
Annabelle baru saja selesai dengan urusan kampus dan berniat kembali ke Gedung Hutama dengan taksi online.
Alden sudah menawarkan mobil dengan sopir untuk mengantar jemput Annabelle namun ditolaknya dan kali ini Alden tidak memaksa seperti biasa.
Pikiran Annabelle masih dipenuhi dengan kalimat Sarah yang penuh dengan ujaran kebencian. Tatapan mata wanita itu penuh dengan rasa marah, sakit hati dan dendam yang tak tersalurkan.
Melihat kondisi Sarah di Lapas, Annabelle merasa seperti de javu dengan kondisi Alden yang mengamuk di rumah sakit saat tahu Sarah, calon istrinya mengalami kecelakaan.
Perasaan bersalah memenuhi hati Annabelle hingga membuatnya sesak dan tidak sanggup berada di dekat Alden.
Beberapa kali Annabelle menghela nafas berat, menyesal karena merasa dirinya sudah menjadi salah satu penyebab batalnya pernikahan Alden dan Sarah.
Seandainya waktu itu Annabelle tidak terlalu kepo hanya karena mendengar pembicaraan rahasia Sarah dan Reyhan…
Seandainya waktu itu Annabelle tidak nekat mengajak Sarah meninggalkan apartemen hanya karena keyakinannya bertindak atas nama cinta pada Alden
Seandainya…. Annabelle menggelengkan kepalanya.
Kemarahan Sarah dan Alden yang didasari rasa kecewa bisa jadi karena mereka berdua sama-sama saling cinta.
Kalau tidak cinta, bagaimana Alden memutuskan tetap menikahi Sarah meski tahu kalau wanita itu sudah tidak perawan lagi ? Padahal idealisme Alden ingin menikahi perempuan yang masih bisa menjaga miliknya yang paling berharga.
Kalau tidak cinta, hanya karena gagal membuktikan perselingkungan Sarah, kenapa juga Alden sampai mengamuk di rumah sakit bahkan sampai mengharapkan Annabelle tiada ?
Annabelle kembali menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.
Hatinya kembali ragu akan ketulusan cinta Alden. Mungkin saja cinta Alden bukanlah cinta antara pria dan wanita dewasa, tapi lebih kepada cinta tulus kakak dan adik karena mereka tumbuh bersama.
Annabelle memalingkan wajah, menatap setiap barisan gedung dan ramainya lalu lintas yang dilewatinya dengan perasaan yang kacau.
Rasa percaya dirinya akan cinta Alden seolah terbelah dua di antara dua kenyataan yang justru berseberangan.
Itu sebabnya Annabelle berusaha menghindari Alden hari ini. Tugas rutin pagi diabaikan Annabelle dan Alden pun tidak memaksa dengan bujukan dan rengekan seperti biasanya.
“Nona, sudah sampai,” ujar sopir taksi online itu saat melihat Annabelle masih terdiam padahal mobil sudah berhenti di lobby gedung Hutama sekitar 3 menit yang lalu.
“Eh maaf,” sahut Annabelle sedikit gelagapan.
“Tidak apa-apa,” ujar sopir itu sambil tersenyum menatap Annabelle dari spion tengah.
“Terima kasih, Pak.”
__ADS_1
Annabelle menganggukan kepala dan membuka pintu persis di depan lobby.
Satpam yang berjaga menyapanya ramah begitu juga dengan resepsionis dan beberapa karyawan yang mengenal Annabelle karena ia pernah menjadi karyawan di Hutama Grup selama hampir 4 tahun.
Annabelle langsung naik ke ruangan Alden. Perasaannya campur aduk, antara menyesal dan gelisah karena Alden tidak menghubunginya sama sekali.
Annabelle mengernyit saat tidak melihat Tami atau Raka di depan ruangan Alden. Jam dinding memang sudah menunjukkan waktu di angka 12.05.
Annabelle membuka pintu karena tidak ada jawaban dari dalam ruangan meski ia sudah mengetuk pintu lebih dari tiga kali.
Matanya langsung membelalak saat mendapati Alden tergeletak dekat sofa. Annabelle langsung memekik memanggil nama Alden namun pria itu tidak bergerak.
Ada luka di pelipisnya sepertinya terkena pecahan gelas yang hancur tidak jauh dari Alden. Annabelle buru-buru mengambil handphone dan menekan nomor Raka.
Kecemasan langsung memenuhi hati Annabelle. Ia pun mengangkat kepala Alden dan merabahkan di atas pahanya.
Annabelle hanya bisa menangis sambil menunggu Raka datang. Khawatir dengan keadaan Alden yang masih pingsan, akhirnya Annabelle menghubungi Daddy Wira.
