
Setelah dua hari Sarah Belle merengek dan merayu Alden, akhirnya pria itu mengijinkan Sarah untuk bertemu dengan seseorang yang diakui Sarah sebagai sahabatnya.
“Sahabat ? Di kampus ? Maksudmu sahabatmu itu masih anak kuliah ? Sejak kapan kamu punya sahabat beda usia begitu ?”
Serentetan pertanyaan Alden membuat Sarah Belle sadar kalau dia sudah bersikap sebagai Annabelle, bukan Sarah.
Namun entah kenapa Alden akhirnya mengijinkan dengan syarat Sarah Belle tetap dikawal oleh Jaka dan Dina.
Dan hari ini, Sarah Belle akan bertemu dengan sahabatnya sejak SMA hingga mereka satu kampus dan satu jurusan di peruguruan tinggi.
“Sisi,” sapa Sarah Belle yang datang belakangan.
Jaka dan Dina duduk di meja yang berbeda dan agak jauh sesuai permintaan Sarah yang menginginkan sedikit privasi dengan sahabatnya itu.
“Sisi,” Sarah Belle mengulang sapaannya.
”Mbak kenal dengan saya ? Maaf kalau saya tidak mengenali mbak,” ujar Sisi sambil mengerutkan dahi berusaha mengenali sosok wanita di depannya.
Sarah Belle langsung duduk di depan Sisi tanpa minta ijin terlebih dulu.
“Maaf, saya sedang menunggu teman saya.”
“Saya akan menjelaskan tapi bisakah kita bertukar posisi dulu ? Please,” pinta Sarah Belle dengan wajah memelas.
Meski bingung, namun Sisi menurut hingga posisinya sekarang membelakangi Jaka dan Dina.
“Tolong jangan bereaksi berlebihan setelah mendengar ucapan saya apalagi penjelasan saya.”
Sisi masih mengerutkan dahi menatap wanita di depannya.
“Ini gue Sisi, Annabelle. Tolong jangan teriak,” pinta Sarah Belle saat melihat mata Sisi langsung membelalak dan mulutnya terbuka.
“Gue akan buktikan kalau gue beneran Annabelle, tapi tolong jangan terlalu reaktif. Pasangan berpakaian hitam yang sekarang ada di belakang elo adalah pengawal gue.”
Meski mulutnya masih terbuka, Sisi mengangguk-anggukan kepalanya.
Sarah Belle pun menceritakan peristiwa yang menimpanya termasuk ketentuan hanya Alden yang bisa membuatnya kembali pada raganya dan hidup kembali. Annabelle pun bercerita soal masalah Sarah yang sedang diselidikinya saat ini.
Sarah Belle meyakinkan Sisi dengan kisah pengalaman mereka sebagai sahabat hingga akhirnya Sisi meneteskan air matanya.
“Seminggu sekali gue pasti membesuk elo dan berharap elo bisa kembali membuka mata. Melihat kedua orangtua elo begitu sedih, rasanya gue nggak tega banget, Belle. Berjuanglah Belle, elo pasti bisa hidup lagi.”
Sisi menyentuh jemari Sarah Belle yang ada di atas meja membuat Sarah Belle ingin menangis juga.
“Terima kasih karena elo udah mau percaya sama gue, Si. Karena tujuan gue ngajak elo ketemuan bukan demi ijin dari kampus, tapi gue mau minta tolong untuk menyimpan bukti tentang Sarah.”
__ADS_1
“Apapun bakal gue lakukan demi membuat elo bisa hidup lagi, Belle. Bahkan kalau perlu gue akan menemui Alden dan meminta dia…”
“Jangan Si,” Sarah Belle tertawa getir. “Satu syarat yang harus gue penuhi adalah tidak boleh membuat Alden tahu kalau jiwa gue sedang meminjam tubuh Sarah, calon istrinya. Gue mengerti alasannya. Semuanya akan membuat Alden bingung termasuk hatinya akan bertanya sebetulnya siapa yang dia cintai.”
“Terus bukti apa yang harus gue cari soal Sarah ?”
Sarah Belle mengeluarkan satu gantungan kunci berbentuk boneka pokemon kesukaan Sisi.
