Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Aksi Alden di Hari ke-99 (Flashback)


__ADS_3

“Udah dapat password apartemen Reyhan ?” Alden memastikan pada Raka.


 


Hari ini Alden sengaja berangkat lebih pagi, tidak bersama dengan daddy Wira ke kantor. Alden ingin memberikan kesan kalau dirinya tidak peduli dengan 100 hari yang diminta Sarah.


 


“Sudah, dan sudah dicoba beberapa kali. Masalah CCTV di sekitar apartemen juga sudah ditangani oleh tim-nya Evan. Tapi Al, kalau sampai ketahuan, tim Evan akan lepas tangan karena mereka tidak ingin MegaCyber terseret dalam kasus kriminal.”


 


“Gue ngerti, semua resiko ada di tangan gue. Bahkan elo pun tidak akan gue biarkan kebawa-bawa kalau sampai ketahuan dan dilaporkan ke polisi.”


 


“Sebetulnya buat apa elo repot-repot membawa Sarah ke apartemennya Reyhan ? Bukannya elo sudah memutuskan untuk menikahi Sarah ? Kalau sampai elo taruh Sarah di apartemen Reyhan, gue yakin cowok itu nggak bakal melepaskannya lagi. Sama aja elo membawa Sarah ke kandang singa dan kali ini gue yakin Reyhan akan melakukannya bukan karena masalah cinta dan obsesi tapi lebih ke perasaan marah dan dendam.”


 


“itu urusan mereka berdua,” Alden tersenyum smirk membuat Raka mengerutkan dahinya,


 


“Gue benar-benar nggak mengerti jalan pikiran elo, Al. Selama ini elo ngotot akan menjadikan Sarah istri elo meskipun tahu kalau perbuatan Sarah benar-benar gila. Setelah berhasil menjebak Tuan Peter, dia juga menjerat Reyhan dan sekarang elo korban ketiganya. Itupun yang ketahuan, entah berapa banyak lelaki hidung belang yang udah jadi mangsanya.”


 


“Biar aja, setelah besok, masalah Sarah bukan lagi urusan gue.”


 


“Al, elo benar-benar gila, ya ! Masih ada waktu untuk membatalkan rencana gila elo ini. Gue nggak setuju kalau Sarah dibawa ke apartemen Reyhan sementara elo sudah memastikan kalau dia bakal jadi istri elo !”


 


“Bukan Sarah yang gue pastikan jadi istri gue, tapi Annabelle yang sedang ada di dalam tubuh Sarah. Selama ini gue nggak pernah menyebut nama Sarah yang akan menjadi istri gue, tapi hanya kata “dia” yang gue pakai dan itu mengacu pada jiwa Annabelle, bukan fisik Sarah.”


 


“Dasar gila ! Elo menyesal karena sudah bersikap jahat pada Annabelle sampai pandangan mata elo melihat Sarah sebagai Annabelle ?” ledek Raka sambil tersenyum mengejek.


 


“Apa elo nggak merasa kalau kelakuan Sarah lebih mirip Annabelle daripada Sarah ?” suara Alden mulai meninggi.


 


“Mana mungkin hal itu bisa terjadi, Al,” Raka masih tertawa mengejek.


 


Alden menekan tombol telepon di meja dan meminta Tami masuk ke dalam ruangannya. Sama seperti Raka, Alden meminta Tami juga datang lebih awal pagi ini.


 


Tidak lama Tami masuk dan duduk di sebelah Raka, berhadapan dengan Alden di meja kerjanya.


 


“Ceritakan pada Raka soal jiwa Annabelle yang ada di dalam tubuh Sarah. Saya tahu kalau selama ini kamu sudah tahu dan percaya kalau Annabelle-lah yang kamu ajak bicara, bukan Sarah.”


 


Tami tampak terkejut, tidak menyangka kalau Alden sudah mengetahui soal rahasianya yang mengetahui soal jiwa Annabelle yange berdiam di tubuhSarah.


 


Akhirnya Tami menceritakan bagaimana awal mulanya Annabelle menemuinya sebagai Sarah dan bagaimana Sarah bisa membuktikan kalau dirinya adalah Annabelle.


 


“Benar-benar nggak logis !” protes Raka.


 


“Bukan masalah logis dan tidak logis yang harus diselesaikan saat ini. Besok adalah hari ke-100 sesuai dengan permintaan Sarah. Gue nggak mau terjadi apapun pada Annabelle saat Sarah kembali menjadi dirinya sendiri, karena itu gue mengatur semua rencana ini. Setelah Annabelle dinyatakan baik-baik saja oleh dokter, bawa Sarah ke apartemen Reyhan. Urusan mereka belum selesai, akan lebih aman kalau Sarah ada di sana.”


