
Annabelle baru saja selesai kuliah siang ini tanpa Sisi karena sahabatnya sedang magang sampai 6 bulan ke depan.
Hatinya masih kesal dengan Alden, padahal sudah 3 hari berlalu sejak kejadian di cafe. Gara-gara Alden bilang kalau Annabelle adalah calon istrinya, Jordan, pemilik cafe menolak mempekerjakan Annabelle. Padahal posisi Sisi belum ada yang menggantikan.
Kemarin Annabelle sempat datang menemui Jordan kembali dan memohon diijinkan bekerja kalau perlu di bagian dapur. Jordan menolak, dia tidak mau membuat masalah dengan Alden Hutama.
Jordan tahu siapa itu Alden Hutama. Tidak mungkin mempekerjakan calon istri pengusaha terkenal itu sebagai waiter di cafenya.
Apalagi selama mengenal Alden di bangku kuliah, Jordan tidak melihat Alden sebagai cowok yang gampang terpikat wanita. Kesehariannya dipenuhi dengan belajar dan bergaul dengan teman-teman yang mengisi waktunya lebih fokus pada kuliah.
Sebagai remaja yang hidup dari keluarga mapan, Jordan sempat berfoya-foya dan menghabiskan waktu di sana dengan mabuk-mabukan dan berganti-ganti pacar, sampai akhirnya ia bertemu dengan Alden.
Putra tunggal keluarga Hutama itu hidup biasa-biasa saja, tetap menikmati masa mudanya sebagai anak dari salah satu konglomerat ternama namun menghindari yang namanya mabuk-mabukan dan pacaran dengan sembarangan wanita.
Alden menasehati kalau dirinya dan Jordan adalah target wanita-wanita penggila harta yang siap memangsa mereka dengan berbagai cara.
Sudah begitu hati-hati, Alden masih bisa terjebakndengan Sarah. Untung saja semuanya tidak sampai membuat Alden harus terikat seumur hidup dengan Sarah
Annabelle melihat-lihat handphonenya sambil duduk di bangku taman yang ada di bagian depan kampus. Sepi juga tidak ada Sisi dan rasanya menjemukan tanpa aktivitas seperti ini.
Tidak banyak pesan yang masuk. Yudha sedang ke Surabaya menghadiri undangan untuk menjadi pembicara sekaligus dokter tamu sampai 5 hari ke depan.
Alden juga tidak lagi mengirimkan pesan rutin ke nomor Annabelle padahal sebelumnya Alden tidak pernah absen menanyakan kabar, sudah makan siang belum atau sekedar ucapan selamat malam.
Alden tidak pernah berhenti mengirimkan pesan meskipun Annabelle tidak pernah membalasnya dan akhirnya berhenti sejak 3 hari lalu setelah pertengkaran mereka di parkiran cafe.
“Hai cantik.”
Annabelle mendongak, terlihat Irfan dan Dewa berdiri di depannya. Annabelle tersenyum tipis.
“Nggak salah tuh panggilan ?” sindir Annabelle sambil tersenyum sinis.
“Iya sorry,” Irfan tersenyum dengan wajah penuh drama sambil duduk di samping Annabelle.
“Dulu gue belum sempat ke dokter mata jadi nggak bisa melihat kecantikan elo,” lanjutnya sambil tertawa.
“Basi,” sahut Annabelle masih dengan senyuman sinis. Ia pun beranjak bangun dari bangku semen yang ada di taman kampus.
“Eh mau kemana ?” Irfan menahan lengannya dan langsung ditepis oleh Annabelle.
“Sorry Fan, bukan sok jaim, tapi kita nggak cukup dekat untuk saling tahu kegiatan masing-masing. Lagipula elo sendiri kan yang merasa harga diri elo langsung jatuh kalau bergaul sama gue ? Nggak ingat elo bilang begitu di depan anak-anak yang lain pas gue nggak sengaja numpahin minuman di baju lo ?”
Annabelle tersenyum tipis dan berjalan menjauh.