“Angkat gantungan kunci ini dan perlihatkan kalau elo merasa senang menerima pemberian gue ini Di dalam badannya ada diska lepas yang isinya adalah foto-foto perbuatan Sarah dan Pak Peter, ayah Reyhan. Bisa nggak elo mencetaknya untuk gue, tapi jangan di tempat cuci cetak foto karena sedikit vulgar. Tolong cetak di rumah dan jangan sampai ada satupun yang tahu soal ini.
Entah kenapa firasat gue mengatakan kalau akan ada waktunya gue memerlukan foto ini.
Kalau sampai firasat gue terbukti atau sesuatu yang tidak baik menimpa gue, tolong kirim foto-fotonya ke alamat ini.”
Sarah Belle menyodorkan satu kertas secara sembunyi-sembunyi.
“Kondisi gue saat ini susah bergerak karena Alden selalu mengawasi gue. Elo lihat sendiri kan dia sampai memberikan gue sepasang pengawal.”
“Alden cinta banget ya sama Sarah, bahkan setelah tahu Sarah mengkhianatinya sampai punya anak dengan pria lain, Alden nggak peduli. Seandainya yang dipikirkannya saat ini adalah elo dan bukan Sarah,” ujar Sisi dengan wajah sedih menatap Sarah Belle di depannya.
“Nggak apa-apa, Si. Kalau sampai waktunya habis dan Alden tidak bisa membuat gue hidup, itu artinya memang takdir gue harus begitu dan Alden bukanlah jodoh gue.
Tapi selama gue bisa memakai tubuh Sarah untuk melindungi Alden dan membuat hidupnya bisa lepas dari niat buruk Sarah, gue akan baik-baik aja.”
“Gue kangen banget sama elo, Belle. Udah hampir dua bulan gue hanya bisa melihat tubuh elo tidur terus dan nggak bisa mendengar kebawelan elo di kampus.”
Sarah Belle menghapus kedua sudut matanya yang ikitan basah. Hatinya juga menrindukan Sisi dan ingin kembali pada kehidupannya sebagai Annabelle.
“Kalau sampai gue nggak bisa balik lagi, tolong temani orangtua gue sampai mereka bisa menerima kenyataan ya, Si. Hanya elo yang gue percaya, Si dan terima kasih sekali lagi karena elo udah percaya sama gue.”
“Terus sekarang elo mau gimana, Belle ?”
“Gue nggak tahu harus gimana, Si. Alden benar-benar nggak membiarkan gue lepas dari pengamatannya sampai gue susah melanjutkan rencana gue membongkar siapa Sarah sebenarnya. Ada Yudha, psikiater Sarah Belle dan Om Juan, orang kepercayaan Om Wira yang ditugaskan untuk membantu gue, tapi sudah 2 minggu ini keduanya seperti menghilang tanpa kabar. Entah karena sibuk atau dilarang oleh Alden, Yudha hanya menanyakan kabar gue lewat wa aja, nggak ada panggilan telepon bahkan saat gue hubungi, Yudha hanya bicara sebentar terus langsung bilang sibuk.”
“Belle, apalagi yang harus gue lakukan selain mencetak foto ini ? Gue benar-benar siap melakukan apapun buat elo, Belle.”
“Gue belum ada rencana, Si. Jujur gue sempat merasa putus asa karena waktu berjalan terus dan gue justru terkurung dengan Alden. Waktu gue tinggal 50 hari lagi, Si.”
“Pasti ada jalan, Belle. Gue yakin kalau kesempatan langka dan di luar nalar ini diberikan buat elo bukan sekedar untuk menolong Alden, tapi ada rencana lain yang elo sendiri belum paham.
Dan mungkin dua minggu kebersamaan elo dengan Alden sekarang ini adalah kesempatan buat tuh cowok melihat elo sebagai Annabelle bukan Sarah.
Alden itu cowok yang pintar dan teliti. Dia pasti bisa membedakan mana kebiasaan Sarah yang udah jadi pacarnya selama 2 tahun dan mana sikap Annabelle yang sudah dikenalnya sejak elo masih bayi.”
“Semoga aja Alden bisa menyadari kalau ada sebagian diri gue yang menjadi kebiasaan baru Sarah,” ujar Sarah Belle sambil tersenyum getir.
