
Kedua gadis itu didorong masuk dengan sedikit kasar membuat mereka hampir terjatuh, apalagi kedua mata mereka masih ditutup dengan kain hitam meskipun kedua tangan sudah tidak lagi terikat. Annabelle mendengar suara kunci di putar, artinya mereka dikurung di sebuah ruangan.
Annabelle segera membuka penutup matanya dan mengerjap untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya di dalam ruangan. Terdengar suara isak tangis Sisi yang berdiri tidak jauh darinya.
“Maafin gue, Si. Maaf. Ini semua salah gue, udah melibatkan elo dalam masalah gue ini,” Annabelle membuka penutup mata Sisi, memeluknya sambil mengusap-usap punggung sahabatnya.
“Gue takut, Belle, takut ada apa-apa sama nyokap dan adik gue. Dan kalau malam ini gue nggak pulang ke rumah mereka pasti kepikiran macam-macam.”
“Sebentar, gue pastikan sesuatu dulu.”
Annabelle melepaskan pelukannya dan berlari kecil menuju jendela besar yang ada di kamar itu, disibaknya tirai penutup dan matanya memicing, mencoba melihat apa yang terlihat di luar jendela.
Hari sudah malam dan di luar jendela tampak gelap hingga Annabelle tidak bisa memastikan dugaannya, namun dari titik-tiitik cahaya yang terpantul di luar jendela dan rasa dingin yang melekat pada dinding dan sisi-sisi jendela, Annabelle yakin kalau mereka dibawa ke daerah pegunungan.
Sisi masih terisak sambil duduk di sofa yang ada di dalam ruangan. Annabelle pun berpindah ke arah pintu dan menekan beberapa tombol lampu. Senyumnya sedikit mengembang. Setidaknya mereka tidak disekap di sebuah gudang yang kotor seperti dalam cerita-cerita di film.
Ruangan yang mereka tempati adalah kamar tidur yang cukup luas dengan perabotan yang sangat-sangat layak dan lengkap ibarat sebuah kamar hotel, kamar mandi pun sudah tersedia dan menyatu menjadi bagian kamar ini.
“Si, coba elo lihat ruangan ini,” Annabelle mendekati Sisi dan menyentuh bahu sahabatnya. “Kita dikurung di kamar tidur, bukan gudang. Dan lihat, penculik kita bahkan sudah menyiapkan makan malam yang terlihat enak.”
Annabelle menunjuk pada dua nampan yang diletakkan di atas meja dengan kaca di depannya, seperti umumnya meja rias.
“Masalah nyokap lo, gue yakin kalau mommy Lanny akan mengurusnya. Sebelum gue ketemu elo di halte, gue sempat teleponan sama mommy dan berjanji akan datang ke rumahnya saat itu juga. Kalau sampai jam segini gue belum datang, mommy pasti mencari tahu keberadaan gue. Elo akan jadi orang pertama yang ditanyain untuk mencari tahu keberadaan gue, jadi mereka pasti akan mencari tahu juga keberadaan elo, Si.”
“Nyokap dan adik gue nggak bakal diapa-apain kan, Belle ?”
“Iya, mereka pasti akan langsung dijagain sama orang-orangnya daddy. Mommy pasti langsung menghubungi daddy untuk memberitahu semua ini.”
Annabelle tertawa pelan saat mendengar suara dari perut Sisi.
“Kita makan, yuk ! Mereka sudah siapin makan, sayang kalau dianggurin. Lagipula kalau nggak makan, kita nggak punya kekuatan untuk menghadapi mereka.”
Annabelle berjalan menuju meja rias dan mengambil satu nampan untuk Sisi, setelah itu ia kembali lagi untuk mengambil nampan yang lain untuk dirinya sendiri.
“Belle, elo nggak takut mereka menaruh sesuatu dalam makanan itu ? Bisa aja ada racun atau obat perangsang atau mungkin obat bius yang bisa membuat kita harus bicara jujur kalau ditanya,” wajah Sisi begitu khawatir membuat Annabelle malah tertawa.
“Elo kebanyakan nonton film action, Si. Masalah bicara jujur, kita kan nggak bohongin siapa-siapa,” sahut Annabelle sambil memasukan sesendok nasi lengkap dengan lauknya.
