
Alden sedang menikmati makan siang berdua dengan Reyhan selesai meeting di kantor Hutama Grup.
Kantor pengacara Peter Gilang mendapat kepercayaan untuk menjadi tim penasehat hukum salah satu proyek yang baru saja ditandatangani dengan perusahaan Singapura.
”Apa kabarnya Annabelle ?” tanya Reyhan di sela-sela makan siang mereka.
“Jangan bilang kamu masih tertarik padanya,” cibir Alden.
“Kalau memang Annabelle mau menjadi calon istriku, aku tidak akan menolaknya,” sahut Reyhan dengan wajah pongah membuat Alden mencebik.
“Bagianmu kan Sarah, memangnya masih belum cukup ?”
Reyhan meraih gelas minumannya setelah menghabiskan makanan yang ada di mulutnya.
“Aku masih sulit menerima kenyataan kalau dia pernah tidur dengan Papa, meskipun semua itu sudah berlalu dan dilakukan di bawah pengaruh obat.”
“Aku tahu tidak pantas mengatakan ini padamu, tapi kalau memang kamu mencintainya, lupakan masa lalu dan mulailah dengan lembaran baru.”
“Mamaku tidak akan semudah itu memaafkannya, Tuan Hutama,” tegas Reyhan.
“Jangan sok bicara formal denganku,” ledek Alden sambil mencibir. “Panggil aku Alden saja, sama seperti kamu menyebutnya di belakangku.”
Reyhan terkekeh dan menyilangkan posisi sendok dan garpu dalam keadaan tertelungkup di atas piring yang kosong.
“Bicarakan baik-baik dengan mamamu soal keinginanmu untuk meneruskan hubungan dengan Sarah. Aku menduga kalau mamamu bukan marah karena Sarah-nya tapi karena papamu begitu mudahnya terjerat cinta dengan wanita seperti kejadian Nyonya Amora dan menutup-nutupinya. Yang membuatnya mamamu tambah sakit karena papamu membiarkan wanita itu mendekatinu. Tapi kalau memang kamu dan Sarah bisa meyakinkan kaau kalian saling mencintai, aku percaya kalau mamamu akan menerima kalian sama seperti hatinya menerima Riri sebagai anak kandung papamu.”
“Ternyata kamu tahu banyak soal kehidupan pribadi keluargaku ?” tanya Reyhan sambil tersenyum getir.
“Tentu saja dari calon istriku,” gantian Alden menjawab dengan pongah membuat Reyhan langsung mencebik.
“Rupanya rasa percaya diri anda sudah tingkat dewa, Tuan Hutama,” cebik Reyhan.
“Bukan over pe-de, tapi aku hanya akan menikah dengan Annabelle,” sahut Alden dengan penuh keyakinan.
“Persis seperti aku dulu,” Reyhan tersenyum getir. “Tapi aku bukan lagi Reyhan yang dulu, yang menjadikan Sarah satu-satunya wanita dalam hidupku.”
“Maksudmu ?” Alden mengerutkan dahinya.
Reyhan pun menceritakan bagaimana ia mulai mencoba berhubungan dengan wanita-wanita bayaran yang berkedok pekerja kantoran.
“Dasar glla !” Alden menggelengkan kepalanya. “Nggak takut ketularan penyakit kalau terlalu sering berganti-ganti teman tidur ?”
“Memangnya kamu belum pernah merasakan nikmatnya surga dunia ?” ledek Reyhan sambil tergelak melihat wajah Alden yang melengos sambil meneguk minumannya.
”Aku tidak suka membicarakan masalah beginian dengan orang lain,” ketus Alden.
__ADS_1
“Kenapa ? Sengaja dijaga untuk Annabelle ? Jangan bilang kalau kamu masih perjaka ?” ledek Reyhan sambil mencondongkan tubuhnya.
“Bukan urusanmu !” ketus Alden. “Pokoknya aku tidak akan membiarkan Annabelle jatuh ke dalam bujuk rayuanmu, casanova abal-abal.”
“Sayangnya kami sudah sempat kencan sekali,” ujar Reyhan dengan wajah mengejek dan pongah.
Alden melotot mendengar ucapan Reyhan. Bagaimana bisa Annabelle bersedia diajak kencan dengan pria model Reyhan ?
“Tangannya lembut,” bisik Reyhan sengaja memancing emosi Alden. “Sepanjang menonton film, kami saling menggenggam, bahkan saat adegan…”
“Bohong !” potong Alden dengan wajah gusar. “Annabelle bukan perempuan seperti itu.”
“Namanya juga terbawa suasana, siapa yang bisa menebak apa yang dirasa manusia, Begitu mendapat sentuhan dari pria setampan aku, naluri Annabelle…”
“Dasar pengacara gila !” gerutu Alden memotong kembali ucapan Reyhan.
Pria di depannya tidak tertawa malah menunjukkan ekspresi wajah yang ambigu membuat Alden bertambah kesal.
“Aku sudah pernah kencan nonton film dengan Belle, jadi tahu bagaimana sikap Belle di dalam bioskop,” tegas Alden.
“Itu karena kamu kurang agresif, Bro,” ledek Reyhan.
