Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Insiden Berbuah Manis


__ADS_3

Alden terkejut saat Annabelle tiba-tiba bangun dan mengibas-ngibaskan bagian belakang celana panjangnya.


“Kenapa Belle ?” Alden mengerutkan dahi melihat wajah Annabelle yang terlihat panik.


“Sepertinya ada binatang yang begerak-gerak pas aku duduk di paha kamu,” sahut Annabelle sambil mengibaskan celananya.


“Binatang ?” Alden masih mengerutkan dahi.


“Iya kayak bergerak gitu dan agak keras,” sahut Annabelle dengan wajah polos.


Alden melirik ke bawah dan tersenyum penuh arti. Miliknya bereaksi saat Annabelle duduk di pangkuannya, apalagi hatinya berbunga-bunga saat mendengar Annabelle bilang cinta.


“Belle sepertinya kamu harus membantuku memakai pakaian dalam sekarang,” pinta Alden


“Coba periksa dulu, jangan sampai gigit kamu. Kalau bengkak repot obatinnya, malah kaki kamu lagi begitu juga.”


“Itu bukan binatang biasa, Belle. Belutku bereaksi saat memangku kamu,” sahut Alden sambil terkekeh. “Jadi sebaiknya segera dipakaikan penutupnya supaya tidak meronta lagi.”


“Sejak kapan kamu pelihara belut ?” Annabelle mengerutkan dahi. “Lagipula belut darimana, aku nggak lihat dari tadi ada belut di kamar mandi.”


“Belut ini Belle.”


Annabelle langsung tersipu saat melihat tangan Alden mengarah pada miliknya sendiri.


Alden tertawa dan dengan terpaksa akhirnya Annabelle membantu Alden yang tetap memakai jubah mandinya.


Alden ingin terbahak saat Annabelle membantunya sambil menutup mata dan menoleh ke arah lain, tapi ditahannya. Setidaknya menyenangkan melihat wajah Annabelle merona daripada melihat Darma di depannya.


Baru saja selesai dengan urusan prbadi Alden, pintu kamar mandi dibuka tanpa diketuk dulu.


”Kalian berdua sedang apa ?” Alden yang duduk di kloset dan Annabelle yang bersimpuh di depannya langsung menoleh ke arah pintu.


Bukan hanya Mommy Lanny yang ada di situ dan bertanya pertama kali, di sampingnya ada Daddy dan di belakangnya ada Papa Rano dan Mama Mira.


“Kalian minta dinikahkan besok ?” tegur Daddy Wira dengan mata melotot.


“Boleh saja kalau bisa. Aku dengan senang hati menerima hukuman itu,” sahut Alden santai.


“Alden !” tegur Annabelle sambil melotot.


“Annabelle sudah melihataku luar dalam, jadi tidak ada salahnya kalau kami segera disahkan daripada terlalu sering jadi khilaf.”


“Alden jangan lebay deh !” Annabelle berdiri sambil melotot.


“Aku nggak mandiin Alden, hanya membantunya berpakaian,” ujar Annabelle di depan kedua orangtua mereka.


“Beda tipis,” komentar Mommy dengan wajah serius.


“Kalau sudah membantu Alden berpakaian sudah fixed kamu melihat Alden luar dalam.”


“Beneran nggak, Mom,” Annabelle berdiri sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.


“Kamu bilang tadi mencintaiku, jadi nggak ada salahnya secepatnya menikah denganku, biar kamu bisa membantu mengurusku.”


“Nggak besok juga, Alden,” desis Annabelle sambil melotot.


Tangan Alden menahan Annabelle yang berniat meninggalkannya.


“Mau kemana ? Kamu belum selesai membantu aku.”

__ADS_1


“Mau panggil Pak Darma,” Annabelle berusaha melepaskan tangan Alden, tapi pria itu malah menariknya hingga Annabelle kembali duduk di atas pangkuannya.


Annabelle berusaha bangun saat Alden memeluk pinggangnya.