“Enak, Si.”
__ADS_1
Annabelle melanjutkan makannya hingga 5 sendok. Alisnya menaut saat melihat Sisi hanya memperhatikan Annabelle tanpa menyentuh makanan miliknya.
“Elo mau memastikan dulu reaksi makanan ini di tubuh gue ?” tanya Annabelle sambil terkekeh, tangannya kembali menyuap satu sendok nasi dan lauk.
“Belle, elo kok bisa tenang kayak begini ?”
“Si, mereka bukan penculik yang kayak di film-film dengan tujuan menjadikan kita sandera untuk ditukar dengan sesuatu. Mana mungkin penculik menyekap kita di dalam kamar begini bagus dan memberikan kita makanan dan minuman yang layak ? Percaya sama gue, Si, apa yang mereka lakukan sekarang ini tujuannya memang ingin menjatuhkan mental kita supaya kita bisa jujur saat mereka mencari informasi yang mereka butuhkan. Udah ayo makan, udah 15 menit tubuh gue baik-baik aja, nggak berasa ada yang aneh.”
Annabelle tersenyum dan mengangguk saat melihat Sisi menatapnya dengan wajah ragu-ragu. Ia pun mengambilkan piring milik Sisi dan meletakkannya di atas kedua paha gadis itu.
Sesungguhnya hati Annabelle pun sedikit cemas, tapi saat melihat Sisi menangis sampai sesunggukan, ia menguatkan diri. Sisi akan semakin ketakutan kalau sampai melihat dirinya juga khawatir sama seperti Sisi.
Sambil menemani Sisi, Annabelle menghabiskan sisa makanannya. Perutnya memang lapar karena tadi belum sempat makan siang, hanya menghabiskan sepotong roti saat duduk di bangku taman kampus.
Selesai makan keduanya membereskan peralatan mereka dan menumpuknya di atas meja depan sofa. Annabelle berjalan ke arah lemari, mencoba memeriksa apa yang ada di kamar itu. Saat ia membuka lemari kecil dengan 2 pintu itu ternyata isinya kosong.
Annabelle pun lanjut ke kamar mandi. Ia sempat berdecak melihat ruangan itu yang mirip dengan fasilitas hotel. Lengkap ada handuk, peralatan mandi termasuk sikat gigi, hanya saja tidak ada bathup, hanya pancuran air untuk mandi.
Annabelle tersenyum, sepertinya ia tahu dibawa kemana dan siapa yang membawa mereka. Semoga saja dugaannya betul dan semuanya bisa berakhir dengan baik.
***
Daddy Wira yang melihat kegelisahan putranya itu tersenyum meskipun sempat kesal karena Alden tidak bisa bersikap profesional. Hati Alden benar-benar sudah dipenuhi dengan Annabelle.
Jam 5 sore waktu Berlin meeting selesai. Acara makan malam yang sudah disiapkan akhirnya harus tetap diikuti demi menghargai rekan bisnis mereka.
“Om Juan, apa belum ada kabar juga soal Annabelle ?” tanya Alden saat mereka berjalan dari ruang meeting di lantai 2 menuju lantai dasar dimana restoran hotel ini berada.
“CCTV di sekitar halte depan kampus Belle sedang rusak jadi belum bisa tahu bagaimana Belle meninggalkan kampus, apakah naik taksi, bus atau ada orang yang menjemputnya. Hanya terlihat kalau Belle memang keluar gerbang kampus sambil menelepon dan sudah dipastikan kalau saat itu Belle sedang berbincang dengan Nyonya Lanny.”
Alden menyugar rambutnya. Wajahnya sudah tidak lagi bersemangat untuk meneruskan jadwal bisnis mereka yang masih 3 hari lagi.
“Coba berusaha sedikit tenang, Bro, biar pikiran elo lebih jernih. Lagipula urusan kita di sini juga penting untuk kelangsungan perusahaan Hutama,” Raka merangkul bahu sahabatnya.
“Tapi ini urusan nyawa, Ka, dan yang menjadi taruhannya adalah keselamatan Annabelle.”