Pandangannya kembali ke handphone. Sejak tadi pesannya untuk Sisi hanya centang 1 padahal ini waktunya makan siang, tidak biasanya Sisi menon-aktifkan handphonenya, bahkan saat bekerja sebagai waiter di cafe.
Annabrelle akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah tidak ada kelas lagi.
Itu sebabnya Annabelle berniat mencari pekerjaan sampingan supaya tidak banyak waktunya yang terbuang sia-sia.
Baru sampai di gerbang kampus, handphone Annabelle berbunyi. Terlihat nama Tante Lanny di layar handphonenya.
“Iya Mom,” sapa Annabelle saat mengangkat telepon.
__ADS_1
Sejak sadar dari koma, Nyonya Lanny memaksa Annabelle memanggilnya mommy, tidak boleh lagi tante.
“Sudah selesai kuliah ? Bisa datang ke rumah. Alden lagi ke Jerman sama daddy dan Raka, mommy sendirian di rumah.”
Annabelle ingin menolak. Sebisa mungkin ia ingin mengurangi interaksi dengan keluarga Hutama supaya Alden tidak salah paham dan berpikir Annabelle masih mengejarnya.
“Beneran Alden nggak ada di rumah, Mom ?”
“Mommy belum bisa disogok sama Alden untuk membuat kamu kemari, biar aja dia usaha sendiri,” sahut mommy Lanny sambil tertawa.
“Ya udah, aku ke sana sekarang, Mom.”
Annabelle berjalan menuju halte yang ada di depan kampus, menunggu taksi yang lewat karena mommy Lanny melarang Annabelle naik bus.
Annabelle menautkan alis saat sebuah mobil SUV hitam berhenti di depannya. Ia mundur beberapa langkah karena posisi mobil terlalu dekat ke sisi trotoar.
“Belle.”
Annabelle melongok ke kursi penumpang belakang dari jendela yang terbuka dan matanya langsung membelalak saat melihat Sisi duduk di samping seorang pria berbadan tegap dan berpakaian hitam. Seorang lagi turun dari mobil dan menyuruh Annabelle masuk ke mobil.
“Kalian siapa ?”
Pria yang berdiri di trotoar hanya memberi isyarat supaya Annabelle masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Sisi.
Annabelle ingin menolak dan siap berteriak namun diurungkannya saat melihat sebilah pisau menempel di pinggang Sisi.
“Mana handphonemu !” perintah pria yang duduk di sebelah Sisi.
“Tolong jangan dibuang. Tidak masalah dimatikan dan dicabut sim card nya, tapi jangan dibuang.”
Annabelle mengeluarkan handphone dari tas selempangnya dan tanpa diminta, ia langsung mematikannya.
“Lepaskan baterai dan sim cardnya !”
Annabelle menurut dan memasukkan semuanya ke dalam plastik sesuai perintah pria di sebelahnya.
Nyalinya sempat ciut karena tidak tahu siapa orang-orang yang berada di mobilnya saat ini.
“Maafkan aku, Belle. Aku terpaksa memberitahu kalau foto-foto yang aku bawa ke rumah Tuan Gilang berasal darimu. Mereka mengancam akan mencelakai mama atau Fahri.”
“Nggak apa-apa, Si. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah melibatkanmu dalam urusanku.”
Annabelle menggenggam jemari Sisi untuk menenangkan hati sahabatnya. Setidaknya Annabelle sudah tahu alasannya dibawa dan yang dihadapinya antara Tuan Gilang, Reyhan atau Sarah.
****
Mommy Lanny terlihat gelisah karena sudah 3 jam Annabelle belum juga tiba di rumah keluarga Hutama dan handphonenya tidak bisa dihubungi sejak tadi.
Sepuluh menit sesudah Annabelle dibawa para pria berpakaian hitam itu, mommy Lanny sempat menghubungi Annabelle, ingin minta tolong untuk mampir ke supermarket tapi handphone Annabelle sudah tidak aktif lagi.
Khawatir dengan Annabelle yang tidak juga pulang ke rumahnya, akhirnya mommy Lanny menghubungi suaminya. Hingga panggilan ketiga handphonenya tidak juga diangkat.