“Jangan banyak bergerak kalau nggak mau belutku bereaksi lagi,” bisik Alden membuat mata Annabelle membola dan berhenti bergerak-gerak.


“Belle,” panggil Papa Rano. “Papa mana bisa membiarkan kamu dengan pria lain kalau sudah pangku-pangkuan begitu sama Alden.”


“Pa, Belle cuma pangkuan, nggak ngapa-ngapain juga, mana bisa langsung dinikahkan sama Alden,”


protes Annabelle.


“Jadi kamu nggak mau dinikahkan dengan Alden ?” tanya Mama Mira.


“Nggak !”sahut Annabelle cepat sambil menggeleng.


“Yakin Belle ?” tanya Alden dengan alis menaut.


Tangan Annabelle masih merangkul leher pria itu karena takut terjatuh.


“Kamu nggak mau menikah denganku dan menjadi istriku ?”


“Maksudku…”


“Bangunlah. Kali ini aku tidak akan memaksamu lagi kalau memang kamu nggak mau. Begitu kamu bangun, aku janji nggak akan mengganggumu lagi dan begitu diijinkan keluar rumah sakit aku akan berangkat ke Jerman sesuai rencana semula.”


Alden melepaskan rangkulannya di pinggang ramping Annabelle, namun gadis itu masih merangkul leher Alden.


“Bangunlah kalau kamu masih belum mau denganku. Bahkan belutku mengerti perasaanmu dan tidak bereaksi lagi,” ujar Alden dengan wajah sendu.


“Alden bukan begitu maksudku,” wajah Annabelle terlihat kesal. “Aku mencintaimu, aku mau menikah denganmu dan mengurusmu sebagai suamiku, tapi nggak berarti nikahnya harus besok, kan ?”


Annabelle tersipu malu, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alden membuat pria itu bertambah gemas dan tertawa pelan.


“Mommy, Daddy, Om dan Tante sudah dengar sendiri kan kalau Annabelle sudah mau mencintaiku bahkan bersedia menjadi istriku. Jadi tolong keluar sebentar, biar calon istriku ini menyelesaikan tugasnya membantu aku berpakaian.”


Keempat orang tua itu senyum-senyum dan menutup pintu kamar mandi. Ternyata Annabelle masih belum sadar kalau dirinya dikerjai oleh Raka, Sisi dan para orangtua.


“Bantu aku berpakaian, ya ? Kalau sudah pakai celana tidurnya, kamu pakaian kaosnya,” bisik Alden sambil membelai rambut Annabelle.


Annabelle mengangguk dan mengangkat wajahnya namun tangan Alden menahan tengkuk Annabelle dan kembali mencium bibir gadis itu.


Annabelle yang sempat kaget akhirnya pasrah dan memejamkan matanya, membiarkan Alden memberikan ciuman hangat di bibirnya.


“Belutku bisa meronta lagi kalau diterusin,” ujar Alden sambil tertawa saat ia melepaskan ciumannya.


Alden mengusap bibir Annabelle yang basah lalu mengusap pipinya yang merona kemerahan.


“Baju gantinya di sana,” Alden menunjuk ke arah wastafel.


Dengan debar jantung yang tidak karuan dan rasa canggung yang luar biasa akhirnya Annabelle menuruti permintaan Alden, membantunya berpakaian lalu mendorong kursi roda Alden keluar kamar mandi saat semuanya selesai.


Ternyata bukan hanya keempat orangtua mereka yang sudah duduk di sofa, ada Ray, Raka dan Sisi juga Yudha dan Lusia bahkan Hana dan Reyhan juga ada di situ dan semuanya menunggu Alden dan Annabelle.


“Loh Raka bilang kamu…” Annabelle menunjuk pada Sisi yang berdiri di samping Raka sambil senyum-senyum.


“Kenapa semuanya ada di sini ?” Annabelle menatap satu persatu para tamunya yang ada di kamar itu.


Alden meminta Annabelle mendorongnya ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidur dan mengeluarkan sesuatu dari situ.

__ADS_1


“Belle,” Alden memutar kursi rodanya hingga berhadapan dengan Annabelle yang berdiri di depannya.


