
Terima kasih,” Annabelle tersenyum dan air matanya sudah dihapusnya saat berjalan mendekati Yudha dan Hana. “Maaf aku balik duluan.”
Tanpa menunggu jawaban Yudha dan Hana, Annabelle berjalan ke lain arah untuk menghindari Alden.
Annabelle langsung menghentikan taksi yang lewat karena posisi café itu berada di pinggir jalan.
“Gue balik sama Yudha,” ujar Hana saat Alden mendekati kedua temannya itu.
“Kalau begitu gue balik duluan, mau ke kantor dulu.”
Yudha dan Hana hanya mengangguk dan Alden pun langsun berjalan menuju mobilnya
“Gimana perasaan elo ?” Hana menepuk bahu Yudha setelah Alden berlalu dengan mobilnya meninggalkan café.
“Maksudnya ?”
“Gadis itu - Annabelle, dia gadis culun yang selalu mengekori Alden kemana-mana kan ?”
“Elo masih ingat sama tuh bocah ?”
Hana tertawa dan mengangguk.
“Ayo antar gue ke kantor Deni sekalian kita ngobrol di mobil. Calon suami gue udah nggak sabar mau ketemu, takut gue CLBK lagi sama Alden.”
“Memangnya elo masih suka sama Alden ?” Yudha berjalan menuju mobilnya.
“Maybe,” Hana terkekeh. “Tapi melihat cinta Alden masih belum berubah sama tuh bocah, gue yakin akan susah menerobos hati Alden.”
Yudha mengerutkan dahi sebelum masuk ke mobil tapi Hana hanya tertawa dan mendahului masuk di kursi penumpang depan.
“Sekarang gue mau jadi psikiaternya dokter Yudha,” Hana merubah posisi duduknya sedikit miring supaya lebih mudah memandang Yudha.
“Apa maksuf elo soal cinta Alden yang belum berubah sama Annabelle ? Memangnya sejak kapan ?”
“Kepo !” Hana mencibir. “Fokus gue bukan pada Alden tapi dokter Yudha. Dan sekarang gue mengerti kenapa ada istilah seorang dokter tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Dan elo, psikiater hebat nggak bisa menyembuhkan sakit jiwa lo sendiri.”
“Gue nggak gila, Hana. Buktinya gue bisa membantu Deni dari sakit imsonianya dan elo bisa nikah sama dia sebentar lagi.”
“Itu diluar konteks. Dibilangin fokus gue sekarang tuh elo. Secara nggak sadar elo masih aja jadi copycat nya Alden terutama dalam soal perempuan. Elo udah lupa kalau pernah berantem karena rebutan perempuan yang namanya Sarah ?
Yudha tidak menjawab hanya mengerutkan dahi. Ia sempat melirik Hana sekilas lalu kembali fokus ke jalan.
”Kalau masalah Annabelle, gue terpesona dengan wajahnya saat pertama kali diperkenalkan di ruang ICU oleh tante Lanny. Meski dalam keadaan terpejam, gue bisa melihat kecantikannya tanpa memakai kacamata. Gue akhirnya mengerti kenapa tante Lanny begitu menginginkan Annabelle menjadi menantunya,” Yudha tersenyum mengingat kejadian itu.
__ADS_1
“Elo hanya terpesona tapi bukannya jatuh cinta pada pandangan pertama sama Annabelle,” Hana tertawa pelan.
”Kalau elo sungguh-sungguh cinta sama Annabelle, elo akan langsung menghajar Alden saat dia berani mencium bibir kekasih elo. Atau minimal pada saat Annabelle pamit pergi, elo nggak akan biarkan dia pulang sendirian naik taksi, apalagi dalam keadaan kacau begitu. Elo tega ?
Dan kenyataannya elo diam aja, membiarkan Annabelle pulang sendirian. Bukan karena elo menghargai perasaan Alden atau menghindari keributan dengan Alden, tapi semua itu karena elo nggak benar-benar cinta sama Annabelle.”
