
Sarah tidak tahu lagi harus bagaimana. Dengan bantuan Helena, sudah lima hari Sarah mencari ke setiap sudut ruangan, lemari dan laci tapi tidak bisa menemukannya.
“Helen, bisakah bantu membelikan aku handphone baru ? Aku benar-benar tidak tahu kemana barang-barangku saat kecelakaan terjadi.”
“Handphone seperti apa yang Ibu inginkan ?”
Sarah membuka internet bankingnya untuk memastikan kalau uang tabungannya tidak berkurang saat hilang ingatan. Sarah menarik nafas lega saat rekeningnya masih aman, bahkan ia sempat mengerutkan dahi saat melihat mutasi rekeningnya belum berubah, hanya ada transaksi pembayaran online tepat di hari kecelakaan.
“Dimana dompetku, Helen ?”
“Saya kurang tahu, Bu. Ibu membawa dompet dan tas yang berbeda setelah kecelakaan, bukan barang yang biasanya. Mungkin semuanya masih di apartemen. Bukankah terakhir Ibu berangkat dari apartemen ?”
“Apa kamu punya nomor handphone Alden ?”
“Pak Alden calon suami Ibu ? Saya punya, Bu.”
Helena mengeluarkan handphone dari saku blazernya dan langsung menuliskan pada secarik kertas untuk Sarah.
“Tolong belikan handphone baru segera untukku. Pembayarannya akan aku transfer setelah kamu info harganya.”
Helena mengangguk lalu keluar dari ruangan Sarahdan meminta salah satu staf yang ada di situ untuk menemaninya membeli handphone untuk Sarah.
***
“Apa yang ingin kamu bicarakan ?”
Jam 4 sore Alden bersedia menemui Sarah di salah satu cafe yang letaknya berada di tengah kota.
Sarah tidak menduga kalau Alden akan semudah itu menerima ajakannya untuk bertemu.
“Al, sebetulnya malam itu Annabelle mengancam ingin menggagalkan pernikahan kita. Tapi aku tidak percaya kalau ia sampai tega mencelakai aku.”
Wajah drama Sarah langsung membuat Alden muak, namun sebisa mungkin Alden menahannya. Handphonenya sudah dalam keadaan merekam pembicaraan mereka.
“Apa maksudmu dia ingin mencelakaimu ?”
“Malam itu Annabelle bilang kalau ia punya bukti yang bisa membuatmu berpikir ulang soal pernikahan kita. Aku mengikuti keinginannya karena ingin tahu sejauh mana usahanya ingin memisahkan kita,” wajah Sarah bertambah sedih namun tidak sedikitpun Alden merasa iba.
“Aku percaya padanya dan menuruti permintaannya untuk ikut ke suatu tempat. Aku tidak menyangka kalau si culun itu menabrakkan mobilnya untuk mencelakai aku….”
Sarah menunduk seolah-olah menahan tangjs membuat Alden tersenyum sinis melihatnya.
“Kalau memang kamu tidak berbuat salah, kenapa harus mendengarkan ancaman Annabelle ? Atau karena ia tahu soal rahasiamu yang tidak boleh aku tahu ?”
__ADS_1
“Kamu kan tahu, Honey, Annabelle itu terobsesi padamu, apalagi dia medapat dukungan dari mommy dan daddy. Pasti sulit harus menerima kenyataan kalau pada akhirnya kamu tetap memilih wanita lain untuk menjadi istrimu.”
Alden tertawa pelan dengan wajah agak sinis.
“Aku yakin Annabelle tidak sepicik itu,” sahut Alden dengan suara tegas. “Tapi kamu sendiri yang merasa ketakutan karena sedang mengandung anak Reyhan.”
Sarah langsung mendongak dengan mata membelalak. Degup jantungnya berdebar berkali-kali lipat namun sekuat tenaga ia masih berusaha menutupinya.
“Apa maksudmu, Honey ?”
“Jangan berpura-pura sedih apalagi tidak tahu apa-apa dan berhentilah memanggilku honey. Rasanya ingin muntah mendengar panggilanmu yang penuh sandiwara. Stop berakting karena kamu bukan bintang film yang sedang shooting sinetron kejar tayang.”
Alden masih tersenyum sinis dan menyodorkan satu amplop besar berwarna cokelat ke hadapan Sarah.
“Apa ini ?” Sarah mengerutkan dahi.
“Buka saja, bukankah kamu selalu suka dengan kejutan ?”
Dengan hati yang berdebar Sarah pun membuka amplop itu. Bukan hanya kertas-kertas tapi juga foto-foto. Terlihat dirinya dan Reyhan sedang berdua bahkan beberapa di antaranya terlihat Sarah sedang berjalan masuk ke lobby apartemen Reyhan.
“Bahkan sebelum Annabelle mendengar percakapanmu, aku sudah mendapatkan bukti kalau kamu berselingkuh di belakangku. Dan itu,” Alden menegaskan saat Sarah memegang selembar kertas.
“Itu adalah bukti pemeriksaaan polisi kalau kandungan obat bius yang ditemukan dalam darah Annabelle sama dengan yang terdapat pada sisa air di gelas yang ada di apartemenmu malam itu. Bahkan orang-orang suruhan daddy menemukan data darimana kamu mendapatkannya.”
