
Alden bangun lebih pagi hari ini, bersiap-siap dengan pakaian casual membuat Mommy dan Daddy mengerutkan dahi.
“Kamu nggak ke kantor hari ini ?” tanya Daddy Wira saat putranya menyapa lalu duduk bersama di meja makan.
“Ke kantor, Dad, setelah bertemu calon menantu Mommy dan Daddy,” sahut Alden dengan wajah sumringah.
“Siapa lagi yang mau kamu jadikan calon istri ?” tanya Mommy Lanny sambil memicingkan mata.
“Jodoh dari Mommy dan Daddy,” sahut Alden senyum-senyum.
Mommy Lanny menatap Daddy Wira yang mengangkat kedua bahunya.
“Memangnya Annabelle sudah mau menerima kamu jadi calon suaminya ?” tanya Mommy Lanny.
“Selain usaha, doa Mommy dan Daddy sangat-sangat dibutuhkan hari ini. Aku pergi dulu.”
“Al, sarapanmu baru sedikit,” ujar Mommy Lanny saat melihat Alden sudah beranjak meninggalkan ruang makan.
“Lebih baik menunggu daripada terlambat, Mom,” Alden mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa sebelum meninggalkan kedua orangtuanya.
“Senang rasanya melihat Alden benar-benar jatuh cinta pada wanita yang tepat,” ujar Mommy Lanny.
“Kita doakan saja yang terbaik untuk Alden dan Annabelle, Sayang,” Daddy Wira menggenggam jemari istrinya dan menciumnya penuh cinta.
Mommy Lanny hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Sementara Alden yang pergi tanpa sopir dan Raka langsung menuju toko bunga, mengambil pesanan rangkaian bunga mawar dan magrit kesukaan Annabelle.
Wajahnya terlihat bertambah bahagia sambil sesekali mencium bunga yang dibawanya. Hatinya sempat cemas memikirkan Annabelle yang masih mengeraskan hati dan membiarkan rasa benci tumbuh subur di hatinya.
Jam 8.05 mobil Alden sudah terpakir di area kampus. Rangkaian bunga ditinggalnya di mobil dan akan diberikan untuk Annabelle setelah gadis itu bersedia diajaknya bicara di mobil.
Alden memegangi dadanya yang berdebar tidak karuan. Ia senyum-senyum sendiri, ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta. Bahkan saat menyukai Sarah, Alden tidak pernah merasakan debar seperti ini.
Ada penyesalan di dalam hati Alden yang pernah mengabaikan percikan rasa itu yang sering mengacaukan perasaannya hingga ia memilih bersikap kasar pada Annabelle supaya gadis itu menjauh darinya.
Di tempat yang sama, Sisi yang baru saja menyerahkan beberapa tugas laporan langsung menghampiri Annabelle yang sedang berbincang dengan beberapa teman mereka.
“Halo cantik,” Sisi langsung merangkul bahu Annabelle. “Udah lama nih kita nggak jalan bareng.”
“Sisi !” Annabelle tampak terkejut saat melihat Sisi ada di kampus.
“Nggak kangen sama gue ?” tanya Sisi sambil tertawa-tawa.
Annabelle memicingkan mata, menatap curiga sahabatnya.
“Jangan bilang…”
“Gue ada janji ketemu sama Pak Nurdin, Belle. Jangan nethink dulu, deh,” ujar Sisi dengan wajah merajuk.
“Habis sekarang elo punya banyak rahasia,” Annabele mencibir. “Nggak ada omongan tahu-tahu jadian sama asistennya Alden.”
“Itu semua gara-gara elo sama Pak Alden juga,” ujar Sisi sambil terkekeh.
“Kok jadi gue ?”
__ADS_1
Annabelle dan Sisi pamit pada teman-teman mereka dan tanpa sadar Annabelle hanya mengikuti kemana Sisi membawanya.
“Demi menyatukan cinta dua hati,” sahut Sisi sambil terkekeh.
“Lebay,” Annabelle mencibir. “Cinta dua hati darimana ? Udah nggak bersisa di hati gue,” tegas Annabelle.
Sisi hanya tertawa dan mengajak Annabelle hingga ke gerbang kampus.
“Eh kita mau kemana ?” Annabelle mengerutkan dahi saat keduanya sudah melewati gerbang kampus.
“Cobain cafe yang baru buka tuh di depan,” Sisi menunjuk dengan dagunya ke arah bangunan yang ada di seberang jalan.
“Ogah Si, ramai gitu,” Annabelle enggan menyeberang jalan.
“Kita coba lihat dulu,” Sisi langsung memasang wajah memelas dengan puppy eyes nya.
Annabelle menghela nafas dan akhirnya mengikuti ajakan Sisi, menyeberang jalan menuju cafe yang mulai ramai.
Langkah Annabelle terhenti saat melihat Alden berdiri tidak jauh dari bangunan cafe.
“Jangan bilang…” Annabelle langsung melotot menatap Sisi.
“Sorry, tapi tolong kasih kesempatan sekali untuk Pak Alden. Dia janji habis ini tidak akan menganggu elo karena harus menetap di Jerman.”
Annabelle memicingkan matanya lalu mengerutkan dahi saat mendengar penjelasan Sisi.
“Ada urusan pekerjaan. Pak Alden memutuskan untuk menetap sementara di sana, kecuali elo yang minta dia tetap di sini,” ujar Sisi sambil tersenyum.
