
Sisi baru saja keluar dari ruang dosen setelah menyerahkan laporan magangnya, sementara Annabelle juga baru keluar membahas revisi Bab 1 tulisan skrispisnya.
“Gimana ? Aman ?” tanya Sisi saat keduanya berjalan beriringan menuju gerbang kampus.
“‘Masih ada yang perlu direvisi tapi nggak perlu datang lagi, cukup via email aja. Kalau sudah beres dan lanjut ke bab berikutnya baru janjian lagi sama Pak Hikmat lagi. Elo sendiri gimana ?”
“Laporan magang udah diterima dan judul skripsi lagi dipelajari sama Pak Tinus.”
“Semoga kita bisa cepat lulus dan diwisuda bareng,” ujar Annabelle yang langsung diamini oleh Sisi.
Sampai di gerbang, pandangan mereka tertuju pada cafe yang ada di seberang kampus. Bukan sekedar penuh, tapi sampai ada antrian segala.
Semula Annabelle menolak ajakan Sisi untuk pergi ke mal karena ingat janjinya pada Mommy Lanny, tapi memang lebih aman pergi ke mal karena di saat jam makan siang begini hampir semua tempat makan dipenuhi pengunjung.
Akhirnya Annabelle mengalah dan mengikuti kemana Sisi akan membawanya pergi.
“Gimana rasanya sebentar lagi mau menikah ?” ledek Sisi saat keduanya sudah duduk di salah satu restoran Jepang yang ada di mal.
”Pastinya hati gue deg degkan,” sahut Annabelle sambil tertawa pelan dan wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
“Kayak mimpi gitu, masih antara percaya dan tidak.,” lanjut Annabelle dengan senyum manisnya.
”Gue bahagia banget melihat kalian akhirnya bisa bersatu, tapi gue nggak nyangka kalau Pak Alden ternyata pria manja yang romantis, soalnya selama ini kan sikapnya selalu memberi kesan sok jaim dan sombong gitu.”
“Kalau soal manja, gue juga nggak nyangka sih,” Annabelle tertawa. “Selama ini kan Alden hanya bisanya marah-marah dan galak doang sama gue, pas sakit ini manjanya kayak anak 5 tahun malah bikin gue berasa aneh.”
“Elo pasti bahagia banget akhirnya bisa tidur sekamar malah seranjang sama Pak Alden,” Sisi menaik turunkan alisnya.
“Masih tersimpan baik dalam ingatan gue gimana bahagianya elo setiap kali bercerita bisa masuk kamar Pak Alden meskipun nggak ketemu sama orangnya. Dengan semangat 45 elo menggambarkan gimana wanginya kamar Pak Alden, wangi maskulin yang elo bilang udah menyatu dalan setiap tarikan nafas elo. Lebay banget sih,” cibir Sisi sambil tertawa pelan.
Sisi tergelak saat melihat wajah Annabelle merona dan tersipu karena diingatkan pada waktu Annabelle tanpa malu-malu menyatakan perasaan sukanya pada Alden.
Bagaimana Annabelle berusaha mendapat perhatian, memanfaatkan setiap momen dan mencuri kesempatan untuk membuat Alden melihat hatinya.
Bahkan saat Alden menempuh pendidikan ke luar negeri, Annabelle sering mencari alasan untuk bisa masuk ke kamar Alden, menikmati aroma pria itu yang melekat di dalam ruangan.
__ADS_1
“Beneran deh Si, gue masih berasa kayak mimpi.”
Tiba-tiba Sisi mencubit tangan Annabelle yang sedang mengambil sepotong sushi.
”Aaaww Sisi, sakit. Elo kenapa cubit-cubit ?”
“Biar elo yakin kalau ini semua bukan mimpi, tapi kenyataan kalau sebentar elo bakal jadi Nyonya Alden,” sahut Sisi sambil tersenyum bahagia.
“Norak banget ya gue ?” Annabelle senyum malu-malu membuat Sisi kembali tergelak.
“Pasti ngebayangin gimana akhirnya bisa peluk-peluk dan menatap wajah Pak Alden sampai puas,” mata Sisi menyipit dengan senyuman meledek di wajahnya.
“Itu mah udah biasa,” Annabelle mencibir. “Semenjak Alden sakit dan nggak mau diurus sama perawat, gue yang ngurus Alden, makanya kedua orangtua mengharuskan kita berdua segera menikah.