“Ini semua bagian dari rencanamu untuk mendapatkan uang secara mudah setelah menjadi istriku. Awalnya alasanmu membantu Reyhan untuk menjatuhkan aku, tapi begitu melihat angka yang akan kamu dapatkan saat resmi menjadi istriku, kamu langsung gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semuanya itu.”
“Aku tidak berpikir sejauh itu, Al. Kamu pikir aku wanita yang kekurangan seperti si culun itu…” suara Sarah yang mulai meninggi mendadak bungkam saat melihat wajah Alden yang terlihat murka.
Brak !
Alden menggebrak meja membuat beberapa pengunjung dan pelayan cafe menoleh ke arah mereka. Sarah langsung menoleh ke arah laih karena merasa malu.
“Berhentilah memprovokasi aku untuk semakin membenci Annabelle. Satu hal yang aku tegaskan padamu, jangan pernah lagi menganggu hidupku, keluargaku dan terutama Annabelle. Apa yang kamu lihat hanyalah copy-nya saja. Aku masih berbaik hati untuk tildak memperpanjang masalah ini dan menyerahkannya pada polisi. Jangan harap karena kamu pengacara hebat, semua bukti yang aku punya bisa kamu sangkal dan membebaskanmu dari jeratan hukum. Aku yakin kalau Om Peter dan Reyhan tidak akan bersusah payah membantumu.”
“Alden,” Sarah menahan lengan Alden yang sudah beranjak dari kursinya.
“Aku ingin ke apartemen, mengambil barang-barangku yang ada di sana.”
“Tidak usah. Barang-barang milikmu sudah dirapikan dan langsung beritahu Raka kemana barang-barang itu akan dikirim.”
“Tapi Al…. “
“Kamu tahu persyaratan yang pernah aku sampaikan kepadamu. Bukan sekedar masalah keperawanan, tapi perselingkuhanmu bahkan sampai memiliki anak dari laki-laki lain, tidak bisa dimaafkan. Hubungan kita berakhir sejak saat itu juga.”
__ADS_1
Sarah hanya diam saat Alden menepiskan tangannya bahkan tanpa menatapnya.
Hatinya benar-benar emosi kalau ingat kecelakaan yang menimpanya.
Gadis culun itu benar-benar menghancurkan semua rencanaku yang hampir berhasil, geram Sarah sambil mengepalkan kedua tangannya.
Sarah masih belum bisa menerima kenyataan kalau bukan Annabelle yang menyebabkan Alden memutuskannya, namun dirinya sendiri yang telah menyalahgunakan kepercayaan Alden.
****
“Gue udah bilang sama Sarah soal barang-barangnya di apartemen. Tolong elo atur aja masalah pengirmannya.”
Alden langsung mengubungi Raka begitu keluar cafe menuju parkiran mobil.
“Jadi ceritanya benar-benar berakhir ? Kok cari info soal Sarah nggak nyuruh gue, malah minta tolong orang lain ?” ledek Raka
“Pusing kalau elo yang urus, kepo.”
“Langsung pindah ke Annabelle ceritanya ?”
“Kan gue bilang apa, asisten kepo.” Alden menyalakan mesin mobilnya. “Gue jalan dulu ke rumah sakit. Seminggu ke depan tolong aturin jangan sampai ada meeting pagi.”
“”Cie.. cie.. yang PDKT nih sama si culun. Besok gue sama Tami mau besuk ke rumah sakit.”
“Atur aja. Gue mau ke sana dulu. Tuh psikiater somplak malah mencoba membuat Annabelle jatuh cinta sama dia.”
“Duh yang cemburu. Si Boss kayak abege aja,” ledek Raka.
“Jangan lupa kosongin barang-barang Sarah dari apartemen, dan pastikan ada orang yang mengawasi gerak-geriknya. Kalau dari cara ngomongnya hari ini, dia masih belum bisa menerima kenyataan dan masih mengincar Annabelle.”
“Iya, nanti gue aturin. Fokus aja sana membuat Annabelle meleleh lagi sama elo atau jangan-jangan Belle udah berpaling sama Yudha.”
“Elo kira es krim gampang meleleh ? Elo itu mendoakan Annabelle sama gue apa Yudha ? Kalau memang lebih yakin sama Yudha, besok tinggal taruh surat pengunduran diri di meja gue.”
“Duh yang lagi emosi karena sedang dirmabuk cinta, bikin hati jadi terharu.”
“Jangan lebay, geli dengarnya !” Alden mengomel sementara Raka hanya tergelak.
“Gue jalan dulu, Ka. Jangan lupa pesan gue. Kalau sampai besok Sarah nggak kasih info mau dikirim kemana, lusa semua barangnya disumbangin aja.”
“Siap Boss.”
Alden menutup panggilan teleponnya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran cafe.
__ADS_1
Mobilnya sempat melewati Sarah yang sedang berjalan menuju jalan raya, membuat wanita itu menyesal karena merasa diabaikan oleh AldenZ