Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Tetap Jadi Tahanan


__ADS_3

Sarah Belle mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya yang ada di sekelilingnya. Perlahan ia bangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangan, mencoba mengenali tempatnya saat ini.


Bukan di apartemen Sarah atau Reyhan, bukan juga di kamar tamu keluarga Hutama.


Kepala Sarah Belle sedikit pusing, efek samping obat bius yang sempat dihirupnya sebelum tidak sadarkan diri.


Matanya membelalak saat pikirannya teringat sesuatu. Ia langsung memeriksa tubuhnya sendiri yang tertutup selimut. Khawatir kalau terjadi sesuatu dengan tubuh Sarah.


Sarah Belle menarik nafas lega saat melihat pakaiannya masih utuh dan sama seperti tadi sebelum kedua pria itu membawanya. Tidak ada tanda-tanda bekas dibuka paksa.


Perlahan Sarah Belle turun dari ranjang setelah menyibakkan selimut. Matanya memejam, meredakan rasa pusing yang masih sedikit-sedikit terasa.


Sarah Belle melangkah ke depan jendela yang mengapit pintu seperti menuju balkon. Ia menyibakkan tirai dan matanya menyipit melihat pemandangan di luar yang mulai dibayangi cahaya kemerahan, menandakan kalau senja mulai datang, bersiap menyambut kegelapan malam.


Hamparan pepohonan mirip hutan dengan gunung berkabut menjadi latar belakangnya.


Puncak ? Apa Sarah Belle dibawa ke puncak ? Tapi oleh siapa dan tempat ini milik siapa ?


Sarah Belle kembali mendekati ranjang, mencari-cari handphone yang sempat disimpan di saku celana jeans-nya dan belum sempat terambil karena seorang pria keburu membekapnya.


Tidak ada satu pun barang miliknya ada di dalam ruangan ini membuat Sarah Belle hanya bisa berdoa semoga yang membawanya kemari tidak berniat jahat dan Alden bisa segera menemukannya.


Ah kenapa nama itu yang teringat, bukan Reyhan atau Yudha atau Om Juan.


Kalau Alden tahu Annabelle yang hidup di dalam tubuh Sarah, apakah pria itu akan mengkhawatirkan dirinya yang tiba-tiba menghilang.


Saat Jaka dan Dina sadar dan melaporkan penculikan Sarah, sudah pasti Alden akan panik dan emosi, memarahi siapapun yang lalai menjaga calon istrinya.


“Sudah bangun, sayang ?” sapaan dari balik pintu yang terbuka membuat Sarah Belle menoleh meski sudah hafal dengan suara itu.


”Aku dimana, Rey ?” Sarah Belle masih berdiri di dekat nakas.


”Di tempat yang tidak akan ditemukan oleh Alden.”


Reyhan mendekat dan langsung memeluk Sarah Belle lalu menciumi wajah Sarah Belle hingga ke lehernya.


”Aku sangat merindukanmu, sayang. Aku rindu dengan harum tubuhmu meski sedikit berubah setelah kecelakaan itu.”


Deg !

__ADS_1


Apa iya jiwa Annabelle membawa pengaruh sampai ke harum tubuh Sarah ?


“Pria brengsek yang meng-klaim dirimu sebagai calon istrinya benar-benar menjauhkan aku darimu, bahkan papa tidak bisa berbuat apa-apa setelah didatangi Om Wira.”


Sarah Belle melepaskan diri dari Reyhan saat ciuman pria itu semakin bergairah dan nafasnya memburu karena nafsu, bahkan satu tangan Reyhan sudah mulai membuka kancing kemeja putih yang dikenakan Sarah Belle.


“Kamu kenapa, sayang ?” Reyhan mengerutkan dahi saat melihat wajah Sarah Belle berubah kesal.


”Kenapa sampai harus membius para pengawalku dan aku ? Rasanya trauma kecelakaan gara-gara Annabelle meminum obat tidur belum bisa aku hapus dari ingatan, sekarang kamu mengulangnya lagi. Untung saja Jaka masih berpikir jernih untuk membawa mobil menepi.


Belum lagi kamu benar- benar membuatku kesal dan syok saat didatangi kedua pria tadi.”


”Maafkan aku, sayang.” Reyhan mencoba memeluk Sarah Belle namun wanita itu malah menjauh.


“Hanya dengan cara itu aku bisa membawamu kemari tanpa menarik perhatian dan membuat keributan dengan kedua pengawalmu itu.”


“Kapan kamu memasukan obat tidur dalam minuman mereka ?”


“Kalau uang yang berbicara, apapun bisa kamu lakukan,” sahut Reyhan sambil tersenyum smirk.


“Jadi kamu membayar pelayan di sana. ? Bagaimana kalau sampai tertangkap CCTV dan pelayan itu mengaku kalau ia dibayar olehmu ?”


“Lalu obat yang kamu berikan itu, apa sama dengan yang kamu berikan padaku untuk Alden ?”


“Dosis untuk Alden yang diminum Annabelle dua kali lipat ukurannya karena beresiko Alden sadar sebelum kamu menuntaskan rencanamu kalau hanya diberi sedikit.”


“Pantas saja reaksinya begitu cepat dalam tubuh Annabelle,” gumam Sarah Belle.


“Gadis itu terlalu bodoh dan naif. Dia rela meminum obat tidur yang ibarat racun untuk Alden hanya demi cintanya yang tidak akan pernah dibalas oleh Alden. Bahkan Alden tidak pernah menganggapnya ada.”