 


“Kamu kenapa senyum-senyum ?” Raka melirik Tami yang terlihat menundukkan kepala sambil tersenyum.


 

__ADS_1


“Saya senang Pak Alden akhirnya menyebut nama Annabelle dengan benar, selama ini Pak Alden tidak lagi menyebut Annabelle hanya dengan istilah dia, si culun, toxic.”


 


“Senjata makan tuan namanya, Tam. Saya udah pernah bilang kalau saya akan jadi orang pertama yang tertawa paling keras kalau sampai pria songong ini jatuh cinta sama si culun,” Raka mencibir lalu terbahak.


 


“Penting banget apa tertawa bahagia di saat orang lain tegang begini ?” sungut Alden.


 


“Memangnya kenapa lagi ? Bukannya tinggal menunggu Annabelle bangun lagi di hari ke-100 ? Elo bilang kan Sarah minta waktu 100 hari ?”


 


Raka dan Tami sama-sama mengerutkan dahi, menunggu penjelasan Alden.


 


“Belum pasti,” sahut Alden dengan nada khawatir.


 


 “Maksudnya ?”


 


“Berdasarkan cerita Annabelle, dia bisa hidup kembali kalau gue bisa mencintainya dengan tulus. Masalahnya….”


 


“Kenapa ? Elo nggak cinta sama Belle, cuma kasihan sama dia doang ? Kalau memang begitu ya pasrah aja, cinta kan nggak bisa dipaksakan,” nasehat Raka,


 


“Nggak tahu mulai kapan gue suka sama Annabelle, gue mulai cemburu saat dia terlalu dekat dengan Yudha dan rasanya nggak rela kalau jiwa Annabelle nggak bisa kembali ke raganya lagi. Tapi gue nggak tahu apakah rasa cinta gue cukup untuk membuat Annabelle bangun kembali,” lirih Alden dengan wajah sendu.


 


Tami dan Raka spontan saling bertatapan dan beberapa detik kemudian keduanya tertawa, hanya saja tawa Raka lebih kencang daripada Tami yang masih mencoba menahannya.


 


“Ya ampun Alden, baru kali ini gue melihat elo melow gara-gara perempuan. Bahkan perselingkuhan Sarah sampai punya anak nggak membuat elo sedih begini. Gue yakin kalau Tuhan pengertian banget. Melihat tampang elo khawatir begini, gue dan Tami yakin kalau Annabelle bisa hidup kembali dalam tubuhnya.”


 


 


“True love kiss,” ledek Raka.


 


Alden terdiam dan memijat pelipisnya, tidak marah diledek oleh Raka dan Tami, bahkan sampai menertawakannya.


 


“Sepertinya ide kalian patut dicoba,” tegas Alden dengan wajah bersemangat.


 


Raka dan Tami langsung menghentikan tawa mereka dan melongo menatap Alden yang senyum-senyum bahagia. Belum pernah pria sok jaim, sok cool dan songong yang jadi boss mereka bersikap seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.


 


Benar-benar senjata makan tuan. Dari benci akhirnya jadi benar-benar cinta dan sebentar lagi jadi bucin alias budak cinta, batin Raka.


 


 🍀🍀🍀


 


Jam 2 siang, Alden sudah menunggu di café yang ada di rumah sakit, Hatinya mulai panas mendengar gombalan Yudha yang terus menyatakan cinta pada Annabelle.


Alden bahkan tidak ingin menyebut sebagai Sarah Belle, tapi Annabelle lah yang menjadi fokusnya saat ini.


 


Untung saja Annabelle tidak melepaskan anting yang belum lama diberikan oleh Alden, padahal sebelum pergi tadi, Sarah Belle sengaja tidak membawa apa-apa kecuali handphone dan beberapa lembar uang tunai. Semua kartu pemberian Alden ditinggalkan di kamarnya.


Annabelle tidak mau saat Sarah sudah kembali menjadi dirinya sendiri, wanita itu mendapatkan pemberian Alden untuk Sarah Belle.

__ADS_1


 


Tidak ingin jiwa Annabelle kenapa-napa, Alden sudah mengatur membuat Sarah pingsan. Akan lebih baik kalau tubuh Sarah belum sadarkan diri saat jiwa Annabelle kembali ke raganya.


Tami yang awalnya tidak dilibatkan memaksa ingin ikut juga dalam aksi penyelamatan jiwa Annabelle. Kedekatannya dengan gadis itu membuat Tami benar-benar berharap Annabelle bisa kembali hidup.


 


Tami berperan sebagai pengunjung yang menemukan Sarah pingsan di dekat pintu toilet setelah dibius oleh orang suruhan Raka dan berteriak minta tolong hingga akhirnya 2 orang suruhan Raka yang sudah menyiapkan brankar membawa tubuh Sarah ke kamar yang sudah disiapkan Alden.


