Cintamu Memberiku Hidup

Cintamu Memberiku Hidup
Tanpa Malam Pertama


__ADS_3

Annabelle sudah selesai membersihkan diri sebelum membantu Alden bersiap-siap tidur.


Tidak ada acara bermalam di hotel karena kondisi kaki Alden, keduanya langsung pulang ke rumah keluarga Hutama.


“Maaf,” lirih Alden saat Annabelle membantunya mengganti pakaian selesai membasuh wajah dan kaki Alden.


“Untuk apa lagi ?” Annabelle mendongak saat memeriksa luka bekas jahitan di betis Alden sebelum memakaikan celana tidur suaminya.


“Aku belum bisa menjadi suami yang baik saat ini,” sahut Alden dengan wajah sendu.


“Mulai deh melow,” cibir Annabelle. “Memangnya aku menerima permintaan menikahi kamu cepat-cepat hanya demi malam pertama ? Waktu bersama kita masih panjang kalau Tuhan memberi kesempatan. Sekarang yang penting fokus dengan kesembuhan kaki kamu dulu.”


“Kamu akan menemani aku ke kantor hari Senin nanti ?”


“Iya, aku temani tapi sepertinya aku harus ke kampus sebentar untuk bertemu dosen soal skripsi.”


“Nggak apa-apa, nanti ada Raka yang akan membantuku.”


“Aku nggak lama kok, dosenku itu selalu tepat waktu dan nggak suka mempersulit mahasiswa.”


“Iya.”


Annabelle membantu Alden berbaring di ranjang dengan posisi tidur Annabellle ada di sebelah kanan Alden.


Keduanya sempat terdiam dengan posisi terlentang menghadap ke langit-langit kamar.


“Bagaimana perasaanmu ?” tanya Alden dengan nada ragu-ragu.


“Aneh,” sahut Annabelle jujur.


“Kenapa ? Karena terpaksa menikah dengan laki-laki cacat seperti ini ?” ujar Alden sambil tertawa pelan.


“Kenapa kamu jadi gampang nethink dan pesimis, sih ?” Annabelle merubah posisinya miring menghadap ke Alden. Wajahnya terlihat masam.


“Kamu nggak merasa gugup atau deg deg kan gimana gitu ?” Annabelle mengernyit dan bibirnya sedikit maju menatap Alden yang senyum-senyum sambil ikut memiringkan badannya.


“Eh kaki kamu nggak masalah kalau posisi begini ?” Annabelle buru-buru bangun dan membantu Alden yang bergerak miring pelan-pelan dan menumpangkan kaki kirinya di atas bantal.


“Duh senangnya ada yang khawatir, ada teman ngobrol sebelum tidur dan ada yang perhatian kalau nanti aku pulang terlambat.”


“Gombal deh,” Annabelle mencebik.


“Tidur sini,” Alden menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. “Tapi aku belum bisa peluk sambil tidur karena masih sedikit khawatir dengan kondisi kakiku, jangan sampai semakin lama sembuhnya.”


“Iya nggak apa-apa,” Annabelle menurut dan tidur menghadap ke Alden dengan guling di antara mereka.

__ADS_1


”Kamu merasa aneh kenapa ?” tanya Alden sambil membelai wajah Annabelle.


“Ya aneh dan canggung. Tidur satu ranjang dengan cowok paling galak sedunia yang sekarang manjanya lebih dari anak 5 tahun,” ujar Annabelle sambil terkekeh.


“Kayak mimpi bisa berada di samping Alden kayak begini,” lanjut Annabelle.


“Aku nggak merasa aneh, kalau gugup iya. Dulu kalau habis marah-marah sama kamu, aku suka nggak bisa tidur, perasaanku nggak tenang karena khawatir kamu menangis atau marah padaku sampai nggak mau dekat-dekat aku lagi. Aku senang setiap kali kamu tetap baik dan semakin keras berusaha menarik perhatianku.”


“Dasar cowok tegaan !” bibir Annabelle langsung mengerucut membuat Alden tertawa.


“Sini ! Bikin gemes aja, sih,” Alden memberi isyarat pada Annabelle supaya mendekat.


“Mau ngapain ? Aku ngeri kalau sampai kesenggol kaki kamu.”


“Sini !” Alden kembali memberi isyarat dan Annabelle pun mendekati wajahnya.


Alden langsung memberikan ciuman di bibir Annabelle, membuat jantung gadis itu berdegup kencang apalagi saat lidah Alden semakin menyusup ke dalam rongga mulut Annabelle.


Saat Annabelle mulai terengah, Alden pun melepaskan ciumannya.


“Belajar tetap ambil nafas selama ciuman biar kita bisa lamaan,” ledek Alden tertawa melihat wajah Annabelle yang merona.


“Maaf aku baru bisa memberikanmu baru sebatas ciuman kayak gini. Sabar ya, aku akan usahakan sembuh sebelum 6 bulan.”


