
“Ke apartemen Sarah,” perintah Alden pada Raka.
Keduanya baru saja menyelesaikan meeting jam 3 mereka dan Alden bergegas kembali ke mobil yang sudah menunggu dengan seorang sopir.
“Apa gue harus ikut juga ke sana ?”
“Iya,” Alden mengangguk pasti.
“Terus terang gue masih agak jengah bertemu dengan Sarah setelah melihat aksinya di foto-foto itu.”
“Gue yang calon suaminya, kenapa jadi elo yang bermasalah ?” ledek Alden sambil terkekeh.
Raka hanya menghela nafas panjang, tidak mengerti dengan pemikiran bosss nya akhir-akhir ini.
Bahkan setelah melihat foto calon istrinya dalam keadaan vulgar, Alden tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai pria normal yang seharusnya marah, kecewa, cemburu bahkan mungkin menyingkirkan Sarah jauh -jauh
”Al, otak elo nggak geser, kan ?” Raka menyipitkan matanya karena benar-benar merasa aneh dengan sikap bossnya.
“Kalau sampai otak gue geser, hal pertama yang akan gue lakukan adalah membuang elo jauh-jauh sebagai asisten gue !” tegas Alden sambil tertawa.
“Siap nangis goser-goser kalau nggak ada gue ?”gerutu Raka dengan wajah cemberut.
Alden hanya tertawa dan mengambil handphone dari saku jas-nya lalu mengetikkan pesan entah ke nomor siapa.
“Mau pesan makanan apa buat di apartemen ? Biar gue pesenin sekarang, jadi pas kita sampai, makanan juga sampai,” tanya Raka yang langsung bersiap dengan handphonenya.
“Nggak usah. Cukup elo duduk diam aja sampai di apartemen. Gue mau istirahat sebentar.”
Alden menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan mata sampai di apartemen Sarah.
Keduanya turun di lobby dan meminta sopir menunggu di parkiran.
Begitu sampai di depan pintu apartemen Sarah, terlihat Jaka dan Dina sudah berdiri menunggu dan langsung menganggukan kepala sambil menyapa Alden dan Raka.
“Kalian boleh pulang malam ini dan libur dalam 2 hari ke depan,” titah Alden dengan nada tegas.
Raka hanya mengernyit dan tidak protes dengan ucapan Alden. Kedua pengawal Sarah diliburkan dan Alden tidak masuk kerja dalam 3 hari ke depan, berarti….
“Elo menggantikan mereka jadi pengawalnya Sarah ? Elo masih waras kan, Al ?”
Alden tidak menyahut, hanya memberi isyarat pada Jaka dan Dina untuk pergi lalu masuk ke dalam apartemen Sarah.
Sarah Belle terkejut saat ada tangan kekar melingkar di pinggangnya saat mencuci piring di dapur. Sarah Belle tidak memperhatikan siapa yang masuk ke apartemennya karena yakin kalau Jaka dan Dina akan menjaganya.
“Apakah kamu seteledor ini ? Bagaimana kalau kejadian pembiusann Jaka dan Dina terjadi lagi ?”
Tubuh Sarah Belle mendadak kaku saat hembusan nafas Alden terasa di ceruk lehernya. Bahunya terasa sedikit berat karena kepala Alden bersandar di sana.
“Maaf aku….”
Sarah Belle semakin gugup saat tangan Alden semakin erat memeluk pinggangnya.
“Aku selesaikan pekerjaan ini dulu,” Sarah Belle menunjukan satu wajan yang sedang dibilasnya.
Alden menurut dan melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju meja makan.
“Sejak kapan kamu bisa memasak ? Dan kenapa masak begini banyak ?”
Alden mengambil sendok makan dan mencicipo salah saru makanan yang terhidang di sana. Harus diakui kalau makanan buatan Sarah enak rasanya dan terasa familiar di lidah Alden.
“Aku ingin mengajak Jaka dan Dina makan bersama malam ini. Mereka bukan hanya pengawal bagiku tapi sudah kuanggap sebagai teman.”
Sarah Belle melewati meja makan dari sisi yang berseberangan dengam posisi Alden berdiri.
“Mau kemana ?”
“Memanggil Jaka dan Dina,” Sarah Belle hanya melirik sekilas, enggan menatap Alden.
__ADS_1
Pelukan Alden di tubuh Sarah membuat debar jantung Annabelle berdetak tidak karuan. Wangi tubuh Alden yang sudah familiar di penciuman Annabelle membuat hatinya melambung, bahagia.
“Mereka sudah aku suruh pulang,” ujar Alden. “Sampai dua hari ke depan, akulah yang akan menjadi pengawal pribadimu.”
“Apa maksudmu ?” Sarah Belle menoleh sambil mengerutkan dahi.
“Kalimatku sudah jelas. Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini ?” Alden tersenyum tipis. “Kamu sering menggodaku dan meminta aku tetap tinggal di apartemen ini. Sekarang aku akan menuruti keinginanmu dan membuatmu bahagia. Bukankah sudah aku bilang kalau aku tetap akan menikahimu setelah waktu yang kamu minta berakhir ?”
