
Tidak ingin membuat Annabelle stress karena kondisinya baru saja sadar dari koma yang cukup panjang, akhirnya Alden mengalah.
Setelah pamit pada kedua orangtuanya dan orangtua Annabelle, Alden pun keluar kamar dan sempat berpamitan pada Annabelle namun diabaikan gadis itu.
Rano dan Mira pun tidak ingin menanyakan lebih jauh bagaimana Annabelle mengetahui kejadian Alden yang mengamuk hingga Rano dan Mira memutuskan untuk memohon pada tuan muda itu.
Tidak lama kamar diketuk kembali, terlihat 2 orang petugas kebersihan yang dipanggil Alden masuk untuk membersihkan ceceran kue tart yang sudah tidak berbentuk.
Mama Mira menawarkan Annabelle makan dengan bekal sayur dan lauk yang dibawanya dari rumah. Begitu Alden mengabarkan soal kondisi Annabelle, pagi-pagi mama Mira bangun untuk memasak makanan kesukaan putrinya.
“Apa mama dan papa lupa bagaimana Alden menyumpahiku mati dan membuat kalian sampai harus bersimpuh memohon maaf dan minta diberi waktu sampai aku sadar ?” Annabelle menggerutu sambil menyuap makanan yang diberikan oleh mama Mira.
“Papa dan mama tidak lupa, tapi tidak ingin mengingatnya juga apalagi menyimpannya dalam pikiran. Hanya mengganggu dan membuat hidup tidak tenang saja,” sahut mama Mira sambil tersenyum.
“Sekalipun dia tuan muda Hutama, mana boleh membuat papa dan mama bersujud untuk sesuatu yang bukan kesalahan papa dan mama. Aku benar-benar tidak terima dengan perbuatan Alden !”
“Boleh mama tanya ? Darimana kamu tahu masalah itu ? Kondisimu sudah tidak sadarkan diri hingga baru siuman pagi ini.”
“Aku melihatnya dalam mimpiku,” sahut Annabelle cepat. “Mungkin yang orang bilang kalau saat koma, jiwa orang melayang-layang dalam dunia yang belum jelas.”
“Tapi Alden sudah melakukan hal yang sama pada papa dan mama. Alden sudah minta maaf dengan tulus bahkan tidak ragu bersimpuh di kaki papa dan mama.”
Annabelle terdiam dan menautkan alisnya sambil menatap mama Mira yang makin melebarkan senyuman. Wanita itu memberi isyarat pada suaminya yang sedang berbincang dengan pasangan suami istri Hutama supaya mendekat.
“Ada apa ?” tanya papa Rano berdiri di samping rsnjang Annbelle.
“Belle tidak percaya kalau Alden sudah datang menemui kita dan meminta maaf bahkan sampai bersimpuh juga,” ujar mama Mira.
“Mana mungkin mamamu berbohong, Belle. Alden sudah datang minta maaf pada kami,” timpal papa Rano.
“Dan papa mama dengan mudahnya menerima permintaan maafnya setelah apa yang dia lakukan pada papa dan mama saat kecelakaan itu baru saja terjadi ?”
“Belle, jangan menjadi orang yang pendendam. Setiap manusia bisa berbuat khilaf dan patut mendapatkan maaf saat mereka menyesal dan meminta maaf. Tuhan saja selalu mengampuni manusia yang bertobat, apalagi kita manusia.”
Annabelle terdiam, sulit membantah nasehat orangtuanya. Namun hati kecilnya tidak mudah menerima begitu saja penyesalan Alden.
“Jika kamu membutuhkan pembuktian akan ketulusan Alden, lakukanlah, tapi jangan sampai kamu tidak memaafkan kesungguhan hati Alden yang menyesal akan perbuatannya padamu. Rasa marah dan benci yang dipelihara bertahun-tahun hanya akan membuat hatimu makin sakit, Belle,” nasehat papa Rano sambil mengusap kepala putrinya.
__ADS_1
“Belle,” sapa Nyonya Lanny yang mendekati ranjang Annabelle.
“Mommy tahu kalau anak mommy yang satu itu sudah kelewatan sama kamu…”
“Mommy ?” Annabelle menautkan alisnya, tidak mengerti kenapa Nyonya Lanny menyebut dirinya mommy pada Annabelle.
“Iya mommy,” Nyonya Lanny mengangguk dengan senyuman. “Mulai sekarang kamu anak mommy dan daddy juga. Alden sudah tidak sabaran ingin melamarmu, tapi kami berempat tidak setuju karena kamu masih belum sadar. Tapi dasar anak nakal, mommy baru lihat kalau Alden sudah menyematkan cincin di jari manismu.”
Nyonya Lanny melirik tangan kiri Annabelle yang menbuat gadis itu langsung mengangkat tangannya yang terpasang infus.
Benar saja, di jari manisnya sudah ada cincin dengan berlian kecil. Annabelle langsung menghela nafas dengan wajah kesal.
“Tidak perlu buru-buru memaafkan Alden, Belle. Mommy dan daddy tahu kalau selama ini Alden sudah banyak menyakiti kamu. Biarkan hatimu yang menjawabnya Belle. Mommy tahu kalau hanya ketulusan cinta Alden yang bisa membuat jiwamu bersatu kembali dengan ragamu, dan sekarang kamu benar-benar kembali, Belle, itu artinya cinta Alden benar-benar tulus padamu, bukan hanya di mulut saja atau karena rasa kasihan. Manusia bisa dibohongi, Belle, tapi Tuhan yang Maha Tahu mengetahui apa yang ada di dalam hati Alden.”