Reyhan berbicara dengan tawanya yang membodoh-bodohi tindakan Annnabelle malam itu.Tanpa sadar wajah Sarah Belle berubah sendu. Apakah Alden akan menganggap niatnya menyelamatkan pria itu sebagai tindakan bodoh ?


Reyhan mengernyit melihat wajah sedih Sarah hingga ia kembali berusaha mendekati Sarah Belle yang justru memilih mundur dan memberi jarak dengan Reyhan.


“Aku masih kesal, jangan peluk-peluk dulu,” omel Sarah Belle dengan wajah ditekuk. Reyhan tertawa.


“Oke.. oke.. Aku tidak akan mengganggumu malam ini. Tapi aku tidak akan janji kalau besok, apakah aku masih bisa menahan diri setelah hampir 3 bulan aku berpuasa,” ujar Reyhan sambil tersenyum smirk.


“Sekarang mandilah dulu, aku sudah menyiapkan segala kebutuhanmu dan akan gantian menahanmu,” lanjut Reyhan sambil tertawa.

__ADS_1


“Jadi kamu akan membiarkan aku di sini terus ? Sampai kapan ?”


“Sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Kalau perlu setelah waktu yang kamu minta pada Alden berakhir, aku yang akan menikahimu, bukan Alden.”


“Kamu yakin Alden tidak akan mencariku ? Bagaimana kalau sampai dia tahu aku di sini dan melaporkanmu sebagai penculik ?”


Wajah Sarah Belle yang sendu berubah panik, situasinya benar-benar membuatnya bingung.


Saat bersama Alden, Sarah Belle merasa kesal karena tidak bisa menuntaskan niatnya membongkar rahasia Sarah, dan sekarang ia mendapat kesempatan untuk kembali dekat dengan Reyhan tapi gantian menjadi tahanan pria itu.


Kalau bersama Reyhan, berarti Annabelle akan kehilangan kesempatan untuk membuat Alden menyukainya, meski secara logika sudah tidak mungkin.


Alden benar-benar sudah menerima Sarah apa adanya dan bersedia menikahi wanita itu. Harapan Annabelle benar-benar sudah pupus.


“Kenapa ? Kamu khawatir aku dipenjara ? Senangnya dikhawatirkan sama kamu.”


Reyhan kembali mendekat dan menangkup wajah Sarah Belle lalu mencium bibir wanita yang langsung mengernyit membuat Reyhan kembali tertawa.


Sarah Belle baru sadar kalau Reyhan salah paham dengan kepanikan Sarah. Bukan karena khawatir Reyhan akan ditangkap polisi karena Alden melaporkannnya sebagai penculik, tapi panik karena hidup Annabelle benar-benar di ambang kematian karena jauh dari Alden.


“Aku tidak akan meminta jatah malam ini karena kamu terlihat lelah dan kurang sehat,” ujar Reyhan sambil memegang kedua bahu Sarah Belle.


“Tapi seperti ucapanku tadi, aku tidak janji kalau besok,” lanjutnya sambil tergelak.


“Mana handphone dan barang-barangku lainnya ?” tanya Sarah Belle masih dengan wajah ditekuk.


“Handphonemu sudah aku hancurkan biar Alden todak bisa melacakmu. Tas dan barang-barang lainnya akan diantarkan pelayan sebentar lagi. Orang-orangku hanya ingin memastikan kalau Alden tidak memasang pelacak apapun hingga dia bisa menemukanmu.”


“Apa orangmu sudah menemukan pelacak di antara barang-barangku ? Bahkan saat aku pergi ke apartemenmu, aku tidak membawa handphone tapi Alden tetap bisa menemukan aku di sana,” ujar Sarah.


“Tidak ada pelacak apapun. Mungkin waktu itu Alden memasangnya di tas tangan milikmu. Tapi kali ini aman, bahkan setiap kemungkinan sudah diperiksa dengan teliti dan berulang kali.”


“Aku ingin mandi, apa ada pakaian ganti untukku ? Jangan bilang kalau hanya pakaian kurang bahan yang kamu siapkan untukku.”


“Sudah aku siapkan semua termasuk pakaian dalammu, sayang. Kali ini aku tidak akan memberikan pakaian seksi untukmu karena udara di sini cukup dingin dan banyak orang yang menjaga kita di sini. Aku tidak mau memanjakan mata mereka dengan melihatmu berpakaian seksi. Cukup besok malam kamu pakai yang paling seksi untukku di kamar. Hanya untukku.”


Reyhan tertawa pelan tanpa berniat menyentuh Sarah. Wajah pujaan hatinya masih ditekuk membuat Reyhan khawatir mood Sarah berubah jelek dan akhirnya Reyhan tidak bisa menyalurkan kerinduan akan hangatnya pelukan Sarah.


“Mandilah biar badanmu lebih segar dan hatimu lebih baik lagi. Aku akan menunggumu di bawah, kita makan malam bersama. Aku sudah minta pelayan menyiapkan makanan kesukaanmu.”

__ADS_1


Sarah Belle hanya diam dan menatap Reyhan yang berjalan keluar kamar. Terlihat beberapa kali Sarah Belle menghela nafas. Bingung harus bagaimana dengan kondisinya yang tetap menjadi tahanan, hanya berganti orang yang menahannya.


__ADS_2