Sarah Belle menjauh saat posisi Alden semakin dekat padanya hingga akhirnya ia terbentur dengan pinggir meja makan.
“Kenapa gugup ?” Alden berbisik di telinga Sarah Bella yang berdiri kaku bersandar di pinggir meja makan.
”Bukankah kamu biasa melakukannya dengan pria ? Tinggal dalam satu apartemen bahkan satu kamar ?”
Sarah Belle menghela nafas dan menatap Alden dengan wajah sendu.
Apa berarti kamu membuang prinsip idealismu dan bersedia tidur dengan Sarah sebelum kalian menikah ? Batin Annabelle.
“Kenapa wajahmu malah sedih ? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena aku akan memenuhi keinginanmu malam ini ?” Alden tersenyum smirk.
Sarah Belle memberanikan diri menatap Alden dan mendorong tubuh pria itu hingga mereka berjarak.
“Permintaanku berubah. Seperti yang aku bilang saat aku tinggal di rumah keluarga Hutama, tidak akan sentuhan atau kontak fisik hingga waktu 100 hari berakhir.”
“Kamu yakin ?” Alden menahan lengan Sarah yang kembali berjalan menjauh darinya.
“Seribu persen yakin. Tidak akan ada sentuhan atau kontak fisik yang berlebihan kecuali pegangan tangan,” tegas Sarah Belle dengan raut wajah sedih.
“Sekarang kamu mau kemana ?”
“Aku ingin mandi sebentar, badanku lengket habis masak.” Sarah Belle menghentikan langkahnya sejenak tapi tidak menoleh.
Sarah Belle menyapa Raka yang ternyata duduk di depan televisi sebelum ia masuk ke dalam kamar.
Hanya butuh waktu 20 menit Sarah Belle sudah keluar lagi dan langsung menuju ke ruang makan sekalian mengajak Raka yang masih duduk di depan televisi.
“Apa ada orang lain yang Mas Raka temui selama duduk di sini ?” Sarah Belle tertawa pelan sambil mempersilakan Raka duduk dengan gerakan tangannya.
“Mas Raka ?” tanya Alden sambil mengerutkan dahi. “Sejak kapan kamu memanggil Raka seperti itu ?”
“Memang biasanya aku memanggilnya apa ?” Sarah Belle balik bertanya. Tangannya bergerak mengambilkan nasi lalu lauk untuk Alden, membuat Raka semakin bingung.
Peristiwa langka di depannya terekam dengan baik leh indera Raka, apalagi melihat sikap Sarah yang melayani Alden dengan telaten, seolah sudah biasa.
“Apa kamu melalukan hal yang sama saat bersama dengan Reyhan ?” tanya Alden tiba-tiba membuat Sarah Belle menoleh dan mengernyit.
“Aku tidak tahu,” sahutnya asal.
“Kamu yang melakukannya bagaimana bisa tidak tahu ? Jangan bilang kalau kamu lupa bagaimana memperlakukan Reyhan selama ini,” tanya Alden kembali dengan nada datar tanpa emosi, Tidak ada nada sinis atau sindiran apalagi cemburu dalam ucapan Alden.
”Bisakah kita tidak membahas soal orang lain malam ini ?” ujar Sarah Belle dengan nada kesal.
Bukan ingin menghindar, tapi sebagai Annabelle ia benar-benar tidak tahu dan tidak mau tahu. Bahkan terbongkarnya masalah simpanan foto Sarah dikarenakan Annabelle tidak ingin mengetahui bagaimana perasaan Sarah saat melakukan malam panasnya dengan Reyhan.
“Aku sengaja memasak ini untuk kedua teman baruku, tapi kamu malah mengusir mereka. Setidaknya buatlah aku merasa usahaku tidak sia-sia dan nikmati makanannya. Tolong jangan buat suasana hatiku jadi jelek,” pinta Annabelle.
“Aku tidak mengusir mereka, sayang. Seharusnya kamu merasa senang karena sudah memberi libur untuk kedua teman barumu dan menjadikan diriku sebagai pengawal pribadimu.”
Raka langsung melotot melihat sikap Alden yang semakin bertambah aneh. Wajah sahabatnya itu telihat manis dan ekspresinya seperti pria yang sedang jatuh cinta dan tergila-gila dengan kekasihnya.
Raka meraih gelas air putih dan meneguk habis isinya. Kerongkongannya terasa kering meski tidak banyak bicara saat ini.
“Mari makan,” ujar Alden sambil menyendok nasi dan lauknya. Alden sempat menatap Raka dan memberi isyarat supaya asistennya ikut makan.
Mata Raka kembali membelalak saat satu sendok nasi dan lauk masuk ke dalam mulutnya.
“Nona yakin kalau masakan ini buatan sendiri bukan beli di restoran ?” tanya Raka dengan alis menaut.
__ADS_1
“Pertama tidak usah panggil aku nona, cukup nama saja. Kedua jangan pura-pura memujiku hanya karena sedang ada bossmu di sini, pria menyebalkan yang selalu bicara soal status calon suaminya,” ketus Sarah Belle dengan wajah cemberut.