Annabelle menghela nafas dan akhirnya menuruti permintaan Sisi. Alden yang mendapat isyarat dari Sisi langsung berjalan mendekat sementara Sisi langsung berjalan masuk ke dalam cafe.
“Apa kabar Belle ?” Alden terlihat canggung berdiri di depan Annabelle.
“Terima kasih sudah mau datang menemui aku.”
“Nggak bisa kalau nggak nyuruh orang ?” nada Annabelle masih terdengar ketus.
“Maunya langsung menemui kamu, Belle,” Alden tertawa canggung. “Tapi nggak ada yang tahu dimana kamu tinggal, nomor aku diblokir lagi dan kamu nggak pernah mau aku ajak ketemu.”
“Terus kenapa maksa ?”
“Aku hanya mau minta maaf lagi sebelum aku pergi, Belle. Meskipun kamu belum mau menjawab iya, setidaknya aku bisa mengucapkannya sebelum aku pergi jauh. Takut aja kalau aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengucapkan maaf sama kamu.”
Annabelle mendongak, menatap Alden dengan alis menaut.
“Aku akan pergi ke Jerman dan menetap sementara di sana. Rencana awalnya hanya 6 bulan, tapi belum tahu bagaimana perkembangannya. Setidaknya aku bisa ketemu kamu sekali lagi sebelum pergi jauh.”
Annabelle membuang muka, tidak sanggup melihat senyuman Alden. Ada rasa tidak nyaman setiap kali Alden mengucapkan kata pergi jauh.
Namun Annabelle tidak ingin terlihat lemah di hadapan Alden, apalagi seperti memberi harapan.
“Udah kan ? Cuma mau ngomong begitu aja ?”
Alden kembali tertawa kikuk mendengar pertanyaan Annabelle. Pria itu mengusap tengkuknya.
“Mau ngomong aku mencintaimu juga sih, Belle.”
__ADS_1
“Apa kamu tidak bisa lagi memahami Bahasa Indonesia ? Stop bicara cinta karena sudah tidak ada yang tersisa di dalam hatiku !”
Annabelle mendengus kesal dan membalikkan badan hendak meninggalkan Alden.
“Belle, bisa ikut aku ke parkiran kampus sebentar ?” pinta Alden sambil menahan lengan Annabelle.
“Mau ngapain lagi ?” ketus Annabelle.
“Sebentar aja, Belle.”
“Lepasin tangan kamu, aku masih bisa jalan sendiri dan tahu dimana parkiran.”
Alden tersenyum dan melepaskan tangannya, berjalan di belakang Annabelle sambil senyum-senyum. Hatinya berharap Annabelle akan terharu menerima rangkaian bunga darinya.
Annabelle mempercepat langkahnya membuat jarak mereka sedikit berjauhan, namun tidak masalah untuk Alden yang sudah terlanjur senang karena Annabelle menuruti permintaannya.
Senyum Alden terputus saat melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mulai bergerak dan matanya langsung beralih pada Annabelle yang berjarak 5 langkah darinya.
“Annabelle !” pekik Alden sambil berlari mengejar Annabelle dan mendorong tubuh gadis itu hingga akhirnya Alden lah yang ditabrak oleh mobil itu.
Sisi yang baru saja keluar dari cafe dengan 2 gelas minuman langsung memekik melihat kejadian itu dan reflek melempar 2 gelas minumannya.
Tubuh Alden melayang dan terlempar ke arah belakang mobil.
“Jangan biarkan sopirnya kabur !” teriak Sisi yang langsung ditanggapi oleh mahasiswa yang ada di sekitar situ.
Mobil itu langsung dihadang dan dua orang mahasiswa memaksa sopir membuka pintunya.
Annabelle yang tersungkur langsung dibantu berdiri oleh beberapa mahasiswa dan Sisi pun mendekatinya.
“Elo nggak apa-apa ?”
“Alden,” desis Annabelle.
Kedua gadis itu terkejut saat melewati mobil dan mendapati Sarah sedang dipaksa keluar dari dalam mobil.
“Wanita gila !” bentak Sisi.
Annabelle mengabaikan urusannya dengan Sarah dan berlari mendekati Alden yang terkapar di jalan dengan kepala berdarah.
“Tolong panggilkan ambulans,” pinta Annabelle yang langsung bersimpuh di sebelah Alden dan mengangkat kepala pria itu ke atas pangkuannya.
“Alden,” Annabelle mulai menangis dan menyentuh bagian belakang kepala Alden yang masih mehgeluarkan darah.
Alden membuka matanya sejenak dan tersenyum pada Annabelle.
“Bertahanlah Den, jangan menyerah,” pinta Annabelle di sela isak tangisnya.
Sisi yang baru mendekat menutup mulutnya melihat kondisi Alden.
Tangannya langsung mengambil handphone dan menghubungi Raka, mengabarkan soal kejadian yang dialami Alden termasuk masalah Sarah yang menjadi penabraknya.
Annabelle masih terus menangis saat petugas membawa Alden masuk ke dalam ambulans.
“Belle,” Sisi menahan tangan Annabelle saat sahabatnya ingin masuk ke dalam ambulans.
__ADS_1
“Rumah Sakit Pratama, Belle. Tim dokter di sana sudah disiapkan untuk menangani Alden.”
Annabelle hanya mengangguk dan duduk di samping Alden yang sudah tidak sadarkan diri.