
Akhirnya Alden, Annabelle, Yudha dan Hana duduk satu meja. Wajah Alden terlihat paling tegang karena sejak tadi matanya hanya fokus pada Annabelle yang bermanja-manja pada Yudha.
Hana, teman sekolah kedua pria ini merasakan situasi yang sedikit aneh di antara Yudha dan Alden, seperti dua orang yang sedang bersiteru. Hana yakin kalau penyebabnya adalah gadis cantik yang duduk berhadapan dengan Alden.
“Kalian sudah lama kenal ? Pacarannya maksudku,” Hana mencoba memecah suasana canggung yang ada di antara mereka.
“Sudah.”
“Belum.”
Hana mengernyit saat mendengar jawaban berbeda dari mulut Annabelle dan Yudha.
“Maksudnya Yudha, kita belum lama pacaran tapi kenalnya sudah lama. Sejak Yudha masih abege dan aku masih unyu-unyu,” sahut Annabelle sambil terkekeh.
Helaan nafas Alden terdengar oleh ketiga orang yang duduk semeja dengannya membuat Hana dan Yudha melirik sementara Annabelle terlihat biasa saja.
Tidak lama pelayan café yang ternyata adalah Sisi datang melayani meja mereka. Sahabat Annabelle itu tampak terkejut waktu melihat sahabatnya duduk di antara pria-pria tampan yang mencari perhatiannya.
“Pak Alden ? Dokter Yudha ?” Sisi meyakinkan dirinya kalau matanya tidak salah melihat.
“Apa kabar Sisi ?” hanya Yudha yang membalas sapaan Sisi sementara Alden masih fokus menatap Annabelle yang mengabaikannya.
“Kalian sudah sering makan di sini, ya ? Sampai pelayannya sudah hafal dengan nama kalian,” ujar Hana kembali mencoba mencari topik pembicaraan.
“Ini pertama kalinya kami berdua kemari, Kak Hana. Dan Sisi ini adalah sahabat saya, teman satu kampus juga.”
“Ooohh…” Hana mengangguk-angguk mendengar penjelasan Annabelle.
Hanya Alden yang langsung menyebutkan pesanannya sementara tiga orang lainnya sempat melihat-lihat menu sebelum memesan. Selesai mencatat semua pesanan, Sisi kembali bekerja.
“Kamu masih kuliah, Annabelle ?”
“Masih Kak, tingkat akhir dan sebentar lagi skripsi. Panggil aku Belle aja, sama seperti Yudha juga memanggil aku begitu.”
Hana kembali mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ia melirik Alden yang mengangkat sebelah kakinya dan bertumpu di atas kaki yang lain. Pandangan pria itu hampir tidak lepas dari Annabelle.
“Kalau kamu pacarnya Yudha, berarti kamu kenal juga dong sama Alden,” Hana melirik ke arah Alden yang masih dalam mode diam.
“Tahu kalau Alden dan Raka sahabatan sama Yudha dari SD sampai sekarang.”
“Tapi kalian seperti dua orang yang nggak saling kenal ?”
“Aku hanya sebatas tahu kalau mereka bersahabat, Kak, tapi tidak cukup dekat untuk mengenal Raka dan Alden. Lagipula nggak akan mempengaruhi hubungan aku dan Yudha kalau aku berteman dekat dengan Alden dan Raka.”
Alden tersenyum tipis, apa yang dilakukan oleh Annabelle adalah pengulangan sikapnya dulu pada gadis itu saat sedang ada acara di rumah keluarga Hutama.
__ADS_1
Waktu itu untuk pertama kalinya Sarah diperkenalkan sebagai kekasih Alden dan jawaban yang sama Alden ucapkan saat Sarah menanyakan hubungannya dengan Annabelle.
“Dia itu anaknya teman daddy, sayang, dan aku tidak cukup dekat untuk mengenalnya lebih jauh, lagipula dia tidak akan mempengaruhi hubungan kita.”
Hana terus melontarkan banyak pertanyaan dan mengajak Annabelle berbagi cerita namun tidak semudah itu memancing Annabelle yang mulai waspada karena ada Alden di antara mereka.
“Maaf mengganggu, saya mau bicara dengan Belle sebentar,” Sisi kembali menghampiri mereka.
Annabelle tersenyum, teringat akan janji Sisi yang akan memberinya kesempatan untuk mencari kerja partime di café itu.
“Jadi boss elo ada ?”
“Iya dan katanya mau ketemu elo dulu.”
Keduanya langsung ke arah pintu belakang menuju ruang kerja pemilik café yang ada di lantai 2. Tanpa mereka ketahui, Alden diam-diam mengikuti keduanya.
Pemilik café itu ternyata pria lajang seumuran Alden. Meskipun tidak setampan Alden namun aura kepemimpinan terpancar dari penampilan dan cara bicaranya. Pertanyaan yang diajukan pada Annabelle cukup singkat dan padat, fokus pada kepentingan pekerjaannya sebagai waiter di situ.
“Jadi kapan kamu bisa mulai kerja ?” Jordan, pemilik café itu langsung memutuskan untuk menerima Annabelle sebagai karyawan partime.
“Maaf tapi Annabelle tidak akan bekerja di sini,” pintu ruangan terbuka dan Alden langsung bicara tanpa permisi.
“Alden ?”
Kedua teman satu kuliah itu terkejut saat melihat satu sama lain. Jordan langsung bangun dari kursinya dan menghampiri Alden, menyalaminya dan memberikan pelukan ala pria yang sudah lama tidak bertemu.
“Apa kabarnya, Bro ?”
“Baik. Hebat Jo, akhirnya elo benar-benar bisa mewujudkan mimpi punya café seperti ini.”
