
Alden sedikit kecewa saat Sarah Belle memberi kabar kalau siang ini ia tidak jadi datang ke kantor karena akan pergi bersama mommy Lanny.
“Kenapa ? Ribut lagi ?” Raka yang duduk di depan meja kerja Alden tertawa meledek.
“Sarah tidak jadi datang siang ini. Mommy mengajaknya pergi tapi nggak bilang kemana,” sahut Alden dengan wajah kecewa.
“Elo benar-benar jatuh cinta sama Sarah ?” Raka mencondongkan badan dan menelisik wajah Alden. “Kenapa gue merasa kalau perasaan elo justru bertambah cinta meski tahu seperti apa Sarah di masa lalu.”
“Kepo !” Alden mencebik. “Apa tugas elo sebagai asisten sampai harus tahu perasaan gue ? Apa salah mencintai wanita yang akan menjadi istri gue ?”
“Tapi Al…”
“Suasana hati gue lagi kurang baik, jadi tolong jangan bahas yang berat-berat.”
Alden mengangkat tangannya mencegah Raka berbicara lebih jauh lagi.
Matanya mengernyit saat melihat handphonenya, memantau pergerakan Sarah Belle.
“Telepon Jaka dan tanyakan kemana tujuan mereka sekarang ?”
Raka mengangguk dan langsung menekan nomor Jaka sementara Alden masih memantau pergerakan Sarah Belle.
“Jaka dan Dina dilarang mengikuti Sarah atas perintah Tante Lanny bahkan Om Wira menghubungi Jaka dan mengatakan kalau beliau yang akan bertanggungjawab kalau sampai elo marah.”
Alden masih diam dan memperbesar gambar di handphonenya.
“Minta sopir bawa mobil ke lobby. Ikut gue sekarang. Kita ke rumah sakit.”
“Kenapa ? Mungkin Sarah lagi menemani Tante Lanny kontrol ke rumah sakit.”
Alden tidak menyahut. Tangannya merapikan laptop dan memasukan handphone ke saku celananya lalu bergegas keluar.
Sampai di lobby, Gino, sopir kantor yang dihubungi Raka sudah siap dengan mobil Alden. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil.
“Ke…”
“Medika Griya, No,” perintah Alden.
“Tapi Al, bukannya rumah sakit itu tempat Annabelle dirawat ?” Raka menautkan alisnya.
“Jangan bilang kalau elo mau membesuk Annabelle ?”
Alden diam saja dan memandang keluar jendela membuat Raka akhirnya menutup mulut dan membiarkan Alden larut dalam pikirannya.
***
Sarah Belle dan Nyonya Lanny baru saja turun di lobby rumah sakit. Sejak sadar sebagai Sarah, Annabelle belum lagi menginjakkan kaki di tempat ini.
“Tante,” Sarah Belle memegang lengan Nyonya Lanny. Terlihat wajahnya memancarkan kekhawatiran yang begitu dalam.
“Jangan khawatir, Belle. Bersikaplah biasa saja sebagai Sarah di depan papa dan mamamu. Tante tahu kamu akan merasa sedih saat bertemu karena tidak bisa memeluk mereka sebagai Annabelle, tapi percayalah hampir semua orangtua tidak memandang anak mereka dari fisiknya tapi rasa cinta yang terdalam dan ikatan batin yang tidak pernah bisa diputus kecuali oleh kematian. Mereka akan merasakan kehangatan cinta Annabelle sekalipun mulutmu tidak bisa mengucapkan siapa dirimu sebenarnya.”
Sarah Belle mengusap kedua sudut matanya yang basah dan berusaha tersenyum supaya kedua orangtuanya tidak bertambah sedih.
Niatnya ingin bertemu Rano dan Mira membuat Sarah Belle mengikuti Nyonya Lanny masuk ke dalm lift.
“Rano, Mira,” Nyonya Lanny menyapa pasangan suami istri yang sedang duduk berbincang di kursi untuk para penunggu pasien ICU.
“Nyonya Lanny,” Mira bangun dan menganggukan kepalanya.
“Sudah berapa kali aku bilang supaya memanggilku cukup dengan namaku, Lanny, tidak usah pakai nyonya segala,” protes Nyonya Lanny yang ditanggapi dengan senyuman Mira dan Rano yang ikut berdiri.
“Ini…” Rano menunjuk seorang wanita yang berdiri di belakang Nyonya Lanny.
__ADS_1
“Ini Sarah, calon istri Alden yang sempat mengalami kecelakaan bersama Annabelle.”
Sarah Belle menganggukan kepala memberi hormat pada kedus orangtuanya yang melihatnya sebagai Sarah.
