
Terlihat Sarah Belle menghela nafas berkali-kali mengikuti langkah Alden yang menggandeng tangannya masuk ke gedung Hutama Grup.
Sudah lima hari ini Alden mengajaknya ke kantor dan memberikan aktivitas baru untuk Sarah Belle menjadi asisten pribadinya melebihi tugas Raka dan sesekali membantu Tami menggantikan Annabelle.
“Apa Reyhan masih sering menghubungimu ?” tanya Alden saat keduanya sudah berada dalam lift khusus.
“Masih,” sahut Sarah Belle dengan ketus.
Dua minggu terakhir ini, Sarah Belle benar-benar menjadi tahanan Alden. Apalagi sejak Alden mendapati handphone lain milik Sarah yang diberikan oleh Reyhan. Alden sempat emosi saat membaca kata-kata rayuan yang dikirimkan Reyhan lewat aplikasi pesan untuk Sarah.
Alden langsung meminta bantuan Daddy Wira untuk bicara dengan Peter Gilang kalau Sarah akan berhenti menjadi pengacara karena ingin fokus pada pengobatan amnesianya sampai kembali normal.
Entah hanya basa basi atau terikat dengan ancaman Sarah, Peter Gilang bilang pada Daddy Wira kalau ia tidak menganggap Sarah mengundurkan diri tetapi hanya cuti kerja. Saat ingatan Sarah pulih, Peter Gilang bersedia menerima Sarah kembali bekerja apabila Alden mengijinkan dan Sarah masih berminat jadi pengacara.
“Sejauh mana hubunganmu dengan Reyhan ?” Alden merubah posisinya berhadapan dengan Sarah Belle hingga hembusan nafasnya langsung terasa hangat di wajah Sarah Belle.
Jiwa Annabelle langsung bereaksi. Debar jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Wangi tubuh Alden membuat Annabelle ingin memeluk pria di depannya dan tidak akan melepaskannya.
“Apa dia ayah dari anakmu itu ?” bisikan Alden persis di telinga Sarah Belle membuat mata wanita itu langsung membelalak.
Apa sebetulnya Alden sudah tahu tentang hubungan Reyhan dan Sarah ? Batin Annabelle.
“Kenapa kamu tanyakan lagi soal itu ? Bukankah kamu bilang kalau itu semua akan menjadi bagian masa laluku yang tidak perlu diingat lagi ?”
Mata Sarah Belle kembali membola, tidak menyangka bibirnya bisa mengucapkan kalimat seperti itu pada Alden.
Alden hanya tertawa sumbang. Entah apa maksudnya tapi kepala Sarah Belle langsung sakit. Hatinya berdebar saat Alden di dekatnya namun pikirannya langsung tegang saat mendengar Alden menebak soal pria yang menghamili Sarah.
“Sayang, kamu kenapa ?” tanya Alden dengan nada khawatir saat melihat Sarah Belle memegang kepalanya.
Sarah Belle terdiam, tidak menjawab apapun bahkan saat Alden menuntunnya keluar dari lift.
“Sarah sayang, kamu kenapa ?” Alden memegang kedua bahu Sarah Belle.
Alden bisa melihat kalau wanita di depannya ini bukan sedang berpura-pura karena tetesan keringat mulai keluar di bagian pelipisnya.
Sarah Belle merapatkan tubuhnya ke dinding, lalu berjongkok sambil memegang kepalanya.
“Aku panggilkan dokter,” ujar Alden sambil ikut berjongkok dan mengeluarkan handphone dari saku celananya.
“Tidak usah,” Sarah Belle menahan tangan Alden yang hendak menekan tombol di layar handphonenya.
“Tapi Sarah…”
“Ini akan sering terjadi kalau ada satu peristiwa yang membuatku teringat sesuatu. Yudha juga bilang tidak ada obatnya, aku hanya perlu menenangkan hati dan pikiranku sendiri,” ujar Sarah Belle menjelaskan.