“Lumayan Al, di sini pusatnya dan gue buka 3 cabang lain di Jakarta, rencana mau ekspansi juga ke daerah tapi belum tahu dimana.”
“Gue senang mendengarnya Jo. Masalah usaha bokap elo udah beres, kan ?”
Sisi dan Annabelle yang merasa tidak enak berada di tengah-tengah kedua pria ini perlahan menyingkir dan bermaksud keluar ruangan.
“Eh, sorry sebentar, Al, gue beresin masalah karyawan dulu.” ujar Jordan saat melihat Sisi dan Annabelle hendak keluar ruangannya.
“Dan sorry juga Jo, gue nggak kasih ijin Annabelle kerja di sini. Bukan apa-apa, gue mau dia fokus sama kuliahnya supaya kami bisa segera menikah. Annabelle ini calon istri gue.”
Mata Annnabelle dan Sisi langsung membelalak mendengar pernyataan Alden. Masih tidak berubah, di depan banyak orang Alden selalu menghumbar kalau Annabelle adalah calon istrinya.
“Eh beneran, Al ? Sorry gue nggak tahu. Kalau tahu nggak bakalan gue terima kerja di sini,” ujar Jordan sambil tertawa.
__ADS_1
“Alden !” protes Annabelle dengan wajah yang terlihat emosi. “Sejak kapan…”
“Sorry Bro, ada yang harus gue klarifikasi sama calon istri. Kapan-kapan gue kemari lagi dan kita ngobrol.”
Jordan mengangguk dan tertawa. Alden sendiri langsung menarik tangan Annabelle dan membawanya turun.
“Alden apa-apan sih, kenapa pakai ngomong begitu segala !” bentak Annabelle saat keduanya sudah berada di area parkiran.
“Kenapa ? Kenyataan kalau memang kamu calon istriku, kan ? Sudah aku katakan kalau aku sudah meminta mommy dan daddy melamarmu, papa dan mama tidak keberatan dan semuanya tergantung padamu.”
“Dan aku menolaknya !” tegas Annabelle. “Apa masih kurang jelas ? AKU MENOLAKNYA ! Aku bukan hanya menyerah dan berhenti menyukaimu, tapi sekarang aku sangat, sangat membencimu ! Kamu dengar kan dengan jelas : AKU MEMBENCIMU ! Aku benci dengan semua sifat sombongmu dan hatimu yang begitu keras, tanpa belas kasihan kamu hanya menatap orangtuaku berlutut memohon padamu. Jangan mudah bilang cinta setelah kamu menyakiti hati orang yang mencintaimu.”
“Maafkan aku Belle, maafkan aku. Aku tidak akan berhenti meminta maaf dan akan menunggu sampai kamu bisa membuka hati untukku dan selama itu tolong jangan mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.”
“Maksudmu soal pekerjaan ini ? Aku memang membutuhkan uang dalam hidupku, Alden. Kenapa ? Sekarang tambah lagi julukan yang akan kamu berikan padaku ? Wanita materialistis ?” Annabelle tersenyum sinis.
“Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, tapi jangan bekerja sebagai pelayan di café ini. Aku tidak ingin banyak pengunjung pria menganggumi dirimu, kecantikanmu.”
“Jangan sok peduli padaku, Alden,” Annabelle kembali tertawa sinis. “Kita bukanlah siapa-siapa. Aku hanya anak sopir yang tidak pantas untuk seorang tuan muda Hutama, iya kan Alden ? Papa memang masih bekerja pada orangtuamu, tapi upah yang diterima papa adalah bayaran atas tenaga yang sudah diberikannya untuk keluargamu. Upah itu tidak bisa membeli istri dan anak-anak papa, apalagi kebebasanku.”
“Berhentilah berpikiran negatif, Belle !” suara Alden sedikit meninggi. “Aku tidak pernah merasa membeli orangtuamu dan ingin menguasaimu hanya karena papamu bekerja pada daddy. Aku melakukan semua ini karena aku cemburu. Kamu dengar Belle, aku cemburu. Aku cemburu saat melihat kamu didekati pria lain, termasuk Yudha !”
Rahang Alden mengeras menunjukkan emosinya yang mulai meninggi tapi Annabelle tidak peduli.
“Silakan hidup dengan rasa cemburumu karena aku tidak peduli !”
Annabelle berbalik badan hendak meninggalkan Alden dan kembali ke dalam café untuk mengambil tasnya yang ditinggal di kursi.
“Aku belum selesai,” Alden menahan lengan Annabelle dan menariknya hingga posisi gadis itu berbalik berhadapan dengannya.
“Aku sudah selesai. Sejak aku sadar dari koma semuanya sudah selesai,” tegas Annabelle dengan tatapan tajam.
Alden kembali menarik lengan Annabelle hingga posisi mereka semakin dekat lalu satu tangan Alden menahan tengkuk Annabelle dan langsung menciumi bibir gadis itu.
Plak !
Satu tamparan Annabelle layangkan pada wajah mulus Alden. Pria itu tidak membalas dan tidak marah, hanya diam dan menatap Annabelle dengan wajah sendu.
“Aku bukan perempuan yang akan memberikan semuanya padamu hanya karena aku tergila-gila padamu !” Air mata Annabelle mulai keluar dan satu tangannya mengusap bibirnya sendiri, menghapus jejak ciuman Alden di sana.
“Semuanya sudah berakhir dan berhentilah mengganggu hidupku atau aku akan semakin membenci dirimu !” desis Annabelle dengan pipi yang masih terus dialiri air mata.
Annabelle berbalik hendak kembali ke dalam café namun ia tercengang saat melihat Yudha dan Hana berdiri tidak jauh dari posisinya dan Alden. Terlihat Yudha sudah membawa tas selempang milik Annabelle.
__ADS_1