
Beberapa kali Raka memukuli setirnya sambil memaki sendiri. Handphone Alden tidak diangkat dan ia sendiri terjebak kemacetan di jalan tol karena baru saja terjadi kecelakaan tunggal.
Reno memberi kabar kalau Om Juan sudah mengirim timnya ke lokasi dan melaporkan kejadian pada pihak yang berwajib.
Hampir 2 jam akhirnya Raka sampai di lokasi, padahal normalnya hanya 1 jam 15 menit sampai 1.5 jam.
Lokasi kejadian sudah terlihat tenang, namun yang membuat Raka cemas, banyak mobil ambulans terparkir di sana dan ia sempat beberapa orang yang terluka sedang diobati.
“Tuan Raka ?” seorang pria bertubuh tinggi besar mendekatinya saat Raka baru saja turun dari mobil.
“Saya Burhan, orang Pak Juan. Tuan Alden terluka dan sedang diobati. Mari saya antar Tuan ke sana.”
Wajah Raka bertambah cemas saat mendengar berita yang disampaikan Burhan.
Dari kejauhan, ia melihat Alden sedang duduk di bagian belakang ambulans hanya mengenakan kaos putih dengan rembesan darah di bagian perutnya.
“Akhirnya elo datang juga,” Alden masih tersenyum sambil memegang perutnya.
“Tolong antar gue ke rumah sakit XX. Om Rano salah satu korban yang terluka parah dan memerlukan tindakan lebih lanjut.”
Alden beranjak bangun sambil berpegangan pada Raka dan mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya untuk diserahkan pada Burhan.
“Tolong urus mobil saya, ada di parkiran ruko depan. Saya mau ke rumah sakit dulu dengan Raka.”
“Baik Tuan.” Burhan menerima kunci mobil Alden sambil m
“Lebih baik Tuan ikut ambulans, jangan terlalu lama dalam posisi duduk dulu,” ujar seorang tenaga medis saat melihat Alden sudah siap berjalan.
“Saya sudah lebih baik.”
“Bro, nurut aja,” Raka menahan Alden yang hendak melangkah. “Lukanya berdarah lagi. Kalau elo nggak sehat bagaimana mau nolong orang lain ?”
Alden menghela nafas. Nyeri di perutnya memang terasa lumayan dan tangannya sempat terasa basah kembali. Akhirnya Alden menurut dan membiarkan petugas medis membantunya serta memeriksa kembali luka Alden.
Raka memutuskan untuk menemani Alden dan ikut dalam ambulans. Masalah mobilnya, Raka serahkan juga pada Burhan.
“Ka, tolong pastiin lagi sama Reno kalau tim dokter sudah siap di sana. Nanti gue yang tandatangan surat-suratnya sebagai penanggungjawab.
Minta tolong juga supaya Tami hubungi Tante Mira dan kasih tahu kondisi garis besarnya saja. Nanti Mommy yang akan menjemput Tante Mira dan langsung ke rumah sakit.”
Raka mengangguk dan menjalankan permintaan Alden yang terlihat mulai memejamkan mata menahan nyeri yang kembali terasa.
Sikap Alden seperti inilah yang sering membuat Raka kagum. Sebagai pimpinan, Alden selalu peduli dengan karyawan yang bekerja padanya.
Bahkan demi langgengnya hubungan Raka dan Sisi, pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMP itu rela menjalankan pekerjaan tanpa bantuan Raka.
30 menit kemudian, ambulans yang membawa Alden sampai juga di rumah sakit.
“Ka, tolong cari tahu dulu keadaan Om Rano,” pinta Alden sebelum petugas membawanya masuk ke dalam ruang IGD.
“Tenang aja, Al, elo fokus pada luka elo dulu, masalah Om Rano pasti gue beresin.”
“Tolong, Bro.”
Ternyata bukan sekedar mempersiapkan tim dokter yang dimiliki rumah sakit, daddy Wira juga mendatangkan sejumlah dokter dan menyiapkan helikopter untuk Alden dan Rano.
Luka Alden ternyata perlu dijahit karena sayatan pisau itu mengenai arterinya. Selesai mendapatkan pengobatan, Alden bersikeras menunggu Rano di depan ruang operasi.