__ADS_1
“Kalau saja dia tidak mengajakmu pergi malam itu, semua ini tidak akan terjadi,” geram Alden dengan rahang mengeras.
Sarah Belle yang sudah lebih baik menatap Alden dengan wajah sendu.
Kalau kecelakaan itu terjadi, tidak akan ada yang tahu kalau Sarah sedang hamil kecuali Reyhan. Dan kamu akan terjebak dalam permainan mereka, batin Annabelle dengan perasaan sedih.
Perlahan Sarah Belle bangun dibantu oleh Alden.
“Apa perlu aku gendong sampai ruanganku ?” Alden mencoba mencairkan suasana yang berubah tegang. Raut wajah Sarah Belle berubah ketus.
“Tidak usah, keadaanku sudah lebih baik.”
Sarah Belle melepaskan genggaman Alden dan berjalan duluan menuju ruangan kerja Alden.
Sampai di sana terlihat Raka dan Tami sedang berbincang. Sarah Belle hanya tersenyum sambil menganggukan kepala sebagai sapaan pagi lalu berjalan menuju meja Annabelle, membuat Raka mengerutkan dahinya.
Lima hari ini Sarah pasti langsung masuk ruangan Alden saat tiba di kantor, bukan ke meja Annabelle.
Raka langsung menatap Alden dan bertanya dengan bahasa isyarat yang dijawab Alden dengan mengangkat kedua bahunya.
Sarah Belle langsung menyalakan komputer sementara Raka masuk ke dalam ruangan Alden sambil membawa tab. Pekerjaan rutin setiap pagi yang dilakukan Raka adalah membacakan jadwal Alden untuk hari ini.
“Sepertinya ada perang dingin di pagi hari,” ledek Raka saat posisinya sudah di depan meja Alden.
“Jangan kepo !” sahut Alden sambil membuka laptopnya dan menyalakannya.
“Kepala Sarah masih suka sakit mendadak,” ujar Alden melirik sekilas ke Raka yang sudah duduk di depannya.
“Yudha nggak bisa obatin ?”
“Sarah bilang nggak ada obatnya karena itu salah satu reaksi pasien amnesia kalau sedang mengingat sesuatu..”
“Ya udah kalau begitu, yang penting elo harus belajar sabar,” nasehat Raka.
“Elo belum tahu apa yang dibicarakan Sarah sama tuh cewek sampai Sarah mau diajak keluar sama dia ?”
“Belum,” sahut Raka sambil menggeleng.
”Berani-beraninya dia datang ke tempat Sarah dengan alasan mau minta tandatangan gue segala,” geram Alden.
“Jangan terlalu berpikiran buruk dulu, Bro. Sarah bukan tipe cewek yang gampang dibujuk. Kalau sampai dia mau pergi sama Annabelle dan meminta elo menunda kedatangan ke apaetemennya, berarti ada sesuatu yang penting.”
“Pasti rekaman yang ada di komputernya dipakai untuk mengancam Sarah !” wajah Alden terlihat emosi.
“Rekaman itu cuma sepenggal percakapan Sarah dengan siapa juga nggak ada yang tahu, bahkan gue yakin Annabelle juga nggak tahu. Yang perlu elo pertanyakan kalau memang gara-gara rekaman itu Sarah nurut sama Belle, berarti ada sesuatu yang membuat Sarah terancam. Bukan nggak mungkin kalau ini semua berkaitan dengan kehamilan Sarah dan hubunganya dengan Reyhan.”
__ADS_1
Aden terdiam dan menghela nafas panjang dan dalam.
“Carilah tahu kebenaran dari sisi Sarah, jangan hanya fokus pada rasa tidak suka elo pada Annabelle. Satu hal postif yang elo dapatkan dari keberanian Annabelle mendatangi apartemen Sarah hingga kecelakaan itu terjadi adalah terbongkarnya kehamilan Sarah yang sudah pasti bukan benih elo, Al,” ujar Raka menatap tajam sahabatnya.
“Itu kan tugas yang udah gue serahkan sama elo,” sahut Alden.