Gue sempat cuekin Alden sekali gara-gara perasaan gue galau setelah ketemu sama Sarah, eh nggak tahunya Alden jatuh, sampai 2 kali pula hingga tulangnya yang patah harus dioperasi.”
“Wuuh udah lihat tubuhnya Pak Alden aja nih. Gimana ? Seksi dan roti sobeknya keren nggak ?” Sisi tertawa melihat Annabelle mencibir.
”Rahasia, nanti kalau gue kasih tahu terus elo pengen lihat bukti, guenya nggak rela.”
“Ya ampun Nyonya Alden, ternyata anda posesif juga ya ?” Sisi terbahak.
“Hihihi… elo kira Pak Alden barang antik yang diburu kolektor ?”
“Apapun istilahnya, gue harus selalu waspada dan sigap menjaga Alden,” tegas Annabelle dengan wajH serius.
“Jangan lupa perbaiki penampilan elo juga, wajib menyesuaikan dengan Pak Alden supaya nggak jomplang pas jalan berdua. Mau disangka tuan dan perawatnya ?” ledek Sisi.
“Asem lo !” Annabelle mencebik dan cemberut.
“Ciuman Pak Alden gimana ? Bikin elo bergidik ketagihan nggak ?” ledek Sisi.
Annabelle menyipitkan matanya dan menelisik wajah Sisi sambil menghabiskan sushi yang ada di dalam mulutnya.
“Kenapa ?”tanya Sisi menautkan alisnya.
__ADS_1
“Jangan bilang kalau elo sama Raka udah sering ciuman ?” Annabelle mendekatkan wajahnya dengan mata menyipit.
Sisi meneguk minumannya dan mengambil sepotong sushi lalu mengunyahnya, masih enggan menjawab pertanyaan Annabelle
“Sisi, jangan bilang elo sama Raka udah…”
Annabelle gelagapan saat Sisi memasukkan sepotong sushi ke dalam mulutnya.
“Sisi !” Annabelle mengomel setelah selesai meneguk minumannya.
“Jangan nethink !” Sisi melotot. “Gue tahu batasan, jadi baru sampai ciuman doang sama Raka. Beda ceritanya kalau udah pasti kayak elo bakal jadi Nyonya Alden. Jangan-jangan elo…”
Sisi sengaja menggantung ucapannya dan kembali menaik turunkan alisnya.
”Idem !” sahut Annabelle sambil mencibir. “Lagian gara-gara gue koma, Alden sempat kasih ciuman berharap gue bangun kayak putri tidur akibatnya gue kehilangan momen ciuman pertama,” gerutu Annabelle.
“Ribet amat sih ! Sebentar lagi kan kalian resmi menikah jadi apapun yang terjadi setelah sah bisa dijadikan momen yang pertama.”
“Si,” Annabelle meraih satu tangan Sisi dan menggenggamnya.
“Terima kasih karena sudah menjadi sahabat baik gue sampai hari ini dan seterusnya. Gue benar-benar bahagia dengan semua yang sudah pernah kita lewati dan berharap hubungan elo sama Raka bisa terus berlanjut kayak gue sama Alden, jadi kita bisa sering sama-sama.”
Sisi mengambil tisu dan pura-pura menghapus keringatnya, padahal menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Gue juga bahagia bisa punya bestie kayak elo, Belle. Gue sering kagum dengan kegigihan elo dalam berjuang mendapatkan sesuatu. Dan gue bahagia banget melihat elo akhirnya bisa menikah sama Pak Alden. Semoga doa elo buat gue bisa terkabul, gue juga berharap begitu.”
Annabelle dan Sisi saling menatap sambil tersenyum. Ke depannya momen kebersamaan mereka pasti akan berkurang karena tuntutan tanggungjawab saat masuk dalam dunia kerja.
Selesai dengan urusan makan siang, keduanya keluar meninggalkan restoran sambil membahas masalah kuliah mereka yang sebentar lagi akan selesai.
“Annabelle !”
Keduanya berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Annabelle mengernyit, memastikan kalau matanya melihat sosok wanita baya yang baru ditemuinya 2 kali.
“Tante Yulia ?” sapa Annabelle sambil memastikan kalau ingatannya masih cukup bagus.
__ADS_1
Keduanya sudah berdiri berhadapan dan cukup dekat.
“Apa kabarnya Annbelle ?” sapa wanita itu dengan senyuman ramahnya sementara Annabelle sendiri membalasnya dengan senyuman canggung.