__ADS_1
Papa Annabelle itu harus menjalani operasi karena mengalami pendarahan di bagian kepalanya akibat pukulan benda tumpul.
“Sebetulnya kejadiannya gimana, Al ?” tanya Raka yang ikut menemani.
”Biasa ada penyusup yang mencoba memprovokasi warga untuk menolak pembangunan apartemen dan mal. Padahal urusan pembebasan tanah dan ijin sudah beres semua. Sejumlah orang datang ke lokasi proyek mencoba menghentikan pekerjaan, tapi bukan hanya para pekerja tapi warga juga ikut membantu untuk mengusir mereka.
Warga merasa kalau orang-orang itu sudah sering mengganggu karena mencoba menghalangi kemajuan di daerah warga sekitar.
Para perusuh itu ternyata datang bukan dengan tangan kosong, mereka membawa senjata tajam dan bentrokan pun tidak bisa dihindari.
Pas gue datang, para preman itu berhasil menerobos dan mendekati bangunan kantor. Saat itu gue lihat kalau Om Rano berusaha melawan bersama beberapa karyawan untuk melindungi karyawan wanita yang berada dalam bangunan sementara.
Gue sempat membantu di dekat kantor sementara dan nggak lama polisi juga datang. Para preman yang panik itu semakin membabi buta, dan gue berusaha membantu Om Rano yang diserang sekitar 3 orang. Pada saat gue berhasil menghalangi orang yang berniat menusuknya, dari belakang yang lainnya memukul kepala Om Rano dengan balok dan orang yang lain lagi menusuk perutnya juga, sementara yang melukai gue langsung dibekuk sama Burhan dan teman-temannya.”
“Memangnya selama ini orangnya Om Juan nggak ditempatkan di sana, Bro ?”
“Ada sekitar 5 orang. Selama ini pembangunan juga berjalan baik. Elo lihat sendiri kan, bangunan udah berdiri sampai lantai 3 dan nggak pernah ada masalah dengan warga. Kamu pasti sudah tahu gimana cara kerja Daddy mengembangkan usahanya, kan ? Nggak bakalan dapat secara ilegal apalagi sampai merugikan orang.”
Alden menoleh saat melihat ada derap langkah mendekati mereka. Ia langsung tersenyum karena ada Annabelle ikut dengan Tante Mira dan Mommy Lanny serta Ray, adik Annabelle.
“Gimana keadaan Om Rano, Al ?” tanya mommy Lanny begitu berdiri di dekat Alden.
“Masih dioperasi, Mom. Tante,” Alden menjawab pertanyaan Mommy sekaligus menyapa Mira.
“Kamu sendiri gimana Al ?” tanya Tante Mira yang mrlihat Alden tidak terlalu baik.
“Nggak apa-apa, Tan, saya aman,” Alden tersenyum membuat Raka langsung menarik nafas panjang.
“Daddy bilang kamu…”
Alden cepat-cepat memotong ucapan Mommy karena tidak ingin yang lainnya tahu kalau ia terluka. Pakaiannya sudah diganti dengan yang bersih.
Annabelle dan Ray sudah duduk di kursi yang berseberangan dengan Alden. Kedua anak Rano dan Mira itu sama-sama tidak mau menyapa Alden meskipun mama Mira sudah menyuruhnya.
”Pulanglah dulu, Al. Kamu perlu beristirahat,” bisik Mommy Lanny dengan suara yang amat pelan.
“Mommy akan menemani keluarga Rano, Daddy juga akan sampai di sini 30 menit lagi.”
“Sebentar lagi Mom, paling tidak menunggu kepastian dari dokter soal keadaan Om Rano.”
“Kamu sudah makan, Al ?”
“Belum lapar, Mom.”
“Selalu begitu kalau sudah sibuk dengan pekerjaan.”
Alden hanya tertawa pelan dan merangkul bahu Mommy Lanny, mengajaknya duduk juga.
“Kalau begitu saya turun dulu cari makanan, Tante. Untung saja luka di perut..”
“Raka !” tegas Alden dengan suara yang ditahan, memberi isyarat pada asistennya dengan gerakan mata.
Raka tertawa pelan dan mengangguk- angguk.