“Tuan Hutama…”
“Rano, sudah berapa kali aku bilang kalau dari dulu sampai sekarang kamu adalah sahabatku bahkan saudara angkatku. Jadi aku tidak terima kalau kamu memanggilku dengan sebutan Tuan,” protes daddy Wira yang ikut mendekat ke ranjang Belle.
“Mulutku perlu waktu untuk membiasakan diri,” sahut papa Rano sambil terkekeh.
“Apalagi sebentar lagi kita akan besanan,” ujar daddy Wira sambil merangkul bahu sahabatnya.
“Daddy,” ralat daddy Wira. “Bukan Om lagi,” lanjutnya sambil tertawa yang diikuti oleh Rano.
Wajah Annabelle langsung cemberut. Tangannya berusaha melepaskan cincin yang sudah tersemat di jari manisnya.
“Kenapa dilepas ?” tanya mama Mira.
“Mana ada orang melamar perempuan yang sedang koma ? Memangnya aku cewek gampangan yang silau hanya karena berlian begini,” omel Annabelle yang menunjukkan jari manisnya.
“Jadi kamu maunya dilamar gaya romantis kayak apa ?” ledek daddy Wira.
“Nggak ada gaya apa-apa, Om. Aku tidak mengharapkan lamaran dari Alden karena aku sudah tidak mencintainya lagi,” sahut Annabelle dengan nada tegas membuat keempat orangtua yang berada di dekatnya tercengang.
“Aku sudah tidak memiliki rasa apa-apa lagi pada Alden, bahkan aku lupa kalau bagaimana rasanya saat aku mencintainya. Aku hanya punya rasa marah dan benci karena Alden sudah merendahkan orangtuaku. Lagipula sejak dulu dia malu karena melihatku hanyalah seorang gadis culun dan putri sopir keluarga Hutama. Aku tidak ingin Alden memandang rendah orangtuaku seumur hidupnya. Terima kasih karena Alden telah memberiku hidup kembali, tapi aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi pada Alden. Maafkan aku Tante, Om.”
Tuan dan Nyonya Hutama terlihat menghela nafas panjang dan menatap Annabelle dengan raut wajah sedih namun tetap berusaha tersenyum.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Belle,” Nyonya Lanny mendekatinya dan menyentuh jemari Belle, menepuk-nepuknya dengan penuh kasih sayang.
“Sekalipun kamu tidak berjodoh dengan Alden, bukan berarti kamu kehilangan kasih sayang kami. Tetaplah memanggil kami mommy dan daddy karena bagi kami dari dulu hingga sekarang dan sepanjang hidupmu, kamu adalah anak kami juga.”
Annabelle menarik jemarinya yang digenggam Nyonya Lanny dan melepaskan cincin pemberian Alden.
“Terima kasih, Mom. Dad,” Annabelle menatap Tuan dan Nyonya Hutama bergantian sambil tersenyum.
“Aku minta tolong untuk mengembalikan cincin ini pada Alden. Aku benar-benar tidak ingin menerimanya.”
“Akan mommy kembalikan pada Alden.”
Mommy Lanny menerima cincin itu dari tangan Annabelle.
“Terima kasih karena kamu mau memanggil kami mommy dan daddy,” Mommy Lanny memeluk Annabelle. “Terima kasih karena kamu hidup kembali sebagai Annabelle dan selamat ulangtahun. Maaf karena mommy sudah membuatmu harus merasakan sakit hati dengan sikap Alden dan keegoisan mommy.”
Annabelle membalas pelukan mommy Lanny yang begitu tulus menyayanginya selama ini seperti orangtuanya sendiri.
“Jangan menyesali yang sudah terjadi, Mom. Aku malah bahagia karena diberi kesempatan untuk bisa mencintai Alden, tapi sepertinya kami memang tidak berjodoh.”
Mommy Lanny melepaskan pelukannya sambil tertawa pelan.
“Selama kalian belum terikat pernikahan dengan orang lain, kehidupan masih bisa berubah. Mungkin saja kalian berjodoh dengan jalan yang tidak tertduga,” ujar mommy Lanny.
“Maksud mommy ?” Annabelle mengerutkan dahi.
“Jangan terbebani soal Alden,” mommy Lanny menggeleng. “Fokuslah pada pemulihan kesehatanmu karena masih ada tahap fisioterapi yang harus kamu jalani. Rencananya besok daddy akan memindahkanmu ke rumah sakit kenalannya. Mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk mempercepat kesembuhanmu.”
Annabelle menatap kedua orangtuanya yang langsung mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasih Mom, Dad,”
Sementara di luar pintu kamar, Alden yang sengaja kembali menghela nafas setelah mendengarkan semua ucapan Annabelle. Alden sengaja memberi pengganjal pintu hingga sedikit terbuka dan membuatnya bisa mendengar percakapan di dalam.
Hatinya sedih saat Annabelle melepaskan cincin pemberiannya bahkan mengembalikannya pada mommy Lanny.
Alden menatap Annabelle dari celah pintu yang teebuka sedikit. Ia ikut tersenyum saat melihat Annabelle tertawa bersama keempat orangtua mereka.
__ADS_1
Maafkan aku Belle, maafkan aku. Aku akan berjuang untuk mendapatkan kembali cintamu yang tulus untukku. Kamu bahkan rela mempertaruhkan nyawa demi cintamu. Akan aku buktikan kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, lebih daripada cintamu padaku.