 


Setelah urusan Sarah selesai, Alden pun menunggu di depan ruang ICU, bingung harus melakukan apa pada tubuh Annabelle. Hatinya berdebar dan tanpa sadar berdoa semoga jiwa Annabelle bisa kembali ke raganya. Alden tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan kepadanya.


 


Jam 11 malam, Alden yang sempat terlelap di kursi ruang tunggu depan ICU terbangun saat mendengar derap langkah tergesa menuju ruang ICU. Pikiran buruk langsung memenuhi benaknya dan jantungnya berdegup tidak karuan.


 


Alden pun mendekati pintu ruang ICU dan tubuhnya menegang saat melihat dua orang dokter dibantu dua orang perawat sedang memusatkan perhatian mereka pada Annabelle. Monitor pasien menunjukkan kondisi yang tidak baik.


 


Meskipun dilarang, Alden tetap mendekat, meminta ijin supaya boleh membisikkan sesuatu di telinga Annabelle. Wajahnya tampak sedih dan raut kecemasan terlihat dari tatapannya membuat dokter senior itu memberikan kesempatan untuk Alden.


 


“Aku mencintaimu, Belle. Maafkan karena selama ini aku lebih memilih gengsi dan membohongi hatiku kalau sejak dulu kamulah yang memberi warna dalam hidupku. Aku tidak pernah bisa melupakan manik matamu saat pertama kamu menatap dalam gendonganku. Tetaplah menjadi warna dalam hidupku, Belle. Bukan cintaku yang bisa membuatmu hidup kembali, tapi cintamu lah yang memberiku hidup, Belle.


Ketulusan cintamu membuat aku masih bisa menghirup nafas hingga detik ini, kamulah yang menggantikan aku untuk menerima semua rencana busuk Sarah. Kembalilah padaku, Belle dan tetaplah menjadi warna dalam hidupku.”


 


Alden meneteskan air mata dan perlahan mencium bibir Annabelle hingga beberapa saat. Tangannya membelai wajah Annabelle yang terlihat cantik tanpa kacamata kayunya.


 


Ingatannya kembali pada 21 tahun yang lalu saat Alden diajak membesuk Tante Mira yang baru saja melahirkan seorang anak perempuan. Mommy Lanny lah yang memberikan nama untuk bayi mungil itu. Annabelle.


 


Alden, yang saat itu berusia 8 tahun, diberikan kesempatan untuk menggendong bayi berbobot 3 kg itu dalam posisi duduk. Bayi mungil itu menggeliat dan membuka matanya, menatap Alden yang langsung takjub melihatnya. Bayi itu tersenyum membuat Alden ikut tersenyum sambil terpesona dengan tatapan bayi Annabelle.


 


Para dokter dan perawat menarik nafas lega saat kondisi Annabelle kembali stabil, bahkan terlihat pergerakan di jemari tangan dan kakinya. Tidak lama dokter menyatakan kalau kondisi Annabelle sudah membaik dan tidak memerlukan alat bantu untuk membuatnya tetap hidup. Tapi semuanya masih menunggu hingga besok pagi sebelum Annabelle dipindahkan ke kamar biasa.


 


“Bawa Sarah sekarang juga,”  Alden langsung menghubungi Raka lewat handphone begitu keluar dari ruang ICU.


 


“Jadi Annabelle sudah sadar, Al ?”


 


“Belum, tapi hidupnya tidak lagi tergantung pada alat-alat bantu dan kalau besok pagi sudah lebih baik lagi, Annabelle boleh pindah ke ruang rawat biasa.”


 


“Syukurlah, Al. Gue akan membawa Sarah sekarang juga ke apartemen Reyhan.”


 


Alden langsung tersenyum dan tangannya mengetik pesan memberi kabar baik ini kepada orangtua Annabelle dan orangtuanya sendiri.


 


 


***


 


Raka dan 2 orang suruhannya terpaksa harus bersembunyi di dapur karena pintu apartemen dibuka. Sarah yang masih tertidur karena obat bius sudah diletakkan di kamar pelayan yang ada di apartemen itu


 


Ketiganya terkejut saat melihat Reyhan lah yang datang ke apartemen itu. Untung saja pria itu tidak datang sendirian tapi dengan seorang wanita dan sepertinya keduanya dalam keadaan mabuk berat.


 

__ADS_1


Hanya hitungan menit suara de**han dan teriakan kenikmatan terdengar dari dalam kamar utama membuat ketiga pria suruhan Alden itu saling bertukar pandangan dan terkekeh.


Tidak ingin tergoda dengan kegiatan yang membangkitkan gairah itu, ketiganya bergegas meninggalkan apartemen setelah memastikan tidak meninggalkan jejak apapun di sana.


__ADS_2