“Jadi gue harus bagaimana ?”
“Berhentilah menjadi pengagum Alden. Dia mungkin hebat dalam urusan bisnis tapi bodoh dalam urusan cinta sejak dulu,” Hana tertawa.
“Maksud elo ? Jangan bilang Alden bodoh karena dia udah menolak cinta elo,” ledek Yudha sambil tertawa mengejek.
“Itu salah satunya,” Hana ikut tertawa. “Tapi yang utama karena Alden membohongi dirinya sendiri kalau sebetulnya dia suka sama Annabelle sejak dulu. Rasa gengsinya terlalu besar hingga dia mengubur cintanya dalam-dalam.
Mulut Alden memang selalu bilang benci pada Annabelle, tapi dia tidak pernah membiarkan teman-teman kita menyakiti Annabelle.
Tanpa sadar Alden selalu mencari cara untuk melindungi Annabelle dari para perusuh sekolah yang ingin melakukan kekerasan fisik pada Annabelle. Alden tidak bisa membuka hati untuk perempuan lain termasuk Sarah, karena seluruh hati dan pikiran Alden sudah dipenuhi oleh Annabelle. Sepertinya gadis itu dilahirkan ke dunia ini untuk menjadi jodohnya Alden.”
“Dan sekarang Annabbelle memanfaatkan gue untuk membuat Alden cemburu ?” Yudha tertawa getir.
”Gue bisa melihat kekecewaan Annabelle pada Alden, tapi apa penyebabnya gue nggak tahu. Gue yakin elo lebih paham karena sempat menjadi psikiaternya Annabelle.
Sejauh yang gue coba mengerti, Annabbelle bukan memanfaatkan elo, tapi dia sedang berusaha untuk menghapus bayangan Alden dan mencoba menerima elo yang pasti udah pernah nembak dia. Benar nggak tebakan gue ?”
“Gue nembaknya nggak dalam momen khusus sih, nggak pakai makan malam romantis atau apapun yang bisa membuat hati meleleh.”
“Gue mulai kepo nih,” Hana terkekeh. “Sebetulnya ada masalah apa sampai Annabelle membutuhkan psikiater ? Dan kenapa juga psikiater model elo yang dipilih sama tante Lanny ?”
“Asem lo !” Yudha menggerutu.
Yudha pun menceritakan masalah jiwa Annabelle yang masuk ke dalam tubuh Sarah hingga akhirnya Annabelle bisa kembali pada raganya dan sadar kembali.
“Kalau elo peduli sama mereka, susun skenario yang bisa membuat Annabelle kembali menyadari perasaannya sama Alden. Nggak mungkin rasa cinta yang dibangun bertahun-tahun oleh Annabelle bisa langsung terkikis habis hanya dalam satu malam.”
“Pede banget sih !” Yudha mencebik.
“Tapi jangan dipaksa, kasihan Annabelle. Dia pasti banyak kecewa dan sakit hati sama Alden dan itu nggak mungkin bisa diobati hanya dengan satu kata cinta dari Alden.”
“Dasar Alden ogeb, gengsi dipelihara, sekarang bisanya cuma nyesel karena Annabelle balik menolak dia.”
“Elo sama ogeb nya kayak Alden. Punya sahabat nggak peka gitu diikutin. Semoga aja Raka masih aman sentosa, soalnya dia tiap hari sama Alden,” ujar Hana sambil tertawa.
“Maksud elo berharap otak Raka masih lempeng ? Nggak oblak kayak Alden ?” Hana mengangguk.
”Ingat-ingat elo itu hanya terpesona sama fisiknya Annabelle bukan jatuh cinta beneran, jadi kalau niat mau nolong Annabelle sama Alden jangan bawa-bawa perasaan, anggap aja mereka berdua pasien elo.”
“Nggak janji,” Yudha menggeleng. “Kalau hati gue jatuh sama pesonanya Annabelle nggak bakalan gue tolak lah. Salahnya Alden menyia-nyiakan cinta yang tulus dari cewek secakep Annabelle.”