“Apa kabarnya Nona Sarah ?” Rano menganggukan kepalanya begitu juga dengan Mira yang hanya menyapanya dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Maafkan Annabelle,” ujar Mira. “Karena keteledorannya, pernikahan Nona dan tu…. maksud saya Alden, jadi tertunda.”
“Tidak masalah,” sahut Sarah Belle cepat sambil menggeleng. “Saya juga yang meminta Alden untuk mengundur pernikahan kami.”
Suasana canggung terasa di tengah-tengah pertemuan yang terasa janggal ini.
Rasanya Annabelle ingin berteriak mengatakan kalau yang ada di depan Rano dan Mira adalah Annabelle, putri sulung mereka.
“Boleh saya memeluk Ma… maksud saya Tante dan Om ?” Annabelle tidak mampu lagi menahan grejolak rindunya.
Setidaknya Annabelle akan kembali merasakan kehangatan pelukan orangtuanya meski tubuh Sarah lah yang merasakannya secara langsung.
Rano dan Mira tampak tercengang dengan permintaan calon istri Alden ini. Sejauh yang mereka tahu Sarah tidak pernah menyukai Annabelle, wanita itu akan menatap sinis putri mereka setiap kali ada kesempatan bertemu.
Kedua suami istri itu saling berpandangan kemudian menatap Nyonya Lanny yang langsung mengangguk.
Mira mendekati Sarah dan membuka kedua tangannya, siap menyambut Sarah Belle dalam pelukannya.
Dengan gerakan sedikit ragu, Sarah Belle mendekat dan memeluk Mira perlahan.
Kehangatan pelukan seorang ibu yang dirindukannya selama kurang lebih 70 hari ini membuat Sarah Belle langsung meneteskan air mata sementara tangannya memeluk erat tubuh Mira.
“Terima kasih, terima kasih karena selalu setia menunggu anak kalian bangun kembali,” lirih Sarah Belle di tengah isak tangis yang tertahan.
Setelah itu gantian Sarah Belle memeluk Rano yang benar-benar merasa canggung.
Rano yang mengenal sifat Alden sejak kecil merasa cemas saat memeluk wanita yang berstatus calon istri Alden itu. Pria itu paling tidak suka saat miliknya disentuh orang lain, apalagi wanita ini adalah calon istrinya.
Tidak ingin perasaannya makin berantakan, Sarah Belle pun melerai pelukannya dan mengusap kedua sudut matanya yang basah.
“Terima kasih juga karena Nona berkenan membesuk putri kami,”sahut Rano dengan senyum hangatnya.
“Boleh saya membesuk Annabelle ?” tanya Sarah Belle dengan wajah penuh harap.
“Tentu saja boleh,” Mira tersenyum sambil memberi isyarat akan menemani Sarah Belle masuk ke ruang ICU.
“Kebetulan saat ini adalah jam besuk,” timpal Rano.
Ditemani oleh Mira, Sarah Belle menghampiri pintu ICU sementara Nyonya Lanny menunggu di barisan kursi ditemani Rano.
Langkah Sarah Belle terhenti, debaran jantungnya berpacu lebih cepat dan mendadak telapak tangannya menjadi dingin.
“Bisa tunggu sebentar, Tante ?” pinta Sarah Belle sambil menyentuh siku Mira.
“Tentu,” Mira mengangguk dan menghentikan langkahnya. “Kenapa tangan Nona mendadak dingin ?”
Mira menyentuh jemari Sarah Belle yang masih memegangi sikunya.
“Kalau memang Nona masih trauma dengan ruang ICU, besok-besok bisa kembali lagi kemari jika ingin membesuk putri kami.”
Sarah Belle bergeming. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti saat ingatan Sarah beradu dengan jiwa Annabelle.
“Nona, anda kenapa ?” Mira terlihat panik dan memegangi Sarah Belle yang memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Pa !” Mira memanggil Rano yang sedang berbincang dengan Nyonya Lanny supaya mendekat ke arah mereka.
Keduanya kaget melihat Sarah Belle yang sudah berlutut sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
“Belle,” Nyonya Lanny yang panik tidak sadar telah memanggil Sarah dengan sebutan Belle, untung saja Rano dan Mira tidak ada yang sadar dengan ucapan Nyonya Lanny.
“Apa yang terjadi ?” suara galak Alden tiba-tiba terdengar mendekati mereka.
Tidak jauh terlihat Raka menyusul Alden yang sudah lebih dulu berlari saat melihat mommy Lanny mendekati Sarah Belle.