Daddy Wira yang ternyata masih berada di kantor sedang berbincang dengan Om Juan dan Reno bergegas ke ruangan Alden dan memutuskan membawa putranya ke rumah sakit.
Annabelle tidak bicara sepatah kata pun, hanya air mata yang terus mengalir di wajahnya.
“Alden harus dioperasi karena kondisi tulangnya kembali retak dan patah. Sepertinya ia terjatuh dua kali,” ujar Daddy Wira menjelaskan pada Annabelle setelah berbicara dengan dokter di rumah sakit.
“Lalu kenapa Alden sampai pingsan, Dad ?” tanya Annabelle.
”Dokter sudah memastikannya bukan karena benturan, tapi karena menahan rasa sakit yang lumayan parah hingga akhirnya Alden pingsan.”
“Dad, Alden bisa sembuh lagi kan ?” tanya Annabelle dengan wajah berurai air mata.
Daddy Wira langsung memeluk Annabelle dan menepuk-nepuk bahu gadis itu.
“Kita doakan yang terbaik untuk Alden, Sayang.”
Annabelle hanya bisa menangis dalam pelukan Daddy Wira. Penyesalannya makin membuncah, membuat Annabelle semakih terisak.
“Nona Annabelle ?” seorang perawat keluar dari ruang UGD memanggil nama Annabelle.
“Tuan Alden ingin bertemu anda,” ujar perawat tadi saat Annabelle mendekatinya.
Annabelle mengangguk dan mengikuti perawat itu ke ranjang Alden yang masih terbaring di ruang UGD, menunggu kamar operasi.
__ADS_1
Alden tersenyum saat melihat Annabelle berjalan ke arahnya dengan air mata yang masih tidak mau berhenti.
“Maafkan aku, Alden. Seharusnya pagi ini aku tetap datang ke rumahmu dan tidak meninggalkanmu sendirian terlalu lama.”
“Bukan salahmu, Belle. Aku yang terlalu memaksakan diri padahal dokter belum memperbolehkan aku menggunakan kakiku.”
“Maafkan aku, Alden,” Annabelle mengulang kembali kalimat itu sambil menggenggam tangan Alden yang terulur lemah.
“Belle, aku mencintaimu, jangan pernah ragukan cintaku,” ujar Alden dengan suara pelan. “Pertanyaanmu akan segera aku jawab kalau aku sudah sehat lagi.”
“Jangan pikirkan soal itu, Den. Dokter akan mengoperasi kakimu. Pikirkan saja kesehatanmu dulu dan pertanyaanku tidak penting untuk dijawab.”
“Belle,” Alden berusaha mengeratkan genggamannya namun tenaganya tidak sekuat biasanya.
“Jangan pernah ragukan cintaku, Belle. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Doaku mengharapkanmu bangun dari koma sungguh tulus dari hatiku yang paling dalam. Perasaan yang selama ini aku sembunyikan dan terus aku sangkal tidak bisa aku tahan lagi karena lebih menakutkan kehilangan
dirimu.”
Nafas Alden sedikit terengah hingga Annabelle meletakkan telunjuknya di bibir Alden.
“Simpan tenagamu, Den, jangan pikirkan soal itu. Kita akan bicara lagi nanti setelah kamu membaik dan jangan khawatir aku tidak akan kemana-mana, tidak akan membiarkanmu sendirian lagi.”
“Belle,” Alden menggenggam jari telunjuk Annabelle yang menempel di bibirnya.
“Jangan pernah ragu akan cintaku dan jangan berhenti mencintai aku, Belle. Hanya cintamu yang bisa menjadi penyemangatku saat ini. Hanya cintamu yang bisa memberiku hidup hingga aku tidak sesak nafas lagi.”
“Aku tahu, Den. Aku percaya. Tenangkan pikiranmu saat ini supaya operasi bisa berjalan dengan baik. Aku akan menunggumu pulih dan tidak akan berhenti mencintaimu.”
Alden tersenyum dan melepaskan genggamannya saat perawat meminta Annabelle menunggu Alden di luar karena pria itu akan segera dibawa ke ruang operssi.
Annabelle menurut dan keluar dari ruang UGD, menunggu brankar Alden dibawa menuju kamar operasi. Selain Daddy Wira, di sana ada Om Juan dan Raka sedangkan Mommy Lanny sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
10 menit kemudian pintu UGD terbuka lebar dan 3 orang perawat membawa Alden keluar ruangan menuju kamar operaai di lantai 3.
“Sebentar suster.”
Annabelle yang semula berdiri di samping Daddy Wira mendekati Alden yang masih sadar namun terlihat lemah.
“Aku mencintaimu, Alden dan akan menunggumu di sini,” bisik Annabelle sambil mencium pipi Alden.
Alden hanya tersenyum dan mengerjapkan matanya tanda mengiyakan ucapan Annabelle.
__ADS_1