
Seperti pencuri yang tertangkap basah sedang melakukan aksinya, Annabelle, Mommy dan Mama duduk di sofa dengan posisi Annabelle di tengah-tengah.
“Waktu disuruh nikah kamu bilang mau pikir-pikir dulu, tapi disosor Alden nggak nolak,” ujar Mama Mira dengan wajah datar tanpa senyum dan kedua tangan terlipat di depan dada.
“Khikaf, Ma. Habis enak,” Alden yang menyahut sambil terkekeh.
Annabelle langsung melotot menatap Alden yang masih setengah berbaring di atas tempat tidur.
“Kan aku sudah mau dinikahkan sama Alden, Ma. Udah nggak nolak lagi dan ikut aja dengan rencana Mommy dan Mama.”
Annabelle hanya berani melirik, belum pernah Mama mengajaknya bicara dengan wajah kaku begini.
“Bikin malu aja udah pasrah disosor padahal masih sebulan lagi kalian baru bisa diresmikan jadi suami istri,” gerutu Mama dengan wajah kesalnya.
“Maaf Ma,” lirih Annabelle dengan wajah merona.
“Kamu sudah sering ciuman begitu sama Alden ?” mata Mama menyipit, menelisik wajah Annabelle.
“Nggak,” Annabelle menggeleng.
“Sudah lebih dari 10 kali sih, Ma,” celetuk Alden sambil tertawa pelan.
Kedua mata Annabelle membola dan menatap Alden dengan wajah kesal.
“Bohong, Ma, Alden lebay. Mana ada lebih dari 10 kali, yang aku ingat aja nggak lebih dari 3 kali.”
“Itu kan yang kamu ingat, nggak kehitung pas nggak ingatnya,” Alden malah mengucapkan kalimat yang membuat Mama tambah mengerutkan dahinya.
“Kalau begini sebaiknya kita percepat aja, Mir, nggak bisa nunggu sampai sebulan lagi,” ujar Mommy Lanny pun buka suara.
“Aku ikut aja rencana Mommy dan Mama,” ujar Annabelle dengan wajah pasrah.
“Makin cepat makin bagus, Ma, Mom. Tadi pagi Annabelle merasa bersalah karena sudah memegang bagian tubuhku dari kepala sampai ke ujung kaki,” Alden dengan santainya menambah posisi Annabelle jadi serba salah.
“Alden jangan kompor deh !” gerutu Annabelle.
“Belut Alden nakal nggak, Belle ?” Mommy malah meledeknya sambil tertawa pelan.
Wajah Annabelle makin merona dan terasa panas. Mama Mira hampir saja tidak bisa menahan tawa dan ingin berhenti bersandiwara karena tidak tega sudah mengerjai Annabelle.
Sudah kesepakatan para orangtua kalau pernikahan Alden dan Annabelle akan dilangsungkan 2 minggu lagi.
Buat Alden tidak masalah sementara Annabelle masih saja berharap masa persiapannya diperpanjang kalau perlu menunggu 3 bulan.
“Jadi kamu sudah sampai sejauh itu ? Lama-lama khikafnya bukan sebatas bibir doang,” tegas Mama Mira.
“Ma, namanya juga membasuh orang sakit ya semuanya harus dibersihkan. Bukan niat aku membangunkan peliharaan Alden. Aku juga kaget karena ini yang pertama buat aku,” protes Annabelle dengan wajah cemberut.
Mommy dan Alden langsung tertawa dan Mama Mira tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tersenyum.
“Hati-hati sebentar lagi kamu kesetrum soalnya peliharaan Alden itu belut listrik,” ledek Mommy di sela-sela tawanya.
__ADS_1
“Tinggal diturunin aja sikringnya biar nggak ada aliran listrik,” gerutu Annabelle yang membuat Mama akhirnya ikut tertawa bersama Alden dan Mommy.
****
Sementara itu, setelah membesuk Alden, Lusia langsung menekan angka 2 karena harus melakukan kunjungan ke kamar bayi.
Dahinya berkerut saat melihat Yudha mengikutinya, turun di lantai yang sama.
“Kamu ngapain ikut turun di sini ? Nggak ada janji sama pasien ?” Yudha menggeleng sebagai jawaban.
“Aku yakin Gerry ada di sini, nungguin kamu,” ujar Yudha santai sambil mengikuti Lusia.
“Kenapa ? Cemburu, ya ? Takut aku berpaling lagi dari kamu ?”
“Iya, karena bagaimana pun juga Gerry adalah cinta sejatimu, sementara aku adalah cinta pelarianmu,” sahut Yudha sambil terkekeh.
Lusia menghentikan langkahnya dan menarik Yudha sedikit ke pinggir.
“Kok kamu ngomongnya begitu ?” wajah Lusia terlihat kesal mendengar ucapan Yudha.
“Kenyataannya kan memang begitu. Mungkin kalau Gerry tidak meninggalkanmu, kita tidak akan bertemu lagi dan kamu tidak akan pernah melirik kepadaku,”. Yudha masih berusaha bicara santai dan tertawa meski di telinga Lusia semuanya hanya sindiran pahit.
Lusia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Jadi kamu masih belum percaya kalau aku sudah mencintai kamu dengan sepenuh hati ?”
“Bukan tidak percaya, hanya khawatir. Aku tahu betul bagaimana dalamnya cintamu pada Gerry.”
Lusia diam saja dan meneruskan langkahnya karena sebentar lagi ada jadwal praktek di poli anak.
Wajah Gerry yang kecewa tidak mampu disembunyikan saat melihat Yudha berada di belakang Lusia.
