
Sekitar jam setengah tujuh Alden baru sampai di rumah sakit.
Selain Yudha, ternyata kedua orangtua Annabelle dan Alden ditambah Sisi sudah ada di sana.
Annabelle sendiri sedang menikmati sepotong pie buah yang dibawa oleh mommy Lanny.
Alden menyapa semuanya sambil berjalan mendekati Annabelle yang ditemani Sisi.
“Selamat malam Pak Alden,” sapa Sisi dengan ramah.
Dalam hati ia mengakui kalau pria-pria yang menaruh hati pada sahabatnya adalah para pria tampan yang mapan. Kalau saja salah satu boleh memilihnya menjadi pengganti Annabelle, dengan senang hati Sisi menerimanya.
“Jadi benar kan kalau kamu itu sahabatnya Annabelle dan tidak mengenal Sarah sebelumnya ?”
“Saya hanya menjalankan pernintaan Annabelle, Pak. Daripada saya membantah dan harus kehilangan sahabat baik saya ini,” Sisi melirik Annabelle yang terlihat acuh pada Alden.
“Terima kasih ya karena kamu sudah membantu calon istri saya untuk mengungkap fakta tentang Sarah.”
Sisi langsung melongo mendengar ucapan Alden. Setahu Sisi, Alden adalah pria yang membenci Annabelle, tapi sekarang di hadapan banyak orang malah langsung mendeklarasikan kalau hubungannya dengan Annabelle bukan sekedar kekasih.
“Alden !” protes Annabelle dengan wajah ketus, namun Alden hanya melirik sambil tersenyum pada Sisi yang masih melongo..
Kedua orangtua Annabelle senyum-senyum mendengar ucapan Alden yang penuh keyakinan, mommy Lanny langsung geleng-geleng kepala dan daddy Wira tersenyum tipis melihat wajah putranya yang mengucapkan kalimat itu dengan wajah sumringah.
“Iya sayang,” Alden malah tambah sengaja membuat Annabelle menggerutu kesal.
“Berhubung Alden sudah ada di sini, kita tinggal dulu sekalian makan malam, yuk,” daddy Wira langsung beranjak bangun dari sofa dan meminta mommy Lanny mengikutinya.
“Tinggal aja nggak apa-apa, Dad, aku memang sudah berencana menemani Annabelle malam ini.”
“Nggak bisa !” protes Annabbelle. “Yudha, kamu kan sudah janji akan menemaniku selama di rumah sakit.” Annabelle langsung menatap Yudha dengan wajah memohon.
“Nggak bisa !” Alden gantian protes. “Kamu itu calon istriku dan Yudha hanya psikiatermu. Mana ada pria yang rela melihat calon istrinya ditemani pria lain.”
Wajah Alden yang berubah masam membuat daddy dan mommy geleng-geleng kepala.
Sementara Yudha sendiri, kalau boleh jujur dengan senang hati ia mau menemani Annabelle di rumah sakit, tapi melihat ketulusan Alden yang sungguh-sungguh mulai mencintai Annabelle membuatnya memilih mundur karena Yudha tahu kalau saat ini Annabelle sendiri tidak sepenuhnya membenci Alden.
“Aku lagi banyak pekerjaan dan penuh janji ketemu pasien, Belle, jadi butuh tidur nyenyak supaya bisa menangani pasien dengan baik.”
Annabelle langsung cemberut karena tahu kalau Yudha hanya mencari-cari alasan. Meskipun kesal karena harus ditemani Alden, Annabelle tetap membalas pelukan kedua orangtuanya dan orangtua Alden serta Sisi dengan sepenuh hati.
Dan sekarang hanya ada mereka berdua di kamar.
”Bagaimana kondisi kakimu hari ini ? Apa lebih enak setelah menjalani fisioterapi ?”
“Hhmm.”
“Jangan terlalu memaksakan diri hanya karena ingin cepat-cepat keluar rumah sakit,” Alden mendekat dan mengusap kepala Annabelle penuh rasa cinta.
Alden tersenyum saat melihat Annabelle diam saja meski tidak mau menatapnya.
“Aku bawakan kue kesukaanmu, bukan hanya 2 tapi 4. Tapi milkshakenya nggak dibeliin karena pasti rasanya sudah beda kalau dibawa pulang.”
Alden mengeluarkan satu kotak kue dari kantong yang dibawanya dan menarik meja lipat untuk makan ke hadapan Annabelle.
Annabelle sendri sedikit kaget saat melhat ada 4 quiche keju di dalam kotak itu, apalagi mengingat ucapan Alden barusan. Berarti saat mereka makan di cafe, Alden sudah mulai membaca kalau yang ada di hadapannya bukanlah Sarah tapi Annabelle.
“Kalau kamu sudah sembuh, aku akan mengajakmu makan di sana,” Alden tersenyum dan menyodorkan sendok kecil untuk Annabelle.
