Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Ungkapan Cinta Alden


__ADS_3

Alden terkejut saat mendapati Annabelle berdiri dengan mata melotot di depan ruang ICU.


“Mau ngapain kamu di sini ?”


Alden menghela nafas lalu tersenyum tipis. Hari ini ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah 4 hari dirawat.


Om Rano juga dirawat di rumah sakit yang sama setelah masa kritisnya lewat tapi masih belum bangun dari komanya.


“Membesuk papa kamu, Belle,” sahut Alden berjalan mendekat ke arah Annabelle.


“Kami tidak memerlukan perhatianmu.”


“Apa yang aku lakukan adalah tanggungjawabku sebagai pimpinan perusahaan , Belle. Kejadian yang menimpa Om Rano berkaitan dengan urusan perusahaan.”


“Tidak perlu anak pemilik perusahaan sampai harus merendahkan diri membesuk pegawai rendahan seperti papa.”


“Belle, aku….” Alden terlihat kesal namun urung meneruskan kalimatnya.


“Aku benci padamu Alden !” desis Annabelle. “Sepertinya sumpahanmu berharap maut menjemput tidak hanya berlaku untukku tapi seluruh keluargaku.”


“Belle, maaf atas ucapanku waktu itu karena terlalu emosi. Namun sekesal apapun, sejak dulu sampai detik ini aku tidak berniat mencelakaimu atau keluargamu. Tidak ada niatan untuk melenyapkanmu.”


“Bukan emosi, tapi itulah suara hatimu yang sesungguhnya. Kali ini aku akan membawa keluargaku benar-benar menjauh darimu, Alden. Aku benar-benar membencimu !”


“Belle, aku tahu kalau hatimu penuh kebaikan dan tulus, tidak pernah menyimpan dendam sekalipun aku sudah menyakitimu selama bertahun-tahun. Maafkan perbuatanku yang begitu menyakitimu mapai membutmu mengeraskan hati seperti ini. Aku tidak akan berhenti minta maaf sampai hatimu kembali memaafkan aku, Belle.”


“Aku tidak perlu simpati dan kata maafmu. Aku benar-benar membencimu Alden ! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapanku.”


“Belle,” Alden menahan lengan Annabelle yang hendak meninggalkannya. “Mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya padamu, tapi dari hatiku yang paling dalam aku benar-benar menyesali perbuatan dan sikapku yang sering keterlaluan.


Aku sadar kalau selama ini aku sudah menyangkal perasaanku sendiri. Aku tidak pernah membencimu tapi aku justru mencintaimu, sangat mencintaimu, Belle.”


Annabelle menghentakkan tangannya hingga pegangan Alden terlepas.


“Apa telingamu tidak normal sampai ucapanku tidak bisa kamu dengar ? Aku membencimu, Alden ! Aku sangat membencimu !”


Annabelle mulai memukuli lengan Alden lalu dada bidang pria itu. Alden tidak melawan dan membiarkan Annabelle melampiaskan emosinya.


“Pukullah aku sepuasmu kalau itu bisa membuat rasa sakit hatimu berkurang.”


Plak !


Annabelle sempat terhenyak dengan tangannya yang langsung menampar wajah Alden. Pria di depannya bergeming dan tetap tersenyum menatap Annabelle.


”Jangan bersikap seolah-olah kamulah korban kemarahanku. Aku menyesal pernah mencintaimu dan kali ini aku tidak akan membuat kesalahan yang sama,” tegas Belle penuh penekanan.

__ADS_1


“Dan aku tidak akan berhenti mencintaimu, Annabelle. Aku sungguh-sungguh mencintaimu,” tegas Alden sambil tersenyum.


“Berhenti bicara soal cinta !” Annabelle mendorongtubuh Alden supaya menjauh dan tanpa sengaja mengenai luka di perut Alden.


“Belle,” Alden meringis sambil menahan bahu Annabelle.


“Jangan berpikir aku bisa termakan dengan sandiwaramu !” Annabelle tertawa sinis.


Alden tidak menjawab, tangannya memegang bagian perut dan menepi, duduk di bangku yang ada dekat situ.


Terlihat beberapa kali Alden menghela nafas, mencoba mengurangi rasa nyerinya, sementara Annabelle bergeming dan menatap Alden dengan wajah datar.


Kening Alden sedikit berkeringat. Setelah rasa sakitnya berangsur menghilang, Alden tersenyum melihat Annabelle masih berdiri menatapnya meski tanpa ekspresi apapun.


“Semoga Om Rano bisa cepat sadar, Belle. Aku pamit dulu. Maaf sudah membuat hatimu kesal.”


Alden beranjak bangun dan perlahan meninggalkan Annabelle menuju lift. Annabelle sendiri langsung berbalik dan berjalan menuju ruang ICU dengan hati yang masih terbakar emosi.


****


Sopir yang menjemput Alden sudah menunggu di lobby rumah sakit. Bukan rumah yang menjadi tujuan tapi kantor Hutama Grup.


Semula sopir ingin menolak karena Mommy Lanny sudah berpesan padanya untuk langsung membawa Alden pulang, tapi Alden menegaskan untuk pergi ke kantor terlebih dahulu.