“Apa yang kalian lakukan pada Sarah ?” bentak Alden menatap Rano dan Mira dengan marah.
“Alden !” bentak mommy Lanny sambil menepuk bahu putranya. “Tadi Sarah ingin membesuk Annabelle, belum sampai pintu ruang ICU tiba-tiba kepalanya sakit tanpa kami tahu kenapa.”
Alden langsung mengangkat tubuh Sarah dalam gendongannya.
“Cepat minta dipanggilkan dokter !” perintah Alden pada Raka.
Beberapa perawat yang melihat kejadian itu langsung menyuruh Alden membawa Sarah ke salah satu ruangan dengan tempat tidur pasien sementara perawat lainnya langsung membantu Raka mencarikan dokter.
Sarah Belle siuman sekitar satu jam kemudian dan Alden bisa bernafas lega saat dokter tidak menemukan sakit apapun dalam tubuh Sarah.
“Sudah lebih baik, sayang ?” Alden membantu Sarah Belle yang berusaha bangun dari tidurnya.
“Berapa lama aku pingsan ?” Sarah Belle masih memegang kepalanya yang sekarang terasa pusing.
“Tidak lebih dari sejam,” sahut Alden sambil menggenggam jemari Sarah Belle.
“Apa yang mereka lakukan padamu ?” tanya Alden dengan nada ketus.
Sarah Belle menurunkan kakinya hingga menggantung di pinggir ranjang.
“Kenapa juga kamu harus membesuk perempuan itu ? Apa karena kamu ingin tahu apa yang membuat ia ingin mencelakaimu ?” Alden kembali bertanya dengan nada menyebalkan di telinga Sarah Belle.
“Apa yang salah dengan Annabelle ?” Sarah Belle balik bertanya dengan nada ketus. “Bukankah dokter menemukan adanya obat tidur dalam darahnya ? Dan kenapa kamu selalu enggan memanggil namanya ?”
Alden mengerutkan dahi saat mendapati Sarah Belle malah marah dengan pertanyaan Alden.
“Aku mau pulang,” Sarah Belle berniat turun dari tempat tidur namun Alden menahannya.
“Kenapa mendadak ngambek begitu ? Bukankah kamu sendiri yang selalu memanggilnya si culun toxic-nya Alden ? Kenapa sekarang kamu tidak suka mendengar perempuan itu dianggap toxic ?”
Wajah Alden begitu dekat dengan Sarah Belle membuat hembusan nafasnya yang wangi mint memberikan kehangatan di wajah Sarah Belle.
Sarah Belle langsung mendorong Alden supaya menjaga jarak dengannya.
“Aku mau pulang sekarang dan secepatnya membuat janji dengan Yudha,” ketus Sarah Belle sambil memakai sepatunya saat kakinya sudah menapak di lantai.
“Apa masih perlu Yudha menjadi psikiatermu ?” ada nada cemburu dalam kalimat yang diucapkan Alden.
“Aku masih membutuhkan psikiater, minimal aku bisa berbincang dengan seseorang yang rasional bukan emosional. Dan selama Yudha belum menyatakan aku sembuh, maka aku akan selalu membutuhkan psikiater,” ketus Sarah Belle sambil berjalan menuju pintu.
Sampai di luar ternyata Nyonya Lanny sudah tidak kelihatan, hanya ada Raka sedang berbincang dengan Rano dan Mira.
“Nona , anda tidak apa-apa ?” Mira langsung berjalan menghampiri Sarah Belle yang juga berjalan mendekati ketiga orang yang dikenalnya.
“Maaf karena kami tidak bermaksud untuk…”
“Jangan khawatir seperti itu Pa, Ma. Aku baik-baik saja,” Sarah Belle tersenyum dan menyentuh bahu Mira.
Ketiga orang itu tercengang saat mendengar Sarah Belle memanggil Rano dan Mira dengan sebutsn papa dan mama.
“Sarah kamu…”
Raka tidak melanjutkan ucapannya karena Alden sudah mendekati mereka sambil berdehem.
“Maaf saya harus pulang sekarang Om, Tante,” Sarah Belle tersenyum sambil menganggukan kepala yang dibalas dengan hal yang sama oleh Rano dan Mira.
__ADS_1
Mendengar Sarah Belle sudah kembali memanggil Rano dan Mira dengan panggilan Om dan Tante, ketiga orang di dekatnya menganggap kalau Sarah Belle hanya salah menyebut karena emosi.”
Tidak ingin Alden mengeluarkan kata-kata pedasnya pada kedua orangtuanya, Sarah Belle segera berbalik dan berjalan menuju lift, mengabaikan Alden yang sempat dilewatinya.