Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Teman Curhat Dadakan


__ADS_3

“Tolong percaya padaku Rey, turunkan aku di daerah ini,” Annabelle memperlihatkan layar handphone Reyhan yang dipinjamnya.


“Orang-orang suruhan Alden atau Tuan Wira pasti sudah mengawasi rumahku dan aku tidak mau mereka berprasangka buruk padamu. Yudha akan menjemputku di sini dan aku akan langsung menyusulmu di Kafe Rosemary bersama Yudha.”


“Apa jaminannya kamu tidak akan membohongiku ?”


“Kamu tahu dimana rumahku, tempat kuliahku dan banyak hal tentang aku. Satu hal yang nanti harus kamu tambahkan kalau aku adalah orang yang menepati janji.”


“Jadi Alden peduli padamu ?”


Annabelle menghela nafas dan membuang pandangan ke arah jendela samping. Hamparan perkebunan teh terlihat menenangkan. Perjalanan menuju Jakarta masih butuh waktu sekitar 1 jam.


“Sekalipun Alden peduli, aku tidak akan peduli lagi. Kecelakaan itu membuat aku menyerah pada Alden dan sadar kalau dia bukan ditakdirkan untukku.”


“Alden sudah membatalkan pernikahannya dengan Sarah.”


“Aku tahu dan itu berarti kamu bisa memiliki Sarah seutuhnya,” Annabelle menoleh sambil tersenyum.


“Aku yakin kamu akan jadi pria paling bahagia karena bisa memiliki wanita yang sangat kamu cintai secara utuh. Dan aku berani jamin kalau Alden belummelakukan apa-apa pada Sarah,” lanjut Annabelle sambil tertawa pelan.


“Kenapa kamu harus menyerah pada Alden ? Bukankah selama ini kamu adalah wanita yang terobsesi dengan Alden dan melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya ?”


“Apa Sarah cerita begitu padamu ? Aku yakin kalau Sarah menambahkan bumbu-bumbu penyedap dalam ceritanya. Kadang aku berpikir kalau kalian para pengacara adalah pemain drama sekaligus detektif terhebat karena seringkali mampu membentuk opini hakim atau juri sesuai kebutuhan klien kalian,”ujar Annabelle terkekeh.


“Tidak ada hubungannya antara profesi pengacara dengan cerita Sarah tentangmu,” Reyhan menggerutu dengan wajah masam membuat Annabelle tertawa.


“Ya.. ya…. Tuan pengacara yang terhormat. Apakah kamu tidak berpikir kalau banyak cerita yang keluar dari mulut Sarah seringkali berlebihan ? Aku rasa itu semua karena ia ingin menutupi kekurangannya dan ambisinya karena ingin mendapatkan apapun yang diinginkannya.”


“Cara bicaramu seolah-olah sangat mengenal Sarah dengan baik,” Reyhan menggerutu lagi.


“Susah bicara dengan pria yang sudah bucin pada wanita, apapun akan terdengar menjelekkan kekasihnya,” ledek Annabelle kembali tertawa.


Reyhan sempat memperhatikan Annabelle yang terus berbicara sambil tertawa.


Wanita yang benar-benar menarik dan terlihat tulus. Sayang Alden mengabaikannya terlalu lama, batin Reyhan.


“Kenapa kamu menyerah pada Alden ? Apa mungkin rasa cinta yang bertahun-tahun kamu buang begitu saja ?” Reyhan mengulang pertanyaannya.


“Kamu sendiri sudah membuang Sarah padahal bisa aku lihat kalau masih ada cinta di matamu,” Annabelle mencibir sambil tertawaz


“Kenapa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan ?” Reyhan mengomel.


“Oke, oke, jangan marah,” Annabelle menangkup kedua tangannya sambil tertawa. “Akan aku jawab pertanyaanmu.”


Reyhan mendengus kesal dan menyandarkan tangannya pada daun jendela mobil.

__ADS_1


“Aku tidak ingin lagi menjadi toxic-nya Alden dan aku sadar tidak akan ada kebahagiaan jika memaksakan perasaan kita pada orang lain. Sekalipun aku bisa memberikan cinta dan menambahkannya setiap hari selama bertahun-tahun, Alden malah mengeraskan hatinya hingga menjadi batu yang akan semakin bertambah keras setiap mendapatkan siraman cintaku. Berbanding terbalik dengan hukum alam dimana batu akan terkikis perlahan dan akhirnya pecah jika disiram air terus menerus.”


“Cocok dibuat film,” ledek Reyhan sambil tersenyum mengejek.


“Setiap hidup manusia bisa dijadikan film karena selalu ada gelombang, riak dan kadang-kadang tenang menghanyutkan. Bahkan hubunganmu dengan Sarah bisa dibuat sinetron dengan durasi yang lebih panjang dari sekedar film lepas.”


“Aku juga sudah putus dengan Sarah. Lebih tepatnya aku yang mengakhiri hubungan kami.”


“Kenapa ? Bukankah kamu sangat mencintainya dan aku lihat kalau Sarah pun menganggumimu.”


“Dasar cewek sotoy,” Reyhan mencebik membuat Annabelle tertawa.


“Aku tidak menyangka kalau pengacara Reyhan adalah pria tampan yang gampang jutek. Apa pekerjaanmu begitu menjemukan karena menyita waktumu sampai sulit menikmati kehidupan di dunia nyata, bukan ruang pengadilan ? Atau karena fokusmu hanya pada Sarah ? Dasar pria bucin,” ledek Annabelle.


“Bagaimana kalau sebagai gantinya kamu yang menjadi kekasihku ?” tantang Reyhan dengan wajah sedikit congkak, Annabelle langsung mencibir.