Sapaan Gerry hanya diangguki Lusia yang langsung masuk ke dalam ruang bayi karena bukan hanya enggan bertemu Gerry tapi wanita baya yang duduk tidak jauh dari situ.
Yudha menangkap reaksi Lusia dan langsung melihat tatapan wanita baya itu yang sedang memperhatikan mereka dengan wajah tidak bersahabat.
“Bagaimana kabarmu ?” tanya Gerry berbasa-basi sambil menunggu Lusia menjalankan tugasnya di dalam ruang bayi.
“Baik,” Yudha menjawab singkat dengan tatapan fokus pada handphone yang ada di tangannya, enggan berbasa basi.
Tidak lama Lusia keluar dari ruang bayi dan sempat melirik mama Gerry yang berjalan mendekat. Ada wanita baya lainnya yang berjalan di belakangnya.
“Kondisinya stabil dan cenderung membaik, semoga secepatnya bisa keluar dari inkubator,” ujar Lusia menerangkan dengan sikap formal.
“Apa tidak ada dokter anak lain di rumah sakit ini ?” gerutu mama Gerry hingga membuat Lusia dan Yudha menoleh sementara Gerry menghela nafas panjang.
“Nyonya, di rumah sakit ini ada 5 dokter anak dan keluarga pasien mempunyai hak untuk mengganti dokter jika kurang berkenan pada dokter yang menangani cucu anda.
Silakan anda menghubungi bagian administrasi untuk minta penggantian dokter karena hanya keluarga pasien yang bisa melakukannya.”
“Ma, jangan melantur kemana-mana. Kondisi Nina bukan kesalahan orang lain, tapi kecelakaan itu yang membuat Nina harus dilahirkan sebelum waktunya,” tegur Gerry dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Tolong diurus saja permintaan keluarga, Pak Gerry,” ujar Lusia dengan wajah setenang mungkin.
“Saya akan sangat senang kalau bisa mengalihkan tanggungjawab ini pada dokter lain,” lanjut Lusia.
“Tapi Lus…”
“Tolong pengertian anda, Pak Gerry. Saya permisi dulu,” Lusia langsung memotong ucapan Gerry dan menganggukan kepalanya sebagai tanda pamit.
“Urusan kita bukan sebatas Nina, tapi bersiaplah untuk menyerahkan anak Gerry pada ayah kandungnya !”
Suara ketus mama Gerry membuat Lusia kembali membalikkan badannya. Yudha sendiri masih berdiri di samping Lusia.
“Anda berbicara dengan saya, Nyonya ?” Lusia tersenyum tipis.
“Apa kurang jelas kalimat saya ?”
“Ma…”
“Saya tidak pernah memiliki hubungan dengan keluarga anda apalagi dengan Tuan Gerry, jadi saya yakin kalau ucapan anda ditujukan pada orang yang salah.”
“Kamu…” mama Gerry bergerak maju ke arah Lusia namun dicegah oleh Gerry.
“Gerry ! Bukankah kita sudah sepakat untuk mengambil anak kandungmu ?” protes mama Gerry yang kesal dengan sikap putranya.
Gerry dan Lusia sama-sama menghela nafas. Belum sempat menanggapi ucapan mama Gerry, handphone Lusia bergetar, ada panggilan dari nomor poliklinik.
“Maaf, saya ada pekerjaan,” pamit Lusia setelah menutup panggilan teleponnya.
Lusia berlalu membuat mama Gerry mengepalkan kedua tangannya. Kesal karena ditinggalkan Lusia begitu saja dan sikap Gerry yang menahannya untuk mendekati wanita itu.
Yudha masih berdiri di situ, mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya.
“Saya calon suami Lusia,” ujar Yudha menyerahkan kartu namanya pada Gerry.
“Masalah yang Nyonya bicarakan akan kita selesaikan lewat jalur hukum. Silakan menghubungi saya kalau ada pertanyaan soal Lusia dan putranya karena mereka sudah menjadi tanggungjawab saya. Tolong jangan mengganggu keduanya, karena apapun yang anda lalukan akan menjadi bahan pertimbangan di pengadilan,” ujar Yudha dengan wajah tegas dan suara yang berwibawa.
“Kenapa harus menempuh jalur hukum ? Sudah jelas dan pasti terbukti dengan tes DNA kalau anak itu adalah anak kandung Gerry.”
“Silakan bicara dengan pengacara saya, Nyonya, saya sudah memberikan nomornya pada Gerry. Secara biologis mungkin putra anda adalah ayahnya, tapi menentukan siapa yang berhak mengasuhnya, biarkan hukum yang bicars karena saya yakinkalau keputusan itu bukan hanya berdasarkan hubungan darah tapi ada hal lain yang menjadi faktor penentunya.
Kita akan bertemu di pengadilan kalau anda ingin memperjuangkannya. Saya pamit dulu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Gerry atau mamanya, Yudha berbalik meninggalkan mereka.
Gerry menghela nafas sambil membaca kartu nama yang diberikan Yudha. Ternyata bukan hanya kartu nama Yudha tapi ada kartu nama Reyhan juga.
“Jangan kalah mental dengan dokter sombong itu, Gerry. Mama akan minta papa mencarikan pengacara yang lebih hebat.”
Gerry menatap mamanya dengan wajah sedih dan sempat melirik pada mertuanya yang terlihat kecewa dengan sikap mamanya.
Di saat menantunya berjuang antara hidup dan mati, mama Gerry malah membahas cucu kandungnya dari wanita lain.
__ADS_1
“Ma, tolong sadar kalau tidak semua masalah bisa mama selesaikan dengan uang !” lirih Gerry.
Mama Gerry langsung membelalak namun Gerry mengabaikannya dan berjalan menjauh dengan perasaan yang dipenuhi kata penyesalan.