“Sepertinya bukan hanya Annabelle yang mereka bawa, tapi juga Sisi sahabat Annabelle,” ujar Juan sambil berjalan di sisi kiri Alden,
__ADS_1
Alden hanya menghela nafas dengan dahi berkerut memancarkan rasa khawatir yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
“Elo dengar kan kata Om Juan, Al ? Setidaknya Belle nggak sendirian, ada sahabatnya yang ikut bersamanya dalam penculikan ini.”
“Apa keluarganya Sisi sudah tahu ?” tanya Alden.
“Sudah, Nyonya Lanny dan Ibu Mira yang bicara langsung dengan orangtua Sisi. Reno pun sudah menempatkan orang untuk mengawasi keluarga Belle dan Sisi untuk berjaga-jaga seandainya mereka mencoba mendatangi keluarga itu.”
Alden kembali menghela nafas panjang dan berat lalu berusaha tersenyum dan menenangkan hatinya sendiri. Mengabaikan tanggungjawabnya sebagai orang kedua di Hutama Grup juga bukanlah tindakan yang benar.
Akhirnya Alden berusaha kembali bersikap profesional dan melewati acara makan malam ini bersama daddy Wira.
Sekitar jam 10 malam waktu Berlin acara makan malam dan bincang santai dengan beberapa orang Jerman itu selesai. Rasanya ingin menghubungi Reno langsung untuk menanyakan perkembangan pencarian Annabelle, tapi tidak mungkin karena di Jakarta sudah jam 3 subuh.
Daddy Wira, Alden, Juan dan Raka keluar restoran dan berjalan kembali ke kamar mereka di lantai 5.
“Reno sudah merubah tiketmu,” ujar daddy Wira saat mereka berjalan menuju lift. “Besok kamu pulang sendiri ke Jakarta, Raka dan Juan tetap di sini untuk membantu daddy. Reno yang akan menjemputmu dan membantumu mengurus masalah Annabelle.”
“Daddy yakin aku tidak perlu bersama daddy sampai selesai ?”
“Kamu tidak akan belajar apa-apa dengan pikiranmu yang lebih fokus pada Annabelle,” gerutu daddy Wira membuat Juan dan Raka tersenyum tipis.
“Maaf Dad,” lirih Alden. “Aku benar-benar khawatir soal Annabelle, apalagi kalau memikirkan ucapan Sarah yang tidak puas dengan keadaannya karena diusir oleh Reyhan dan batal menikah denganku. Sarah masih menyalahkan Belle sebagai penyebab semuanya ini. Dan Daddy tahu bagaimana Sarah bisa gila kalau sudah dendam begitu.”
Daddy Wira melirik ke arah Juan, memberi isyarat supaya pria itu berbicara pada Alden.
“Orang-orang saya masih mengawasi nona Sarah selama 24 jam sejak pembatalan pernikahan Tuan muda dengannya. Sepertinya bukan nona Sarah yang melakukan semua ini. Sehari sebelumnya dan saat penculikan terjadi, nona Sarah masih tinggal di kamar hotel. Dari informasi yang saya terima, Tuan Reyhan bukan hanya mengusir Nona Sarah tapi juga memecatnya dari kantor Tuan Gilang sampai akhirnya nona Sarah memutuskan tinggal di hotel untuk sementara waktu.”
“Iya Al, Sarah juga bilang belum bisa memberikan alamat untuk pengiriman barang-barang miliknya karena dia bilang belum punya tempat tinggal yang baru,” timpal Raka.
“Gue hanya takut cerwek itu tidak lagi menggunakan nalarnya dalam mengambil keputusan, masih ingat bagaimana Sarah berniat menjebak gue dengan obat bius, kan ?”
“Belle pasti akan baik-baik saja, Al, dia bukan gadis lemah yang berpikiran pendek dan mudah hanyut dalam ketakutan apalagi panik. Juan pasti akan mengerahkan orang-orang terbaiknya, kalau perlu Daddy akan minta tolong om Richard untuk membantu.”
Alden mengangguk dan berusaha tersenyum dan mengikuti daddy Wira masuk ke kamar yang mereka tempati bersama, sementara Juan tidur dengan Raka.
__ADS_1