Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Rencana ke Jerman


__ADS_3

“Apa kabarnya Om Rano. Dad ?’ tanya Alden saat keduanya sedang duduk santai di ruang kerja Daddy Wira yang berada di gedung Hutama.


 


“Jangan pura-pura menanyakan kabar papanya kalau ingin tahu tentang anaknya,” ledek Daddy Wira sambil terkekeh. “Kamu kira Daddy nggak tahu tujuan pertanyaanmu.”


 


“Apa harus terus terang begitu, Dad ?” Alden tertawa mendengar ucapan Daddy Wira.


 


“Kalau kamu mau tahu soal kabar Annabelle, datangi langsung rumahnya, jangan kasih kendor. Perlihatkan semangatmu untuk mendapatkan kembali cinta Annabelle, bukannya malah melarikan diri ke Jerman,” ledek Daddy Wira.


 


“Dad, sudah 2 minggu terakhir sejak kepulangan Om Rano dari rumah sakit, hampir tiap hari aku mendatangi rumah Om Rano tapi sayangnya Annabelle sudah pergi dari situ dan memutuskan untuk tinggal di tempat lain. Aku sudah menanyakan pada Yudha, Raka dan Sisi, tapi Annabelle tidak memberitahu dimana dia tinggal saat ini.”


 


“Kamu bisa mencarinya di kampus, Al.”


 


“Sudah Dad, dan sepertinya Annabelle selalu bisa mencari jalan untuk menghindariku. Tidak sekalipun aku berhasil menemuinya di kampus.”


 


“Apa perlu Daddy minta bantuan Om Juan untuk mencari tahu dimana Annabelle tinggal dan menculiknya untuk menemuimu sejenak.”


 


“Tidak usah, Dad,” Alden menggeleng.


 


“Apakah kamu sudah yakin akan menetap sementara di Jerman sampai kerjasama ini bisa berjalan dengan baik, Al ? Kamu tahu kan gimana Mommy kalau berada jauh darimu ? Lupa bagaimana Mommy datang menemuimu setiap 3 bulan sekali sampai kamu ngomel-ngomel ?”


 


‘Dad, sudah menjadi tanggungjawabku sebagai penerus Daddy untuk membuat kerjasama kita ini berjalan dengan baik.”


 


“Daddy bisa meminta Reno dan Raka untuk mengurus secara bergantian dan kamu hanya perlu sekali-sekali saja datang ke sana.”


 


“Bukan Raka dan Reno menyandang nama Hutama, kan ?” tanya Alden dengan wajah sebal membuat Daddy Wira langsung tergelak.


 


“Kamu yakin akan menghentikan sementara usahamu pada Annabelle ? Kamu tidak takut kalau dia akan berpikir kamu sudah berhenti mengejarnya dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari laki-laki lain ?”


 


Alden menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan-lahan.


 


“Mungkin ini waktunya aku memberikan Belle ruang dan waktu untuk berpikir. Kalau baginya apa yang kulakukan menjadi beban, Belle akan merasa lega dengan kepergianku tapi sebaliknya kalau semua pendekatanku mulai meluluhkan benteng yang dibangunnya, dengan sendirinya Belle akan menunggu aku menyelesaikan tugas ini.”


 


“Alden, menurut pandangan Daddy pilihan pertama akan lebih mungkin terjadi pada Annabelle. Om Rano bilang, Belle bahkan tidak peduli saat tahu kalau kamu juga terluka dalam insiden kemarin.”


 


“Kalau begitu tidak ada yang perlu aku khawatirkan dengan keputusan ini, Dad. Aku akan pergi ke Jerman. Toh hanya 6 bulan sampai 1 tahun aku perlu menetap di sana, tidak selamanya.”


 


“Jadi kamu sudah siap kehilangan Annabelle ?” Alden tertawa pelan saat mendengar pertanyaan Daddy Wira.


 


“Dad, tadi sudah aku bilang kalau bukannya mau menetap di Jerman, tapi hanya tinggal sementara sampai semua urusan perusahaan selesai. Masih bisa aku titip Belle sama Mommy dan kalau perlu Daddy meminta bantuan orangnya Om Juan untuk menjaga Belle,” sahut Alden masih di sela tawanya.


 


“Jadi kamu urus perusahaan, Daddy dan Mommy yang jagain jodoh kamu di sini ? Dasar anak  tidak mau rugi !” gerutu Daddy.


