Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Bicara Cinta


__ADS_3

Setelah 3 jam berlalu, akhirnya Alden dibawa ke ruang rawat inap biasa. Operasinya berjalan lancar namun Alden masih belum sadar dari pengaruh obat biusnya.


Annabelle duduk menemani Alden di samping ranjang. Penyesalannya belum usai karena membiarkan Alden sendirian sampai terjatuh.


Dokter menyampaikan kalau Alden butuh waktu 3-6 bulan untuk sembuh dan pulih lagi.


“Apa kamu masih menunda permintaan Alden untuk mempercepat pernikahan kalian ?” tanya Mommy Lanny dengan wajah sendu.


Annabelle sudah duduk di kursi yang ada dekat sofa dengan posisi menghadap ke tempat tidur Alden.


“Kamu tahu kan bagaimana keras kepalanya Alden soal tubuhnya. Gara-gara Dadddy-mu juga Alden tidak terbiasa dipegang orang lain bahkan perawat sekalipun,” lanjut Mommy dengan nada menggerutu.


“Kenapa jadi Daddy ?” Daddy Wira mengerutkan dahinya.


Papa Rano yang baru datang dan duduk di sebelah Mama Mira menutup mulutnya yang senyum-senyum.


“Daddy tuh terus mendoktrin Alden supaya menjaga dirinya untuk tidak mudah disentuh siapapun, sampai lagi sakit aja nggak mau dibantu sama perawat, padahal sama-sama laki-laki,” omel Mommy lagi.


“Loh tujuanku kan baik, Sayang. Apa kamu masih belum sadar kalau putra kita itu sangat tampan, jadi sudah pasti banyak orang mengincar pria seperti Alden.


Sudah tampan kayak Daddy-nya, berkantong tebal dan semakin menarik karena cool cool begitu. Wajar saja kalau Alden waspada, karena bisa jadi bukan hanya wanita yang mengincarnya tapi juga kaum pria,” ujar Daddy Wira menjelaskan panjang lebar.


“Tapi terlalu kaku, nggak mau membaca situasi dan kondisi dirinya sendiri !” sahut Mommy Lanny gemas.


“Kalau begitu bagaimana kalau Annabelle mensahkan hubungan kalian menjadi suami istri, begitu Alden sembuh baru kita buat pestanya.”


“Dari tadi aku juga ngomong begitu,” gerutu Mommy.


“Bagaimana kalau nanti Belle hamil dulu sebelum pesta ?” tanya Papa Rano yang ikut buka suara


“Papa !” mata Annabelle membola sambil menatap Papa Rano yang terlihat santai.


“Ya nggak apa-apa, toh mereka sudah sah menjadi suami istri. Malah aku bersyukur kalau sampai Belle bisa cepat hamil,” wajah Mommy Lanny sedikit lebih cerah mendengar ucapan Papa Rano yang seolah setuju kalau putrinya segera menikah dengan putera tunggal keluarga Hutama.


“Memangnya Alden bisa langsung produksi dengan kondisi kakinya yang sekarang, Tante ?” ledek Raka yang ada di ruangan itu.


Mata Annabelle masih melotot saat menatap Raka yang malah tertawa.


“Selama tidak ada masalah dengan belutnya, Daddy yakin Alden bisa langsung menjalankan pabriknya,” timpal Daddy Wira sambil tertawa dan melirik Annabelle yang sudah merona.


“Jadi bagaimana, Belle ? Mau ya meresmikan hubungan kalian supaya kamu bisa menemani Alden tanpa khawatir digrebek Pak RT ?” tanya Mommy sambil senyum-senyum.


Papa Rano dan Mama Mira tertawa pelan mendengar ucapan Mommy Lanny sambil melihat wajah putrinya yang tersipu.


Annabelle terdiam dan sikapnya menjadi canggung karena semua yang ada di ruangan itu menatapnya kecuali Alden.


“Gimana Belle ?” tanya Daddy Wira sambil mengangkat kedua alisnya.


“Boleh aku minta waktu, Dad ? Meskipun aku butuh waktu, aku tetap akan menjaga Alden dan tidak akan membiarkannya sendirian lagi seperti kemarin.”


“Tidak boleh !” tegas papa Rano membuat mata Annabelle membulat.

__ADS_1


“Papa dan Mama tidak setuju kalau kamu merawat pria yang bukan siapa-siapa, beda cerita kalau Alden memang sudah jadi suami kamu. Iya kan, Ma ?”


“Iya Belle, apa pandangan orang kalau kamu sampai berduaan dengan Alden terus menerus sementara status kalian hanya sebatas teman.” timpal Mama Mira menyetujui ucapan suaminya.


“Tapi Pa, Ma…”


“Kalau kamu memang sungguh-sungguh ingin merawat Alden, ikuti permintaan Mommy dan Daddy Alden,” tegas Mama Mira membuat Annabelle menautkan alisnya.


Annabelle menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Annabelle sedikit bingung karena sikap orangtuanya berbeda dari biasanya.


“Aku ingin keluar sebentar,” ujar Annabelle sambil beranjak bangun.


Tanpa menunggu persetujuan dua pasang orangtua yang ada di dalam ruangan, Annabelle berjalan menuju pintu. Bukan sok jual mahal, tapi ia merasa tidak percaya diri untuk berdiri di samping Alden sebagai istrinya.


“Belle,” lirih Alden pelan namun masih bisa terdengar oleh Annabelle saat tangannya baru saja membuka pintu.


Annabelle mengurungkan niatnya dan berbalik mendekati ranjang Alden. Mommy Lanny dan Mama Mira juga ikut mendekati Alden.