“Aku mandi dulu, ya. Sudah lengket banget, nggak enak.”
Alden sempat mengusap kembali kepala Annabelle sebelum pergi ke kamar mandi.
Annabelle merasa tersentuh dengan perlakuan Alden padanya. Apa kebaikan yang Alden tunjukkan selama ini bukanlah untuk Sarah tapi untuk dirinya ?
Mengingat nama itu, rasanya Annabelle ingin menanyakan langsung soal nasib Sarah pada Alden karena Yudha tidak terlalu banyak tahu.
Sejauh yang Yudha dengar dari Raka, Alden sudah membatalkan pernikahannya dan menempatkan Sarah kembali ke sisi Reyhan.
“Kok nggak dimakan ?” tanya Alden saat melihat quiche yang dibawanya masih utuh belum tersentuh.
__ADS_1
Padahal sudah ada sekitar 20 menit Alden menghabiskan waktu di kamar mandi.
Jantung Annabelle berdebar saat Alden berdiri di dekatnya. Wangi tubuh Alden yang baru saja selesai mandi menggoyahkan pertahanan Annabelle.
“Belle,” suara lembut Alden membuat Annabelle tersentak dari lamunannya. Gadis itu menoleh dan jantungnya berdegup semakin kencang saat melihat senyuman Alden dengan posisi wajah yang begitu dekat.
“Kamu nungguin aku karena mau disuapin, ya ?” ledek Alden.
“Nggak,” Annabelle cepat-cepat menyahut sambil menggelengkan kepala.
Alden senyum-senyum sendiri saat melihat wajah Amnabelle merona. Gadis itu makin cantik dengan wajah malu-malunya.
Entah sihir apa yang membuat Annabelle menurut saat Alden memyuapi potongan pertama quiche untuknya. Alden terus mengajaknya berbicara, bercerita tentang masa-masa bahagia mereka saat kecil sambil menikmati quiche.
“Kapan-kapan kita ke pantai lagi dan bikin istana pasir yang bagus.”
“Nanti Alden rusakin lagi,” gerutu Annabelle sambil mengunyah.
“Kali ini janji nggak akan dirusak lagi, kalau perlu aku buatkan istana beneran di pinggir pantai.”
“Nggak perlu, buang-buang uang. Kalau bosan sama modelnya nggak bisa dirobohin terus ganti model.”
Annabelle terbawa suasana saat Alden membuka cerita tentang masa kecil mereka. Masa-masa indah sebelum Annabelle merasakan kebencian Alden.
Gadis yang bawel itu lupa kalau hatinya sedang marah pada Alden. Kenangan indah yang masih tersimpan apik dalam ingatan Annabelle membuat hatinya merasakan lagi kebahagiaan masa kecilnya
“Ya udah, nanti kita buat istana pasir aja. Kalau perlu ajak papa mama juga mommy dan daddy. Ray dan Sisi boleh ikut juga.”
“Yudha nggak diajak ?”
“Nggak boleh !” tegas Alden. “Nanti malah kamu sama dia terus.”
Annabelle tertawa pelan dan menerima minuman yang disodorkan Alden sambil berceloteh.
Annabelle mencoba turun, tapi kakinya belum sepenuhnya bisa bergerak normal.
Alden yang baru saja merapikan kotak kue dan peralatan makan buru-buru mendekati Annabelle yang meringis.
“Mau ke kamar mandi, mau sikat gigi. Aku panggil suster sja supaya membantuku.”
“Tidak usah,” sahut Alden cepat. “Aku bisa membantumu.”
Alden langsung menggendong Annabelle, membuat gadis itu reflek mengalungkan tangannya ke leher Alden.
“Kita mau kemana ?” tanya Annabelle dengan suara terbata dan wajah merona, tidak berani menatap wajah Alden yang begitu dekat dengannya.
“Tadi kamu bilang mau sikat gigi. Atau mau aku ajak nikah sekarang ?”
Alden tertawa pelan saat melihat wajah Annabelle makin merona dan tersipu.
“Mau duduk di meja wastafel aja atau di atas kloset ?”
“Dekat wastafel aja.”
Alden pun mendudukan Annabelle di atas meja wastafel dan mengambilkan sikat gigi plus odol untuk Annabelle.
“Alden, tolong tinggalkan aku dulu,” pinta Annabelle tanpa berani menatap pria itu.
“Aku akan membantumu sampai selesai.”
“Aku butuh bantuan perawat, mau buang air kecil.”
“Sebetulnya aku nggak keberatan membantu kamu,” Alden terkekeh. “Aku pindahin kamu ke atas kloset dulu, nanti aku panggilkan suster.”
“Nggak usah,” Annabelle menarik tombol panggilan ke meja perawat. “Udah aku panggil nih.”
Alden mengangguk dan kembali menggendong Annabelle ke atas kloset.
“Aku tunggu di luar,” ujar Alden dan diangguki oleh Annabelle.
