Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Tuan dan Nyonya Alden Hutama


__ADS_3

Annabelle meneteskan air mata haru saat keduanya dinyatakan resmi menjadi suami istri ditambah lagi kondisi Reno yang masih duduk di atas kursi Roda.


“Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan mencintaimu,” bisik Alden setelah mencium kening, pipi dan terakhir bibir Annabelle.


Keduanya duduk berhadapan karena Alden belum diijinkan terlalu lama berdiri menggunakan kruk.


“Terima kasih juga mau memberikan aku cintamu,” balas Annabelle.


Suasana haru itu membuat kedua ibu Alden dan Annabelle ikut menangis terharu sekaligus bahagia.


“Kamu kok ikutan nangis begitu ?” bisik Raka merangkul bahu Sisi saat melihat kekasihnya malah menangis tiada henti.


“Aku teringat masa-masa sulit yang harus Annabelle lalui demi mendapatkan cinta Pak Alden, rasanya miris banget saat itu. Bagaimana Annabelle menangis saat menerima undangan pernikahan Pak Alden dan Sarah.”


“Memangnya nggak pernah ada cowok yang berusaha mendekati Annabelle ?”


“Ada beberapa, bahkan Belle juga berusaha membalas perasaan itu untuk menghapus Pak Alden dari dalam hatinya. Tapi semakin keras berusaha, Belle semakin frustasi dan hatinya malah tambah sakit.”


Sisi kembali menangis saat acara sungkeman berlangsung.


Annabelle tidak berhasil menahan air matanya saat Mommy memeluknya sambil menangis.


“Akhirnya kamu benar-benar jadi anak Mommy dan Daddy,” ujar Mommy sambil mengusap punggung Annabelle.


“Terima kasih karena Mommy dan Daddy selalu mendukung Belle,” ujar Annabelle berusaha tersenyum saat melerai pelukannya.


“Tolong jaga putri Papa dengan baik karena Belle sangat berharga untuk kami,” pesan Papa Rano saat memeluk Alden.


“Terima kasih karena Papa sudah mempercayakan saya untuk hidup bersama Belle,” sahut Alden sambil membalas pelukan Papa Rano dengan erat.


Acara yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat tetap membuat Alden dan Annabelle bahagia. Setelah melewati banyak liku-liku akhirnya bisa juga menyatukan cinta mereka.


Keluarga Raka, Yudha, Sisi dan Hana yang diundang, turut hadir siang ini dan memberikan selamat pada Alden dan Annabelle.


“Terima kasih adik cantik, siap-siap aja bakalan menghadapi penjajah,” Yudha tanpa permisi langsung memeluk Annabelle membuat Alden langsung melotot.


Tangan Alden reflek menepuk pinggang Yudha yang langsung tergelak. Lusia yang ada di belakangnya langsung tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala.


Yudis yang digandeng Lusia menatap bingung sambil mendongak.


“Adik, Al, adik. Gue bahagia banget punya adik yang cantik dan baik kayak begini. Awas aja lo berani nyakitin Belle, gue nggak bakalan tinggal diam,” ledek Yudha.


”Udah gue bilang permintaan elo menganggap Belle sebagai adik ditolak !” ketus Alden.

__ADS_1


“Memangnya elo kasih ijin kalau Lusia dipeluk-peluk sama Gerry ?” sambung Alden


“Kalau itu kan statusnya beda,” mata Yudha gantian melotot.


“Apa bedanya sama elo ? Memangnya ada hubungan darah sama Belle ?”


Annabelle memutar bola matanya dengan wajah sebal sementara Lusia masih tertawa.


“Wooiii, antrian masih panjang. Berantemnya nanti aja, ditunda dulu !” protes Hana yang berdiri di belakang Lusia.


Di belakangnya masih ada suami Hana yang sedang berbincang dengan Raka dan Sisi, lalu Reno, Tami dan keluarganya serta Om Juan dan istrinya.


“Musuh abadi tapi sayang,” cibir Annabelle melirik Yudha dan Alden yang langsung menatap gadis itu sambil mengerutkan dahi.


“Bener kan ?” tegas Annabelle. “Kalau ketemu kayak kucing dan anjing tapi tetap ngakunya sahabat.”


“Memang nih, udah pada tua masih aja kayak anak-anak,” timpal Lusia sambil mendorong pelan tubuh Yudha supaya melewati Alden setelah menyalami mempelai pria yang masih cemberut itu.


Jamuan sederhana pun terasa hangat dan kekeluargaan. Kedekatan dari semua yang hadir membuat pernikahan Alden dan Annabelle menjadi lebih bermakna.


“Kamu kenapa dari tadi ngeliatin Yudha terus ?” suara Alden yang didominasi rasa cemburu membuat Annabelle langsung menoleh, menatap pria tampan di sampingnya.