“Gue memang mencari tahu lewat fakta-fakta yang ada. Akan lebih gampang lagi kalau elo mencari cara untuk membuat Sarah bercerita langsung soal kejadian malam itu. Soal apa yang dilakukan Annabelle di dalam apartemen Sarah dan percakapan mereka. Firasat gue bilang kalau Sarah nggak lupa sama sekali soal itu.”
Alden hanya terdiam dan tatapannya fokus ke arah laptop sementara pikirannya mempertimbangkan ucapan Raka
**
Sementara di luar ruangan, Tami yang melihat wajah jutek Sarah Belle langsung mendekati asistennya yang berwujud Sarah itu.
“Kenapa muka ditekuk begitu ? Memangnya Pak Alden melarang kamu apalagi ?”
Sarah Belle menghela nafas dan menatap Tami dengan rasa sedih yang dipendamnya.
“Alden melakukan semua ini buat Sarah, bukan untuk Annabelle, Mbak. Semakin hari cinta Alden terlihat semakin besar pada Sarah dan saya nggak yakin bisa membuat Annabelle hidup lagi dengan cinta Alden. Dan hati saya sebagai Annabelle bertambah sakit setiap kali Alden mengungkit kembali soal penyesalannya akan kelakukan saya yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi sampai Sarah harus menderita amnesia.”
“Jadi ceritanya cemburu nih ?” ledek Tami sambil terkekeh.
“Mana boleh cemburu, Mbak. Saya ini kan cuma toxic. Alden sempat cerita kalau Sarah lah yang menyebut saya toxic-nya Alden sampai cowok labil itu ikut-ikutan menyebut saya toxic.”
“Tapi nada kamu itu persis seperti kekasih yang lagi cemburu,” Tami masih tertawa menggoda Annabelle.
“Kayaknya sedikit sih cemburu, Mbak,” Sarah Belle tertawa getir. “Tapi nggak ada gunanya juga.”
“Kenapa kamu nggak bilang aja kalau di dalam tubuh Sarah ini ada jiwa Annabelle. Sama seperti waktu kamu meyakinkanku kalau kamu itu adalah Annabelle, kamu ungkapkan juga cerita-cerita yang hanya diketahui oleh kamu dan Pak Alden.”
“Itu salah satu pantangannya, Mbak,” sahut Annabelle dengan wajah sendu.
“Sepertinya kamu nggak pernah cerita kalau wanita yang menemuimu di rumah sakit bilang begitu.”
“Saya juga baru mendapat pesan itu beberapa minggu lalu, tidak lama setelah Reyhan memberikan handphone untuk Sarah. Satu nomor yang sama mengirim pesan yang sama ke dua nomor milik saya. Isinya sama juga, melarang saya membuka identitas saya pada Alden dan Reyhan.”
“Yakin kamu ? Aku kok merinding mendengarnya.” Terlihat Tami menggidikan bahunya dan menyentuh punduknya sendiri.
“Yakin, Mbak. Pesannya dikirim bersamaan dan pas saya mencoba menghubungi nomor itu ternyata langsung tidak aktif.”
“Belle, kamu membuat aku benar-benar takut,” Tami kembali bergidik. “Sepertinya diam-diam ada yang mengawasi kamu namun tidak kasat mata.”
“Kalau soal itu mungkin banget, Mbak, karena kondisi saya dan Sarah di luar nalar manusia. Tubuh dan jiwa yang berbeda menjalani satu kehidupan yang sama.”
“Bersabarlah Belle, pasti ada tujuan lain kenapa situasi hidupmu dan Sarah jadi begini,” Tami tersenyum, berusaha membuat suasana hati Annabelle lebih baik.
__ADS_1
“Terima kasih karena sudah mau percaya pada saya, Mbak Tami,” akhirnya Sarah Belle tersenyum juga.
Sarah Belle kembali menarik nafas. Sudah hampir separuh waktunya berlalu dan sekarang Annabelle malah terjebak di dalam aturan yang Alden buat.