
Tidak ingin mengulur waktu karena batas 100 hari, sore itu juga selesai meeting, Alden langsung ke rumah sakit untuk menemui om Rano dan tante Mira.
Alden menarik nafas lega saat melihat keduanya bahkan Ray sedang menikmati nasi bungkus, menu makan malam mereka.
“Tuan muda,” Rano yang duluan melihat Alden keluar dari lift langsung menyapa putra majikannya.
“Om, jangan panggil saya tuan muda. Panggil saya Alden, seperti om dan tante memanggil saya saat masih kecil.”
“Tapi…”
“Om selesaikan makan malamnya dulu,” Alden menyentuh bahu Rano dan memintanya duduk kembali.
“Malam Tante, Ray,” suara ramah Alden tidak membuat Ray tersenyum.
Sama seperti Annabelle, Ray pun merasa sakit hati dengan sikap Alden yang membuat kedua orangtuanya sampai harus bersimpuh.
Berbeda dengan Mira yang membalas sapaan Alden dengan senyuman bahkan menawarkan makanan miliknya yang masih utuh untuk Alden.
Dengan sopan Alden menolaknya dan ijin membesuk Annabelle di dalam ruang ICU.
Alden menatap Annabelle yang masih terpejam, namun tidak terlihat pucat sama sekali. Alden tersenyum saat melihat 3 tangkai mawar diletakkan di dekat meja kecil di sisi ranjang Annabelle.
Kamu memang cantik, Belle. Gengsi itu menutup mataku untuk melihat kecantikan hatimu. Maafkan aku telah mengabaikanmu dan menyakiti hati orangtuamu.
Jangan pergi, Belle, jangan tinggalkan aku dan berikan kesempatan kedua untukku. Aku tidak tahu kapan rasa ini ada dalam hatiku, tapi semua ini bukan karena rasa kasihan. Aku mencintaimu, Belle. Kembalilah menjadi Annabelle yang suka menggangguku. Aku merindukan celotehmu, Belle. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Belle.
Alden menyentuh jemari Annabelle dan memberikan kehangatan untuk gadis cantik yang terpejam seperti sedang tertidur.
Aku menunggumu 5 hari lagi Belle, jangan tinggalkan aku dan orang-orang yang mencintaimu.
Alden pun keluar dari ICU dan menyempatkan mencium kening Annabelle.
Sampai di luar terlihat om Rano dan tante Mira baru kembali ke tempat mereka duduk tadi. Ray tidak terlihat, sepertinya menghindar dari Alden karena masih merasa kesal.
“Ada apa Tu… maksud saya Alden,” Mira menyapa Alden dengan senyum ramah.
Keduanya terkejut saat Alden langsung bersimpuh di hadapan keduanya.
“Alden, kamu mau ngapain ? Ayo bangun,” Rano memegang bahu Alden memintanya bangun namun Alden menolak.
“Saya mau minta maaf. Maaf atas kesombongan saya selama ini. Maaf karena saya sudah menyakiti hati Om dan Tante dan terutama Annabelle. Maafkan saya om, tante,”
Alden masih bersimpuh di hadapan Rano dan Mira.
“Alden, kami mengerti kalau saat itu kamu sedang emosi. Kami juga sadar Alden, Annabelle sering mengganggumu. Sejak dulu Om sudah sering menasehatinya supaya tidak menemuimu saat di sekolah, tapi anak itu suka ngeyel dan tetap mendatangimu.”
“Pernikahanmu jadi tertunda karena kecelakaan itu. Tante sendiri kaget saat dokter memberitahu kalau ditemukan obat tidur dalam darah Annabelle. Belum pernah dia menyentuh obat-obatan selain untuk medis.”
“Bukan Belle yang sengaja mengkonsumsinya, Tante, Sarah yang menyiapkannya untuk menjebak saya. Masalah pernikahan memang sudah saya rencanakan akan dibatalkan karena Sarah sudah hamil oleh orang lain.
__ADS_1
Malam itu saya merasa marah karena Annabelle mengacaukan rencana saya yang ingin membongkar masalah perselingkuhan dan kehamilan Sarah, tapi kenyataannya Annabelle justru menyelamatkan saya hingga membuat dirinya celaka.”
“Syukurlah kalau memang kamu bisa terhindar dari masalah besar, Al,” ujar Rano menepuk-nepuk bahu Alden.
“Masalah kecelakaan yang menimpa Annabelle adalah takdirnya, Al, tidak ada yang perlu disesali. Kami hanya berharap Annabelle bisa segera sadar, doakan saja yang terbaik untuk Annabelle,” timpal Mira sambil tersenyum.
“Bangunlah, Al,” Rano kembali meminta Alden. “Duduklah bersama kami.”
“Tidak Om, saya sadar kalau sikap saya malam itu sudah kelewat batas. Bukan hanya menyakiti om dan tante tapi membuat mommy dan daddy kecewa. Maaf, Om, Tante.”
“Kami paham dengan situasimu saat itu, Al. Sepertinya saat Belle sadar, om dan tante harus lebih tegas memintanya untuk tidak mengganggumu apalagi mencampuri urusanmu.”
“Jangan !” sahut Alden cepat. “Saya malah merindukan Belle mengganggu, saya kangen dengan kebawelannya dan terutama kopi buatannya,” Aden tersenyum bahagia.
“Kopi ?” Rano menautkan alisnya.
“Satu-satunya orang yang mengerti selera saya soal kopi hanya Annabelle, tidak ada yang lain. Selain itu termyata saya….”
Rano dan Mira menautkan alis dengan wajah penasaran menunggu kelanjutan ucapan Alden.
“Saya mencintai Annabelle. Kalau boleh saya ingin menjadikan Belle bukan sekedar kekasih, tapi calon istri.”