“Nyesel karena nggak sempat pacaran sama dia ?” tanya Alden kembali dengan ketus.


“Bukan itu, aku justru bahagia karena Tante Dewi mulai mau menerima Lusia dan Yudis. Kamu lihat nggak kalau Yudis mulai berani berbincang dengan Tante Dewi ?”


Alden mengikuti pandangan Annabelle dan mengangguk.


“Yudha banyak bercerita soal Lusia saat mendampingi aku menjadi Sarah. Mungkin karena nasib kami sama, mencintai orang yang tidak membalas cinta kami makanya aku dan Yudha sering merasa cocok saat saling curhat.


Dan sekarang, hampir di saat yang bersamaan juga, kami berdua mendapatkan cinta yang seperti mimpi belaka. Aku mendapatkan cintamu dan Yudha berhasil membuat Lusia membalas cintanya.”


“Tapi kondisi aku berbeda dengan Lusia,” protes Alden.


Annabelle menegakkan duduknya dan menatap Alden dengan alis menaut.


“Lusia tidak pernah menganggap Yudha apalagi mencintainya kalau aku selalu menyangkal perasaanku yang diam-diam menyukai kamu.”


“Beneran nih ?” ledek Annabelle sambil tertawa.


“Benar !” sahut Alden dengan wajah tegas, memutar posisi kursi rodanya hingga berhadapan dengan Annabelle.


“Maaf kalau aku justru menyakitimu karena menolak perasaan cintaku,” Alden mengusap pipi Annabelle yang masih tersenyum.

__ADS_1


Perlahan, Alden menarik tengkuk Annebelle dan memberikan ciuman di bibir istrinya itu begitu lembut dan dalam. Annabelle yang hanyut dengan perlakuan Alden membalas ciuman itu dan lupa dengan posisi mereka saat ini.


“Wooiii Alden jangan nyosor aja !” pekik Yudha dari kursinya. “Masih ada anak kecil di sini !”


“Udah sana cepetan bawa ke kamar kalau udah nggak sabar,” ledek Raka ikut menimpali.


Annabelle sendiri langsung menunduk malu dengan wajah merona, membodohi dirinya yang lupa kalau masih banyak orang di sekeliling mereka.


“Maklum perjaka tua,” ledek Hana ikut menimpali. “Alamat Annabelle dibikin nggak bisa tidur kalau udah gol sekali.”


“Nggak bisa malam ini, Han. Bisa-bisa Om Wira harus bawa ke rumah sakit lagi benerin kakinya Alden,” ledek Yudha disambut tawa yang hadir di situ termasuk kedua orangtua Alden dan Annabelle.


“Dih nyumpahin yang jelek aja !” omel Alden.


“Daddy sih setuju sama Yudha, Al. Harap bersabar dulu Belle, daripada masa tunggunya diperpanjang lagi.”


Sahutan Daddy Wira membuat yang lainnya kembali tertawa.


“Mommy masih cukup sabar untuk menunggu kalian kasih cucu kok, Al,” Mommy Lanny ikut menimpali.


“Cukup jadi perawat halal dulu, Belle, jangan kecewa kalau tidak ada malam pertama,” celetuk Hana lagi.


Alden menggerutu kesal membuat Annabelle akhirnya tersenyum mendengar ledekan yang hadir di ruangan itu.


“Nggak apa-apa, Sayang, minimal kita nggak takut digrebek satpam komplek kalau tidur berdua di kamar,” ujar Annabelle mengelus bahu Alden.


“Kok kamu ikutan mereka juga ?” omel Alden dengan wajah ditekuk.


“Tuh Al, dengar kata istri kamu yang pengertian,” ledek Raka.


“Kamu mau dipecat habis ini ?” omel Alden sambil melotot menatap sahabat sekaligus asistennya.


“Dilarang membawa-bawa masalah pekerjaan di ruangan ini karena semua yang datang adalah keluarga,” tegas Daddy Wira dengan wajah serius namun akhirnya tertawa juga.


“Jangan cemberut dong, Sayang,” Annabelle mengusap wajah Alden. “Masa aku harus melihat wajah suami yang ditekuk begini saat malam pertama kita tidur seranjang ?”


“Baru sadar kalau sebenarnya Alden jelek, Belle ?” ledek Yudha.


“Memangnya sekarang kamu udah kelihatan lebih ganteng di mata Lusia ? Kalau bukan karena capek dikejar-kejar sama kamu dan kasihan, aku yakin Lusia nggak bakal terima cinta kamu.”


Jawaban Annabelle membuat Alden langsung menarik kedua sudut bibirnya dan mencebik pada Yudha yang langsung melotot.


“Istri pintar,” puji Alden sambil mengusap pipi Annabelle.

__ADS_1


__ADS_2