“Dih itu mah namanya cinta lokasi bukan cinta sejati. Lagian kenapa juga Annabelle harus pakai kacamata palsu gitu sih ?”
“Itu bagian rencananya tante Lanny. Beliau nggak mau kalau kecantikan Annabelle menarik banyak cowok, soalnya tante Lanny tahu kualitas anaknya,” Yudha terkekeh. “Alden bakal kalah saingan kalau banyak cowok yang ngedeketin Annabelle. Kegedean gengsi sama sok jaim dan fatalnya dia malu saat anak-anak pada mengejeknya pacaran dengan anak sopir.”
Yudha mengerutkan dahi saat Hana menujulurkan telapak tangannya.
“Ngapain ?”
“Minta upah lah udah jadi konsultan cintanya elo. Nggak cuma psikiater profesional doang yang dibayar tiap konsultasi, ahli cinta juga kudu dibayar.”
__ADS_1
“Ya ampun, kagak sadar apa udah malak gue nganter elo ke kantor Deni ? Malah nggak searah pula, maksa dan sekarang minta bayaran.”
“Dasar psikiater pelit,” Hana mencebik. “Pantas aja Annabelle nggak mau sama elo. Cowok berduit tapi pelit.”
“Kalau dibandingkan sama kantong Alden ya kalah tebal lah gue.”
Yudha menghentikan mobilnya di lobby, terlihat Deni, calon suami Hana sudah menunggunya di situ.
“Kok jadinya pulang sama Yudha ?” tanya Deni saat melihat Yudha membuka kaca mobil. “Tadi pamitnya pergi ke kantor Alden.”
“Alden lagi sibuk sama pacar mahasiswanya,” Hana terkekeh lalu merangkul lengan Deni.
“Calon istri elo takut tergoda sama Alden kalau kelamaan di mobil berduaan. Katanya bisa-bisa CLBK,” ledek Yudha dari dalam mobil.
“Eh jangan fitnah ya !” Hana langsung melotot dan bertolak pinggang mendekati Yudha.
“Kalau sampai pernikahan gue batal gara-gara hoax, gue kuliti lo sampai tinggal tulang sama kentut.”
Yudha tergelak dan menghindari pukulan Hana.
“Udah sayang, jangan terlalu galak begitu, bikin aku jadi serem,” Deni merangkul bahu Hana lalu mencium pipi calon istrinya.
“Dih yang sebentar lagi mau nikah, sok pamer kemesraan di depan umum.”
“Bilang aja jones ngiri,” cebik Hana.
“Jadi elo masih jones aja, Yud ?” Deni menautkan alisnya.
“Biasa babe, berebutan cewek lagi sama Alden. Kali ini mahasiswa baru umur 20 tahun,” timpal Hana.
“Wah dari pengacara turun ke mahasiswa nih ?” ledek Deni. “Boleh ikutan nggak kalau rebutannya daun muda ?”
“Babe kamu yaaa !” Hana langsung mencubit pinggang Deni membuat cowok itu meringis.
“Boleh Den, dengan senang hati. Selama janur kuning belum melengkung masih boleh nikung kok.”
“Yudha !” Hana melotot. “Udah pergi sana, jangan coba-coba ngeracunin calon suami gue. Udah gagal meracuni otak gue sekarang pindah ke calon suami gue.”
Yudha tergelak dan melambaikan tangannya yang dibalas oleh Deni sementara Hana masih cemberut karena ucapan Deni.
Yudha melajukan mobilnya perlahan sambil menekan tombol di layar handphonenya.
“Kamu udah sampai rumah ? Butuh teman ngobrol ?”
Yudha tersenyum saat Annabelle mengiyakan kedua pertanyaannya dan langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Annabelle.
Tidak yakin dengan ucapan Hana, Yudha bertekad harus membuktikan sendiri perasaannya pada Annabelle.
__ADS_1