“Kenapa sih pakai ditutupi segala ?” gerutu Momny Lanny.
“Biar tetap dilihat gagah Tante,” ledek Raka sambil terkekeh.
__ADS_1
“Udah sana kalau memang niat mau beliin makanan !” Alden langsung melotot melihat Raka tertawa.
“Iya boss,” ledek Raka sambil beranjak bangun.
Belum sempat Raka melangkah, pintu ruang operasi dibuka dan 4 orang dokter keluar dari sana dimana 2 di antaranya adalah dokter yang dikirim oleh Daddy Wira.
Operasi berjalan dengan baik namun kondisi Rano masih kritis. Untuk sementara belum bisa dipindah ke rumah sakit lain, menunggu masa kritis nya lewat.
Alden memejamkan mata dan reflek memegang perutnya yang kembali terasa nyeri.
Annabelle dan Ray masih menatapnya dengan sinis dan berpikir kalau sikap Alden hanya untuk mencari perhatian dan mengalihkan kekesalan mereka.
“Tolong anterin gue ke bawah lagi, Ka. Teleponin dokter Sidiq dan tanya kenapa perut gue masih sakit,” bisik Alden dengan suara yang sangat pelan.
Raka mengangguk dan mencoba memegangi tangan Alden namun pria itu menolak.
“Mom, aku turun cari makan sama Raka.”
Mommy Lanny sempat terlihat bingung tapi begitu melihat isyarat dari Alden, kepalanya langsung mengangguk.
“Alden !” panggilan Annabelle membuat langkah Alden terhenti sebelum masuk ke dalam lift.
“Bisa-bisanya kamu memikirkan diri sendiri di saat kondisi Papa seperti ini.”
Alden tidak menyahut dan tidak berbalik badan. Rasa nyeri yang ditahannya membuat keningnya mulai meneteskan peluh.
“Om Rano sudah ditangani oleh dokter-dokter terbaik pilihan Daddy,” sahut Alden datar.
“Ooo jadi kamu pikir dengan menyiapkan dokter terbaik, maka semua masalahnya sudah selesai ?”
Raka menekan tombol lift lagi yang tadi sudah tertutup kembali dan bergerak ke lantai lain.
“Sementara ini hanya itu yang bisa kami lakukan untuk Om Rano.”
“Aku sudah dengar kalau apa yang dialami Papa karena berusaha melindungimu. Melindungi anak bossnya yang sombong dan congkak !” suara Annabelle terdengar sinis.
Raka yang lebih percaya dengan cerita Alden ingin protes dengan tuduhan Annabelle namun ditahan oleh Alden sambil menggelengkan kepalanya.
“Maaf Belle, aku tidak bisa memberikan lebih dari yang sekarang. Aku permisi dulu.”
“Alden !”
Annabelle mencoba menahan Alden yang kembali berjalan masuk ke dalam lift. Pria itu tetap dalam posisi membelakangi Annabelle sampai pintu lift tertutup.
Annabelle menggeram sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia pikir Alden mulai berubah dan sikap yang ditunjukkan pria itu kadang-kadang menggoyahkan kekerasan hati Annabelle, tapi sikapnya saat ini benar-benar membuat Annabelle kecewa, marah dan kembali benci pada Alden.
“Elo kenapa nggak mau kasih tahu kondisi elo ini sama Annabelle ?”
“Nggak ada gunanya,” Alden menggeleng sambil tersenyum tipis. “Elo lihat sendiri bagaimana pikirannya kembali salah paham sama gue. Bukan waktunya berdebat karena hatinya sendiri pasti lagi kalut melihat kondisi Om Rano.”
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Belum sampai pintu lift, tubuh Alden langsung melorot dan kesadarannya menghilang.
Untung saja dokter Sidiq dan 2 orang perawat sudah menunggunya di depan pintu lift karena Raka sudah menghubunginya sejak di atas.
Bergegas tim rumah sakit membawa Alden kembali ke UGD untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Tuan Wira yang memantau terus perkembangan putranya, meminta tim dokter langsung membawa Alden ke rumah sakit milik keluarga Pratama menggunakan helikopter yang sudah disiapkna,
__ADS_1