Kalau saja Juan tidak ikut ke Berlin bersama Alden, Tuan Wira dan Raka, sudah pasti Nyonya Lanny akan langsung menghubungi orang kepercayaan keluarga Hutama itu.
__ADS_1
“Ya Mom,” Nyonya Lanny bernafas lega saat Alden mengangkat handphonenya.
“Kamu lagi bareng sama daddy ?”
“Iya, daddy ada di sebelahku, momny mau bicara ?”
“Tidak usah, tidak masalah bicara denganmu. Soal Annabelle.”
“ Ada masalah apa dengan Belle, Mom ?” suara Alden terdengar khawatir.
Mommy Lanny pun menceritakan soal rencananya meminta Annabelle datang ke rumah dan sudah 3 jam berlalu tidak ada kabar berita dadi gadis itu.
Mommy Lanny sudah menghubungi mama Mira yang langsung menghubungi Sisi, tapi handphone sahabat Annabelle pun mati.
“Mommy tenang dulu, Om Juan sudah menyuruh anak buahnya melacak keberadaan Annabelle. Daddy juga sudah meminta Reno langsung bergerak. Terakhir Mommy bilang Annabelle ada di kampus, kan ?”
“Iya, tadi Mommy telepon, Belle bilang dia ada di kampus.”
“Daddy mau bicara sama Mommy.”
Alden menyerahkan handphonenya pada daddy Wira lalu menghampiri Raka dan Juan untuk mengatur pencarian Annabelle.
“Gue udah hubungin Yudha dan dia bilang terakhir kontak dengan Annabelle 2 hari lalu sebelum berangkat ke Surabaya. Sekarang Yudha masih di sana sampai lusa.”
“Om Juan, minta tolong Reno pastikan keberadaan Sarah, jangan sampai dia yang merencanakan semua ini. Terakhir kali bertemu denganku, Sarah masih menyalahkan Annabelle soal kecelakaannya.”
Om Juan mengangguk dan langsung melakukan panggilan telepon.
“Nyesel gue mencabut semua alat pelacak yang ada di handphone Annabelle saat dia jadi Sarah.”
“Tenang dulu, Bro,” Raka menepuk bahu Alden. “Tim Om Juan adalah orang-orang terlatih yang bisa diandalkan, lagipula Annabelle juga gadis yang cerdik. Kalau nggak pintar, udah lama saat dia jadi mangsa Reyhan saat masih mendiami tubuh Sarah. Yudha cerita kalau dia sudah berpesan supaya Annabelle hati-hati saat berdekatan dengan Reyhan. Sudah pasti Sarah sering melakukan hubungan suami istri makanya bisa sampai hamil.
Yudha bilang yang dipakai Reyhan memang tubuh Sarah, tapi jiwa dan perasaannya milik Annabelle jadi bisa bikin dia trauma meski nggak berhubungan langsung.”
Alden menghela nafas, ada rasa menyesal membiarkan Sarah Belle dibawa pergi oleh Reyhan selama beberapa hari.
“Elo beneran jatuh cinta sama Annabelle, Al ? Bukan terpaksa karena nggak ada pilihan, kan ?”
“Aneh pertanyaan elo,” gerutu Alden. “Mana ada ceritanya gue terpaksa milih pacar.”
“Kalau Sarah ?” ledek Raka sambil terkekeh.
“Kalau itu gue korban penipuan dan pelet,” sahut Alden sambil menatap handphonenya.
“Sh**it !” maki Alden tiba-tiba.
“Kenapa lagi ?” Raka menautkan alisnya.
“Nomor gue diblokir sama Belle,” Alden menghela nafas. “Sini pinjam handphone lo !”
Alden langsung merampas handphone yang ada di tangan Raka membuat pria itu mengomel karena kaget.
“Alden, Alden, kalau dari dulu elo mau jujur sama hati lo sendiri, bukan nggak mungkin kalau sekarang elo udah nikah dan punya anak sama Annabelle,” ledek Raka sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali,” sahut Alden sedikit emosi karena panggilan ke nomor Annabelle selalu langsung masuk ke kotak suara.