“Tidak minat punya pacar pengacara. Bisa-bisa kalau lagi berantem, langsung dihadapkan dengan pasal-pasal KUHP,” Annabelle menggeleng mantap sambil tertawa.


“Jadi enakan punya pacar pengusaha ? Bertengkar sedikit dibujuknya pakai kartu tanpa batas ?”


“Dasar pria kurang perhatian !” gerutu Annabelle dengan bibir mengerucut.


“Kan sudah kubilang kalau aku sudah menyerah pada Alden. Sekarang calon kekasihku adalah seorang dokter, psikiater yang membantu Sarah setelah kecelakaan.”


Reyhan langsung tergelak membuat sopirnya langsung melirik lewat spion tengah. Sudah lama tidak mendengar tuannya tertawa begitu lepas.


“Ternyata kamu bukan manusia jutek sepenuhnya,” gumam Annabelle sambil mencibir.


“Bagaimana caranya kamu yang koma bisa tiba-tiba jatuh cinta pada psikiater yang mendampingi Sarah ? Cinta lokasi ?”


“Yudha itu sahabat Alden sejak mereka masih SMP dan aku juga mengenalnya saat mereka masih culun-culunnya lalu bermetamorfosis menjadi pria-pria tampan.”


“Kamu kira mereka kupu-kupu harus melewati metamorfosis ?” Reyhan kembali tertawa.


“Itu istilah gampangnya Alden, eh maksudku Reyhan.”


“Tuh kan pakai bilang sudah melupakan Alden dan jatuh cinta pada psikiater. Hati dan mulutmu tidak sinkron sampai melihat semua pria yang ada di depanmu sebagai Alden. Kalau dalam sidang, kesaksianmu sudah tidak sah.”


“Namanya juga kepeleset, nggak sengaja,” gantian Annabelle yang cemberut.


“Kalau begitu aku batal mengajakmu pacaran,” ledek Reyhan. “Bisa-bisa kamu melihat diriku sebagai Alden bukan Reyhan, padahal aku tidak kalah tampannya dengan cowok kesayanganmu itu.”


“Aku juga tidak berminat.”


“Padahal tadi aku serius memintamu menjadi pacarku.”

__ADS_1


“Ogah kalau aku hanya untuk menggantikan Sarah,” cibir Annabelle. “Hidupku tidak akan tenang karena Sarah pasti tidak bisa menerima kenyataan kalau akulah yang menjadi kekasihmu seteah kamu putus dengannya. Bisa-bisa aku koma untuk kedua kalinya lalu tidak akan pernah bangun lagi.”


“Nggak terima mati muda soalnya belum kesampaian cinta Alden ?” cebik Reyhan.


“Sudah aku bilang kalau calon kekasihku adalah Yudha, psikiater tampan itu.”


“Nggak percaya !” Reyhan menggeleng sambil tersenyum mengejek.


“Aku nggak butuh kepercayaanmu soal siapa yang akan menjadi pacarku, tapi aku butuh kamu percaya untuk membiarkan Yudha yang mengantarku mengambil diska lepas itu dan langsung aku antarkan saat ini juga ke kafe Rosemary.”


“Kenapa tidak aku antar kamu ke rumah, kamu ambil dan berikan diska lepas itu padaku lalu urusan kita beres.”


“Jadi kamu tidak ingin tahu bagaimana aku bisa hafal semua kata-kata Sarah saat di Bogor ?”


Reyhan menautkan alisnya, berpikir sejenak dan Annabelle hanya diam, membiarkan pria di sampingnya mempertimbangkan tawarannya.


“Okkey, aku percaya padamu dan aku ingin mendengar penjelasanmu juga. Hubungi calon pacarmu itu, aku akan mengantarmu ke sana.”


Reyhan pun membagi petunjuk arah yang diperlihatkan Annabelle pada sopir yang membawa mereka.


“Kita ke alamat ini, Mun. Sudah saya kirim petunjuknya ke handphone kamu.”


Mamun, sopir kepercayaan Reyhan pun melambatkan laju mobil dan membuka aplikasi penunjuk arah sesuai yang dikirim oleh Reyhan.


“Sekitar 25 menit sampai di sana, Pak.”


“Langsung ke sana, Mun.”


Reyhan menyodorkan handphonenya pada Annabelle untuk menghubungi Yudha, memastikan kalau pria itu akan menjemputnya di sana.


“Tolong kembalikan handphoneku, Rey. Aku baru akan mengaktifkannya begitu sampai di rumah.”


Annabelle menjulurkan tangannya yang ditumpuk, meminta handphonenya yang masih ditahan oleh Reyhan.


“Bagaimana kalau orang-orang suruhan Alden menahanmu di rumah dan tidak membiarkanmu pergi lagi ?”


Mata Reyhan menyipit, menunggu jawaban Annabelle soal keraguannya tentang segala kemungkinan yang membuat Annabelle gagal menepati janjinya.


“Percayalah padaku Rey, aku punya 1001 cara untuk menepati janjiku.”


Reyhan tersenyum tipis dan mengangguk-angguk. Terlihat begitu mudah Reyhan mempercayai Annabelle. Apa mungkin karena percakapan mereka selama perjalanan 1 jam ini ?


Reyhan percaya hanya karena mata Annabelle. Tatapan gadis itu benar-benar tulus, tanpa ada niat licik terpancar di sana, membuat Reyhan sedikit merinding, takut jatuh hati pada gadis di sebelahnya.


“Turunlah, aku akan menunggumu menepati janji,” ujar Reyhan saat mereka sudah tiba di lokasi yang dipilih Annabelle.

__ADS_1


Terlihat Yudha sudah berdiri di samping mobilnya, melihat ke arah mobil Reyhan yang berhenti tidak jauh dari mobilnya


__ADS_2