Begitu Alden menutup pintu kamar mandi, Annabelle langsung mengutuki dirinya sambil memukuli kepalanya.
__ADS_1
Bisa-bisanya ia menurut saat disuapi Alden dan ikut bicara saat Alden mengajaknya bicara. Lupa bagaimana hatinya merasa marah pada Alden yang memperlakukan papa Rano dan mama Mira begitu kasar saat kecelakaan terjadi.
Seorang perawat masuk ke dalam kamar mandi membuat Annabelle melupakan sejenak penyesalannya karena sudah bersikap baik pada Alden.
“Suster mau kemana ?” tanya Annbelle saat perawat itu hendak meninggalkannya selesai membantu Annabelle buang air kecil dan sikat gigi.
“Bisa tolong ambilkan saya kursi roda ?”
“Calon suami nona sudah berpesan untuk memanggilnya kalau nona sudah selesai.”
“Tapi sus…”
Suster tadi hanya tersenyum dan langsung membuka pintu kamar mandi. Ternyata Alden sudah menunggu di depan pintu sambil tersenyum.
“Terima kasih, Sus,” ucap Alden yang diangguki perawat tadi.
Annabelle menghela nafas. Penyesalannya akan bertambah kalau membiarkan Alden membantunya kembali ke ranjang.
“Aku tidak mau digendong lagi. Tolong ambilkan kursi roda untukku,” tegas Annabelle dengan wajah ketus.
Alden mengabaikan permintaan Annabelle dan langsung mengangkat tubuh gadis itu.
“Alden, aku nggak suka kamu gendon-gendong begini,” Annabelle menunjukkan raut wajah ketus.
“Maunya digendong kemana ?” Alden hanya terkekeh.
“Aku mau pakai kursi roda,” sahut Annabelle.
“Repot. Akan lebih cepat kalau aku menggendongmu langsung ke ranjang, apalagi badanmu ringan begini. Setelah sembuh aku akan membawa ke tempat-tempat makan yang sesuai dengan seleramu.”
“Tidak usah !” ketus Annabelle. “Sesudah keluar rumah sakit aku akan pergi dari kehidupanmu juga. Aku tidak lupa dengan janji orangtuaku padamu.”
“Perjanjian itu sudah dibatalkan, sayang,” wajah Alden mendekati Annabelle yang sudah setengah berbaring di atas ranjang.
“Siapa bilang ?” Annabelle memberanikan diri membalas tatapan Alden. “Tidak perlu ada pembatalan.”
“Tidak bisa, mommy berniat meneruskan rencana perjodohan kita dan kedua orangtuamu sudah setuju. Setelah kamu sembuh, semuanya akan dipersiapkan kembali.”
“Aku tidak mau !”
“Kita bahkan sudah makan berdua dengan sendok yang sama,” bisik Alden di telinga Annabelle membuat gadis itu membelalakan matanya.
“Bahkan aku juga sudah memberikan ciuman di bibir ini,” Alden menyentuh bibir Annabelle. “Bukan sekedar kecupan, tapi ciuman. Dan aku yakin kalau itu akan menjadi ciuman pertamamu.”
“Jangan bohong ! Aku bahkan tidak ingat kapan kamu melakukannya.” Annabelle masih membantah.
“Saat membangungkanmu dari koma, sayang. Aku merasa sepeti pangeran berkuda yang membangunkan putri tidur,” ujar Alden sambil terkekeh.
“Dan kalau menurut cerita, pangeran yang bisa membangunkan putri tidur akan menjadi calon suaminya. Cocok banget untukku,” lanjut Alden.
“Itu kan dongeng, kalau kita…”
“Kita apa ?” Alden mendekatkan wajahnya berhadapan dengan wajah Annabelle.
Kali ini posisi Alden benar-benar dekat hingga keduanya bisa saling merasakan hangatnya hembusan nafas lawan bicara mereka.
“Kita bukan tokoh dongeng,” ujar Annabelle dengan suara terbata.
“Tidak apa-apa, yang penting kita berjodoh seperti tokoh dongeng.”
“Alden !”
Annabelle memekik saat Alden berhasil mencuri kecupan di bibir Annabelle lalu bergegas masuk ke kamar mandi sebelum Annabelle protes.
Alden hanya tertawa sambil masuk ke kamar mandi.
“SEBEL ! Gara-gara quiche, aku bisa mendadak nurut sama Alden,” omel Annabelle pada dirinya sendiri.
Sementara di dalam kamar mandi, Alden senyum-senyum sambil sikat gigi membayangkan wajah Annabelle yang menggemaskan.
Aku akan terus berjuang mendapatkanmu, Belle, sekalipun harus lama menunggu. Aku tidak akan pernah menyerah sama seperti dirimu yang tidak pernah berhenti mencintaku, batin Alden sambil berkaca di dalam kamar mandi.
__ADS_1