kekasih 2 tahun terakhir. Apa kita pernah bertemu saat kecil ?”
Mata Sarah Belle membola, sadar kalau Annabelle sudah salah berucap dengan mulut Sarah.
Sarah Belle kembali mencoba melepaskan genggaman tangan Alden yang justru semakin mengeratkan genggamannya.
“Lupakan,” ujar Sarah Belle sambil membuang muka. “Kita pernah bertemu dalam mimpi,” lanjutnya dengan nada ketus.
Alden hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba wajah itu terlihat menggemaskan. Bibirnya yang suka mngerucut karena kesal membuat Alden jadi teringat dengan gadis kecil itu. Gadis kecil yang ditinggalkannya menangis sendirian di pinggir pantai.
🍀🍀🍀
Meskipun acara ke pantai dengan Sarah Belle tidak bisa dibilang berhasil, namun Alden merasa senang bisa menghabiskan semalaman dengan calon istrinya itu.
Sarah Belle berubah menjadi lebih pendiam dan sangat penurut. Bahkan saat Alden membawanya kembali tinggal di rumah keluarga Hutama, Sarah Belle tidak menolak.
Jaka dan Dina tidak lagi harus mengawasi Sarah Belle selama 24 jam tapi mereka tetap diminta menemani Sarah Belle pergi meskipun dengan mommy Lanny.
Alden bisa menangkap rasa bahagia mommy Lanny yang masih berusaha menutupinya dengan bersikap dingin pada Sarah Belle, seolah-olah bukan mommy Lanny yang memintanya tinggal di situ.
“Mommy lihat kamu banyak tersenyum akhir-akhir ini,” ujar mommy Lanny dengan nada menyindir, saat mereka sedang duduk menikmati sarapan.
__ADS_1
Sudah seminggu ini Sarah Belle tinggal di keluarga Hutama. Wanita itu tetap menjadi pendiam seolah tidak nyaman berada di antara keluarga Alden, namun Sarah Belle tidak menolak pernintaan Alden yang menyuruhnya menyiapkan kopi setiap pagi.
“Tentu saja bahagia, Mom. Hari pernikahanku dengan Sarah semakin dekat dan calon istriku ini sudah bisa kupandangi setiap hari. Bahkan kopi buatannya sudah menjadi candu, penyemangat aku setiap harinya.”
“Aneh,” mommy Lanny mencibir. “Kopi buatan Sarah tidak ada istimewanya, bahkan Bik Parti bisa membuatnya hanya dengan sekali melihat.”
“Tentu saja berbeda, Mom. Di kopi buatan Sarah ada cintanya untukku, jadi sangat istimewa. Mana mungkin Bik Parti bisa menyamakan rasanya,” sahut Alden sambil tersenyum bahagia.
Sarah Belle hanya tersenyum tipis. Hatinya tidak lagi melambung mendengar pujian Alden atau sakit mendengar ucapan mommy Lanny yang memang sedang bersandiwara.
Kesepakatan Sarah Belle dengan orangtua Alden adalah meneruskan sandiwara mereka supaya Alden tidak curiga dan melihat sosok Annabelle dalam tubuh Sarah.
“Aku pergi dulu, sayang,” Alden mengecup kening Sarah Belle yang masih duduk diam di kursi meja makan.
Hal yang sama dilakukan daddy Wira pada mommy Lanny sebelum kedua pria itu berangkat ke kantor.
Keduanya beranjak bangun, hendak mengantar pria-pria tampan mereka berangkat ke kantor.
“Tunggu sebentar,” Sarah Belle menahan lengan Alden membuat pria itu berhenti dan menoleh.
Mata Alden mengikuti pergerakan tubuh Sarah Belle yang berjongkok di samping Alden. Tangan wanita itu terulur, mengikat tali sepatu Alden.
Hanya Alden yang fokus menatap gerakan tangan Sarah Belle karena daddy Wira sudah lebih dulu berdiri di dekat mobil sambil berbincang dengan mommy Lanny dan Iman, sopir keluarga Hutama.
“Terima kasih,” ujar Alden dengan suara pelan karena tiba-tiba dadanya berdesir.
Perlakuan sederhana Sarah Belle mengacaukan kembali ingatan Alden tentang seseorang. Dan kali ini ingatan itu bercampur dengan debaran jantungnya yang berbeda.
Kejadian ini kembali seperti de javu dalam ingatan Alden. Entah kapan waktunya, tapi bocah itu pernah melakukan hal yang sama saat Alden tengah bermain basket di lapangan sekolah.