 


“Aku belajar dari Daddy,” ledek Alden.


 


 


***


 


Alden baru saja masuk ke satu café dimana 2 sahabatnya sudah menunggu. Raka tidak ikut menemani jadwal makan malam Alden dengan rekan bisnis karena sudah ada Daddy Wira dan Reno yang pergi bersamanya.


 

__ADS_1


“Elo mau ke Jerman, Bro ?’ tanya Yudha saat Alden sudah duduk bersama mereka.


 


“Yups tapi hanya 6 bulan sampai 1 tahun,” sahut Alden santai sambil melihat-lihat menu minuman hingga akhirnya Alden memilih segelas jus dan menghindari kopi karena sudah mendekati waktu tidur.


 


“Bahagia banget dong lo nggak ada boss,” ledek Hana sambil melirik Raka.


 


Kedua teman Alden tidak sendirian, masing-masing datang dengan pasangan mereka, hanya Alden saja yang datang tanpa pasangan.


 


“Memangnya Pak Alden udah nggak mau lagi mendapatkan cinta Belle ?” tanya Sisi dengan alis menaut.


 


“Sayang, bossku ini mau coba-coba cari wong Jerman dulu, kalau gagal dan Annabelle masih jomblo, usaha dilanjutkan di part dua,”


 


“Mana bisa begitu !” protes Sisi dengan wajah kesal.


 


“Jangan emosi begitu dong, Si,” ledek Yudha. “Kalau pacar kamu yang dikirim ke Jerman mungkin aja akan begitu, tapi kalau Alden susah digoyang hatinya.”


 


Sisi langsung melirik Raka dengan tatapan curiga membuat ketiga orang di depan mereka langsung tergelak.


 


“Ooo jadi kamu mirip-mirip juga kayak dokter Yudha, ngaku suka sama Belle tapi hatinya masih nyantol sama Kak Hana ?” sindir Sisi.


 


“Eh, kok gue jadi yang kena ?” protes Yudha yang akhirnya dilirik juga oleh Hana. “Jangan fitnah ya !”


 


“Fitnah darimana ? Acara kencan sama Belle tapi giliran disuruh tukar pasangan dengan senang hati iya-iya aja,” Hana yang menyahut.


 


“Mam**us lo !” Raka tergelak melihat wajah Yudha langsung sebal menatap Sisi sementara Hana sengaja masih melotot menatap kekasihnya.


 


 


“Nggak usah membela diri, memang kenyataan kalau omongan Sisi itu betul, kan ? Kamu sendiri sudah pernah ngaku sama aku.”


 


“Iya, tapi aku sama Belle…”


 


“Cinta lokasi,” ledek Alden. “Elo hati-hati aja, Han. Kelamaan pacaran sama elo bikin dia bosan, begitu ada pasien yang bening-bening dan lebih muda langsung mata melirik, hati goyang.”


 


“Coba aja !” Hana memegang pisau pemotong roti sambil mengetuk-ngetuknya di atas piring.


 


“Wah Yud, siap-siap kehilangan masa depan kalau berani macam-macam sama Hana,” ledek Raka sambil tertawa.


 


“Kamu nggak tahu kalau aku juga bisa berguru sama Kak Hana untuk jaga-jaga kalau kamu sampai sebelas duabelas kayak dokter Yudha.”


 


Yudha dan Raka sama-sama menghela nafas sambil mengusap tengkuk merekamembuat Alden terbahak.


 


“Untung aja Belle bukan cewek yang sadis kayak kalian berdua,” sindir Alden.


 


“Pak Alden,” Sisi buka suara saat tawa Alden sudah mereda. “Memangnya nggak ada niatan untuk memberitahu Belle kalau Bapak akan tinggal sementara di Jerman ?”


 


“Saya sudah berusaha menemui Belle dalam 2 minggu terakhir ini, Si, tapi belum berhasil. Om Rano juga nggak tahu dimana Belle tinggal karena  dia nggak mau kasih tahu tempat tinggalnya saat ini sama orang rumah. Saya juga sudah mendatangi Belle di kampus tapi nggak pernah ketemu. Kemungkinan dia menghindar saat melihat saya sudah menunggu di depan pintu gerbang.”


 


“Memangnya Pak Alden kapan berangkat ?”