“Annabelle, aku mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya. Maukah kamu menjadi istriku ?”


Annabelle membelalak saat Alden membuka kotak beludru itu.


“Jadi kamu sengaja menyuruh Raka membawa aku kemari ?”


“Nggak, sebetulnya aku juga nggak tahu kalau kamu akan kemari hari ini. Raka bilang dia ingin minta tandatanganku soal urusan kantor. Begitu kamu diantar kemari, asisten kurang ajar itu baru memberitahu kalau dia sengaja menyuruhku menunggu di taman karena kamu yang akan datang, bukan Raka,” Alden menatap Raka sambil tersenyum.


“Dan yang lainnya ?”


“Soal hari ini memang rencanaku, Sisi dan kedua orangtua kalian yang mengaturnya, kecuali acara di kamar mandi tadi, itu di luar skenario kami,” sahut Raka sambil terkekeh.


“Tidak terjadi apa-apa di kamar mandi,” protes Annabelle sambil melotot menatap Raka.


“Ada apa-apa juga nggak masalah, Belle, apalagi kalau kamu bersedia menerima lamaran Alden,” ledek Mommy Lanny sambil tertawa pelan.


“Cuma stempel bibir doang, Mom,” ujar Alden sambil terkekeh.


“Alden !”


“Udah Belle, jangan kelamaan, nanti Alden berubah pikiran kamu nyesal. Papa dan Mama merestui kalau memang kamu bersedia menerima lamaran Alden,” ujar Papa Rano.


“Papa sama Mama kok gampang banget kasih restu buat anak perempuannya,” protes Annabelle dengan wajah cemberut menatap kedua orangtuanya.


“Mau cari calon menantu dimana yang mau berkorban demi keselamatan putri Mama ? Kamu nggak kasihan kaki Alden sampai begitu ?” Mama Mira malah menimpali.


“Jadi gimana Belle, lamaran anak Daddy diterima nggak ?” tanya Daddy Wira.


Annabelle menatap Alden yang masih memegang kotak beludru berwarna biru tua itu. Pria itu tersenyum manis dan berharap Annabelle menerima lamarannya.


Wajah Annabelle terasa panas saat tangannya terulur dan kepalanya mengangguk.


“Aku bersedia jadi istrimu,” gumam Annabelle pelan namun masih terdengar oleh Alden.


“Akhirnya,” Mama dan Mommy sama-sama menarik nafas lega saat Alden memakaikan cincin pada jari manis Annabelle.


Kedua sahabat Alden, Hana dan Reyhan menyambutnya dengan tepukan tangan, namun tidak lama karena takut mengganggu pasien kamar sebelah.


“Yah aku keduluan, Yang,” keluh Raka dengan suara pelan.


“Nggak apa-apa, lebih baik biar Boss kamu duluan biar nggak rewel. Dia bakal iri kita yang duluan dan kita malah dibuat rempong, pasti banyak protes dan komplain,” sahut Sisi dengan nada berbisik sambil terkekeh.


“Akhirnya tuh si raja songong kesampaian juga cintanya sama si bocil,” ujar Hana pada dua pria yang menjadi teman sekolahnya.


“Memangnya Alden sudah lama juga suka sama Belle ?” tanya Reyhan dengan dahi berkerut.


“Iya cuma kegedean gengsi dan songong abis,” cebik Hana.


“Ada yang kesal soalnya cintanya ditolak sama Alden,” ledek Yudha sambil mencibir.


“Dih nggak nyesel gue, untung aja ditolak, kalau nggak bisa makan hati karena dari dulu cintanya memang buat Annabelle.”


“Kalau begitu kamu sama aku aja gimana ?” tanya Reyhan mendekat.


“Elo gila apa buta ?” maki Hana sambil melotot. “Nggak lihat cincin kinclong dan gede begini ?”


Hana mengangkat jemarinya dan memperlihatkan cincin kawinnya. Reyhan mengusap tengkuknya sementara Yudha, Raka, Lusia dan Sisi tertawa melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2