“Jangan dipaksa, aku nggak akan kemana-mana mau kurang atau lebih dari 6 bulan aku pasti masih di sini. Aku ini istrimu bukan perawat yang dikontrak sampai kamu sembuh.”


“Bobo yang nyenyak, istri,” ujar Alden dengan senyum manisnya sementara tangannya membelai kepala lalu wajah Annabelle.


“Idem, suami,” sahut Annabelle sambil terkekeh.


Alden menggenggam erat jemari Annabelle dan mulai memejamkan matanya yang diikuti oleh Annabelle.


Tidak sampai 10 menit, keduanya sudah larut dalam dunia mimpi.


****


Di tempat yang berbeda, sekitar pukul 9 malam, Yudha baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah Lusia.


Yudis sudah tertidur pulas di pangkuan mamanya.


“Nanti aku yang gendong, Yudis,” ujar Yudha bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu di sisi penumpang.


Keduanya langsung masuk karena bibik sudah menunggu mereka di pintu gerbang. Yudha pun langsung membawa Yudis ke kamarnya, terpisah dengan kamar Lusia.


“Terima kasih Yud,” ujar Lusia saat Yudha sudah menyelimuti Yudis yang tidak terbangun.

__ADS_1


Yudha tersenyum dan langsung menarik Lusia ke dalam pelukannya.


“Terima kasih juga karena mau bersabar menanti restu dari Mama dan Papa. Aku yakin kalau sebentar lagi mereka akan mengijinkan aku menikahimu.”


Lusia tertawa pelan dan melerai pelukannya. Keduanya berjalan keluar dari kamar Yudis karena tidak ingin menganggu tidur bocah itu.


“Kenapa harus berterima kasih, sih ? Sudah sepantasnya aku harus sabar dan menerima kekecewaan orangtuamu. Kalau suatu hari Yudis mengalami kejadian seperti kita, kemungkinan besar aku akan melakukan hal yang sama.”


Yudha mengajak Lusia ke arah meja makan dan memberi isyarat kalau ia haus. Lusia pun mengambilkan segelas air putih untuk Yudha.


“Aku senang banget Mama sudah mau bicara denganmu dan Yudis, bahkan mengajak kalian makan malam hari ini, meskipun masih kaku dan suka bingung mau bicara apa,” ujar Yudha dengan wajah sumringah.


Satu gelas air putih sudah habis diteguknya hingga Lusia mengisi kembali gelas itu.


“Iya, pelan-pelan saja. Urusan Gerry kan juga belum selesai. Semoga aja janji Gerry bisa dipegang, ia tidak akan mengutak-utik Yudis dan melepaskan kami dari keinginan orangtuanya.”


“Jangan takut untuk masalah Yudis. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan Reyhan. Dia yakin kalau kemenangan kita di pengadilan berada di atas 60%.”


“Eh membahas Reyhan, aku kok nggak melihat dia datang ke pernikahan Alden dan Annabelle ?”


“Nggak diundang karena menurut Om Wira dan Alden hubungan mereka tidak sedekat itu dengan Reyhan dan papanya. Mereka akan diundang saat pesta nanti, kalau hari ini undangan khusus kenalan yang sudah dianggap sebagai keluarga oleh orangtua Alden dan Annabelle.”


Lusia mengangguk-anggukan kepalanya dan menatap Yudha yang menggenggam jemarinya.


“Terima kasih sudah membalas cintaku, Lus. Semoga kamu tidak akan merubah hatimu karena situasi yang kita harus hadapi.”


“Ya ampun Yudha, seharusnya aku dan Yudis yang berterima kasih karena kamu mau menerima aku yang sudah ternoda ini dan mencintai kami sebagai orang yang penting untukmu.”


Yudha tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke Lusia lalu mencium kening wanita itu.


“Aku pulang dulu, besok aku datang agak siangan, mau ajak Yudis jalan-jalan ke mal. Kamu nggak praktek, kan ?”


“Besok aku harus visit sebentar, memeriksa beberapa bayi.”


“Ya udah, kalau begitu besok aku datang pagian. Aku dan Yudis akan menemanimu ke rumah sakit, baru setelah itu kita jalan-jalan ke mal.”


Lusia mengangguk dan keduanya sudah sampai di gerbang depan.


“Hati-hati di jalan,” pesan Lusia saat Yudha sudah masuk ke dalam mobil.


“Kamu masuk dulu dan langsung kunci pintu gerbangnya.”


“Tidak usah, kamu dulu….”


“Iiissshh nggak ada bantahan ! Sana masuk dulu dan langsung gembok gerbangnya !”

__ADS_1


Lusia tertawa dan menuruti permintaan Yudha. Ia pun melambaikan tangan dan langsung masuk begitu mobil Yudha berjalan.


__ADS_2