30 menit Alden memejamkan mata sambil bersandar pada kursi penumpang bagian belakang. Bayangan Annabelle yang menatapnya penuh rasa benci, membuat hati Alden merasa sakit.


“Elo ngapain kemari, Bro ?” Raka langsung bangun dari kursinya dan menghampiri Alden yang berjalan sedikit kaku.


“Kangen sama elo dan Tami, soalnya terlalu sibuk sama kerjaan sampai lupa besuk boss nya sendiri,”


sahut Alden sambil tertawa, namun tidak lama ia memegang perutnya yang sedikit sakit karena guncangan tubuhnya saat tertawa.


“Haiiss kan elo sendiri yang nggak kasih orang kantor pada besuk,” protes Raka yang diangguki oleh Tami. Alden kembali tertawa dan kali ini lebih pelan.


“Bikin malu aja dibesuk karyawan sekantor hanya karena kena tebasan pisau.”


“Terus sekarang ngapain kemari ? Muka elo masih pucat, bukannya langsung pulang ke rumah. Tadi gue mau jemput elo nggak mau.”


Raka mengikuti Alden yang masuk ke dalam ruangannya.


“Kelamaan gue tinggal berdua sama Tami ya atau udah ketularan pacar elo yang bawel itu, kenapa sekarang omongan elo nggak ada habisnya kayak emak-emak ?” ledek Alden sambil duduk di kursi kerjanya.


“Dua-duanya, Bro.” Raka tertawa sambil menarik kursi yang berhadapan dengan Alden dan sudah siap dengan tab-nya.


“Gimana kabarnya para perusuh di proyek ?” tanya Alden sambil bersandar di kursi.

__ADS_1


“Sudah diserahkan pada polisi berikut dengan bukti rekaman CCTV yang ada di sana. Sepertinya semua sudah diatur, ditemukan ada beberapa kamera yang sengaja dirusak.”


“Tolong dituntaskan, terutama yang menyerang Om Rano dan membuat banyak orang terluka. Warga yang terluka juga tolong diurus sampai sembuh.”


“Om Juan sudah bantu urus semuanya. Luka elo sendiri gimana, Bro ?”


“Masih sedikit sakit, tapi sudah nggak infeksi lagi makanya gue dikasih pulang.”


“Syukurlah. Tapi pipi elo kenapa kayak lecet ?”


Raka mengerutkan dahi saat melihat Alden malah senyum-senyum sambil mengambil handphonenya.


“Bro, elo masih waras, kan ? Apa luka di perut elo bikin otak elo terinfeksi juga ?”


Raka semakin mengerutkan dahinya saat melihat Alden tetap senyum-senyum sambil memandangi handphonenya.


Penasaran dengan yang dilihat Alden, Raka bangun dari tempat duduknya, mendekati Alden dan langsung tergelak begitu melihat foto Annabelle terpampang di layar handphone bossnya.


“Ya ampun Alden, elo lagi kasmaran ?” ledek Raka di sela-sela gelak tawanya.


“Gue udah menyatakan cinta sama Annabelle,” ujar Alden tanpa berhenti tersenyum.


“Serius ?” mata Raka langsung membelalak. “Jadi kalian berdua udah resmi pacaran ?”


“Nih jawabannya,” Alden menunjuk pipinya yang sedikit lecet akibat tamparan Annabelle.


“Ditolak ?” ledek Raka sambil tergelak. “Jadi Annabelle masih aja menolak elo ?”


“Iya, tapi nggak masalah. Rasanya bahagia banget bisa bilang cinta sama Annabelle meskipun ditolak.”


“Al, elo kayak anak SMA aja sih ?” Raka mengerutkan dahinya. “Jangan sampai pegawai lain pada ngeliat elo begini.”


“Kenapa ?” Alden menoleh dan menatap Raka dengan wajah bingung.


“Nggak ada wibawa sama sekali. Bikin malu Om Wira aja.”


“Sekali-kali memalukan karena cinta nggak apa-apa. Kayak elo nggak begini aja ? Bahagia kalau gue nggak ke kantor dan nggak ada jadwal meeting sore,” Alden mencebik.


“Itu beda, Alden. Gue sama Sisi saling jatuh cinta, kalau elo berdua tuh kerjanya gantian aja. Giliran Annabelle cinta, elo marah-marah, sekarang saat elo bilang i love you, Annabelle jawab gue benci elo,” ledek Raka sambil tertawa.


“Nggak masalah, kali ini gue yang akan berusaha membuat Belle kembali jatuh cinta kayak dulu.”


“Semoga kalian berjodoh, Bro,” Raka menepuk bahu sahabatnya. “Harus siap juga seandainya nggak jodoh, Bro. Mau usaha bagaimana, kalian nggak bisa bersatu.”


“Nggak bisa doain yang baik ?” Alden langsung melotot menatap asistennya.

__ADS_1


“Mendoakan sekaligus memberi nasehat yang baik buat bestie gue biar nggak terpuruk kalau sampai nggak jodoh.”


“Geli pake istilah bestie,” Alden menggedikan bahunya sambil mencibir membuat Raka tertawa.


__ADS_2