Alden kembali mendengus kesal dan tangannya terangkat untuk meminta nota tagihan namun urung saat melihat Sarah berjalan mendekati meja mereka.
“Jadi kalian sudah mulai akrab sekarang ?” sindir Sarah saat berdiri dekat meja Reyhan dan Alden.
“Apa ada hukum yang melarang kami berteman ?” sahut Reyhan sambil melirik sinis.
“Jadi kegemaran kalian berdua mengencani perempuan yang sama supaya bisa saling berbagi cerita dan memberi masukan ?
“Apa maksudmu ?” tanya Reyhan dengan dahi berkerut
“Aku tahu kalau kalian sama-sama sudah pernah kencan dengan Annabelle,” lirik Sarah dengan senyuman sinis ke arah Alden, tapi pria itu terlihat acuh dan fokus dengan hanphonenya.
Sia**lan jadi benar pengacara sinting di depanku pernah kencan dengan Belle, gerutu Alden dalam hati.
“Apa bedanya dia denganku ?” Sarah tertawa mengejek kedua pria yang ada di depannya, namun sayangnya sikap keduanya terlihat tenang dan tidak terpengaruh dengan ucapan Sarah.
Sarah mengepalkan kedua tabgannya di kolong meja karena usahanya untuk mmebuat kedua pria ini saling bertengkar malah gagal.
“Wajahnya saja sok polos di hadapan pria-pria macam kalian,” Sarah kembali bersuara. “Aku yakin kalau perempuan sok suci itu bukan hanya kencan dengan kalian berdua.”
Alden kembali mengangkat tangan dan memberi isyarat minta nota tagihan makanan mereka pada pelayan.
“Untuk urusan meeting berikutnya, Raka akan mengkonfirmasi pada asistenmu,” ujar Alden pada Reyhan dan mengabaikan omongan Sarah.
__ADS_1
“Oke, “ sahut Reyhan.
“Aku balik duluan Rey.”
Alden beranjak bangun menganggap tidak ada Sarah do dekatnya.
“Alden,” Sarah menahan lengan pria itu.
“Aku tahu kalau pernah berbuat salah padamu, maafkan aku. Tapi sebagai wanita yang pernah dekat denganmu dan mengetahui sedikit sifatmu, jangan mudah terjebak oleh sikap manis perempuan itu.”
Alden menghela nafas dengan wajah kesal.
“Hidupku bukan lagi urusanmu ! Lebih baik kamu menata diri sendiri yang terbiasa menghancurkan hidup orang lain.”
Alden menghentakkan tangannya hingga pegangan Sarah terlepas setelah itu Alden langsung meninggalkan meja.
“Kenapa kamu masih menyimpan dendam pada Annabelle ?” tanya Reyhan setelah Alden berlalu.
“Dia yang membuat rencana balas dendammu pada Alden gagal bahkan dia juga membuatmu tidak percaya lagi padaku karena kejadian dengan Tuan Peter.”
“Sudah berapa kali aku bilang kalau apa yang terjadi pada kita bukan karena Annabelle tapi karena dirimu juga,” Reyhan menarik nafas panjang dan menghelanya.
“Tapi itu kenyataan, Rey !” suara Sarah meninggi.
“Jangan mencari masalah di sini !” ancam Reyhan penuh penegasan. “Yang membuat aku sungguh-sungguh kecewa bukan sekedar masalah papa tapi kehilangan calon anakku karena kekerasan hatimu untuk tetap menyelesaikan misi balas dendam pada Alden. Tapi aku tahu itu semua tidak murni seperti awal rencana kita karena kamu tergiur dengan uang yang dijanjikan Alden.”
Sarah terdiam, membantah Reyhan saat ini tidak ada gunanya karena pria di depannya malah semakin gila menyakiti Sarah.
“Kamu tahu apa yang Alden katakan tadi ? Dia suruh aku mempertimbangkan hubungan kita. Aku sempat terpikir mungkin ucapannya adalah masukan yang baik, tapi melihat kamu masih angkuh, sulit menghapus dendam dan masih suka menyalahkan orang lain, sepertinya saran Alden tidak perlu aku pikirkan dua kali.”
Reyhan beranjak bangun dari kursinya dan meninggalkan Sarah sendirian yang menghela nafas beberapa kali.
“Kamu sudah berani bermain-main dengan perempuan lain masih berpikir sebagai pria baik-baik,” geram Sarah yang masih duduk di meja.
Sementara Alden yang masih berada di dalam mobil terlihat sumringah setelah menerima panggilan telepon dari Raka.
“Sisi sudah mengatur pertemuan elo dengan Belle. Tapi jangan terlalu agresif supaya Belle nggak kabur pas ngeliat elo,” ujar Raka.
“Iya, kasih tahu aja gue harus gimana supaya bisa bicara sebentar sama Belle,” sahut Alden dengan senyum yang langsung mengembang.
“Perlu gue temenin ?”
“Nggak usah !” tegas Alden. “Waktu elo ketemu pacar masih banyak, beda sama gue yang bakal nggak ketemu Belle 6 bulan ke depan.”
Raka hanya tertawa mendengar ucapan sahabat sekaligus bossnya.
__ADS_1
Dengan hati yang berbunga-bunga, Alden meninggalkan pelataran parkir restoran, kembali ke perusahaan.