Alden tertawa pelan sambil menikmati makan malamnya.
“Saya tidak pura-pura memuji, tapi makanan ini benar-benar enak. Sejak kapan Sarah yang super sibuk belajar memasak dan hasilnya bisa seenak ini ?”
“Jangan berdebat dan menuntut jawaban calon istriku. Seharusnya kamu menghargai usahanya yang ingin membahagiakan suami dengan masakannya,” tegur Alden saat melihat wajah Sarah makin ditekuk.
Raka mengangguk-angguk dan meneruskan makannya tanpa bicara apa-apa lagi hingga ketiganya selesai.
“Biar aku yang mencuci piringnya,” Alden menahan lengan Sarah yang sudah bersiap di depan bak cuci piring.
“Tidak usah, ini…”
“Rapikan saja makanan yang ada di meja, biar ini bagianku.”
Sarah Belle mengernyit, seolah tidak percaya dengan sikap Alden. Sarah Belle tersenyum tipis. Akan bahagia kalau saat ini Annabelle-lah yang berada di sini bukan tubuhnya Sarah.
Raka pamit pulang setelah sopir mengantar tas pakaian Alden ke apartemen. Sepertinya sudah tidak ada gunanya Raka berlama-lama di apartemen Sarah karena segala nasehatnya hanya dianggap angin lalu oleh Alden.
Sebagai sahabat, Raka tidak ingin Alden mengalami kejadian buruk seperti Peter Gilang, tapi untuk kali ini sepertinya Alden punya rencana tersendiri atas Sarah.
“Kenapa tidur di luar ?” Alden yang baru saja selesai mandi langsung menghampiri Sarah Belle yang sudah berbaring di sofa depan TV.
“Tidak apa-apa, aku lebih nyaman di sini daripada berdua denganmu di kamar,” sahut Sarah Belle santai.
Alden mendekat dan duduk di samping sofa menatap Sarah Belle yang langsung salah tingkah.
“Aku mau tidur, capek banget hari ini. Sana masuk ke kamarmu,” Sarah Belle mendorong Alden yang bergeming di tempatnya.
“Besok aku mau mengajakmu ke pantai, kita menginap semalam dan sesudah itu kamu tinggal di rumah Hutama. Mommy dan daddy ingin kamu tinggal bersama mereka.”
“Serius ?” Mata Sarah Belle membulat memancarkan rasa bahagia. “Om dan Tante benar-benar ingin aku tinggal bersama mereka ?”
“Iya,” Alden mengangguk. “Dan kenapa kamu tidak belajar memanggil mereka daddy dan mommy lagi sama seperti sebelumnya karena kita sebentar lagi akan menikah juga ?”
Sarah Belle yang tadinya senyum-senyum bahagia mendadak terdiam dan berubah sendu.
”Sudah sana masuk kamar dan tidur. Akan lebih baik kalau kita berangkat pagi-pagi biar tidak kena macet,” ujar Sarah Belle sedikit ketus.
Alden sempat menautkan alisnya namun tubuhnya yang lelah membuatnya memilih masuk ke kamar.
Alden sempat duduk sejenak di pinggir ranjang, mengamati keadaan di seluruh kamar yang baginya terlihat berbeda.
Wangi khas yang menempel saat ini bukanlah aroma yang disukai Sarah, tapi orang lain. Entah kenapa Alden justru menyukai wangi yang sekarang.
***
Sementara di rumah keluarga Hutama, mommy Lanny terlihat mengernyit membaca kiriman pesan dari putra tunggalnya.
“Kenapa lagi, sayang ?” tanya daddy Wira yang duduk bersandar pada papan ranjang sambil membaca.
“Nggak biasanya Alden mengirim pesan detil begini. Alden mengabarkan kalau malam ini tinggal di apartemen Sarah dan besok akan mengajak wanita itu pergi ke pantai.”
“Lalu apa yang aneh ?”
“Entahlah,” mommy Lanny menggeleng. “Aku sedih karena Alden tetap memilih Sarah sebagai calon istrinya meskipun dia sudah tahu wanita macam apa Sarah itu. Dan bukannya menjauhi wanita itu, Alden malah berubah menjadi pria romantis yang perhatian padahal dia tahu kalau Sarah cukup bahagia dengan kartu kredit dan atm yang Alden berikan.”
“Kita lihat saja sampai waktu yang Belle minta berakhir,” ujar daddy Wira menenangkan istrinya.
“Sayang, apa jangan-jangan Alden sudah menangkap ada sosok Annabelle di balik sikap Sarah yang berubah total ?” Mommy Lanny sampai memiringkan badannya ke arah daddy karena pikirannya tiba-tiba terimgat akan Annabelle.
“Aku juga tidak tahu. Semoga saja.”
Daddy Wira meletakkan bukunya di atas nakas dsn mematikan lampu baca. Diraihnya tubuh istrinya dan dibawa ke dslam pelukannya.
“”Tidurlah, berdoa saja semoga Alden merubah keputusannya dan Annabelle bisa kembali masuk ke dalam raganya sendiri.”
__ADS_1