“Belle,” lirih Alden kembali.


Annabelle menggenggam jemari Alden dan melihat wajah lemah itu tersenyum lalu memejamkan mata lagi.


Sepertinya Alden hanya bermimpi dan tertidur lagi dengan tenang saat melihat Annabelle sudah ada di sampingnya.


Hati Annabelle terenyuh. Pria tampan yang biasanya gagah terbaring lemah dengan satu kaki yang tidak bisa digunakan dengan baik kemungkinan hingga 6 bulan ke depan.


Dan kondisi yang Alden alami hanya demi menyelamatkan Annabelle, menggantikannya jadi korban kegilaan Sarah.


“Aku bersedia menikah dengan Alden secepatnya,” ujar Annabelle yakin sambil menatap kedua ibu yang ada di dekatnya.


“Aku tidak akan membiarkan Alden sendirian melewati semua ini,” lirih Annabelle sambil menatap wajah Alden yang terlihat tenang dengan mata terpejam.


“Kalau begitu Mommy dan Mamamu akan menyiapkan semuanya, kamu cukup fokus dengan Alden,” ujar Mommy Lanny dengan wajah sumringah mendekati Annabelle.


Dipeluknya gadis yang selalu menjadi kesayangan keluarga Hutama ini.


“Terima kasih karena sudah mau berada di samping Alden dengan keadaannya seperti sekarang ini,” bisik Mommy Lanny dengan penuh haru.


“Akhirnya,” ujar Daddy Wira sambil menatap sahabatnya.


“Kesampaian juga keinginanmu untuk menikahkan mereka,” ledek Papa Rano sambil tertawa pelan.


“Kesampaian juga besanan sama kamu,” sahut Daddy ikut tertawa.


Keduanya bicara dengan suara agak pelan, khawatir Annabelle berubah pikiran kalau sampai mendengar ucapan bahagia mereka.


Raka pun ikut tersenyum mendengar keputusan Annabelle. Setidaknya sahabat sekaligus boss-nya sudah mendapat kepastian dari Annabelle.


Tanpa siapapun tahu, Alden yang sebetulnya sudah sadar ikut tersenyum tipis. Berjuta kupu-kupu seolah terbang memenuhi rongga dadanya membuat hatinya bahagia mendengar keputusan Annabelle.


*****

__ADS_1


Menjelang jam 9 malam, Lusia baru sampai di rumahnya. Mobil Yudha masih terparkir di luar gerbang.


Saat masuk ke dalam rumah setelah dibukakan pintu oleh bibik, Lusia mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan yang mulai temaram.


“Sepertinya Yudis sudah tidur ditemani Tuan Yudha, Non,” ujar bibik seolah menjawab tatapan Lusia.


“Kalau begitu bibik tidur aja, nanti saya yang kunci pintu sekalian mengantar Yudha pulang.”


Bibik mengangguk dan berjalan ke arah belakang.


Lusia sendiri langsung masuk ke kamar Yudis dan melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat saat melihat Yudis tidur dalam pelukan Yudha.


Lusia duduk di pinggir ranjang dekat Yudis dan tersenyum melihat 2 pria yang pulas tertidur.


Yudha memang calon ayah sambung yang baik untuk Yudis. Sedikit penyesalan dalam hati Lusia karena lebih melihat penampilan luar dalam memilih kekasih.


Gerry memang lebih tampan, lebih keren dan lebih mapan, membuat Lusia merasa bangga saat bejalan di samping Gerry sebagai kekasihnya.


Berbeda dengan Yudha yang tampil sederhana dan kemana-mana naik motor membuat Lusia tidak pernah melirik pria itu.


“Kamu sudah pulang ?” sapaan Yudha membuyarkan lamunan Lusia. Pria itu perlahan bangun dan duduk di tepi ranjang.


“Maaf aku pulang kemalaman, tadi bayi yang baru lahir mengalami gangguan sesak nafas.”


“Anaknya Gerry ?”


Lusia menggeleng membuat Yudha mengerutkan dahinya. Keduanya keluar kamar menuju dapur.


“Kamu sudah makan ?“ tanya Yudha.


“Sudah, tadi aku masih menyempatkan makan di rumah sakit. Dan soal Gerry…”


Lusia pun menceritakan soal perbincangannya dengan Gerry dan semua masalah yang berkaitan dengan dengan Yudis, Indri dan bayi perempuan yang baru saja lahir.


“Jadi Gerry sedang memetik hasil perbuatannya ?” ujar Yudha sambil tertawa pelan.


“Kira-kira begitu,” Lusia ikut tertawa pelan.


“Terus ?” Yudha memicingkan matanya.


“Terus apanya ?” Lusia mengerutkan dahi.


“Kamunya gimana ? Tersentuh dengan cerita Gerry tentang kondisinya sekarang ?”


“Memangnya kamu udah capek usaha mencari restu dari orangtuamu ?” Lusia melirik dengan wajah sendu.


“Beneran udah cinta sama psikiater miskin ini ?” ledek Yudha.


“Pakai nanya segala ! Memangnya masih kurang jelas sikap aku selama ini ?”


Yudha tertawa menarik Lusia hingga jatuh ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Sabar sebentar ya Bu Dokter, aku yakin orangtuaku akan memberikan restu pada kita.”


Yudha menarik tengkuk Lusia dan ******* bibirnya dengan penuh cinta. Lusia pun mengalungkan tangannya di leher Yudha dan membalas ciuman pria itu dengan perasaan yang mulai dipenuhi cinta.


__ADS_2