__ADS_1
“Gue yakin kalau Alden melihatnya, Belle.”
“Gue harus balik sekarang, Si. Alarm hidup gue udah nyala,” ujar Sarah Belle sambil tertawa dan memperlihatkan layar handphonenya yang menyala dan ada nama Alden di sana.
Sarah Belle memanggil pelayan, meminta tagihan untuk dua meja.
“Gue yang bayar, Si. Ingat status gue ini calon istrinya Alden, uang bukan masalah,” ujar Sarah Belle saat melihat Sisi ingin mengeluarkan dompetnya.
“Dan gue baru tahu kalau selama ini Alden memberikan uang tunai pada Sarah, bukan ditransfer. Alden bilang sih sesuai permintaan Sarah sendiri. Gue sampai gemetar pas terima amplop dari Alden untuk pertama kalinya. Jumlahnya fantastis, bikin gue hanya bisa terkesima, padahal gaji Sarah sendiri udah gede banget. Gue sempat lihat salah satu buku tabungannya.”
Sarah Belle pun menyerahkan tiga lembar uang limapuluh ribuan dan menyuruh pelayan mengambil kembaliannya.
“Bukan sombong Si, gue hanya ingat saat gue jadi pelayan cafe dulu. Tips dari para pelanggan berarti banget buat bonus kita di akhir bulan. Mumpung sekarang posisi gue sebagai Sarah lagi kelebihan uangnya, jadi nggak ada salahnya berbagi buat orang lain,” ujar Sarah Belle menjelaskan tatapan Sisi yang langsung membulatkan matanya saat melihat Sarah Belle menyuruh pelayan mengambil kembalian yang masih ada sekitar 25 ribu.
“Jaga diri elo baik-baik, Belle,” Sisi langsung memeluk Sarah Belle yang balas memeluknya.
“Gue titip badan Annabelle dan juga keluarga gue, Si,” pinta Sarah Belle setelah mereka melepaskan pelukan. Sisi langsung mengangguk.
“Belle,” Sisi memanggil sosok Sarah sebelum mereka berpisah di depan pintu cafe. “Apa bisa kita ketemuan lagi sebelum waktu elo habis ? Apalagi kalau sampai Alden tidak berubah, itu artinya…”
“Jangan sedih dong, Si,” Sarah Belle menyentuh pipi Sisi yang kembali meneteskan air mata.
“Gue pasti akan menemui elo lagi,” ujar Sarah Belle sambil tersenyum.
Keduanya berpisah. Sisi ke arah parkiran motor sedangkan Sarah Belle beriringan dengan Dina menuju mobil dimana Jaka sudah siap di dalam mobil sebagai pengemudi.
Sarah Belle memberi kode pada Sisi untuk berjalan duluan dan mobil mereka mengikuti di belakangnya.
Baru sekitar 500 meter mobil meninggalkan parkiran cafe, Jaka menepikan mobil dan menyalakan lampu hazard.
“Ada masalah apa, Jaka ?” Sarah Belle mengerutkan dahi sambil menatap Jaka dari spion tengah.
“Mohon maaf Nona, saya…”
Belum sempat Jaka meneruskan kalimatnya matanya sudah terpejam dengan posisi kepala bersandar ke pintu.
Sarah Belle sedikit panik apalagi saat menoleh ke samping posisi Dina sama juga, tertidur dengan posisi bersandar pada pintu.
Sarah Belle memastikan kalau keduanya tertidur karena degup jantung mereka masih terlihat naik turun.
Belum sempat Sarah Belle mengambil handphone, pintu di sampingnya sudah dibuka menggunakan alat.
Dua orang pria berpakaian rapi layaknya karyawan kantoran berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, dimana salah satunya bergerak mendekati Sarah Belle.
Sarah Belle sudah bersiap-siap ingin teriak, namun gerakan pria itu lebih cepat. Mulut Sarah Belle dibekap saputangan hingga dalam hitungan detik, Sarah Belle terlelap, tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pria yang memegangi pintu melongok ke dalam dan mengambil tas tangan Sarah Belle sebelum meninggalkan Jaka dan Dina yang tertidur di dalam mobil.