 

__ADS_1


“Minggu depan, Si, tunggu semua berkasnya beres. Tergantung pacar kamu nih ngurusnya cepat atau lambat,” Alden kembali melirik Raka sambil tertawa pelan.


 


“Kalau Raka sih pasti maunya elo cepat-cepat berangkat, Bro,” timpal Yudha. “Biar dia makin banyak waktu buat pacaran.”


 


“Elo kira nggak ada boss lebih enak ? Pindah tugas doang ke big boss dan biasanya malah lebih sering lembur,” gerutu Raka.


 


“Yah kan paling sebulan pertama doang elo dibikin repot pas gue nggak ada, sisanya bisa pulang on time, nggak lembur,” sahut Alden


 


“Tapi awas ya  kalau elo mendadak nikah pas gue nggak ada di sini. Nih,” Alden langsung menunjukkan kepalan tangannya. “Habis nikah langsung gue PHK dan tutup kesempatan elo kerja di tempat lain biar Sisi nyesel udah nikah sama elo.”


 


“Dih sadis amat, Al,” Hana tertawa.


 


“Baru tahu kalau gue menderita sebagai asisten boss model begini ?” Raka mncebik sambil melirik Alden.


 


“Kenapa nggak konsul sama dokter Yudha aja ?” tanya Sisi sambil terkikik.


 


“Bukannya benar malah tambah ngaco kalau datang ke psikiater model dia,” sahut Raka sambil melirik Yudha yang langsung mencibir.


 


“Pak Alden serius mau ketemu Belle ?’ Sisi kembali beralih pada Alden yang sedang meneguk minumannya.


 


“Kalau bisa ketemu sekali, saya mau pamit aja sama Belle,” sahut Alden sambil tersenyum tipis.


 


“Minggu depan saya memang harus ke kampus untuk laporan perkembangan magang, saya bisa aturin seolah nggak sengaja ketemu Pak Alden. Rencananya berangkat hari apa ?”


 


“Kamis malam,” Raka yang menyahut.


 


“Saya akan sesuaikan dengan jadwal Belle sebelum Kamis. Nanti akan saya kabari lewat Raka untuk hari pastinya.”


 


“Thanks, Si. Semoga aja masih sempat pamitan dulu sama Belle sebelum pergi,” sahut Alden sambil menghela nafas.


 


Kelimanya akhrinya melanjutkan obrolan mereka sampai jam 10 malam karena besok masih hari  kerja dan Hana sudah dihubungi Yudis beberapa kali.


 


“Kalau memang elo udah serius sama Hana, lebih baik cepat  nikahi dia biar elo bisa semakin cepat belajar menjadi ayah sambungnya Yudis,” ujar Alden pelan saat berjalan beriringan berdua dengan Yudha sementara Hana masih berbicara dengan Yudis di handphone.


 


“Maunya sih gitu, Bro. Setelah dapat restu dari nyokap,” sahut Yudha.


 


“Kenapa nyokap nggak setuju ?” Alden mengerutkan dahinya.


 


“Nyokap udah pernah kenalan sama Belle, jadi gue ditanya kenapa harus milih janda dengan satu anak sementara ada anak gadis yang cantik dan masih single.”


 


“Bilang sama nyokap elo, Belle itu udah ditentukan dari kecil untuk jadi istrinya Alden. Bakalan perang dunia kalau sampai elo berani memaksa Belle jadi istri elo,” sahut Alden sambil terkekeh.  “Kalau perlu gue yang ngomong langsung sama nyokap biar lebih meyakinkan.”


 


“Dasar lo !” cibir Yudha. “Dulu dibuang-buang tuh anak orang, sekarang dipatok jadi jodoh dari kecil.”


 


“Lebih baik terlambat daripada penyesalan seumur hidup, Bro,” sahut Alden sambil tergelak.


 


Ketiga sahabat itu langsung menuju mobil masing-masing karena Alden pun membawa mobil sendiri langsung dari restoran selesai meeting dengan Daddy Wira.


 


Alden sempat tersenyum getir saat melihat mobil Raka dan Yudha melintas dengan pasangan mereka. Kalau saja Alden tidak terlambat menyadari perasaannya, mungkin malam ini dia akan sebahagia Yudha dan Raka karena tidak harus pulang sendirian.

__ADS_1


__ADS_2