Yang Alden ingat, setelah bocah kelas 3 SD itu mengikat tali sepatunya, banyak teman Alden yang mengejeknya karena berteman dengan gadis culun, si anak sopir.
“Aku sudah mengikat ulang keduanya dan aku jamin tidak akan mudah lepas sendiri. Hati-hati kalau pakai sepatu bertali, sejak duku kamu sering tersandung karena tali yang terlepas.”
Alden hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Datanglah ke kantor siang ini, aku akan mengajakmu makan siang lalu fitting baju pengantin. Sisa waktu hari pernikahan kita tinggal sebulanan lagi. Setidaknya masih ada waktu jika bajumu masih perlu diperbaiki.”
Sarah Belle mengangguk sambil berusaha tersenyum. Bersama mommy Lanny keduanya berdiri di teras, menunggu hingga mobil yang membawa Alden dan Tuan Wira keluar pagar.
“Kenapa wajahmu terlihat sedih, Belle ?” Mommy Lanny menyentuh punggung Sarah Belle.
__ADS_1
Saat Alden sudah tidak ada, Nyonya Lanny akan berhenti bersandiwara, kembali menjadi Tante Lanny yang menyayangi Annabelle.
“Aku merindukan mama dan papa, Tante,” lirih Sarah Belle dengan wajah sedih.
“Sepertinya jiwaku tidak akan kembali lagi dan hidupku akan berakhir di ruang ICU. Aku tidak akan pernah membuat Alden menginginkanku hidup kembali. Bolehkah aku bertemu mama dan papa sebelum jiwaku benar-benar meninggalkan dunia ini ?”
“Jangan berkata seperti itu, sayang,” Nyonya Lanny langsung memeluk Sarah Belle yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Hari ini kita akan menemui orangtuamu sekaligus membesuk tubuhmu di rumah sakit.”
“Terima kasih Tante,” Sarah Belle mengikuti Nyonya Lanny yang mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Masih ada 30 hari waktu yang diberikan untukmu. Masih ada kesempatan dan banyak hal bisa terjadi tanpa terduga dalam 30 hari ini. Kami selalu berdoa sekalipun Alden tidak bisa mencintaimu, kamu tetap akan hidup sebagai Annabelle.
Kami sudah memutuskan akan melepaskanmu dan kedua orangtuamu supaya pergi menjauh. Bukan demi kepentingan dan permintaan Alden, tapi kami tidak ingin kalian tersakiti karena sikap Alden.”
“Aku mengerti, Tante,” Sarah Belle merangkul bahu Nyonya Lanny yang terlihat sedih.
“Sekalipun aku akan menjauhi Alden, namun kasih sayang Om dan Tante tidak akan pernah hilang dari ingatanku.”
Nyonya Lanny pun membalas merangkul pinggang Sarah Belle.
“Jangan biarkan batas waktumu itu membuatmu stress dan kehilangan akal sehat. Tuhan pasti punya rencana tersendiri. Lagipula kalau memang Alden tetap bodoh memilih Sarah, kamu masih punya Yudha. Tante lihat dia sungguh-sungguh punya hati denganmu,” goda Nyonya Lanny.
“Yudha hanya psikiater yang pandai bicara, Tante,” sahut Sarah Belle sambil tertawa pelan.
“Tapi sepertinya cocok untukmu,”’ledek Nyonya Lanny membuat Sarah Belle tertawa pelan.
**
Sementara di dalam mobil, Alden terlihat tidak ingin diganggu. Daddy Wira pun membiarkan putranya itu larut dalam pikirannya sendiri.
Alden memikirkan ucapan Mommy Lanny yang melihatnya lebih bersemangat sejak kehadiran Sarah Belle di rumah Hutama meski wanita itu lebih pendiam dari sebelumnya.
Tapi apa yang diungkapkan Alden adalah jujur dari dalam hatinya. Mendapatkan asupan kopi buatan Sarah Belle setiap pagi membuatnya seolah mendapat tambahan energi baru. Alden hanya berharap kalau itu semua karena cinta bukan guna-guna hingga nasibnya akan berakhir sama seperti Peter Gilang.
Tuan Wira sempat melirik lagi putranya yang masih memandang keluar jendela.
Dalam hati Tuan Wira berharap kalau Alden akan jatuh cinta pada Annabelle yang sekarang sedang memainkan dirinya dalam tubuh Sarah.
Dengan cara apapun Tuan Wira akan menggagalkan pernikahan Alden dengan Sarah yang asli. Entah bagaimana caranya, semuanya baru bisa dilaksanakan saat Annabelle sudah tidak lagi bersemayam di tubuh Sarah.
__ADS_1