“Jangan lakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan, Alden. Apalagi menyangkut perasaan cinta dan membangun rumah tangga,” nasehat Rano. “Jangan terbebani dengan keinginan mommy-mu.”
“Bukan karena mommy, Om. Saya sungguh-sungguh mencintai Belle, hanya saja selama ini saya terlalu gengsi mengakuinya. Saya tidak mau kehilangan Annabelle. Mohon maafksn saya Om, Tante, dan ijinkan saya untuk memulai dengan Annabelle.”
“Kalau boleh saya akan minta mommy dan daddy melamar setelah Belle keluar dari rumah sakit.”
“Bangunlah dulu,” Rano kembali menyuruh Alden untuk bangun dan kali ini Alden menurut dengan kaki yang mulai kesemutan.
Rano mengulum senyum sambil membantu Alden berdiri dengan benar.
“Kami memaafkanmu, Alden,” ujar Rano sambil tersenyum.
Wajah Alden langsung berbinar membalas tatapan Rano dan menoleh pada Mira yang mengangguk sambil tersenyum.
Alden spontan memeluk Rano dengan suara sedikit tercekat karena terharu.
“Terima kasih, Om, terima kasih banyak karena om dan tante sudah memaafkan saya. Kebaikan om dan tante tidak akan pernah saya lupakan.”
“Tidak perlu berpikir untuk balas membalas, Alden,” ujar Mira yang juga menerima pelukan tulus Alden. “Cukup kamu belajar untuk tidak menyimpan dendam pada orang yang menyakitimu. Rasa dendam cenderung menciptakan rasa ingin membalas dan akhirnya tidak akan pernah ada habisnya.”
Alden mengangguk dan tersenyum. Tidak lama masih dengan wajah ketusnya, Ray mengajak Mira pulang sementara Rano menunggu di situ.
“Biar aku yang antar tante Mira, Ray. Sudah malam juga,” ujar Alden.
“Tidak usah ! Orangtuaku masih bisa hidup tanpa harus menikmati fasilitas dari keluarga Hutama.”
“Ray,” tergur Mira. “Jawab dengan baik-baik.”
__ADS_1
Ray hanya mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Alden dan papanya sambil membawa tas pakaian milik orangtuanya.
“Maafkan sikap Ray, Al,” ujar Mira sambil mengusap punggung Alden.
“Tidak apa-apa, Tante. Saya mengerti kalau Ray marah pada saya. Sikap saya memang sudah kelewatan malam itu.”
“Tante balik dulu, Al.. Doakan yang terbaik untuk Belle,” Mira menepuk bahu Alden sebelum berjalan menuju lift.
Alden masih menemani Rano mengobrol hingga ham 10 malam.
(Flashback Off)
Alden terkejut saat mobil di belakangnya membunyikan klakson.
Melamun soal Annabelle, Alden sampai tidak memperhatikan lampu lalu lintas sudah berganti warna hijau.
Alden menghela nafas panjang. Saat itu semuanya masih abu-abu karena tidak tahu bagaimana reaksi Annabelle saat kembali sadar.
Sekarang saat Annabelle kembali menempati raganya, gadis itu sadar dengan segunung rasa marah dan benci pada Alden.
Tidak lama panggilan telepon masuk terlihat di layar handphone Alden. Pria itu langsung memakai earphone-nya.
“Al, masih di rumah sakit ?” tanya Yudha.
“Udah balik, hampir sampai rumah. Kenapa ?”
“Kok nggak bilang kalau Belle udah sadar ? Tadi Belle hubungin gue pakai handphone Tante Lanny. Dia nggak tahu dimana handphone miliknya yang dipegang Sarah.”
“Jadi nyokap udah cerita kalau gue udah tahu soal Sarah Belle yang elo maksud ?” tanya Alden sambil terkekeh.
“Kalau elo nggak tahu, gimana caranya Belle bisa sadar ? Jadi elo beneran suka sama si culun, toxicnya Alden ?” ledek Yudha dengan tawa yang terdengar agak sinis.
“Bukan sekedar suka, gue udah cinta. Gue akan menunggu sampai Belle menerima gue dan mencintai gue lagi, jadi jangan coba-coba bawa kabur Belle. Gue pasti akan uber kemanapun elo kabur.”
“Pede banget boss,” Yudha kembali meledek Alden. “Bukan gue yang memutuskan. Kalau Belle minta gue bawa dia pergi, dengan senang hati akan gue turuti, nggak peduli dikejar-kejar sama elo dan Raka.”
Yudha tergelak padahal di hatinya mulai terasa sesak. Apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi. Misi Annabelle di tubuh Sarah bukan membuat Alden jatuh cinta pada Annabelle, tapi menyadari perasaannya yang sudah lama mencintai Annabelle.
”Ehh nggak ada, ya !” tegas Alden dengan wajah kesal yang tentu saja tidak bisa dilihat Yudha.
“Fokus setir dulu, Bro, hati-hati. Masalahnya kalau elo bernasib sama kayak Belle, nggak akan ada orang yang menyatakan cintanya buat elo setelah 100 hari.”
“Yudha !” protes Alden dengan nada kesal.
“Soalnya gue akan buat Annabelle cintanya sama gue bukan sama elo,” ledek Yudha yang langsung menutup sambungan teleponnya.
“Sh**t !” omel Alden sampai memukul setirnya.
Alden menghela nafas, sepertinya perjuangannya akan 2x lebih berat karena bukan hanya membuat Belle memaafkan Alden dan kembali mencintainya, tapi bersaing juga dengan Yudha yang mulai jatuh cinta pada Annabelle sejak gadis itu menjadu pasiennya.
__ADS_1